
Gelas wine di tengguk dengan frustasi, ah laki-laki selalu menjadikan alkohol tempat pelarian nya.
Sudah 3 botol yang ia tengguk, kalau manusia normal 1 botol saja sudah membuatnya sangat mabuk, beda dengan ketahanan tuan mafia satu ini.
Botol ketiga telah habis, dan ia baru merasakan apa itu mabuk.
"Tuang!" Ujarnya sekali lagi.
Kakinya melangkah dengan sempoyongan, Sudah beberapa puluh panggilan tak terjawab dari sang Mama, anak buah nya juga bekerja keras melacak keberadaan nya saat ini.
Kaki melangkah dengan sempoyongan ke sana kemari tak tentu arah, hingga teriakan seorang gadis membuatnya harus sadar beberapa menit.
BUGH!!!!!
Nasib sial memang menghampirinya, tapi gadis itu menolong dengan tepat waktu, di menit kemudian semua anak buah miliknya juga datang.
"Tuan anda tak apa?" Pertanyaan konyol yang memang harus di tanyakan pada manusia sehat satu ini, dengan setengah mabuk.
"Tak apa! Kau tolong wanita itu!" Tunjuknya, segelas air ia tengguk dari tangan bodyguard nya, cukup membuat dirinya bisa mengendalikan rasa mabuk yang mendera.
Brankar rumah sakit di tarik untuk masuk kedalam, segera ke ruang tindakan. gadis kecil ini sudah bersimbah darah.
Semoga saja baik baik saja... Ia berhutang nyawa akan gadis itu. Pikir Wilson.
...*************...
Pagi hari ini rasanya berbeda dari sebelumnya, ibu satu anak ini mimik wajahnya tak seperti biasanya.
Kenapa aku memikirkan dirinya! Gumam nya menepis bayangan raut wajah tampan yang menghantui dirinya.
"Mama..." Lamunan itu terbuyarkan saat sang anak mengoyangkan lengan sang Mama.
"Ah ya sayang?"
"Merindukan Papa Wilson ya?" tebaknya.
"Ah apa? Tidak!" Ujar Hilda mengelak dengan kelabakan.
"Jengguklah Mama, dia sedang dalam masalah!"
"Apa! Bagaimana kau bisa tau!" Nadanya sudah naik ke tahap cemas, astaga Mama Hilda. Kau tengah di kerjai oleh putramu.
Samar kekehan tawa kecil menyungging dari bibir bocah kecil itu. Mama... Katanya tak merindukan Papa tapi ekspresimu meyakinkan kau rindu padanya...
__ADS_1
"Kau mengerjai Mama..." Ibu satu anak ini akhirnya tau kejahilan putranya.
"Hahahaha... Maaf mama.. Oke bye, Rafi berangkat dulu!" melarikan diri adalah cara terbaik yang saat ini Rafi lakukan agar tak mendapatkan omelan sang Mama. Nampaknya kejahilan itu tak membuatnya lega, ia masih saja merisaukan pria itu dalam diam.
Lebih baik aku memastikan saja kesana.... Bathin Hilda.
...************...
Tuan muda ini nyatanya tak lari dari tanggung jawab, pagi pagi sekali dia sudah menyempatkan waktu untuk mejengguk gadis yang telah menolongnya.
Sabrina....
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Wilson pada dokter yang menanggani gadis itu.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya tuan. Kemungkinan besok ia akan sadar." Ujar sang dokter memaparkan kondisi perkembangan terkini dari Sabrina.
"Aku percayakan padamu, aku permisi dulu!" ujar nya melangkah pergi, sudah cukup baik menjengguk dan memastikan keadaan gadis itu. Menjamin keselamatannya dan semua biaya rumah sakit. Setelah dia sadar, berikan beberapa uang sebagai tanda terima kasih. sudah! Beres kan?
"Hilda...." Gumamnya menatap sosok perempuan cantik yang tengah ragu mau masuk atau pulang kembali, tubuhnya mondar mandir meragu untuk menekan bel gerbang. Senyum muncul dari bibir tampan nya, kakinya melangkah pelan namun cepat hingga ia berdiri tepat di belakang Hilda.
