
Entahlah, pikiran nya melalang buana semenjak kejadian kemarin, dimana saat nyonya Lisa memintanya untuk menikah dengan putra semata wayang nya.
Pikiran nya terbantahkan dengan jelas! yang berasumsi bahwa Mama Lisa tak mungkin mau memiliki menantu bekas pelayan seperti dirinya.
"Mama...." Panggilan kecil itu membuyarkan lamunan.
"Sayang! kemarilah!" Ujarnya merentangkan tangan mendekap sang putra dalam pelukan nya.
"Dengan siapa kau kemari hm? kenapa tak menunggu Mama di rumah saja?" Tayanya kembai dengann nada pelan.
"Dia kemari dengan ku!" laki-laki yang sudah seminggu tak ada kabar, ah bukan! maksudnya tak lagi mengganggu dirinya kini muncul dengan tak tau dirinya.
"Sayang, kau disini ya! Mama mau berbicara dengan tuan wilson dulu!" Ujarnya berusaha menahan gejolak didada.
"Tak perlu kak! Aku yang mengizinkan nya membawa Rafi dan bertemu dengan mu!" Mas Adi muncul dengan santainya, ini konspirasi apa? kenapa adiknya mengizinkan Wilson?
DASAR LAKI-LAKI......!!!!!!!
"Pergilah kak! Nikmati waktu mu bersama dengan Rafi dan kakak ipar!" Ujar Mas Adi,
Rahang Hilda seakan jatuh ke bawah? Itu adi kan? Adik kandungnya? kenapa berpihak pada Wilson? Mantra dan ancaman apa yang membuatnya seperti itu?
"Jangan menatap sinis padaku kak! pergilah!Kan ku jelaskan di rumah!" ujar mas Adi, tak tau dirinya ia pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Ayo sonn!!!" ujar Wilson, tangan nya dengan cekatan menggendong Rafi, dan satunya mengandeng tangan Hilda untuk segera keluar dari ruang praktek dan meninggalkan rumah sakit.
"Lepaskan!"
"Tidak! Menurutlah jangan membantah ku!" katanya dengan nada mendominasi.
Bugh!!!!
Pukulan ringan di layangkan bocah itu pada lengan sang Papa, mata kecilnya menatap sinis atas ketidaksukaan nya atas tindakan apa yang Papa nya lakukan.
Ini yang bokapnya siapa si! Kok ngeri sendiri di pelototin anak! Ujar Wilson membatin dalam hatinya.
"Oke son, maaf! Harusnya kau membantu Papa agar Mama mau di gandeng oleh Papa! Kau tau, jika tak di gandeng Mama mu akan pergi dan menghilang!" ujarnya dengan nada aneh,
__ADS_1
Pening! Hal pertama yang di rasakan oleh Hilda, kenapa semua mendadak aneh seperti ini sih!Kenapa!!!
...***********...
Nampak bahagia, dan seperti keluarga yang utuh. Ketiganya berjalan beriringan, Rasa utuh yang tak pernah Rafi bayangkan sejak 10 tahun terakhir.
Boleh kah bocah kecil ini menghentikan waktu? percayalah.. Ini begitu membahagiakan baginya.
Sangat....
Jangan biarkan waktu berputar dan berlalu begitu cepat tuhan.
Makan malam nan lezat tersaji dengan beberapa hidangan yang sangat mengugah selera, cukup banyak untuk ukuran 3 orang seperti mereka.
Puas bermain diarea mall dan membeli beberapa barang untuk Rafi, mainan dan sebagainya layaknya anak kecil. Sebelum pulang, ada baiknya mereka mengisi perut bukan? kata Wilson begitu!
Ah Hot Papa ini, memang pandai mengulur waktu dan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin.
"Rafi harus coba makanan ini!" ujar Wilson, tangan nya dengan telaten menaruh beberap lauk di atas piring sang putra.
"Mama..." Bocah kecil ini malah memanggil sang Mama yang asyik dengan hidangan dan hanya mengamati interaksi yang terjadi antara ayah dan anak itu.
"Kata temen ku, saat makan seperti ini Mama mereka pasti mengambilkan lauk untuk Papa nya!" ujarnya nampak lucu.
Uhuk!!!!!
"Minumlah!" Wilson dengan cekatan langsung memberikan segelas air untuk Hilda minum.
"Mama...!!!" suara kecil itu kembali menyapa gendang telinganya, Ah peka sekali dengan Papa mu kau Rafi.
Wilson memang belum mengambil makanan untuk dirinya sendiri, tangan nya sibuk memberikan dan mengamati sang putra makan. Baginya sangat mengemaskan sekali.
"Baiklah!" Sedikit keterpaksaan tangan nya mulai memeberikan beberapa lauk di atas piring Wilson!
"Makanlah!" ujarnya masih dengan nada cuek.
"Makasih Mama!" Wilson berterimakasih dengan nada anak kecil.
__ADS_1
Ah wanita, sok memang tak peduli dan tak mau mengambilkan makanan! Padahal mah seneng kan sekarang? duh Mama Hilda itu muka udah merah merona aduh....
...***********...
"Apakah keponakan tampan ku sudah tidur?" Tanya Mas Adi,
"Hem...."
"Jutek amat itu muka kak!" godanya.
"Mau ku suntik mati kau...." Ujarnya, duh kan singa sudah mengeluarkan taringnya.
Okelah, hari pertama perkenalan layaknya seperti keluarga yang utuh menghabiskan waktu bersama cukup berjalan dengan baik dan sangat sempurna. Ambil hati anaknya dulu lah... tapi emaknya juga jangan lupa.
"Rafi membutuhkan sosok Papa kak, meski ku tau selama 10 tahun ini kau membesarkan nya dengan begitu baik. Kau berhasil merangkap dua peran sekaligus kak!"Ujarnya, mode bijak mulai beraksi menjelaskan sebab dan asal kenapa dirinya setuju.
"Tapi tetep ada kurangnya, Rafi membutuhkan Wilson sebagai Papa yang nyata. Menemaninya bermain bola, motor-motoran!" Sesederhana itu Mas Adi memberikan penjelasan nya.
"Hem...." Masih mode cuek dan tak peduli.
"Seminggu yang lalu, dia berjuang meminta maaf dan restu dariku! Dari pihak keluarga yang kau punya!"
"Cih... Sudha ku duga kalian pasti..."
"Rasa sakit tetep dan akan selalu bersemayam atas kejadian pahit yang sangat susah di lupakan dan mengubah semua hidup mu kak, Berikan kesempatan kedua pada Kakak ipar, jangan egois meninggikan egomu! Aku tau kau mencintainya bukan?" Percakapan penjelas malam itu di tutup dengan kalimat pertanyaan yang kembali membuat Hilda berfikir.
Disisi lain, Wilson melangkah masuk kedalam rumah. Senyum terbit dalam bibir tampan nan gagah.
Duh, pak bos! Boleh tidak? jangan senyum didepan anak buah. Ini udah merasa merinding bergidik ngeri salah mengartikan senyum tampan mu.
"Mama...." Ujar Wilson, tubuhnya langsung menubruk sang Mama dan mecium pipi Mama lisa.
Aishh.... makin gemetar saja para bodyguard rumah itu.
"Lihatlah!" Ujarnya pamer dengan ponggah afas apa yang telah terjadi hari ini, senyum terus terbit dalam bibirnya menceritakan dengan tak henti hentinya atas usaha baiknya yang membuahkan hasil.
Semoga kau selalu di berikan kebahagiakan, Mama selalau mendoakan mu!
__ADS_1
...*********...
...Happy Reading🥰🥰🥰🥰...