Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Laki-laki Misterius


__ADS_3

"Ini!"


"Eh kak Ari, gak usah!" Ujarnya menolak dengan halus.


"Udah gakpapa! Minum aja Na, aku tau kamu haus kan?"


"Tapi..."


"Minum aja Na!" Ujarnya tersenyum, "Yaudah ya aku kelas dulu! Kamu langsung ke kelas!"


"Ah iya kak, Makasih ya!" Ujar Nana, senyum melengkung tercetak indah di bibirnya, Ah ku kira Kak Ari tak bakal memperdulikan ku saat aku sudah menolaknya.


Nyatanya ketua basket itu masih hangat dan peduli dengan nya.


Pyar!


Bugh!


Sabrina datang entah dari mana, merebut kasar minuman itu dan membuangnya ke sembarangan tempat.


"Lu dungu apa tuli!" Ujar Sabrina berkacak pinggang,


"Kak, tadi aku... "


"Sialan lo! Apa! Lo mau bilang kalau Ari peduli sama lo!"


"Tapi kak, Kak Ari yang dateng dan ngasih minuman itu ke aku!"


"Lu pasti udah guna-guna Ari kan? Gak mungkin dia suka sama cewek udik kayak lo!"


Udik? Hah kata itu sangat menyakitkan? Bukankah wanita di takdir kan cantik dengan segala pesonanya tersendiri?


Ya sih memang Nana akui, wajahnya ada beberapa jerawat kecil, ah tak mulus seperti wajah Sabrina yang begitu terawat.


Nana tampak lusuh, ah dirinya sudah menampilkan yang terbaik kok, tapi mau bagaimana lagi. Daripada membeli beberapa bedak? lebih baik di tabung untuk biaya sekolah bukan?


Kelak, saat dirinya sudah sukses memperjuangkan semuanya, mungkin ia akan lebih memperhatikan penampilan nya.


"Kak aku gak pernah guna-guna Kak Ari!"


"Gue ingetin ya sama lo!" Ujarnya menjambak rambut Nana dengan keras,


"Augh! Kak sakit!" Ringis Nana.


"Kalau gue liat lo sekali aja nerima atau jalan sama Ari, gue pastiin beasiswa lo akan di cabut semuanya! Lo harus inget itu!" Ujarnya langsung menghempas Nana.


Apa wanita miskin seperti ku tak bisa memperjuangkan cinta yang ku inginkan? Kenapa?


Langkahnya terasa lunglai.


"Na!"


"Na!"


"Na! Oiiii!" Ujar Mas Adi menggoyang tubuh Nana, pasalnya gadis ini terlihat melamun saja tak mendengar apa yang di ucapkan oleh nya.


Sejak datang ke cafe ini dari pulang sekolahnya.


"Ah maaf Mas, tadi Mas Adi bilang apa?"


"Kamu gak denger apa yang aku bicarain?"

__ADS_1


"Maaf kak!"


"Yaudah duduk sini! Aku antar makanan dulu!"


"Ya kak!"


"Coba cerita ada apa?" Tanya Mas Adi yang sudah kembali seusai mengantarkan makanan kepada pembeli.


"Apa cinta hanya milik orang kaya!"


"Ha? Maksudnya? Kamu sedang jatuh cinta? Suka gitu sama cowok?"


"Iya kak" Lirih Nana dengan jujur, ah pemuda didepan nya sudah di anggap seperti keluarga.


Akhirnya alkisah bagaimana Nana bisa bertemu dan dekat hingga Kak Ari mengungkapkan perasaan padanya di ceritakan dengan jelas kepada Mas Adi.


"Na! Jangan mikirin soal cinta, kamu masih kecil!"


"Tapi mas?" Lengguhan tan rela.


"Ada mimpi yang harus kamu perjuangkan, ada Bi Siti yang harus kamu banggakan! Kamu harus kejar semua impian dan cita-cita kamu Na, agar kerja keras mu selama ini tak sia-sia. Jika laki-laki itu benar mencintaimu pasti Tuhan punya cara untuk menyatukan kamu dengan nya!" Ujar Mas Adi melirih memberitakan petuah lembut hingga mudah di fahami dan di mengerti.


"Ah ya kak, aku akan ingat pesan kak!" Ujarnya tersenyum, memang benar bukan? Nana sudah memperjuangkan semuanya jangan sampai semua ini sia-sia karena ego cinta smu yang menghampiri nya.


