Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Hati Seorang IBU


__ADS_3

Lidahnya begitu kelu, sangat tak bisa berucap kata apapun.


Tentang fakta yang begitu mengejutkan bahkan membingungkan bagi dirinya sendiri.


Penjelasan Wilson membuat nya bungkam seribu bahasa, anaknya gila akan pekerjaan.


Bahkan akhir ini sering sekali menemui pengacara untuk mengajukan surat Hak asuh dari Rafi.


Gila!!!!!!!


"Kau tak bisa melakukan itu Wil!" Nasehat Mama Lisa akhirnya keluar, atas tindakan semena-mena yang di lakukan anaknya.


"Tapi dia putraku Ma! darah dagingku!" Ujarnya tanpa rasa dosa.


"Kau harus pelan pelan mendapatkan hatinya, bagaimana pun anak itu, putramu benci pada ayahnya sendiri! Ayah yang tak menginginkan kehadiran nya!"


"Ma... Hilda yang bersalah karena tak pernah jujur perihal anak itu!" Ujarnya mengelak, masih tak mau ia di tuduh bersalah atas masalah yang tengah terjadi.


"Apa saat Hilda mengaku? kau mau menerima anak itu! Mama jelas tau bagaimana hubungan mu dengan Hilda, posisi kalian! Dan mantan kekasihmu Jessica!"


"Jangan bicarakan Jessica Ma! Apapun caranya, aku akan memenangkan kasus ini! Rafi adalah putraku!" ujarnya meninggalkan sang Mama.


Mengidam apa dia saat mengandung Wilson? Kenapa bisa segila ini putranya.


Gila karena tak memiliki hati, ah hatinya ada! Namun masih kaku.


...*************...


"Bhahahahhaaa..... geliiii...." Ujar Baby Marfin denga ketawa cekikikan, Nana dalam mode memasak untuk sang suami.


Ingin di buatkan soto katanya... Wkwkwkwkw....


Titip Marfin ya Papa.... Titah Nana, ah bagaimana si? Jika anak kita titipkan pada seorang laki-laki bernama Papa.


Jangan pernah percaya! itu kata yang paling tepat.


Pandangan Papa Marco teralihkan kala handphone miliknya bergetar dalam saku celana miliknya.


Percakapan itu, membuatnya terlena akan anak yang seharusnya di jaga , Untuk Pitter! Kita sumbangkan kedukaan yang terdalam karena dia akan bergelut dengan tumpukan beberapa berkas jika sang bos dalam mode tak mau pergi ke kantor.


"Sayang! Dimana Marfin?" Nana yang telah selesai memasak, menepuk pelan bahu sang suami yang tengah berdiri memeriksa email pekerjaan yang masuk.


Mungkin?


Karena atensi mata sang suami terus mengarah pada telfon yang dia genggam.


"Ha? marfin?" Otaknya membego beberapa detik, hingga detik berikutnya dia merapalkan doa atas keteledoran yang ia lalukan.


"Sayang!" kata penekanan begitu di tekan Nana , dengan nada penuh ancaman.


"Eh itu...."


"Maaf tuan! Saya menganggu waktunya! Tuan muda kecil itu...." Salah satu anak buahnya tergopoh, keringat dingin menjalar di seluruh tubuhnya. Lidahnya mati rasa untuk mengucapkan sebuah kata informasi yang akan ia ucapkan.

__ADS_1


"Katakan! Dimana putraku!" Ujar Papa Marco dengan penekanan.


Bhahahaa.......


Kaki jenjang melangkah dengan wajah khawatir yang tercetak jelas diwajah tampan miliknya.


Sang istri Nana, juga tak jauh berbeda.


"Papapa... Mam... Mam..." ujarnya masih tertawa lucu.


Singa ternistahkan disini.


Bagaimana dia kalah dengan bocah yang masih berumur 1 tahunan, ah ternistakan sekali bentuk dari singa peliharaannya.


Bulunya hampir tak tersisa, Wajahnya nelangsa meminta pengampunan. Harusnya dia menjadi singa yang tampan dengan bulu lembut yang ada di tubuhnya.


Ingat! Papa Marco sering melakukan perawatan padanya agar bulu yang ia miliki tetep terjaga baik, indah dan wangi.


"Hasyuuu..... Hasyuuuu..." bunyi bersin dari Baby Marfin membuat Papa Marco langsung mengangkat bayi kecil ini, menjauhkan nya dari singa yang wujud bulunya sudah tak berbentuk.


"Kemarikan!" titahnya galak langsung mengambil sang putra dari gendongan sang suami.


"Sayangnya Mama tak apa?" Nana masih saja khawatir, ia memeriksa satiap tubuh sang putra.


Nihil! Semua tampak baik baik saja.


