
Ah rasanya masih nampak malu, sudah 5 menit yang lalu Hilda terbangun dari tidur paginya. Ah bukan pagi, ini sudah siang.
Jika tak salah melihat, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Maklum singkatnya pergulatan panas dan ahhh itu baru selesai dini hari pagi.
Duh ah, jadi malu menjelaskan nya.
Yang jelas badan nya masih remuk redam, sangat. Tuan muda? Ah bukan! SUAMI! Dengan tak tau dirinya memeluk penuh mesra, inikah nikmatnya menikah dan inikah pemandangan yang akan Hilda lihat ketika bangun tidur?
Tolong hentikan waktu, tangan nya begitu tak bisa diam ingin menyentuh mahakarya yang sudah berlebel sah menjadi miliknya. bahkan menyentuhpun mendapatkan pahala.
Tau gini! Kuylah nikah yok nikah!!!!!!!
"Aughhh..." Lenguhan sang suami merasa terganggu akan usapan lembut itu, matanya juga enggan terbuka namun dipaksa mengintip kiranya kelembutan itu unsur kesengajaan atau memang tak sengaja.
Mata terpejam, jantung bertalu!
CUP! "30 menit lagi sayang! Aku masih mengantuk jangan menganggu tidurku!" katanya nampak tau seolah tadi bukan unsur ketidaksengajaan, melainkan kesengajaan.
Ahhh, jadi malu.
"Tidurlagi!" Ujarnya kembali mengeratkan pelukan, tak tau harus berucap dan bergerak bagaimana? Sebagai seorang istri baiknya mengikuti keinginan dan titah sang suami.
Oke, kita kembali tidur dengan waktu 30 menit katanya.
Nyatanya jam sudah lewat lebih dari 1 jam mereka saling mengeratkan pelukan nya!
Abaikan pengantin yang tak tau diri, hingga membuat netizen novel menunggu adegan selanjutnya.
Beralih kekamar sebelah, kali ini Papa Marco tersenyum penuh arti akan semuanya, Baby Marfin sudah semaksimal mungkin di ungsikan kepada 2 orang tuanya.
Arghh... memang anaknya tak bisa di ajak kompromi, kala sang Papa ingin menambah menengguk manisnya ahhh. Pintu kamar hotel di ketuk dengan brutal, beberapa kali handphone miliknya bergetar hebat. Sungguh mengganggu.
__ADS_1
Klek!
"Mau apa!" sunggutnya pada Pitter yang sudah keringat dingin, tak tau malunya baby Marfin langsung menerobos masuk dengan centong sayur kayu yang ada di tangan nya.
Memukul kaki sang Papa, biarkan melengguh sakit.
Bibir terus di mayunkan bak donal bebek, rasa memberontak tak terima kembali dilayangkan pada Baby Marfin yang sudah mengusai sang istri.
Arghh... Apakah anak memang pengganggu keromantisan orang tua? Tapi kenapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan seorang anak jika sudah menikah.
Definisi anak, pelengkap. Tingkahnya begitu menggemaskan. Bukan penganggu, tapi mereka buah Cintanya.
...************...
Bulan tetap berjalan, Waktu tetep berputar dan tahun selalu berganti, tak ada masalah yang cukup serius hanya pertengkaran kecil nan manis yang menghiasi rumah tangga keduanya.
Papa Marco yang sudah sejalan dengan Baby Marfin soal tembak menembak. masih bersaing sengit jika soal sang Mama.
Perempuan cantik, sialnya ia makan putih bersih nan mempesona. bertambahnya usia membuat kedewasaan Mama Nana muncul dan mendominasi, kadang kala Papa Marco merasa tak pantas dengan sang istri yang begitu anggun muda dan segar.
Buah kesabaran anak baik bernama Rafi telah ia tengguk, Wilson memenuhi janji menjadi sosok Papa yang sangat lembut pada Mamanya. Baik terhadap dirinya.
Semua tak bisa di ungkap oleh kata, jika dulu Rafi merasa hadirnya salah. sekarang ia sangat bersyukur dan beruntung memiliki Papa dan Mama sehebat Wilson dan Hilda.
Tak ingin anaknya seperti dirinya, itu hal yang tak bisa bukan? Papa Marco dan Papa Wilson adalah lakilaki yang memiliki dan kecimpung di dunia hitam, tentu penerusnya harus bisa lebih dari orang tuanya. Bukan menjrumuskan tapi kewaspadaan tetep harus di jaga dengan tingkat tinggi.
Tak boleh memprotes, takdir memang terkadang kejam tapi jika manusia menerima dengan ikhlas semua akan memiliki sisi positifnya tersendiri.
Wisudawan terbaik jurusan modeling dan bisnis management jatuh pada Cicilia Sasmitha dengan ipk 3.85
Gadis baik, dengan kerja keras dan kegigihan nya yang menggila, ia meraih 2 gelar sarjanasekaligus di salah satu kampus negeri bergengsi di Indonesia. Tawaran model dan beberapa kedudukan di perusahaan terus menghampirinya.
__ADS_1
Bagai pangeran bak kuda putih yang tengah mencari sang permaisuri. "Selamat" Nada dingin dengan raut muka datar di layangkan Louis padanya, sebuket bunga di berikan dengan tingkah kaku.
Malu....
"Terimakasih tuan muda!" Ujarnya nampak hormat.
"Hmmmm...."
"Cici.... Selamat ya!" Mas Adi datang dengan begitu ramah, membawa buket bunga yang lebih cantik dan besar. Oke tuan Muda Louis, anda harus akui kekalahan itu.
"Eh Mas adi, makasih mas!" Ujarnya tersenyum sumringah, tanpa di duga pelukan hangat itu Cici dapatkan dari laki laki yang gak di harapkan nya.
"Mas..."
"Eh maaf ci, kesenengan!" Ujar Mas Adi tampak gugup dan malu malu.
"Ci, Merry Me?" Belum selesai dengan keterkejutan nya mendapatkan pelukan secara tiba tiba, Mas Adi sudah berlutut menyodorkan cincin bertahtakan berlian.
"Mas aku..." Ujarnya nampak kelu, pandangan nya mengarah tuk mencari sesoeang... NIHIL!!!!
"Kemana perginya? Apakah ini suatu kebodohan? Apa dia masih kurang pantas bersanding dengan tuan muda Louis? Atau haruskan Cici mulai membuka hati untuk pria yang mencintainya?"
...*************...
...HAPPY READING!!!!!...
...Bye Bye, udah ya bonus partnya... Jangan minta lagi hihihihihi.......
...Soal Cici? Mas Adi? Babang Louis? ...
...Gimana yaa??...
__ADS_1
...Nanti yaaa🤣🤣🤣🤣🤣...
...Tahun depan hehehehhehe😅😅😅...