Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Merebut hak ku!


__ADS_3

Sudah menginjak satu bulan lebih seminggu, Nana masih diam dan tenang dalam tidur nya.


Marfin, entahlah ada apa dengan bayi tampan itu, tengah malam suaranya begitu memekakkan telinga siapa saja yang terlelap, mau tak mau Marco bangun untuk mengecek keadaan sang putranya.


Badannya begitu letih, seminggu ini ia sudah kembali ke perusahaan dan pulang larut malam, padahal Papa Robert juga sudah membantunya.


"Kenapa?"


"Saya tak tau tuan, saya sudah mengganti popok dan mengecek suhu badannya nya, semua sehat tuan!" Terang Hilda, entahlah mengapa bayi itu menangis.


"Kemarikan!" Ujar Uncle Marco mengambil putranya. sangat kaku sekali dalam menggendong sang putra, Argh... lebih baik meracik pistol dan beberapa obat terlarang.


Bayi itu tetap menangis, dan malah semakin kencang.


"Tuan, saya sarankan untuk membawa tuan muda pada sisi nona Nana!" Saran Hilda.


"Dia akan menganggu Nanaku!"


"Tapi tuan, lihatlah bersama anda yan merupakan Papa kandungnya tuan muda tak berhenti menangis, mungkin tuan muda rindu dengan ibunya!" Teori macam apa itu? Ya memang Uncle Marco belum pernah mempertemukan Nana dengan bayi nya.


Ya buat apa? Ia takut Marfin akan menganggu ibunya.


Tetap saja, kaki nya melangkah keluar membawa tubuh sang putra dalam dekapannya untuk di taruh di sebelah sang istri, AJAIB!!!


Bayi itu berhenti menangis bahkan Ia sudah diam dan tenang kala tubuh nya di sanding kan di sebelah sang ibu.


"Sayang! Kau lihat? Marfin juga merindukan mu! Dia bahkan berhenti menangis saat kau ada di samping nya!" Lirihnya, ah jika berhubungan dengan Nana hatinya kembali menjadi rapuh.


Untung kamar itu kedap suara dan hanya ada mereka bertiga.


Tangan kecil nan dingin kembali bergerak seperti sedia kala, bola matanya kembali terbuka setelah tidur lamanya.


"Air!" Kata singkat yang membuat tubuh Uncle Marco merinding seketika,


"Sayang? Kau? Ah sebentar!" Ujar Uncle Marco, dengan sangat telaten Ia mengambil air untuk sang istri.


"Aku mencintaimu! Terimakasih sudah bertahan sejauh ini!" Ujar Uncle Marco, masih tak percaya dengan apa yang Tuhan berikan malam ini.


"Nona Nana dalam keadaan yang cukup baik tuan! Kita hanya tinggal masa pemulihan!" Kata indah yang ingin di dengar oleh Uncle Marco, istri nya sudah membaik.


"Bayiku!" Lirihnya kala Hilda sudah selesai melakukan pemeriksaan dan hanya ada dia dan suami di dalam kamar. Baby Marfin sudah di pindahkan ke kamar nya sebelum Hilda melakukan pemeriksaan.


"Marfin akan kesini esok hari! Dia sangat membutuhkan mu!" Lirih Uncle Marco, bibirnya masih menciumi telapak tangan sang istri.


"Marfin?"


"Marfin Smith Robert! aku memberikan nama itu untuknya! Cukup! Ini masih malam, kau harus Istirahat dulu! Jangan fikirkan apapun!" Titah nya tak ingin di bantah.

__ADS_1


"Apa kau akan tidur dengan ku disini?"


"Tentu! Aku akan menemanimu!"


"Tapi Jessica?" Lirihnya menyendu, ah koma sebulan lebih nyatanya tak bisa membuat kenangan buruk itu menghilang dari fikiran Nana pada sang suami.


"Akan ku jelaskan! Itu tak seperti yang kau fikirkan! Tapi istrihatlah!" Ujar nya


"Tidak mau!" Enak saja, kau pegang-pegang aku, kau mau menyamakan aku dengan wanita murahan di luar sana! Begitu kira-kira sorot mata tajam Nana.


"Oke stop! Akan ku jelaskan!" Ujar Uncle Marco, tubuh nya sudah beranjak naik ke atas ranjang merebahkan dirinya di sebelah sang istri.


"Malam itu aku berusaha menyelamatkan mu dari sekapan Wilson!"


"Kau tau?"


"Ya! Tapi aku gagal menyelamatkan mu! Dia pandai menyembunyikan mu! dan aku terlalu bodoh untuk menjaga keamanan mu!" Tangan nya sudah mengusap lembut puncak kepala sang istri, memberikan kenyamanan dan ketenangan.


