
"Bos, tuan besar memberikan ini pada anda!" Ujar Pitter masuk dan meletakkan tumpukan map itu.
Garuda Grup? Ujarnya menyerit kala kata pertama dalam map itu berlogo perusahaan Papa nya.
Dritttt
"Kau sudah menerima apa yang Papa kirimkan bukan?"
"Apa maksud semua ini!" Ujar Uncle Marco geram.
"Esok Papa tunggu kau di perusahaan! Suka tak suka kau harus memimpin perusahaan itu!"
"Aku tak mau Pa! Aku akan berikan cucu untuk mu?"
"Lalu? Kau masih akan terus bekerja di dunia gelap? Apa kau tak memikirkan putra mu sendiri son? Mempunyai Papa seorang mafia dan pembunuh! Apa kata teman-teman nya?"
Hening....
"Papa tau, Nana sedang mengandung! Dan dia belum tau sampai sekarang kau adalah seorang mafia bukan yang dia tau kau hanya seseorang yang kejam!"
"Jangan coba mengancam ku Pa!"
"Sama sekali tak mengancam, tapi Nana wanita yang baik! Papa tak yakin setelah dia mengetahui semuanya! Dia mau tinggal di sisimu!"
"Akan ku pastikan dia tetap tinggal di sisiku! Tak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya!"
"Kau yakin son? Papa tak yakin!" Ujarnya meremehkan.
"Jangan memancing emosiku Pa!"
"Papa juga tak bisa membayangkan! Kalau Nana tau kau masih berhubungan dengan jalang mu!"
"Aku akan ke kantor besok! Dan bye!" Ujar Uncle Marco geram, telfon di tutup dengan kasar.
"Pitter kau boleh pergi, persiapkan dirimu untuk besok!"
"Baik tuan! selamat malam!" Ujar Pitter berlalu pergi dengan sopan.
Oke, dia memang tak mau kehilangan Nana, tapi melepaskan Jessica dia belum bisa untuk saat ini! Sungguh dia belum bisa.
Soal mengidam buaya dan mempertemukan ikan arwana? Sudah terlaksana!
semua ikan sangat mengenaskan.
membuat Nana bertepuk tangan dengan riang, gadis ini memang gila.
Sedangkan bos mafia itu meringis ngilu melihat ikan dengan harga fantastis yang di rawatnya mati dengan tubuh compang camping.
Buaya itu tampak senang bahkan ia berada di tengah air dengan perut yang kekenyangan.
"Yeay!!! Mengasyikkan!" Ujar Nana bertepuk tangan dan melompat kecil.
"Jangan melompat Nana!"
"Ah ya! Makasih Uncle! Biarkan buaya nya disini ya!" Ujar Nana.
"Baiklah!" Pasrah nya.
...*************...
"Tuan! Bagaimana selanjutnya!"
"Biarkan kakak ku menikmati kebahagiaan nya! Bukan saatnya kita menculik gadis itu!"
"Hah... Baik bos!"
Sebentar lagi, ku pastikan kau akan hancur kak! Seperti bunda mu yang menghancurkan Mamaku!!!!
__ADS_1
Derap langkah kaki menggema, putra tampan pewaris tahta perusahaan Garuda sudah sampai di lobi perusahaan.
Banyak pasang mata yang menatap takjub, bagaimana ketampanan nya tak perlu di ragukan lagi.
"Mari tuan!" Ujar resepsionis langsung menuntun ke ruangan direktur.
"Tuan Robert sudah menunggu anda di dalam!"
Menjawab, ah malas.
"Akhirnya kau datang juga!" Senyum simpul di layangkan Papa Robert
"Hem..... "
"Pelajari semua ini, jangan lupa file yang Papa kirimkan kemarin!!"
"Hemmm.... " Ujarnya setengah hati.
"Ini meja kerjamu! Kau bisa mulai bekerja hari ini! Pitter kau bantu dia!"
"Kau mau kemana pa?" Tanya Uncle Marco kala melihat Papa sudah beranjak ingin pergi.
"Pulang menikmati hari tua ku!"
"Sialan! Kau memanfaatkan ku!"
"Bukan memanfaatkan, ini memang tanggung jawab mu bodoh!"
...************...
"Masuklah!"
"Tapi, Uncle dimana tuan?"
"Jangan memanggilku tuan! panggil Papa!"
"Papa?"
"Bos, Tuan besar membawa nona Nana pergi!" Ujar Pitter memburu, masuk dengan cepat ke dalam ruangan bos mafia itu.
"Apa??? Bagaimana? Papa!!!!!" Ujarnya mengepalkan tangan.
