
Setelah frustasi dengan bulu yang hilang, tak hilang sepenuhnya tapi tetap jelek jika di lihat sebagai singa yang perkasa.
Sekarang bertambah tak punya harga diri saja singa itu, sudahlah pasal pertama Tuan muda kecil adalah peraturan dan mahluk paling benar.
"Astaga!!! apa yang kau lakukan pada singa Papa Marfin!" Ujar Papa Marco menggelangkan kepalanya,
Yeay! akhirnya hilda memiliki teman yang pusing dengan sikap seseorang.
Singa itu tampak nelangsa dengan warna warni cat yang tak berbentuk, si tersangka dengan tak tau dirinya bertepuk ria dengan belepotan cat di tubuh mungilnya.
"Pitter!!!!" Suaranya menggema, kaki tangan nya melangkah tergopoh mengahampiri asal muasal suara sang majikan.
Tak kalah kaget, degup jantungnya juga menggila pasalnya tuan muda kecil tadi hanya ada di lantai dengan beberapa cat dan alat lukis, posisinya tak jauh dari tempat Pitter duduk bukan?
"Sudah tau kesalahan mu?" Tanya Papa Marco dengan ekspresi frustasi.
"Maaf tuan, tadi tuan muda..." ujarnya nampak gugup bagaimana kiranya bentuk kalimat pembelaan diri yang benar.
"Pa pa pa..." Suara kecil itu menarik celana yang ia kenakan, sudahlah... Jika kau bukan putraku akan ku kubur hidup hidup.
"Sayang! Dengan Uncle Pitter ya!" ujarnya mengambil sang putra dan menggendongnya ddngan penuh kasih, sudah lupakan baju dan celana yang ia gunakan. Beli lagi... Kan orang kaya
"No pa! Dengan Papa ya..." Ujarnya lagi, kali ini di sertai tepukan tangan mungil di kedua pipinya.
Oke baiklah.... Papa Marco, kaulah pembuat anak tampan dan mengemaskan itu? bagaimana saat dia masih di kandungan dan menyusahkan mu? Lahirnya di dunia cukup membuatmu pusing ternyata.
Selamat membersihkan bibit unggul keluarga Robert ya papa.....
Jika kalian bertanya dimana Nana? Ibu ini masih bergumul selimut dengan nyenyak akibat pergulatan panas dan mengenakkan mendayu nirwana yang telah di lakukan bersama sang suami. Semoga ia tak tau apa yang telah di lakukan oleh putranya. Jika tau? alhasil akan ada drama tidur di luar ya papa...😅
...***********...
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Ketukan pintu membawa sikap jenggah dalam melangkah kan kakinya untuk membuak pintu. Ia sudah tau siapa yang akan berkunjung kerumah itu.
Pasti Wilson kan? Pria itu sudah 3 hari berturut-turut datang dengan alasan rindu dengan Rafi dan ini itu. Memusingkan.
"Hay!" Ujarnya di sebrang sana.
"Pitter?" Hilda tampak kaget akan tamu yang tak terduga datang, membawa sebuket bunga di tangan nya.
"Untukmu!" katanya melembut.
"Ah maskasih? Kau kenapa datang kemari?" pertanyaan salah yang tak seharusnya Hilda tanyakan? kenapa tak menyuruh Pitter masuk terlebih dahulu?
"Memangnya kenapa? Siapa yang kau tunggu?" tanya Pitter kembali bersuara.
"Hah aku..."
"Uncle...." Bocah kecil itu berlari memeluk Pitter dengan senang, ah rasanya nyaman sekali. Sudahlah Pitter saja yang menjadi ayah sambung dari Rafi .
"Ayo masuk!" Tarikan kecil iti membawa tubuh kekar Pitter masuk kedalam, akhir-akhir ini Rafi sering menghabiskan waktu dengan Papa nya. Kadang ia rindu bermain dengan Uncle Pitter yang selalau baik padanya.