"Duluan ya Na, maaf gak bisa anter!" Ujar Mas Adi, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, ah Mas Adi harus ke rumah sakit menjaga ibunya yang sakit dan tak pulang.


Jadi mau bagaimana lagi? ia tak bisa mengantar Nana karena arah nya pun berlawanan.


"Ah gak papa mas!"


"Itu udah dateng!" Ujar Mas Adi menunjuk tukang ojek yang ia pesan kan untuk Nana, ah Mas Adi peduli sekali dan laki-laki idaman wanita.


Roda motor tua itu bergulir untuk menuju ke panti tempat tinggalnya.


Plupk


Plupk


Ah kenapa? Tanya nya dalam hati,


"Maaf neng, motor saya mogok! Bensin nya abis!" Ujarnya dengan cengirian.


"Ah yaudah pak, gakpapa udah deket kok!" Ujar Nana tersenyum.


Sudahlah, tinggal beberapa meter saja tak perlu mempermasalahkan keadaan ini.


Kakinya melangkah pulang ke panti asuhan, hanya tinggal di depan saja bukan? Jalan 200 meter saja mungkin, kira Nana.


Bugh!


"Tolong aku!" Lirih nya, sosok laki-laki penuh darah bersimbah menghampiri Nana yang tengah jalan sendirian di sini dengan kaki yang terseok-seok.


"Si... siapa kau!" Ujar Nana gagap, bagaimana pun keadaan pria ini sangat mengenaskan sekali.


"Ku mohon tolong aku! Tolong!" Ujarnya terbata dengan batuk!


"Ah baiklah aku akan menolong mu." Ujar Nana langsung memapah tubuh pria asia itu, nampaknya pria ini adalah orang baik.


"Jangan lewat sana!" Ujarnya memperingati, banyak tanda tanya dalam otak Nana? Memang nya kenapa.


"Ah Baiklah!" Ujarnya menuntun melewati gang kecil jalan alternatif untuk segera menuju ke panti asuhan.

__ADS_1


"Sebentar!" Ujarnya merebahkan pria itu di kursi ruang tamu.


"Nana siapa dia!" Pekik Bi Siti, kala melihat Nana pulang dengan laki-laki yang tak di kenal, keadaan nya pun cukup mengenaskan.


"Gak tau bi! Nanti ya Nana jelaskin!" Ujarnya pergi ke dapur datang dengan membawa beberapa alat P3K.


Dengan telaten Nana membersihkan beberapa luka memar, mengoleskan salep untuk luka memar tersebut.


"Ini tuan!" Ujarnya menyerahkan minuman hangat.


"Terimakasih!"


"Ah ya, Sama-sama. Ini makan nya!" Ujar Nana ingin menyuapkan bubur hangat kedalam mulut pria yang di tolong nya.


"Ini?"


"Ah? makan lah dulu tuan, biar anda bisa segera pulih!"


"Baiklah!!" Ujarnya memakan tiap suapan yang Nana berikan,


"Siapa namamu?" Tanyanya.


"Nana tuan!" Ujar Nana.


"Maaf merepotkan mu."


"Sebenarnya apa masalah yang sedang tuan hadapi?" Tanyanya.


"Aku tak bisa memberitahumu ini rahasia!"


"Ah maaf tuan, ya sudah anda boleh menginap disini!" Ujar Nana berbaik hati, nampaknya pemuda ini umurnya sama dengan Mas Adi, tampak baik tak seperti orang jahat.


Ah dia juga tampan, tak mungkin dia seorang penjahat bukan?


"Hem.... "


Fajar menyingsing, ah ini hari libur tapi Nana harus bangun pagi untuk membuat beberapa kue untuk di perdagangkan.


"Gimana ya keadaan orang semalem?" Tanya Nana dalam benaknya. Kakinya melangkah segera untuk melihat keadaan nya namun ia hanya mendapati kursi kosong yang dingin.


"Kemana dia?" Tanya Nana menelisik kesana kemari.


Nihil, tak menemukan laki-laki yang di tolong nya semalam.


Antensi nya jatuh pada selembar kertas yang ada di samping meja,


"Kertas?"


**Hai Na!


Terimakasih telah menolongku!


Pertolongan mu sangat berharga!


Kelak aku akan membalas budi baikmu!!


-Louis**-


🍒🍒🍒🍒


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2