
Terlalu pede atau bagaimana? Nana merasa Kak Ari tengah mendekatinya. Oh Ayolah, dia masih duduk di bangku sekolah menengah akhir kelas pertama. Apa dia akan mengenal cinta sejati saat ini.
Sepele, tawaran makan berdua saat jam istirahat, mengantar pulang. "Tunggu aku latihan basket!" Ujarnya.
Hanya sederhana tapi sangat membuat hati Nana menghangat.
Orang benar, masa putih Abu-Abu adalah masa yang paling membahagiakan, dan tak terlupakan.
Menyerahkan air mineral, sesekali tangan nya terkulur untuk di minta membersihkan tetesan keringat setelah Kak Ari selesai berlatih basket.
Jika sudah Cinta, percayalah bau tak sedap dari keringat yang mengucur deras bagai parfum semerbak yang sangat memabukkan. Membuat Pipi Nana memanas saja.
"Ayo pulang! Tapi makan dulu!" Ujar Kak Ari, memasangkan helm pada kepala Nana.
"Ah iya kak!" Gugup nya memalu.
Apa ini cinta? Jika iya! Ini sangat membahagiakan.
...******...
"Hei gadis kampung!" Ujar Sabrina membentak Nana, hingga punggung gadis itu mundur beberapa langkah akibat dorongan tangan miliknya.
"Gue peringatin sama lo! Jangan sok kecakepan!" Sinisnya dengan nada nyinyir.
"Maksud kakak apa ya?" Sopan Nana.
"Gak usah pura-pura bego deh! Maksud lo apa? Jalan dengan Kak Ari, sok lo! Jangan ngimpi ya! Dia milik gue!" Sombong nya dengan nada conggak.
"Tapi Kak, kan kakak bukan pacarnya Kak Ari!" Oh good Nana, tapi kau salah menempatkan keberanian mu didepan macan betina yang tak tau diri ini, baginya apa pun yang ia ucapkan dan kehendaki adalah benar, soal semua pendapat orang lain ia mana mau peduli!
"Kurang ajar ya lo!" Minuman susu coklat hangat yang ia pegang di tangan langsung di guyurkan pada tubuh Nana pagi itu.
"Augh!!!" Lenguhnya merasa panas kala air susu itu membasahi mukanya.
"Ini peringatan kecil dari gue! Jauhi Ari! Atau hidup lo gak akan tenang sekolah disini!" Ujarnya mengancam dengan dorongan kasar.
Bugh!
Jangan nangis Na! Kau kuat! Ujarnya memberi semangat pada diri sendiri, jangan tunjukkan sisi lemah mu pada orang lain, meskipun itu sangat menyakitkan. tangis nya tergugu duduk merintih sakit di atas lantai.
...******...
"Nana!!!" Panggil Kak Ari, kala melihat Nana melangkah keluar, kakinya di percepat tanpa ingin menoleh kebelakang.
"Tungguin! Capek! Di panggil-panggil gak denger!" Dengusnya dengan nafas tersengal-sengal kala ia sudah berhasil menahan Nana dan membuat gadis ini menghentikan langkah kakinya.
"Maaf Kak, Nana gak denger!" Dusta Nya.
"Ayo pulang!"
"Nana pulang sendiri aja kak!"
__ADS_1
"Udah ayo!" Seretnya,
Dua mata menatap bringas atas apa yang dilihat didepan nya. Gadis kampungan itu! Ternyata besar juga nyalinya menantang ku!!!! Ujar Sabrina mengepal kuat kala melihat Nana dan Kak Ari tengah berboncengan.
...******...
Waktu terus bergulir, sudah satu minggu tak ada informasi apapun mengenai dimana keberadaan Louis,
Pitter frustasi dengan apa yang dirinya usahakan! Baru kali ini ia sangat sulit melacak keberadaan seseorang hingga otak nya harus di paksa bekerja seekstra mungkin.
Brak!
"Kalian sudah satu minggu mencarinya! Kenapa belum bisa menemukan nya sama sekali!!!" Umay nya kasar menggebrak salah satu meja di markas IT.
Hening...
Tak ada satu orang pun yang berani menjawab itu, Jika Pitter sedang dalam mode marah dan kesal ia akan sama gilanya dengan sang bos. Ah keduanya memang sangat cocok.
Kaki melangkah keluar dengan kasar, hatinya tampak gusar, Pitter takut mengecewakan sang bos. Ah bagaimana ini! Kenapa sangat susah untuk menembus pertahanan mafia Rajawali.