Tapi melihat putra nya akrab bercengkrama arghh... nampak sangat nyaman sekali? Apakah ini pertanda bahwa ia harus belajar menerima dan memcintai Pitter?
"Rafi..." Panggilan itu, kakinya melangkah mendekati sang putra yang tengah asyik bermain.
"Kau... kenapa ada disini!" Baru juga sampai sudah melayangkan tatapan membunuh nan tidak suka.
"Rafi sayang, kau lanjutkan bermain dengan Uncle Pitter ya! Mama ingin berbicara dulu dengan Papa!" Ujar Hilda lembut tangan kecilnya menarik keluar tubuh Wilson dan membawanya ke area taman rumah.
"Maksudnya apa semua ini? Kau...." Baru saja duduk sudah berfikir yang tidak tidak saja.
Huft....
"Kau dan Pitter? Kalian selingkuh dariku?"
"Pitter berusaha merebut Rafi dari ku kan? Jawab Hilda!" Memang temramental sekali, belum apa apa sudah menuduh berselingkuh? Lah memang pernah ada kata jadian atau lamar? kan belum?
"Pitter yang selama ini membantuku jika berurusan dengan ayah Rafi!"
__ADS_1
"Kenapa kau tak memberitahuku!" Ujarnya tak terima, lha ini gimana si? Ya memang Wilson bapaknya tapi kan?
"Kau siapa? hanya papanya kan? Aku tak melarangmu bertemu dengan putraku! Tapi jangan mengusik urusan pribadiku? kau dan aku tak ada hubungan apa apa!" kalah telak bukan kalau seperti ini?
"Apa Pitter menyukai mu?"
"Dia baik dengan Rafi selama aku tak ada di Indonesia, aku berushaa menghindarinya. Nyatanya sampai sekarang dia mencintaiku!" Jujur Hilda tanpa di tutup tutupi.
ada rasa sakit yang tak mampu di jelaskan pada diri dan raga, rasanya harapan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia akan sirna dalam benak fikiran nya.
"Kau menyukainya?" Tanya Wilson kembali menggema, tak ada jawaban apapun dari bibir Hilda. Mulutnya membisu dan mendadak kelu
"Ah baiklah, aku harus pergi. Titip ini untu Rafi!" Ujarnya menyerahkan bingkisan kepada Hilda, kakinya melangkah pergi.
Dapat di tarik kesimpulan, bahwa Hilda mencintai Pitter atas kebungkaman yang terjadi. Pikir Wilson.
Kau brengs*k! Dan aku mencintai mu tuan gila.... Bibirnya kelu dan hanya mampu membatin atas sumpah serapah kala mdlihat kaki Wilson yang melangkah pergi kian menjauh. Tertunduk sedih, tak terasa air matanya menetes tanpa diminta?
Benar kata orang? Cinta memang sepaket dengan rasa sedih dan kecewa yang ada.
"Ini!" Ujar Pitter mengulurkan sapu tangan.
"Makasih!" malu sudah, tapi tangan nya terkulur menyambut sapu tangan itu.
"Kau mencintainya! Hiduplah bahagia Hilda! Jangan fikirkan perasaan ku! Kalau kau bahagia aku juga ikut bahagia." Ujar Pitter, baik sekali kau, semoga author mau mengirimkan jodoh terbaik untukmu.
"Bolehkan aku memeluk mu yang terakhir kalinya? sebagai Adik?" izin Pitter, dan tanpa aba-aba Hilda langsung menghambur dalam pelukan nya.
"Maaf! Kau laki laki baik, semoga kau mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dariku!" Ujar Hilda dengan sesenggukkan, doanya nampak sangat tulus.
"Dan kau semoga bahagia!" Ujar Pitter lagi, usapan lembut di layangkan pada kepala Hilda, tanda kasih sayang dari kakak kepada adiknya.
Dua mata menatap nyeri adegan didepan nya, makin sempurna saja kesalahpahaman yang terjadi dalam diri Wilson.
...************...
...HAPPY READING!!!!!🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1