
"Chocky!!! Come!!" Ujar Nana melucu, keduanya melangkah turun ke dapur.
"Nona! Anda ingin kemana?" Tegur Hilda.
"Ke dapur! Mau memberi makan Chocky daging!" Ujar Nana dengan mata berbinar senang.
"Nona disini saja biarkan saya yang mengambil nya!" Tawar Hilda.
"Tak usah! Aku sendiri! Kau bereskan saja kamar ku!"
"Baik Nona!" Ujar Hilda patuh,
Rahangnya hampir jatuh, astaga kamar yang di tempati oleh Nana bagai kapal pecah semua berserakan ke sana kemari, Hilda harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membersihkan semua nya.
Hingga 1 jam berlalu semuanya sudah selesai ia bereskan. Kakinya melangkah menyusul Nana yang ada di dapur.
"Astaga Nona!" Pekik nya kala melihat Nana sudah bersimbah darah.
"Hahahaha.... Tenanglah Hilda! Aku tak terluka! Hanya saja Chocky!" Lirihnya dengan senyum tersungging.
Apa anda seorang psikopat?
"Ada apa Hilda!" Tegur Pitter, tak kalah berbeda. Pitter juga hanya mampu melonggo melihat apa yang ada di depan nya.
"Kau antar Nona Nana untuk membersihkan dirinya! Aku akan melaporkan pada bos!"
"Baik Tuan!"
...************...
Ingin mengumpat? Namun hanya mampu diam. Pitter.
Hilda, pelayan yang di tugas kan menjaga Nana mulai pusing dengan tingkah laku Nana.
"Astaga!! Kau menyakitinya hiks....!" Lirihnya sendu, jika kalian menebak bahwa yang terisak adalah Nana? No! Kalian salah besar, nyatanya yang terisak adalah Uncle Marco.
Tangis nya tertahan tergugu, kala melihat Chocky, anjing kesayangan nya mati mengenaskan dengan banyak darah yang bersimbah dan beberapa luka tusukan pisau.
Kiranya siapa yang berani membunuh anjing kesayangan bos mafia ini?
Tekad dan kekuatan nya patut di acungi jempol.
Nana, gadis ini dengan tak tau berdosa nya bersuara.
"Chocky nakal dengan ku dia melukai ku! Ya ku bunuh saja Uncle!" Jawabnya dengan memakan kripik singkong pedas dalam mulutnya.
Pitter hanya mampu melongo, tak jauh dari Hilda ia juga bergumam Kenapa gadis ini menjelma menjadi sosok setan yang mengerikan.
__ADS_1
Melihat darah Chocky bercecer pun tak ada rasa bergidik ngeri.
Dan lagi, bos mafia ini menangis tergugu melihat darah yang bersimbah membasahi lantai putih miliknya. Harusnya ia sudah terbiasa bukan?
Dan jangan lupakan mulutnya yang kelu tak bertulang, sama sekali tak ada daya untuk berani memarahi Nana.
Astaga!!! Aku merasa ada jiwa yang tertukar disini!
"Coba jelaskan hiks... kenapa kau begitu sadis membunuhnya!" Ujar Uncle Marco masih terisak.
"Aku ingin memotong daging untuk makan Chocky! Tapi dia tak sabar sehingga tangan ku terluka!" Menunjukkan tangan nya yang terluka, tak parah hanya goresan dikit dan itu pun sudah teratasi dengan plester cantik yang membelit telunjuk mungil milik Nana.
"Tapi kau tak bisa membunuhnya seperti ini Nana.. hiks... kenapa kau menjadi gadis yang sadis!" Lirihnya masih terisak.
Demi langit dan bumi, juga seisinya. Plis! Semua ingin menahan tawanya melihat betapa nelangsanya wajah bos mafia ini.
"Dih pikun! Uncle sendiri kan yang bilang jangan takut pada siapapun Nana! Kan ada Uncle yang menyelesaikan!" Jawaban ketus kembali di layangkan oleh Nana.
"Kau membentak ku!" Sudah tak bisa di kondisi kan lagi air mata Uncle Marco, luruh ke lantai.
