
Romansa yang baru di rajut nampaknya akan membuat semua orang merasa iri dengan keduanya
Sudah ada perdebatan hebat di awal yang mengharuskan Cici untuk tak lagi menjadi model katanya "Kekayaan ku mampu menghidupi mu tujuh turunan!" Ujar Louis dengan nada sombong penuh percaya diri. Kalaupun dia bangkrut di tengah jalan, tenang! Ada Marco yang siap sedia membantu bukan?
"Janji ya!" kata itu kembali terdengar dari bibir Louis, tatapan nya penuh dengan tuntutan. Aduh janji apa ya?
"Ya..." Ujar Cici malas menanggapi. nampaknya hidupnya akan di atur oleh manusia satu ini, lihatlah tampang tenggil penuh keposesifan nya yang sudah mendarah daging. Tapi kau suka bukan? Ayolah Cici akui saja
"Ya aku janji!" Kata itu kembali di ucap sebagai jawaban sebelum ada pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
"Oke bye, aku mencintaimu! Siang nanti aku akan datang menjemputmu! Kita makan siang!" oke sekian, salam perpisahan nya terlalu bertele-tele ayolah tuan muda Louis, pacarmu Eh calon istrimu hanya akan bekerja dan itupun masih satu kota. Tak perlu berlebihan.
...****************...
Semuanya berjalan dengan semestinya seperti biasa, hanya beberapa room chat yang di terima dari kekasihnya.
"Hay! Ayo makan siang!" Ujar Mas Adi yang datang dengan membawa beberapa bekal makanan ditangan nya, bukan kah ini sudah biasa?
"Mas Adi tapi aku...." Gugup Cici.
"Udah ayo makan!!!" Ujar Mas adi dengan penuh paksaan.
"Tapi..."
"Ayo...." Kali ini sudah ada beberapa makanan yang ia buka "Selamat makan!" Ujarnya dengan penuh senyuman.
"Ah ya..." mau tak mau bukan? Daripada mubazir , lebih baik di makan saja. Urusan Louis nanti bisa dijelaskan dengan baik baik dan Cici percaya Louis tak akan marah hanya karna hal sepele seperti ini bukan?
"Bagaimana enak?" Ujar Mas Adi penuh senyuman.
"Ah ya..." jawab nya tergugup.
Dring.....Dringg...
"Ya kak?" Jawab Mas Adi di sebrang telfon sana.
"Kemana kau? mau kesini secara sukarela atau ku seret kau?" Ujarnya dengan penuh geram di sebrang sana. Jika Adi bukan adik kesayangan dan satu-satunya, Hilda tak akan segalak ini.
"Aku hanya makan...."
"Letakkan dan sekarang kesini! Jika tidak...."
"Oke baik!" Ujar Mas Adi kesal menutup telfon nya.
"Tak apa!" Ucap Cici, Ia tau Mas Adi akan berpamitan dengan nya.
"Ah maafkan aku, lain kali aku akan menemanimu lagi! Bye cantik!" Ucap Mas Adi izin permisi, tangannya dengan sayang mengusap puncak kepala.
Huft....
"Syukurlah..." Bathin Cici,
Di lain sisi, seseorang menatapnya dengan penuh kecemburuan "Berani-beraninya menyentuh miliknya!" Ucap Louis.
"Nampaknya makanan yang ku bawa hanya sia-sia! Pacarku ternyata lebih menyukai makanan dari orang lain!" sindiran telak itu di layangkan Louis, tepat di belakang tubuh Cici.
__ADS_1
"Kau..."
"Kau mengharapkan nya kembali?" Sindirnya.
"Tunggu, bukan seperti itu!" Ujar Cici berusaha menjelaskan.
"Makanlah aku pulang!" Ucap Louis tanpa basa basi.
"Sayang..."Panggil Cici, ah namun tak di dengarkan! langkahnya tetap berjalan menjauh untuk keluar dan pulang.
Sialan, dasar mr. Posesif.... Umpat Cici dalam hati, mau tak mau ia harus menunda semua pekerjaan yang baru saja di selesaikan dan memilih menjelaskan ke Louis.
...****************...
"Ini ramuan yang kakak racik untukmu, semoga tubuhmu bisa menerimanya!" Ujar Hilda sebelum menyuntikkan itu.
"Kak kenapa?" Ujar Mas Adi melemah, kala di rasa tubuhnya tak bisa berdiri setelah ia menerima suntikan obat dari kakaknya.
"Efeknya akan seperti itu, mungkin 2 hari akan kembali normal, sementara kau pakai kurai roda dulu!"
"Aku bukan orang berpenyakitan kak!"
"Itu fakta yang harus kau terima!"
"Tapi kak..."
"Bekerjasamalah dengan kakak mu ini, hanya kau saudara yang kakak punya. Hanya 2 hari!" Ujar Hilda sudah dengan mode memelasnya.
"Baik kak!" Jawabnya pasrah.
"Kau akan terus seperti itu!" sindir Cici kala 30 menit hanya keheningan yang menyapa. Jika kalian bertanya mereka ada dimana? Jawabnya ruang kantor perusahaan Louis.
Tak ada jawaban, bahkan tolehan kepala saja tidak ada sama sekali.
"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu, bukan aku yang mengininkannya sayang!" Jika cara halus meminta maaf di abaikan maka pasang wajah yang memelas yang perlu dikasihanin.
"Sekarang Ayo makan! Aku sudah lapar? Kau tak mau bukan? Pacarmu mempunyai berpenyakitan?"
