
Ralat sedikit.
Pacar dari Tuan Wilson dan Tuan Marco dahulu adalah Jessica. dan Jeni adalah kembaran dari Jessica yang mengahasut adik kandung nya yang bernama Sabrina untuk mencelakai Nana.
Dan Mas Adi adalah adik dari Hilda.
Sekian dan makasih. Maaf banyak kekurangannya.
...***************...
"Tuan kita kemana? Ini bukan jalan pulang menuju kerumah ku?" kata itu kembali menggema kala dirasa mobil yang ia tumpangi tak mengarah ke jalan pulang rumahnya.
"Diam dan ikutlah aku!" Ujarnya dengan tak tau diri.
Melayangkan protes pada Tuan Louis tampaknya akan seperti orang waras yang berbicara pada orang gila bukan? sia-sia.
Hingga roda mobil itu berhenti di halaman rumahnya.
"Tuan!"
"Masuk!"Tak ada bantahan apapun Cici. Aura mendominasi sudah ada dalam jati dirinya sekarang.
Oke Baiklah, turuti saja biarkan masalah ini cepat selesai begitu pola pikirnya.
Brak!!!! Pyar!!!!!!
Beberapa vas bunga di lempar tak berguna, bercecer di lantai tanpa sia sia.
"Tuan ada apa!" Ujar Cici terpekik kaget dengan reaksi yang di tujukan oleh Tuan Muda Louis, ini pertama kalinya ia melihat kemarahan Louis secara nyata.
Beberapa majalah di lempar di hadapan Cici serasa tak berguna. Jika orang lain melihat itu merupakan mahakarya sempurna Tuhan dengan berbalut potret yang di ciptakan manusia.
"Cantik!" kata itu yang akan terlontar. "Bangga!" Kata ini juga yang mendominasi foto keduanya.
"Kurangkah aku di matamu!!!" Ucapnya dengan sinis.
"Ha?" Tanya Cici dengan raut wajah tak mengerti, jelas! Bukan kah itu foto biasa, tak ada kontak fisik yang dilakukan sama sekali. Hanya sebuah foto Cici dan model laki laki. Pakaian yang dikenakan pun cukup sopan bagi seorang model.
"Brengs*k!!!" Kata itu kembali menggema dengan tangan yang meninju tembok yang tak memiliki salah apapun.
Jika kalian bertanya? Dimana semua pelayan dan penjaga. Biarkan nanti tua muda gila itu yang menjawabnya. Anggaplah kita seperti Cici yang menuruti permainan Tuan Louis.
__ADS_1
"Hentikan tuan muda! Jangan sakiti diri anda" Ujar Cici, kala sorot matanya melihat tetesan darah yang keluar dari telapak tangan Louis.
"Aku punya segalanya, aku punya harta dan kedudukan yang akan ku berikan padamu. Asalkan kau mau menerima cintaku! Tak tau kah kau bila aku mencintaimu!" Ujar Louis masih dengan nada tingginya.
"Seberapa banyak anda minum alkohol tuan muda? tidurlah!" ujar Cici.
Bruk!!!!
"Hahaha... Mengenaskan sekali diriku!" kini Louis sudah terduduk dengan telapak tangan yang tergores serpihan kaca yang tercecer.
"Saya harap tuan muda lebih dewasa!" Ujar Cici melangkah pergi.
Argh....
Sakitnya kembali meremas serpihan kaca nya ia genggam. Terlalu berlebihan memang! Kata itu yang harus di sandang oleh Louis dengan tindakan ektream yang di lakukan untuk mendapatkan cintanya.
"Kemari, saya obati tangan anda!" Ujar Cici mengulurkan tangannya.
"Kau...." Ujarnya gugup. "Tak usah peduli dengan ku!" Ujar Louis menepis tangan Cici yang ingin mengobatinya.
"Saya juga mencintai anda tuan muda!" Ujar Cici, keberanian dari mana dengan tak tau dirinya mengecup sekilas Pipi Louis agar percaya. Begitu yang ada di fikiran nya sekarang.
...**********...
