
Arghhhhh
Sakit menghantam kepalanya, berdenyut nyeri. Perlahan namun pasti ia mulai sadar setelah pingsannya.
Sudah berapa lama? Tanyanya bermonolog pada dirinya sendiri.
"Sudah bangun nyonya Marco?" Suara serak basah Wilson menyapa tuna runggu Nana.
"Kau siapa!" Tanyanya gugup.
"Malaikat maut mu! Mau dari mana? Keluarkan putramu secara paksa? Atau membunuh ibunya dulu?" Tawaran gila di layangkan.
"Jangan ku mohon jangan sakiti anakku! Ku mohon!" Ujar Nana merintih memohon, sungguh ia mengharap belas kasih manusia gila didepan nya.
"Bhahahahaha.... Apa kau sedang melakukan penawaran dengan ku?"
"Apapun itu, jangan bunuh bayiku!"
"Bayi dari seorang pembunuh maksudmu!"
"Apa maksudmu?"
"Suamimu seorang pembunuh, bahkan lebih gila dariku! Dan kau menikahi iblis! Kau tau?"
"Tidak! Uncle Marco baik padaku!"
"Kau yakin setan itu baik padamu?"
"Jangan menyebutnya seperti itu! Dia suamiku?" Ujarnya setengah berteriak.
"Bhahaha.. Tapi aku menginginkan nyawamu! Nyawa harus di bayar dengan nyawa nyonya Marco!" Ujar Wilson tersenyum setan, cambuk sudah ada di tangan nya. Siap berayun memberikan kesakitan pada Nana yang nampak terikat di atas kasur tak berdaya.
"Jangan ku mohon!" Lirih nya kembali tersedu.
"Tuan muda!!!!" Panggilan Hilda membuat cambuk itu urung berayun menghantam tubuh Nana.
"Kenapa kau menganggu kesenangan ku Hilda!"
"Jangan bunuh Nona Nana, tuan muda! Buat Tuan Marco untuk menyerahkan dirinya kesini, maka tuan muda bisa membunuh keduanya sekaligus!" Tawar Hilda dengan lantang.
"Hilda, kau... " Ucap Nana dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kenapa nona Nana? Anda terkejut? Saya memang bekerja sebagai pelayan tuan Wilson!"
"Ahhh Ide mu bagus juga Hilda! Aku setuju!" Ujar Wilson, cambuk itu kembali di simpan.
"Saya juga punya rencana yang lain untuk menyiksanya tuan muda!" Usulan gila Hilda kembali menggema.
"Apa itu?"
"Baiknya kita bicara di ruang kerja anda tuan muda!"
"Oke! Ikut aku sekarang!" Titah Wilson.
"Baik tuan muda!"
__ADS_1
...************...
Disisi lain, suasana rumah Uncle Marco masih mencekam dan bersitegang.
Sudah beberapa jam namun nihil tak di temukan titik lokasi yang di pergunakan untuk menyekap Nana.
"Sialan! Butuh berapa lama lagi kau menemukan istri ku Pitter!" Tendangan kecil pada meja di layangkan.
"Stop son! Biarkan anak buah mu bekerja! Dan kau kendalikan emosimu di saat seperti ini!" Ujar Papa Robert mengingat kan.
"Pa? Kau tau dia sedang mengandung putraku pa! darah daging ku!" Ucap Uncle Marco dengan menggebu.
"Tapi kau harus berfikir jernih untuk mencari jalan keluar nya! Jangan gegabah!"
"Arghhh..... " Erangannya masih nampak frustasi.
Sepersekian detik kemudian, Uncle Marco melangkah tergesa menyambar kunci mobil dan melajukan nya.
"Ikuti dia Pitter! Bawa beberapa anak buah mu! Ingat jangan biarkan dia bertindak gegabah!"
"Baik tuan besar."
...***************...
Brak!!!
Pyar!!!!!
Peduli apa tentang barang mewah dan mahal dengan harga puluhan bahkan ratusan juta.
Apartemen itu tampak berantakan dengan barang tercecer kesana kemari.
"Dimana Wilson menyembunyikan istriku!!!" Pekik Uncle Marco, kedua tangannya sudah mencengkram bahkan mengguncang dengan keras bahu putih milik Jessica.
"Wilson? Apa maksud mu? Aku tak mengerti!" Jawabnya berpura-pura dungu.
"Kau jelas tau maksud ku sialan! Dimana rumah Wilson!" Ujarnya dengan menggema.
"Sungguh! Aku tak tau maksud mu!"