"Tidak!" akhirnya keluar juga kata kata itu, kaki melangkah di hentakkan dengan kesal. Oke masih terdengar aura kecemburuan dan kekesalan.
Drama nya sudah berakhir, dan kini Cici terlelap di atas kasur milik Louis yang berada di perusahaan. Terlalu lelah menunggu Louis bekerja karena ia tak di izinkan pulang.
Mas Adi 📩 Apa kau sudah pulang? Bisa kita bicara? Aku merindukanmu!
Kala titik kecemburuannya sudah mereda kini kembali membumbung tinggi dengan sebuah notifikasi pesan masuk di handphone milik kekasihnya.
Aku harus mengurus laki laki tak tau diri itu! Enak saja menganggu calon istri orang. Begitu monolognya.
...****************...
"Jangan menganggu calon istriku!" Nada sengit dilayangkan Louis, kala esok harinya ia sudah berada di rumah milik Wilson, ya saat ini Mas Adi mau tak mau suka tak suka harus tinggal di kastil itu. Hilda melarang keras ia tinggal di apartemen miliknya.
"Kau bicara dengan ku?" Ujar Mas Adi tak mengerti.
"Apa ada orang selain kau disini!"
__ADS_1
"Sebentar-Sebentar aku tak mengerti! Calon istri mana yang kau maksud?" Ujar Mas Adi jujur, memang ia tak mengerti bukan? Lalu wanita mana yang menjadi calon istrinya? Bukankah wanita uang ia dekati hanya Cici saja?
"Kau jelas tau wanita yang ku maksud! Cici!!!"
Tawa seketika memenuhi ruangan itu "Ayolah, Jangan bercanda!" Ujar Mas Adi menyeka air mata sisa ia tertawa di sudut matanya.
"Itu faktanya! Aku sudah resmi berpacaran sekaligus melamarnya 2 hari yang lalu! Dan dia setuju." Ujarnya dengan nada penuh percaya diri, jangan banyak yang memprotes persoalan 2 hari itu. Bagi Louis itu lama.
"Aku tak percaya sebelum mendengar langsung dari mulut Cici!" Ujar Mas Adi tak kalah sengit.
"Kau..."Tangan Louis sudah mengangkat kerah baju Mas Adi, pukulan sudah akan di layangkan namun terhenti di udara kala tetesan darah keluar dari hidung Mas Adi.
Uhuk.... Uhuk....Uhuk....
"Ada apa ini!" Suara Hilda membuat keduanya menoleh, jelas Louis akan mendapatkan ceramahan panjang jika sudah seperti ini bukan?
"Louis, kau apakan adik ku?" Ujar Hilda melotot dengan tajam.
"Minggir!" langkahnya langsung cepat ke arah sang adik melakukan tindakan pertama dengan peralatan yang sudah ia sediakan jika keadaan seperti ini terjadi.
"Kak Louis tak memukulku!" Ujar Mas Adi lirih menjelaskan.
"Sudah ayo kakak bantu kau harus istirahat!" Setelah melakukan pemeriksaan pertama secara dadakan Hilda membantu sang adik untuk duduk di kursi roda miliknya. Semua itu tak luput dari pantauan Louis yang ada disana.
...*************...
"Adi sakit, itu reaksi obat yang aku suntikkan padanya. Namun gagal!" Ujar Hilda memberitahu dengan gamblang di hadapan Louis kala ia sudah mengantarkan Mas Adi untuk beristirahat.
"Dia sakit?"
"Ya! Kanker darah! Aku sedang berjuang untuk mengobatinya. Namun ramuan obat ku yang pertama gagal. Tubuhnya tak mau merespon apapun." Ujar Hilda menjelaskan.
"Hidupnya tak akan lama.!" Hilda menambahkan sesuai dengan perkiraan dokter.
"Apa!!!!!"
"Jangan membuatnya bersedih, aku hanya ingin dia bahagia disisa hidupnya dan aku juga akan berusaha menyembuhkannya semampuku!" Ujar Hilda, kali ini pengucapannya tulus. Bagai seorang kakak yang memang tidak ingin di tinggal oleh adik kesayangan dan satu satunya yang ia miliki di dunia.
"Kau tampan? Bahka kau memiliki segalanya. Kau sempurna Louis. Pantaskah kau merebut sesuatu hal yang paling berharga dan membuat hidupnya bersemangat? tak kasihan kah kau pada manusia yang berpenyakitan seperti Adi?" Ujar Hilda.
"Aku tak mengerti maksud kakak!" Tutur Louis Jujur.
"Lepaskan Cici demi kebahagiaan adikku Louis, sama seperti kau menyayangi Marco sebagai kakakmu. Aku juga menyayanginya dan akan memberikan apapun yang ia inginkan. Ku mohon, biarkan dia bahagia dengan wanita yang ia cintai sejenak saja. sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan dunia ini!"
"Jadi maksud kakak! Kau ingin aku merelakan Cici untuk Adi?"
"Kau jelas tau masudku!"
"Tapi Cici bukanlah barang yang bisa di tukar!"
"Aku tak mengaggap Cici seperti sebuah barang, aku hanya memintamu untuk mengikhlaskannya demi adikku! Aku mohon!" Ujarnya, kali ini sudah tak bisa di gamabrkan semenyedihkannya Hilda di hadapan Louis.
"Kak.....!!!!"
...******************...
__ADS_1