
"Bos!" Ujar Jerry Asisten Louis,
"Aku sudah tau!" Celetuk Louis, "Biarkan saja! Jangan lakukan pergerakan untuk menyelamatkan gadis itu!" Ujar Louis pada tangan kanan nya,
Bukan nya Louis tak tau rasa balas budi, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyelamatkan semuanya!
Ia belum bisa membalas dendam atas penderitaan yang ia terima, harusnya ia mendapat kan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap! Namun!!!! Arghhhh.....
Gadis yang tak tau menahu biduk permasalahan nya harus terjerumus dalam lingkaran dunia hitam mafia. Kasihan sekali! Gadis yang malang.
Kelak aku akan membantu Na! Tapi tidak untuk sekarang!
...*******...
"Kapan dia sadar?" Ujar Marco bertanya, pasalnya Nana tak lekas bangun sudah 2hari ini, entahlah kenapa gadis itu bisa tidur selama itu. Perkiraan dokter pun mengatakan bahwa Nana akan segera sadar.
"Hari ini bos!" Ujar Pitter.
"Berikan air!" Ujar Marco, segelas air putih di terima di tangan nya, tanpa menunggu lebih lama lagi air itu di guyurkan ke wajah Nana yang masih terpejam. Bukan air suhu normal! Tapi dingin.
Mau tak mau gadis itu langsung membuka matanya dan bereaksi kala air yang sangat dingin menerpa wajahnya.
"Jangan jadi pemalas! Segera sembuh, jangan menghamburkan uang ku!" Ujar Marco dengan tatapan mata tajam, seolah semua harus sesuai dan berjalan seperti yang telah di rencanakan oleh nya.
Nana hanya nampak terdiam, ah jangan membantah atau beradu pendapat dengan manusia jelmaan setan seperti Marco, semuanya akan sia-sia. Pria ini tak mendengar kan sekalipun katanya dan selalu bersikap semena-mena.
"Jika kau tak sembuh esok! Biaya pengobatan mu akan ku hitung Hutang!" Kesabaran Marco sudah di ujung tanduk! Gadis ini tak boleh menyusahkan nya apalagi membuat dirinya harus menghamburkan uang. Harusnya gadis itu yang memberikan Marco manfaat banyak dengan biaya gratis bukan?
...*******...
Tangan kecilnya sibuk mengiris dan menumis berbagai bumbu masakan, Nana tengah menjalankan titah Marco yang pertama, Semua koki di larang membantu gadis itu.
Semua sudah tersaji di atas meja dengan sempurna persis seperti yang di inginkan oleh Marco.
Tangan kekar itu menyumpit mencicipi berbagai menu hidangan yang ada.
Pyar!
Beberapa piring di jatuhkan dengan sengaja, pecah dengan beberapa menu makanan yang tercecer.
Ada apa? Kenapa? Tanya itu yang ada di benak Nana, bukankah dirinya sudah menyajikan yang terbaik? mengapa aura nya begitu mematikan? Apa makanan ku tak enak. tak mungkin! Nana sudah mencicipi nya berulang.
"Tak enak! Masak lagi! Udah Balado! Cumi Crispy Saus Mozarella, Tumis sawi, Gurame goreng crispy asama manis!" Menu baru telah di sebutkan.
"Baik!" Ujar Nana, toh percuma juga dia melakukan protes hasilnya ia akan tetap masak!
__ADS_1
"Pungut dan bersihkan semua ini!" Ujar Marco.
"Aughhh!" Rintih Nana kala serpihan piring itu menggores jari manisnya,
"Gadis bodoh! Kau buta ada serpihan piring! Jangan menyusahkan ku! Obati sendiri luka mu itu! Ingat! Saat aku sudah pulang semua ini harus bersih dan kau harus menghidangkan makanan untukku!" Titahnya bagai raja yang tak bisa di bantah.
Kakinya melangkah pergi meninggalkan Nana yang sakit tergugu, luka di jarinya tak seberapa namun hatinya begitu menjerit sakit.
Tuhan? Apa yang telah aku lakukan di masa lalu? Kenapa kau menghukum ku seperti ini! Apa dosa di masa lalu ku begitu besar? Apa dulu aku seorang pembunuh.
Usapan kasar menyeka sudut mata nya yang berembun, tangis mu tak akan di perhatikan bahkan di hiraukan oleh orang yang tinggal disini! Bagi Nana semua orang disini tak memiliki belas kasih terhadap siapa pun! Cuek dan otoriter seperti bos nya.
Berkutat dengan segalanya, hingga pukul 7 malam semua menu sudah tersaji indah di meja makan, tinggal menunggu Marco pulang. Ia mendapat kabar dari Pitter bahwa bosnya kan makan di rumah pukul 7 malam.
