Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Bertemu


__ADS_3

1 tahun berlalu…….


Dendam? Sudah tidak? Tapi rasanya masih sakit jika


mengetahui fakta Louis adalah adiknya.


Bunda Louis , adalah pembunuh Mamanya, orang terkasih dan


paling berharga di hidupnya.


Semua kalimat menyeruak atas ketidakterimaan ini kian mengudara


menuntut gerangan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu hingga Tuhan menghukumnya begitu


dahsyat.


“Ini teh nya!” Ujar Nana menyerahkan secangkir teh itu.


“Apa Marfin sudah tidur?” Tanyanya.


Duh bayi kecil itu, jangan mengatainya kecil! Dia sangat tak suka!  dia sudah sangat tampan dengan


celotehan logat inggris yang bisa memusingkan sang Papa dan Mamanya.


“Ya, dia sudah tidur?”


“Ah….” Ujar Uncle Marco meminum teh pemberian sang istri.


“Masih belum terima dengan semuanya?”


“Sayang……” Ujar Uncle Marco.


Romantis dan manis bukan? Jika berdua, Uncle Marco akan


memanggil sang istri sayang , namun jika ada sang putra akan memanggilnya Mama


Marfin.


Untuk sang istri? Nana memanggilnya Papa! Jangan protes


mengapa tak ada kata marfin di belakang kata Papa untuk Uncle Marco, Tanya bayi


kecil yang tak mau di bilang kecil nan posesif itu.


Okey!


“Kau tau, semua pasti ada sebab dan akibat atas apa yang


telah terjadi. Semuanya sudah terjadi dan memang seharusnya takdir begitu!


Ambil hikmahnya sekarang kau punya aku dan Marfin bukan? Kami akan selalu menyayangi dirimu Papa.”


“Kau memang bisa menenangkan ku nyonya Marco!”


“Bukan nyonya Marco tapi Mama Marfin!” Kekeh Nana membetulkan,


Hahahhahahahaa……..


Tawanya begitu pecah memenuhi ruangan tempat tidur keduanya, mengingat bagaimana posesifnya bayi besar itu akan sang ibu, ah terlalu basi memang anak laki-laki akan posesif dengan ibunya. Tapi dalam dunia nyata memang begitu


kan?


“Aku memimpin!” Ujar Nana tersenyum licik, memang istri nakal.


Jubah yang di kenakan di tubuhnya di buang percuma .


Sudahlah iman Papa


Marco memang hanya sepitis daun, saat sang istri menggunakan baju haram. Ayolah………

__ADS_1


Tawaran memimpin? Jangan pernah di sia-siakan.


Untuk Alfiana Wulan, gadis ini sudah menyelesaikan studi nya di tingkat akhir dengan percepatan dan sedikit uang untuk segera selesai. “Hot Mother” julukan yang sangat tepat


bagaimana di usianya yang sudah 17 tahun ia memiliki seorang putra tampan, dengan bentuk badan yang sangat sexy.


Paska melahirkan, Nana sering melakukan olahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya dan perawatan untuk memuaskan sang suami.


Sangat banyak godaan di luar sana bukan?


Oleh karena itu, istri sah harus pintar dalam segala hal.


Makin cantik saja , ibarat bunga Nana adalah bunga yang tengah mekar dengan indahnya. Duh Papa Marco jadi makin posesif.


“Kau nakal?” Ujar Papa Marco menggendong sang istri.


Sudahlah biarkan mereka bergelut dan berperang di atas ranjang, mumpung Baby Marfin tertidur.


“Sayang…” Ujar Nana, nafasnya masih tersenggal atas pertarungan sengit yang baru selesai beberapa menit yang lalu.


“Hem……”


“Louis akan datang dengan bunda dan Papa!”


“Hah…….”


“Kau sudah memaafkan mereka bukan? Walau bagaimana pun Louis adalah adikmu!”


“Hah…. Iya aku sudah memaafkan nya demi kamu! Sudahlah ayo tidur!” Ujar Papa Marco mengeratkan pelukannya.


Baru jam berapa selesai, dan ini masih sangat pagi tolonglah mengerti sayang… Kenapa kau mengetuk pintu dengan tidak tau sopan santun.


“PAPA!!!!!!!!!!!! HUA!!!!!!! PAPA!!!!!!! JAHAT!!!!!!!!!”


Teriakan beserta gedoran keras terus menggema.


“Kau tidurlah, biar aku yang menemuinya!”


“Tapi….” Lengguhan tak rela melepas sang istri pergi dalam pelukan nya.


“Kau lihat sendiri bukan?” Ujar Nana, teriakan dan tangis Marfin sudah memenuhi seisi rumah itu.


“Hah….. Baiklah…….”


Clek!


“Sayang kenapa hem?”Ujar Nana merentangkan kedua tangan menggendong sang putra.