"Apa kau merindukan ku? hingga sepagi ini di rumahku!" tanyanya berbisik, cukup membuat degup jantung Hilda menggila. Tak perku menoleh atau memastikan, telinganya sudah tau siapa yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
...*************...
Hari ini, sang istri Nana sudah di izinkan untuk mendaftar kuliah di kampus yang di inginkan. Bukan karena kekurangan uang atau gila pendidikan atau gila gelar.
Papa Marco sudah cukup baik dan mampu mencukupi perekonomian keluarganya, Namun pendidikan juga penting bagi seorang wanita. Karena ibu adalah tempat belajar pertama sang putra.
Tak pernah ada kata memaksa sang istri, ini keinginan sang istri dan sebagai suami Papa Marco menyetujui keinginan baik istrinya.
Namun? Permaslaahan nya hanya terletak pada bayi kecil itu.
"Kau tak apa bukan? Siang nanti aku akan menjemput Marfin di kantormu!" Ujar Nana memastikan untuk kesekian kalinya.
Keputusan sudah di tentukan, Marfin ikut Papa ke kantor, jam makan siang Mama cantik akan menjemputnya.
Semoga kau tak menyusahkan Papa mu son! Bathin Papa Marco terus merapalkan doanya.
"Lega..." Ujar Papa Marfin, pekerjaan nya telah selesai rasa kantuk pun kian mendera dalam dirinya.
Tidur sebentar cukup kali ya? Gumamnya. Sang putra masih terlelap di kasur yang ada di ruangan itu, lebih baik ia juga menyusulnya bukan?
Tak di sangka, bocah kecil itu ternyata sudah bangun sejak Papanya merebahkan dirinya, senyum bukan khas anak kecil tersungging dalam bibirnya.
__ADS_1
Sudahlah..... Tamat....
"Hihihihihi....."Senyum kecil cekikian mengudara kala melihat maha karya yang ia lukis di wajah Papanya.
Jahil sekali memang.
"Astaga Marfin!" Ujar Nana, ia masuk ke ruang kamar itu setelah memastikan pada Pitter bahwa sang suami dan putranya tengah terlelap.
"Ma ma ma ma!" Ujar Marfin, anak kecil ini kembali menunjukkan wajah nan mengemaskan jika berhadapan dengan sang ibu.
"No! Tak boleh seperti ini!" Ujar Nana memperingati putranya.
"Maaf Ma..." ujarnya nampak lucu mengiba,
"Sayang..." Ujar Papa Marco mengucek kedua matanya, bangun kala mendengar obrolan kecil.
"Maaf ya!" Ujar Nana, Argh... Ini bagaimana membicarakan kenalan sang putra.
Tok
Tok
Tok
Belum juga Nana memberitahu, pintu kamar itu di ketuk dengan pelan.
"Biarkan aku saja!" ujar Papa Marco langsung berdiri.
"Ah biarkan aku. itu wajahmu!" gugup Nana.
"Ya aku tau, kalaupun aku baru bangun tidur, akuu tetap tampan kan?" Ujarnya nampak pede, dan melangkah kan kakinya membuka pintu.
Umpatan di layangkan, bola matanya menatap sang putra dengan alis menungkik tajam. Lebih dari 30 menit, ia terus memandangi bibit unggulnya yang nampak asyik menyusu pada sang ibu.
"Jangan memandanginya terus! Dia putramu!" Ujar Nana.
"Cih..." Ah kesalnya masih nampak di ubun ubun sekali. Beberapa staf melihatnya dengan tampilan yang sangat jelek! Tolonglah, itu sangat merusak citranya.
"Hah... Aku tak memyangka dia sungguh mengesalkan..." Ujarnya, nada nya begitu lirih kali ini, sorot matanya menunjuk pada dada sang istri yang sedikit terbuka.
BUGH!!!!!!! Bantal sofa yang ada di ruangan itu langsung melayang ke arah Papa Marco, tawa mengejek sang putra langsung di sunggingkan, seolah berkata, "RASAKAN!!!!!"
...**************...
__ADS_1
...Happy Readingš„°...