
"Kau sudah sadar! Asisten ku akan mengurus semuanya! Dan kau akan di antar pulang setelah kondisimu membaik!" Ujar Wilson, setelah mengantar Hilda pulang kerumah, malam nya ia mendapatkan informasi bahwa Sabrina sudah sadar, segera bayar dan selesai.
"Saya tak punya rumah tuan!" Isaknya mulai terdengar, di buat sesedih mungkin agar tuan muda ini percaya.
"Tuan tolong! Izinkan saya bekerja dengan anda!" lirihnya makin terisak,.
"Akhirnya!" Keluh Sabrina kala dirinya sudah bisa merebahkan diri di kasur rumah itu, oke baiklah semua rencana dan sandiwanya harus berhasil kali ini.
"Aku akan membalas dendam mu ka!" Ujarnya dengan bibir tersungging.
...**************...
Nampaknya terlalu malu jika harus berpacaram ala anak muda zaman sekarang bergandengan tangan menonton bioskop, makan malam romantis.
Tolonglah umur Wilson sudah memasuki 33+ tahun, terlalu dewasa dan pas bukan?
Dan berakhirlah mereka berdua disini, ruang keluarga milik Hilda dengan tak tau dirinya tuan muda ini merebahkan dirinya di pangkuan Hilda.
Rafi? anak ini sudah di urus oleh Mas Adi, biarkan lah bagaimana Mas Adi menjaga keponakan nya yang tampan dan menawan itu.
"Aku merindukan mu!" geli, rasanya perut seperti kram saja. ada rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata.
Bayangkan keduanya kala berperang dan bertarung, nampaknya sekarang menjadi lucu jika kata romantis itu terlontar bukan?
"Hahahaa..." Ahlahasil hanya tawa cekikikan yang mengalun untuk kata yang di ungkapkan oleh Wilson.
"Kau menertawakan ku!" kali ini nada nya sudah di penuhi rasa kesal, buktinya bibirnya mengerucut dengan sempurna saat ini.
"Ah baiklah! Jangan marah!" ujar Hilda.
"Hmmm.."
"Aku juga merindukan mu!" bisikan itu di layangkan tepat di telinga Hilda, uh.. rasanya sudah tak tahan.
Pandangan mereka pun bertemu, saling mengunci hingga benda kenyal milik keduanya yang terletak di bawha hidung kembali menyatu, menengguk rasa manis dan haus akan penyaluran yang belum sempat mereka dapatkan.
Semakin dalam, dan sangat dalam. Kedua tangan Wilson sudah tak bisa di kondisikan lagi. Semuanya sudah mencapai di titik tertinggi. Sentuhan nya mampu membuat Hilda melayang, Oh... Nikmat sekali.
Hingga keduanya pun melakukan nya, kondisi dan suasana mendukung keduanya dan terjadilah....
__ADS_1
"Terimaksih!" Ujar Wilson, tubuhnya mendekap Hilda dengan penuh nyaman dan sayang.
"Hemm.." ujarnya, tau apa yang dilakukan nya berdosa, berhubungan intim tanpa ada ikatan. Tapi Ayolah... banyak di luar sana yang melakukannya bukan? bahkan dirinya sering emlihat Jessica keluar masuk kamar Wilson!!!
Sialan..... Jadi teringat memori itu..
Biarkan Hilda egois malam ini, menginginkan Wilson menjadi miliknya dan seutuhnya hanya untuk dirinya.
Pagi menjelang dengan begitu cepat, rasa pegal kembali menyelimuti tubuh Hilda dengan mata yang masih terpejam.
Ada yang menganjal? Pikirnya tapi kenapa?
Bola matanya kemudian perlahan terbuka, sedikit terkejut melihat sosok tampan dengan muka bantalnya yang kian mempesona, astaga..... Jadi malu mengingat yang semalam.
"Besok, aku dan Mama akan kesini, melamarmu secara resmi dan bulan depan kita akan menikah!" sialan selalu dan pasti dengan kejutan yang tak terduga. Muka bantal itu masih terpejam dengan mulut yang mengetarkan hati atas apa yang telah di ungkapnya.
"Aku harus mandi!" gugupnya.
"Aku yakin kau pasti mau dengan ku kan! Aku serius!" kali ini matanya sudah terbuka, ciuman hangat itu langsung mendarat dengan sempurna.
"Ini bukan waktunya bercanda tuan muda!" gugupnya.
"Bermimpilah.." ujar Hilda yang ingin beranjak dari kasur untuk segera membersihkan dirinya.
"Aughhh..."
"Biar ku bantu!" dengan tak tau dirinya tuan muda ini langsung menggendong Hilda dengan tubuhnya yang tak terbalut sehelai benang pun.
"Kau bahkan sudah melihatnya dari semalam!" ujar Wilson dengan tak tau dirinya.
Dan ayolah, akan ku bantu dalam situasi saat ini hanya bualan seorang laki laki bukan? tak ada yang tulus dengan benar membantu. Dan akhirnya pergulatan panas itu kembali terjadi dengan indahnya.
...**************...
Tring..
Tring...
Notifikasi pesan kembali masuk kedalam handpone dua orang yang berbeda generasi ini. Mas Adi dan Mama Lisa.
__ADS_1
Dua orang yang harus berkompromi untuk menahan Rafi denga semaksimal mungkin, agar semua rencana yang sudah di susun Wilson tak berantakan. sangat jahil sekali bukan.
"Yessssa!!!!"Dasar manusia selalu saja bisa tak bisa menyembunyikan ekspresinya kala kebahagiaan menghampiri dirinya.
tuhkan... membuat curiga saja Rafi yang kini menatap mereka dengan bisnis.
"Opa! Papa Wilson kemana?" ujar Rafi dengan setengah menyelidik.
"Ya di rumah kamu lah!" duh nenek, itu mulut kenapa narus keceplosan memberitahu, bukan kah kau beralasan Wilson sedang keluar kota.
"Itu.. anu.. maksudnya nenek!"
"Om kita pulang sekarang!"
"Tapu tuan muda!!!!"
"Om..." Ujar Rafi, nadanya lembut namun sorot manya tetep menyeramkan.
...************...
"Mama milikku Pa! Lepaskan!" Ujar Rafi, bocah ini dengan conggaknya melangkah saat Papa Wilson ingin memeluk Mama Hilda, dengan gagah merentangkan tubuh kecilnya di depan Papanya sendiri dengan ekspresi menakutkan.
"Ah rafi.... Mama rindu!" Kali ini Mama Hilda sudah memeluk putranya berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan topik.
Gerakan dua tangan yang di arahkan ke mata, dan gerakan sayatan di leher, Rafi layangkan ke arah Papanya pertanda "Jangan berharap kau bisa merebut Mamaku, Pa! ku pastikan jika itu terjadi? kau akan menyesal!" begitulah kira kira sorot mata yang di layangkan Rafi pada Wilson, Papanya.
...*********...
Penjelasan!!!!
Wilson umurnya sama dengan Papa Marco dan Hilda ya.
Louis dan Mas Adi sama ya umurnya, sedangkan yang paling muda adalah Nana, Sabrina dan Kak Ari.
Masih ingat ga?
Saat SMA dulu? Nana suka dengan Kak Ari? Tapi Sabrina yang menghalanginya.
Oke, cukup sudah penjelasan nya ya....🥰🥰🥰
__ADS_1