Telfon mahal seketika ingin di banting oleh Uncle Marco, bagaimana bisa? Papa nya seolah menghindar dan apa sebenarnya yang di rencanakan Papa.
"Lacak dimana Nana!"
"Baik tuan!" Ujar Pitter patuh.
"Kau suka?" Ujar Papa Robert pada Nana.
"Ah ya aku suka!" Jangan lupakan Nana gadis ini masih berusia 15 tahun yang mana ia mendapat tawaran keluar hanya sekedar bermain. Ah Papa Robert bahkan membelikan beberapa perlengkapan sekolah gaun indah dan saat ini tengah mengajaknya makan dengan berbagai menu yang menggugah selera.
Nampak seperti anak kecil! Ya memang kan! Salahkan Uncle Marco yang memiliki otak perlu getok sehingga membuat gadis seperti Nana harus mengandung bibit unggulnya.
"Ayo pulang!" Ujar Uncle Marco datang tiba-tiba.
"Eh Uncle! Sini duduk! Enak loh makanan ini!" Ujar Nana tampak polos menyodorkan chicken crispy dengan saus pedas dan mayo.
"Taruh! Ku bilang pulang!"
"Tapi makanan ku!" Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
"Pulang Na!"
"Hem," Ujar Nana mengikuti,
"Pulang lah Nak! Makanan ini akan di bungkus dan akan di antar ke rumah mu!" Ujar Papa Robert.
__ADS_1
"Ah makasih Pa!" Ujar Nana senang.
"Pulang Nana!" Ujar Uncle Marco lagi, menarik pergelangan gadis itu agar menjauh.
"Jangan mengganggu nya Pa!" Ujar Uncle Marco setengah berbisik pada Papa nya.
"Gadis baik! Papa setuju! Dia seperti bunda mu! Jangan sia-siakan dia!"
"Aku tak akan pernah menyia-nyiakan nya Pa!" Ujar Uncle Marco.
...*************...
Wajah cantik itu masih saja di tekuk, perutnya sama sekali belum kenyang, namun dia sudah di tarik paksa untuk pulang ke rumah.
Kaki di hentak-hentak kan dengan kasar, tas punggung di lempar sembarangan.
"Bagaimana kau menjaga nya Hilda!"
"Maaf tuan! Tapi ini perintah tuan besar untuk mengizinkan nya membawa Nana dan menyuruh saya pulang!"
"Kau harus izin dulu padaku sebelum bertindak!"
"Baik tuan, maaf!"
"Hem... Istirahat lah!" helaan nafas di hembuskan. "Pitter, aku serahkan pekerjaan ini padamu! Kau bisa menyelesaikan di ruang kerjaku! Ada yang harus ku urus dengan Nana!"
"Baik tuan!"
Tok
Tok
Tok
"Nana.... "
"Masuklah Uncle!" Ujar Nana, sudah lelah berdebat dengan manusia seperti ini, dia akan tetap berlaku semena-mena bukan?
Buktinya laki-laki tua ini kini tengah berbaring dengan nyaman di ranjang empuk miliknya.
Huh.... Mengesalkan sekali.
"Kemarilah!" Ujar Uncle Marco menepuk.
Duduk di pinggir ranjang. sangat jauh tanpa mau mendekat ke arah Uncle Marco. Hatinya masih saja kesal dan mengumpat serapahi Uncle Marco.
"Sini!!" Ditariknya tubuh Nana dalam pelukan nya.
Bugh!!!!!
"Uncle Ini tapi.... " Ujar Nana gugup, jantungnya kenapa bertalu kian cepat sekali.
"Diam! Aku tak akan berbuat lebih hanya ingin tidur memeluk mu!" Ujar Uncle Marco merapatkan pelukan nya, harum tubuh Nana sangat membuatnya nyaman sekali, postur tubuhnya juga sangat pas untuk di peluk.
"Jangan pergi keluar tanpa seizinku Na, meskipun itu dengan Papaku?"
"Ha? Kenapa?" Ujar Nana dengan gugup.
"Bisakah kau menurut tanpa bertanya alasan nya!"
"Tapi.... "
"Jangan membuat ku khawatir, atau izin mu sekolah akan ku cabut dan ku pindahkan semua guru itu disini!"
"Ah baiklah..." Pasrah Nana.
"Sekarang tidurlah!!" Ujar Uncle Marco, menit selanjutnya, terdengar nafas teratur dari Uncle Marco. Ah ia benar-benar terlelap.
__ADS_1
...🍒🍒🍒🍒...
...Happy Reading ❤❤❤...