
Bodoh! Goblok! Dungu! Umpatan yang tepat dilayangkan Hilda pada dirinya sendiri
"Apa kau bilang!"
"Lepaskan tuan muda!" Kilah Hilda.
"Jawab aku Hilda! kenapa kau mengatakan aku tak pantas di panggil Papa! apa yang kau maksud!"
"Selain keras kepala anda juga tuli dalam hal pendengaran!"
"Sialan kau, sejak kapan kau berani melawanku!"
"Bukan melawan! tapi saya bukan pelayan yang bisa anda suruh kesana kemari!"
"Kau..........."
Perdebatan sengit nan kolot berakhir dengan sia-sia, Wilson keluar dari kamar itu dengan tangan hampa dan tak mendapatkan apa-apa.
Oh ya, ia bisa menampar Hilda untuk melampiaskan sedikit kekesalan nya.
"Cari tau semua tentang Hilda! Apapun itu, laporkan kepadaku!" Ujar Wilson dengan nada memerintah.
...************************...
Kaki melangkah tergesa untuk berjalan ke depan, beberapa penjaga yang baru saja datang terpaksa mendapatkan pukulan atas amukan dari bos mafia ini.
BUGH
BUGH
BUGH
"Bodoh semua!"
"Kalian bisa kerja!"
"Brengs*k! menjaga satu orang wanita saja kalian tak mampu!"
__ADS_1
BUGH
BUGH
"Jika kau masih tak bisa melacak dimana istriku! Bersiap atas hukuman yang akan kau terima Pitter!"
Glek!
Kerongkongan nya tercekat kala bosnya berucap seperti itu,
"Nona tidak ada di rumah Wilson, tuan."
"Apa maksudmu?"
"Menurut CCTV , saya melihat nona berhasil kabur dan meminta pertolongan!"
"Siapa yang menolong istriku!"
"Tuan muda Louis!" Gugup Pitter, sudah terbuktikan? mendengar nama Louis darah bos nya mendidih tak beraturan. Suaranya kembali menggema memekakkan telinga,
"Dimana aku?" Kepala Nana berdenyut sakit, ia baru saja terbangun.
Ruangan ini? Bathin Nana, semuanya nampak asing. Memori berputar dalam otaknya.
"Marfin dimana?" Ujar nya dengan khawatir kala ruangan itu hanya ada dirinya, yang pasti saat ini dia sedang tak baik-baik.
Tok
Tok
Tok
Pintu terbuka, ada seorang pelayan yang datang. Tersenyum padanya "Makan dulu Nona!" Ujar pelayan dengan ramah dan menaruh nampan berisi makanan itu di atas meja.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kakinya melangkah keluar sebelum itu pukulan telak ia layangkan kepada pelayan itu, membuatnya jatuh dan pingsan.
"Mau kemana nyonya Marco?" Senyum setan dilayangkan oleh Louis pada Nana, ada Baby Marfin dalam gendongan laki-laki itu.
__ADS_1
"Kembalikan anakku Louis!" Ujarnya dengan nada galak, kakinya perlahan mendekat.
"Hati-hati dalam menggendongnya!" Ujar Louis memberikan Baby Marfin dengan hati-hati.
"Kenapa aku berada disini!" Ujar Nana menatap galak ke arah Louis, Baby Marfin sudah ada dalam dekapan nya.
"Rumahku. apa kau lupa? kau sendiri yang memberhentikan mobilku!"
"Pulangkan aku Louis, aku tak mau disini!"
"Pulang? Ini rumah mu Nana!" Jawab Luois dengan santai, Geram? mungkin itu yang dirasakan oleh Nana saat ini.
"Persetan, aku akan keluar dari rumah ini sendiri!"
"Silakan! asal kau tau, jika kau ingin keluar dari sini, kau harus berjalan sejauh 1 km dan membutuhkan kapal untuk menyebranginya!"
"APA!!!!!!!!" Lutut Nana melemah kala mendengar penuturan itu.
"Coba saja! mungkin kau bisa berenang atau berjalan? Tapi Marfin? UH...... Bayi itu akan sakit karena kekurangan makanan dan kedinginan!"
"Kenapa kau menculikku! apa salahku Louis!"
"Kau tak bersalah Nana, hanya saja aku tertarik untuk menjadikan mu istriku!"
"Kau GILA!!!!! Aku sudah menikah?"
"Bercerai apa susahnya? kau bahkan tak menginginkan pernikahan itu bukan?"
"Kau?"
"Yang ku katakan benar apa adaya bukan?" Ujar Louis tak tau malunya, argh...... Ia tersenyum, manis sekali tapi itu tak berlaku pada Nana. Senyum itu mengisyaratkan sebuah ancaman.
...*************...
HAPPY READING!!!!!
Duh pendek dulu ya, wkwkwkwk ntar tak lanjut. Kalau jadi, hihihihi.
__ADS_1