"Nona...." Ujar Pitter memperingati.
"Apa? Pen juga di getok pake mangkuk ini!" Ujar Nana berkacak pinggang,
Gila!!!! Nana malam ini punya keberanian yang berlipat ganda, tak takut akan bos mafia dan tangan kanan nya.
Aku tak bisa membayangkan akan se mengerikan apa titisan Marco junior! Gila... ini di luar ekspektasi. Lirih Hilda bermonolog dalam hatinya.
Berharap esok adalah hari baik, semua orang akan lupa pada kematian Chocky!
Tidak! Bos mafia ini masih sedih, pemakaman di lakukan dengan baik untuk melepas anjing kesayangan bos mafia. di kuburkan dengan layak bagai keluarga nya yang meninggal.
"Hai Uncle... " Sapa Nana dengan riang, Uncle Marco hanya mendengus kesal melihat tingkah Nana.
"Jangan sedih! Ku bawakan ini!!!" Ujarnya dengan gembira, membawa dan menyodorkan bayi singa yang lucu dan menggemaskan, sudah ada beberapa gigi kecil yang tumbuh.
"Astaga! Dari mana kau mendapatkan nya Nana!"
"Om Pitter yang membelikan!" Jawabnya tanpa berdosa.
"Pitter ikut aku! Dan lepaskan binatang itu di sana! Kau mandi lah Nana!" Ujar Uncle Marco.
Ruangan kerja itu terasa begitu mengerikan, pandangan bosan mafia ini kembali menghunus tajam ke arah tangan kanan nya.
Jelaskan!!!!
...Flashback ON...
__ADS_1
"Kenapa Om Pitter yang menjemput ku? Kemana Uncle Marco?"
Gadis tak tau diri! Yang benar saja, Pitter juga tak kalah tampan dan ingatkan dia bahwa usianya masih muda kenapa gadis ini memanggilnya Om.
"Bos masih sedih setelah kepergian Chocky!" Ujarnya jujur.
"Cih! Dasar perasa sekali!"
"Nona, kenapa anda bisa membunuh dan tak takut seperti itu?"
"Ha? Kenapa ya? Entahlah! Aku tak tau! Suka saja melihat darah!"
Ku getok kepala mu pakai pistol Nona! Jawab aku dengan benar! Alasan mu sungguh tak masuk akal sekali! Suka? Nona pikir ini tempat sumbang darah PMII. Dengus Pitter dalam diam.
"Hah... Aku ingin membelikan nya sesuatu biar tak sedih lagi!" Ujarnya tampak berfikir.
Semoga! Kau tak menyusahkan ku Nona!? Bathin Pittter, Hilda juga tak kalah hebat untuk merapalkan doa nya.
"Bayi Singa ini!" Ujar Nana dengan mata berbinar.
APA!!!!!!!!!!
"Astaga! Kalian kenapa si! Ingin membuat ku sakit telinga Hah!" Ujar Nana dengan berkacak pinggang.
"Maaf nona!" Keduanya kompak mengucapkan.
Jiwa Pitter, sudah ingin membunuh Nana. Tapi wasiat paten dari bos mafia untuk tak menyakitinya dan harus menuruti semua ingin nya!
Aku menyesal menolong mu Nona.... Kalau tau begini! Ku biarkan kau mati saja....
"Tapi nona, dimana saya bisa mendapatkan itu!"
"Hey! Aku tak tau! Pokoknya aku mau sekarang! Atau ku adukan kalian berdua kalau menyakitiku!" Ujarnya mengancam.
"Bagaimana kalau di ganti dengan yang lebih wajar? Seperti kelinci? Kucing!" Ujarnya bernegosiasi.
"Singa!!!!!!"
"Baik nona!" Ujar Pitter menurut, dompet harus di rogoh sedemikian dalam untuk membawa pulang bayi singa itu.
...Flashback OFF...
...ππππππ...
...Author jadi susah bedain, Mana Nana mana Uncle Marco? π€£...
...Duh pusing! π...
__ADS_1
...Happy Readingβ€β€β€β€β€...