"Sayang.. aku..."


"Tidur di luar!" titah Nana yang begitu mengerikan meninggalkan Papa Marco sebelum ia melontarkan kata protes.


...**********...


"Apa maksudnya!" rahang Hilda kembali mengeras, atas surat berlogo pengadilan yang baru ia terima, amarahnya begitu memuncak atas hak apa Wilson melayangkan gugatan permintaan hak asuh ke pengadilan.


Kunci mobil di ambil dengan kasar, kakinya melangkah keluar, masuk kedalam mobil.


Brengs*k! Bedebah sialan!!! Siapa dia!!!!!


"Mana tuan mudamu!!!!" Ujarnya dengan galak, ini hari minggu, pasti si gila itu tak bekerja.


Jamnya pun adalah jam dimana Wilson ada dirumah! Ah Hilda, meski terpisah kau masih ingat jam berapa Wilson memiliki waktu luang.


"Nona ada apa Nona..."


"Minggir...." kakinya melangkah masuk, keberanian nya berkali lipat kali ini.


Dia datang bukan lagi sebagai seorang pelayan, wanita, atau dokter. Tapi seorang ibu yang marah atas tindakan seorang pria yang dengan enaknya meminta hak asuh atas anak yang ia kandung dan besarkan dengan susah payah.


"Kau sudah membaca suratnya sayang!" Akhirnya, orang yang ingin ia layangkan bogem mentah muncul dengan ekspresi begitu tengil.


"Apa maksud semua ini tuan muda wilson!"


"Semua informasi yang ada sudah jelas, harusnya kau bisa kan memahami apa maksud dan tujuan ku!"

__ADS_1


"Dia bukan putramu! Dia putraku! Putra dari Hilda yang hanya seorang pelayan!"


"Tutup mulutmu Hida! dia putra dari seorang tuan muda!"


"Dia bukan putramu! Kau bebal sekali tuan muda!" Ujar Hilda, keduanya sama sama berteriak memenangkan perdebatan, tak ada kata mau mengalah.


Pukulan telak langsung di layangkan oleh Hilda, untung saja Wilson mampu menghindar, hingga keduanya terlibat pertengkaran.


Dengan Hilda yang begitu brutal memukul, dan Wilson yang berusaha menghindar.


BUGH!


Kedua tangan Hilda tekunci , tubuhnya benar benar di kuasai dalam kungkungan Wilson.


"Ternyata kau tak bisa di remehkan lagi Hilda!"Ujar nya begitu sinis.


"Lepaskan!!!!"


"Kau memang ibu yang melahirkan dan membesarkan nya, tapi aku adalah ayah kandungnya!"


"Dia putraku!" Masih dengan nada berteriak tak terima.


"Apa ini trik darimu agar aku mau menikah dengan mu? Sehingga Rafi akan seutuhnya menjadi putraku?" Tanya Wilson.


...*********...


Cangkir teh di suguhkan, masih ada kepulan uap dari cangkir yang baru saja di letakkan.


Hilda duduk berhadapan dengan Mama Lisa, di taman. Hanya berdua tak ada Wilson atau siapapun.


Soal tadi, Hilda selamat dari kungkungan pemuda minim otak yang sial nya adalah ayah dari anak yang ia lahirkan.


"Maafkan putra Mama!"


"Tak apa nyonya!"


"Panggil aku Mama..."


"Tapi nyonya..." ujar Hilda tak enak.


"Bagaimana kau bisa menyembunyikan hal sebesar ini? bagaimana kau bisa menjalankan semuanya" ujarnya nampak bertanya.


"Saya menjalankan hari saya dengan bahagia nyonya, sebelum anak anda menganggu dan menginkan putra saya!"


"Tapi putramu juga membutuhkan sosok ayah Hda!"


"Maaf nyonya? sosok ayah seperti apa yang anda maksudkan? Selama ini saya sudah bisa merangkap peran sebagai seorang ayah dan ibu!"


"Tapi rasanya jelas berbeda Hilda!"


"Kemana arah pembicaraan anda nyonya! Apa anda juga akan merebut putra saya seperti yang dilakukan oleh putra anda saat ini!"


"Kita berbicara sebagai seorang IBU hilda, aku tau rasanya jauh dari seorang anak! Itu tak enak!"Ujar Mama Lisa, Hembusan nafas perlahan kembali ia keluarkan "Apa kau tak mencintai putraku? Apa tak bisa kalian menikah? melupakan semua masa lalu yang begitu buruk yang pernah terjadi! Mama tau itu sulit! Tapi memaafkan adalah kunci hidup damai Hilda? Akan sangat bahagia jika Rafi memiliki keluarga yang utuh bukan?"

__ADS_1


...************...


...HAPPY READING!!!!!!!...


__ADS_2