"Arg sakit sayang!" Kata itu begitu menggelikan, sudah tak terhitung lagi berapa kali kalimat itu terlontarkan. Kala jarinya yang terluka tengah di obati oleh Cici.
"Aku menarik kata kataku!" Ujar Cici dengan malasnya.
"Hey hey! Mana bisa, kita akan menikah bulan depan dan itu sudah menjadi kesapakatan!" Aura mendominasi memang akan selalu menguasai Louis. Seolah tak akan tercipta ruangan untuk Cici mengelak atas apa yang sudah Louis susun.
"Sudah!" Ujar Cici memberikan plaster sebagai tanda berakhirnya pengobatan singkat pertama yang dilakukan di tangannya.
"Aduh laper!" Memang gila otaknya? jika laper bukankah tangannya harus reflek memegang perut.
"Tangan anda seharusnya ada disini tuan muda!" Ujarnya merevisi letak tangan yang ada di jidat menjadi turun ke perut.
"Itu maksudku! Bubur enak!" Ujarnya request masakan kesukaannya.
"Saya? Bukankah tuan muda memiliki pelayan yang banyak?" Sindirnya.
"Tuan muda!" Sindir Louis "Sayang! sayang! sayang!"Ujarnya melucu mempraktekkan dengan paksaan bahwa Cici harus memanggil Louis seperti itu.
__ADS_1
"Aku ingin Bubur buatan mu!" Ujar Louis dengan melucu.
"Baiklah!"
"Yeay! Aku tunggu disini!" Ujar Louis senang.
Seperti anak kecil yang kekurangan kasih sayang bukan? tapi itu adalah fakta yang sesungguhnya
Baginya membuktikan seseorang apakah mencintai dirinya atau tidak? Cukup lukai dirinya sendiri dan tunggu reaksinya.
manja? tolonglah Louis memang haus kasih sayang dari sosok wanita bernama ibu. Cukup bersabar melihat Cici yang selalu wara wiri menghiasi sampul majalah dengan beberapa model pria.
argh... makin membuatnya naik darah bukan?
...************...
Biarkan manusia bucin itu dengan polah tingkah aneh tuan muda Louis. Kita kembali ke Mas Adi sekarang.
tatapan nyalang seorang kakak begitu menohok dan mendominasi. Raffi sudah diamankan oleh pengasuhnya.
"Sayang sabar!" Wilson sebagai seorang suami terus menenangkan sang istri yang nampak ingin memarahi adik nya tapi ikut terhanyut sedih atas masalah yang di hadapi.
"Jelaskan Adi!!!!" Beberapa obat obatan itu di lempar dengan amarah mendidih.
Nampaknya Mas Adi melewatkan satu hal bahwa kakaknya ini adalah dokter hebat yang hanya melihat merk sebuah obat obatan dia akan tau dan mengerti penyakit yang sedang di derita pasien meskipun prediksinya tak 100% benar dan perlu tahapan selanjutnya.
"Adi tak apa kak! buktinya Adi masih sehat kan sampai sekarang!"
"Lakukan kemoterapi mulai besok! Kakak akan siapkan segalanya dan kakak akan memimpin semua pengobatan mu!" Ujar Hilda tanpa ada bantahan.
"Kak tapi Adi ga mau!!!" Tolaknya secara halus.
"Kakak tak menerima pendapatmu dan kau harus mau!!! Apa kau tak menganggap kakak mu ada Adi! kenapa kamu menyembunyikan semua ini! Kakak merasa gagal menjadi orang tua untukmu!!!" Ujar Hilda dengan nada akhir tergugu.
"Sayang tenangkan lah dirimu! Ayo pulang! Biarkan Adi istirahat! Aku akan tempatkan beberapa orang untuk menjaganya disini!" Ujar Wilson menengahi dan menenangkan istrinya.
"Mas Wilson ini..." Ucap Adi yang hendak melayangkan protesnya.
"Tak ada protes apapun! Besok persiapkan semuanya dan turuti kakakmu!" Ujar Wilson, sorot matanya mengatakan jangan sakiti istriku apalagi membuatnya menangis. Begitu kiranya pesan yang tersirat.
...************...
__ADS_1