Sungutnya. Siapa sih mereka sebenarnya? Tanya nya lagi.
"Bagaimana!" Tanya Marco yang datang tiba-tiba.
"Maaf bos!"
"Waktumu kurang 1 minggu Pitter! Kau tau bukan apa hukuman bagi orang yang gagal menjalankan misi?"
Sudah tau kan? Gagal menjalankan misi hanya kematian yang membayar atas otak dungu kalian! Jangan membantah peraturan pertama ini! Bagi Marco ini sangat sesuai dan layak atas gaji yang mereka dapatkan selama bekerja dengan dirinya.
...*****...
Langkah Nana tergesa masuk kedalam ruang kepala sekolah, kiranya ada apa? Sepagi ini ia sudah di panggil oleh kepala sekolah.
"Duduk Nana!" Ujar Kepala sekolah.
"Baik Pak! Ada apa ya?" Tanya nya ragu-ragu.
"Ini!" Menyerahkan surat ke hadapan Nana. "Bacalah!" Ujar ya mengintruksi lagi.
"Apa pak? Tapi saya kan gak buat masalah!" Ucap Nana melayangkan protes sesopan mungkin? Bagaimana beasiswa FULL yang harusnya ia dapat hingga lulus di ganti hanya mendapat kan 50% saja, yang artinya Nana harus membayar uang 50% uang sekolah itu.
"Maaf Na! Ini sudah keputusan kami! Silahkan kamu keluar!"
"Tapi pak, Baik terimakasih!" Ujarnya keluar, kakinya tampak lesu, mendudukkan dirinya di kursi taman sekolah.
Melihat dengan seksama bagaimana informasi yang ada di kertas memang jelas apa adanya.
Kalau sudah begini, ia harus kembali berjualan kue dan berjuang untuk bekerja pagi siang dan malam.
"Bagaimana pembalasan ku!" Tanya Sabrina yang sudah berdiri dengan conggak! Menyeruput jus dingin dengan tatapan meremehkan pada Nana.
__ADS_1
"Jadi kau yang melakukan ini!"
"Lo pikir siapa lagi!"
"Kenapa kamu jahat kak sama aku!!! Apa salah ku!"
"Gue udah peringatin lo! Tapi kuping lo budek kayaknya!"
"Tapi bukan aku yang ngejar-ngejar kak Ari!"
"Dan lo sangat sok kecakepan nuduh Ari yang ngejar cewek udik kayak lo!"
"Aku jujur!"
"Jauhi Ari, atau beasiswa lo 100% akan di cabut!" Ujarnya berlalu pergi.
Memang, saat dirinya tadi di ruangan kepala sekolah tak menerima penjelasan secara rinci asal muasal beasiswa nya menjadi separuh dan tidak full lagi. katanya ini sudah keputusan ppihak sekolah!
Tuhan!!! Mereka lupa atas harta yang kau titipkan padanya! Mengapa mereka berlaku sombong!!!
Aku harus jauhi Kak Ari! Aku gak mau semua beasiswa ku di cabut! Lirih nya nampak tam. mampu kala dirinya mengucap kata akan menjauhi Kak Ari.
"Nana sayang ada apa?" Sapa Bibi Siti kala melihat Nana duduk termenung di taman panti, jam saja sudah menunjukkan pukul 10 malam, harusnya ia tidur seperti anak panti yang lain bukan?
"Eh Bibi, udah malem kok belum tidur?" Tanyanya.
"Ditanya kok malah balik tanya, kamu kenapa Na!"
"Nana tak apa bi!"
"Coba ceritakan pada Bibi!" 15 menit waktu yang di butuhkan Nana untuk menceritakan semua masalah yang dihadapinya, bagaimana pun Nana tak bisa menyembunyikan permasalahan nya. Baginya Bi siti sudah seperti ibu nya.
"Sudah, gak usah sedih gitu! Biarin aja ya!"
"Tapi bi!"
"Yakin, Pasti Tuhan punya rencana yang indah di balik ini semua!"
"Hah, Nana gak yakin bisa bi! Biaya sekolah itu sangat mahal meski Nana hanya membayar separuh!"
"Lantas kamu ingin mundur dan nyerah gitu aja?"
"Ya engga bi, tapi...."
"Sudah malam, ayo tidur!"
"Baik bi!"
🎶
Happy Reading.
__ADS_1