“Hiks…. Hiks…. Hiks…”


“Okey jangan menangis ya! Tak boleh seperti itu! Marfin liat? Kasihan Papa masih tertidur!” Ujar Nana memberikan pengertian.


“Mama sayang papa, engga sayang marfin! Mama selalu tidur dengan papa!” Ujar Marfin tak rela, ahhh…. Lucunya.


“Nyonya, maafkan saya!” Ujar Pitter tampak tak enak hati.


“Tak apa! Kau siap-siap, biar aku yang mengurus putraku!” Ujar Nana.


“Dadada om Pitter!” Ujar Baby Marfin dalam gendongan, senyum setan licik dilayangkan olehnya.


Astaga Tuan Muda! Kenapa


saya selalu tertipu oleh anda! Pitter bergidik ngeri.


Selama ini, Pitter yang ditugaskan Nana untuk menjaga putranya. Nana tak mempercayakan siapapun, ia ingin merawat sang putra,


menikmati dan menjalani peran nya seperti wanita pada umumnya.


"Ingin cium Papa disana!" Ujar Marfin lucu.

__ADS_1


"Jangan mengganggu Papa oke?"


"Yes Ma!"


Kakinya turun melangkah pelan ke arah sang Papa!


CUP!!! Getaran manis membuat bibir Marco tampak tertarik untuk tersenyum, ahhhh putranya nyatanya sangat sayang dan manis sekali.


"Pa! aku tau kau sudah bangun! Jika matahari sudah muncul! Mama adalah milikku! bukan dirimu! Jangan sok tampan! Lihatlah wajah mu sudah timbul kerutan!"


Menyesal sudah jika begini! Terkutuklah kau sang putra tunggal penerus Marco! Anak Sialan............


...*****************...


Koper ditarik untuk pulang, apartemen mewah menjadi tempat tinggal nya untuk saat ini. Suka tak suka mau tak mau? Dia harus kembali ketempat yang tak ingin di datangi. Hilda! sudah menyelesaikan dengan sangat baik dan tuntas atas pendidikan nya.


Kini ia dipercaya menjadi kepala rumah sakit dan dokter ahli bedah organ dalam profesional.


"Mama!" Panggilan Rafi mengangetkan sang ibu.


8 tahun, kelas 2 SD seharusnya kan? 1 tahun terakhir dia tinggal bersama Om Adi , paman nya yang dipercaya Papa Marco mengelola salah satu perusahaan cabang miliknya.


Semua sudah berubah, Adi tumbuh menjadi pemuda yang sukses, salah satu orang kepercayaan Papa Marco, atas perintah dan bujukan sang istri. mengingat bagaimana Mas Adi yang dulu begitu baik padanya.


"Apa tak rindu padaku?" Ah bagaimana bisa pertanyaan itu terlontar, jelas ia sangat merindukan putra kesayangan nya.


"Eh.. Tentu Mama sangat rindu dengan putra tampan Mama dong!"


CUP! "Kata Tante Nana, malam ini Rafi harus kerumah adik Marfin Ma! Harus sama Mama!"


"Ah ya? Baiklah...... Jam berapa?" tanya Hilda.


"Jam 7 Malam, Nanti ada Om Adi juga!"


"Oke boy!"


"Apa Mama capek?'


"Putra Mama ingin apa hem?" Tanya Hilda, jika ditanya? capek atau engga? Tentu ia baru saja sampai pukul 1 siang, dan ini sudah pukul 3 sore. Ingin sekali merebahkan dirinya di kasur.


"Jalan-jalan yo! Rafi ingin membelikan adik Marfin mainan Ma!" Kekehan nya lucu.


"Oke tunggu sebentar! Mama akan siap-siap dulu ya!" Ujar Hilda tersenyum manis.


...******************...


Ah manisnya, keduanya melangkah dengan riang, menggandeng tangan sang putra. mengikuti kemana kaki kecil itu melangkah. tawa nan lucu terus di layangkan oleh Rafi.


"Apa sudah semua?" tanya Hilda.


"Yes Ma! Ayo kita pulang!"


5 kantong plastik di tenteng , beberapa mainan yang sudah terbungkus siap untuk diberikan kepada adik Marfin! dari Kakak Rafi yang manis. sebutan tampan hanya sebutan mutlak milik Marfin! tak boleh ada orang lain yang mengeklaim. Begitu katanya.


BURGH


DUGHH


"Maaf Nona Maaf! Ujar pemuda itu memungut beberapa kantong plastik dan menyerahkan pada Hilda.


"Hilda!!!!!!!!"


"Tuan Wilson!!!!!!!!!!!!!!"


...*****************...


...HAPPY READING!!!!!!!!!!!!...


...MARI BERSABAR! JANGAN MENGHUJAT!!! INGAT PUASA!!!!!!! HAHHAHAHA................

__ADS_1


__ADS_2