Ah benar, derap langkah kami itu kian mendekat kearah Nana, sosok Marco dan Pitter yang berada di belakang. Sangat setia bagai seperti induk hewan saja yang menjaga anaknya.
Tanya terus menghampiri otak kecilnya, bagaimana keadaan Marco yang datang dengan beberapa darah yang menempel di kemeja putih miliknya, sangat ketara karena bau amis itu langsung menguar. Seolah darah segar itu baru saja tumpah?
Apa bos nya terluka? Ah Nana peduli apa! malah berharap bos mafia itu mati dengan begitu dirinya bisa lepas dari jerat semua ini.
Nampaknya muka itu datar tak menimbulkan reaksi kesakitan?
Kembali dirinya bertanya? Memang dia pernah melihat Marco tertawa? Ah tidak pernah sama sekali.
"Aku sudah makan! Buang semua makanan ini! Dan kau ikut aku!"
Buang? Sudah makan? oke!!! Sabar Na Sabar! Ujar Nana mengelus dada ratanya itu, ingin sekali dirinya mengumpat kasar, sangat kasar. Di pikir masak semua ini gampang tak lelah?
Sialan? Jika aku memiliki keberanian akan ku lempar semua makanan itu di muka datar mu Uncle. Sayangnya stock keberanian ku tak berlimpah ruah, kalaupun ada hanya 5%.
Tak akan mampu melawan semua titah setan Marco.
...*******...
"Uncle, air hangat nya sudah siap!" Ujar Nana, untung saja dia sudah belajar tentang bagaimana menyalakan air di bath up modern itu, letak air dingin dan air panas. semua aman terkendali jika hanya menyiapkan itu.
"Buka bajuku!"
"Ah apa? Uncle?"
"Kau tuli?"
"Buka bajuku!" Gagap Nana memastikan kata perintah itu!
"Lakukan! Kau pelayan ku! Dan kau harus melayani ku!"
__ADS_1
"Aku... Ah ya!" Kata melayani membuat pikiran nya berkelana liar? Melayani tak seperti itu kan? Ah itu suami istri hubungan? Bos ini tak mungkin tertarik dengan nya kan? Pikiran kotor itu menyapu dalam otak kecil Nana.
"Jangan memikirkan aku menyentuh mu! Itu menjijikkan! Kau kusam kecil kurus! Bukan seleraku!" Ujar Marco melenggang masuk kedalam kamar mandi, kala baju itu sudah terlepas.
Ah baju itu sangat bau sekali, Nana ingin muntah rasanya. Sungguh Amis.
"Jangan keluar dari kamar ini sebelum aku keluar dari kamar mandi! Dan kau harus menyiapkan baju yang aku butuhkan!"
"Baju seperti apa yang anda inginkan Uncle?" Tanya Nana. sebaiknya ia menyiapkan sekarang biar bisa keluar dari kamar ini dan tak. berlama-lama.
"Nanti! Apa kau begitu bodoh tak bisa mencermati setiap kataku!"
"Ah aku... "
"Kau dungu!"
30 menit kemudian.......
"Apa yang anda butuhkan tuan?" Tanya Nana, kala semua nya sudah selesai dengan baik! Tapi pria tua ini tak membiarkan dirinya pergi!
"Pijat kaki ku!"
"Ah apa?" Pekik nya dengan kaget.
"Sialan! Selain bodoh kau juga sangat tuli!"
"Saya mendengar nya tuan, saya akan lakukan!" Ucap Nana cepat.
"Jangan berhenti sebelum aku tertidur!"
"Baik tuan!" Pasrah nya. Alhasil Nana harus terjaga sepanjang malam hingga pukul 1 dini hari matanya sudah tak kuat untuk memijat, bagaimana Marco yang nyenyak tidur di atas kasur dengan Nana yang berada di lantai dengan posisi terduduk untuk memijat kaki berharga sang bos mafia.
Ah gadis ini baru 1 jam memejamkan kedua matanya!
"Bangun!" Ujar Marco langsung menghempas kan tubuh Nana, hingga ia tersungkur kaget.
"Keluar dari kamar ku! Jangan meneteskan liur menjijikkan mu disini!" Ujar Marco dengan galak.
"Baik Uncle!" Ujar Nana langsung terbangun dan pergi, mulutnya sudah di setting untuk berucap baik Uncle, apapun itu. Meski. hatinya mengumpat sangat sakit.
Tolong! Berikan Nana cairan sianida untuk membunuh bos mafia ini!!! Kematian nya akan sangat menggembirakan.
...************...
Happy Reading ❤❤❤
__ADS_1