"Kau kekasih Wilson! Dan aku sudah tau apa tujuan mu datang ke hidupku!" Ujarnya lagi
"Bhahaha.... Kau. ternyata sudah tau? Wilson menculik istri kesayangan mu bukan?" Tak ada raut wajah Jessica yang ketakutan, kini tawa bahagia menghiasi wajah cantiknya.
"Kau..... Plak!" Tanpa kata tamparan keras mendarat dalam pipi Jessica hingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Ucapkan selamat tinggal pada istrimu!" Sinis Jessica, langsung melayangkan bola asap ke arah Uncle Marco, seketika ruang apartemen itu di penuhi asap tebal dan tak bisa melihat di sekeliling.
"Tuan! apa yang terjadi?" Teguran meras Pitter membawa Uncle Marco sadar dan melihat sekeliling nya,
Jessica hilang!!!!
...*****************...
"Apa rencana mu!" Ujar Wilson, ia sudah duduk dengan congak di atas kursi kebesaran nya di ruang kerja.
__ADS_1
"Jangan membunuh Nona Nana tuan, tapi jadikan nona Nana untuk melemahkan Tuan Marco!"
"Ya aku tau.... "
"Buat Tuan Marco selemah mungkin hingga ia tak bisa mempertahankan semua bisnisnya, dan bommmm! Dia akan hancur!"
"Aku suka dengan jalan pemikiran mu! Lalu apa yang harus lakukan dengan gadis itu!"
"Kita........ " Suara penjelasan Hilda tertahan kala Jessica datang tanpa sopan membuka pintu ruang kerja.
"Bisakah kau mengetuk pintu dahulu sebelum masuk kedalam?"
"Penyamaran kira terbongkar!" Ujar Jessica langsung mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Wilson, peduli apa tentang protes yang di layangkan kekasihnya.
"Saya permisi tuan muda!" Ujar Hilda membungkuk dengan hormat melangkah keluar.
Dan mulailah Jessica menceritakan semuanya, kejadian dia datang ke kantor Marco dan kejadian Marco mengamuk di apartemen miliknya.
Brak!!! Dasar bodoh!!!!
Umpatan Wilson begitu menohok dan menggema memenuhi ruangan itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Jessica pada Wilson.
"Kau di pancing Marco untuk membenarkan akulah yang menculik istrinya bedebah!" Geramnya, sangat tajam sorot matanya.
Jadi? Sebenarnya siapa yang menjebak siapa? Wilson yang akan menjebak Marco dalam permainannya? atau Marco yang menjebak Wilson dalam tak tik gila nya?
...*************...
"Mau apa kau kemari!" Teriak Nana dengan begitu sinis nya kala melihat sosok Hilda yang. masuk ke dalam kamarnya.
"Saya mohon Nona, jangan berteriak, ada sesuatu yang ingin saya jelaskan!"
"Aku tak sudi mendengar nya!" Sinis Nana masih berbicara dengan nada tinggi.
"Apa nona butuh bantuan kami!" Dua pengawal masuk kedalam kala di rasa ada seseorang yang berteriak.
"Tidak! Kau keluar lah! biar aku yang menghukum nyonya Marco yang sombong itu!" Mimik wajah Hilda sudah kembali menyeramkan saat berbicara dengan anak buah Wilson.
"Baik nona!" Pamitnya, dua penjaga sudah pergi keluar.
"Kau sudah tau kan? Jangan berisik nona!" Ujar Hilda, raut wajahnya sudah di setting manis kembali jika berhadapan dengan Nana.
"Kau gadis baik Nona, dan tak seharusnya kau terjebak disini. Maaf saya tak bisa menyelamatkan anda dengan keluar dari sini, tapi setidaknya saya akan berusaha menjaga anda."
"Aku tak percaya! Kau penipu! Kau bahkan ingin menjebak suami ku!" Sinis Nana.
"Lalu? Saya harus melakukan apa? Membiarkan tuan muda Wilson mencambuk anda dan anda akan kehilangan bayi bahkan bahkan nyawa anda?"
Kerongkongan Nana tercekat, benar adanya jika cambuk itu sampai melayang pasti akan melukai dirinya dan bayinya.
"Mau apa!" Pekik Nana kalau Hilda sudah mendekat dengan jarum suntik yang ada di tangan nya.
"Tenang lah nona, saya hanya akan memberikan vitamin pada tubuh anda, saya tak tau apa tuan muda Wilson memberikan anda makan atau tidak? Setidaknya dengan vitamin ini janin yang anda kadung tak kekurangan nutrisi. Saya mohon anda percaya pada saya!" Lirihnya di telinga Nana.
__ADS_1
...ππππ...
...Happy Readingβ€β€β€β€...