"Hingga saat itu, Jessica datang untuk memberitahu keberadaan dirimu, aku tak punya cara lain untuk membiarkan nya mendekati ku, apapun akan aku lakukan asalkan aku bisa menemukan mu! Karena ku tau! Jessica adalah kekasih Wilson!"


"Jadi Jessica?"


"Ya! Dan saat itu aku tak menyangka kau justru kembali pulang!"


"Hilda yang membebaskan ku!"


"Hem... "


"Ku kira dia anak buah Wilson! Aku sudah ingin mengirimkan dirinya ke neraka!" Ujar nya. "Sudah lah! ini masih tengah malam! Tidurlah!" Kembali suara Uncle Marco memerintah untuk ia segera terlelap.


...*************...


Berita siuaman Nyonya Marco menyembar begitu cepat! Desakan untuk Hilda membawa keluar bayi itu harus segera di laksanakan.


Bagaimana pun caranya Wilson tak ingin tau! Bayi itu harus ada di tangannya! Kalau bisa, ibu nya juga harus ada di genggaman tangannya lagi.


"Kak makan nih! Ngelamun mulu!" Ujar Mas Adi, memberikan piring nasi kepada sang kakak.


Ah dunia ternyata sempit sekali bukan?


"Eh makasih! Kamu ga kerja?" Ujar Hilda Bertanya. dua saudara yang hanya berbeda satu tahun.


"Gak kak! Mau fokus sama tugas akhir ku dulu!"


"Kan kakak udah bilang fokus aja, tapi kamu ngeyel si, pengan kerja!"


"Ya tapi kan Adi juga gak mau nyusahin kakak!"

__ADS_1


"Hah.... Tapi kan sebelum ibu meninggal Ia ingin kakak menjaga kamu!"


"Sudah lah kak! Lupa in aja! Ibu udah tenang di sana! Adi bisa jaga diri sendiri dan Adi juga gak mau nyusahin kakak." Ujar Adi.


"Ada masalah dengan pekerjaan kakak?" Tanya Mas Adi kala kakaknya kembali melamun.


"Eh engga kok!" Kilah Hilda.


"Serius?"


"Udah dek! Kakak mau pergi dulu ya! Jagain Rafi!" Ujar Hilda, kaki nya melangkah kembali ke rumah Uncle Marco sebelum ada yang curiga jika dirinya tak ada di rumah.


...***********...


"Dia?"


"Putra kita!" Ujar Uncle Marco kala menyerah kan bayi mungil dalam dekapan Nana, ah tampan sekali. Dirinya masih tak menyangka bisa melahirkan bayi setampan ini! Hey! Kau lihat dulu Ia bibit unggul dari siapa Nana.


Papa nya begitu tampan dan menggoda, jangan lupa kan hal itu!


"Oek.... Oekkk...." Tangis Baby Marfin menggema dalam kamar itu, kepalanya mendusel lembut di area dada milik sang ibu. seolah ia menagih hak nya yang belum pernah ibunya berikan selama koma.


"Kemari kan! Mungkin dia haus!" Ujar Uncle Marco meminta.


"Lantas? Kau akan memberikan nya apa?"


"Susu Formula!"


"No Uncle! Bantu aku!"


"Apa?" Ujar Uncle Marco bodoh.


"Buka sedikit bajuku! Aku akan memberikan nya asi, bagaimana pun umurnya masih sangat kecil dia lebih baik meminum asi dariku!"


"Apa? Tapi sayang! Ini..... "


"Jangan membantah! Tangan ku masih tak bisa leluasa untuk membuka sendiri! Aku butuh bantuan mu!"


"Baiklah!" Pasrah Uncle Marco, dan benar saja bayi itu langsung meminum air susu yang keluar dari sang ibu dengan rakusnya.


Sialan! Kenapa aku merasa bayiku sendiri mengejekku! Lihatlah dia menguasai apa yang ku punya! Hey! Aku yang menjaga ibu mu selama koma, kenapa kau duluan yang menikmati itu! Harus nya aku ! Dasar! Dan Junior tidak bisa di kondisikan lagi, dia memang pengkhianat pada tuan nya sendiri! Jangan berdiri! Shit!!!!!


"Berhenti mengatai putra mu sendiri! Itu memang haknya! Kau harus pergi dan memandikan nya dengan air dingin!" Ujar Nana, bola matanya bergerak pada sesuatu yang menonjol di balik celana Uncle Marco.


...********...


Happy Reading❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2