
Masih dengan nada dan mimik muka yang begitu mendominasi tak suka.
Ayolah sayangku! Jangan kau tunjukkan tatapan mengerikan itu pada Papa mu yang tampan ini!!!! Keluh jeritan hati Wilson kala sang putra masih mentapnya dengan permusuhan.
"Aku pulang ya!" Ujar Wilson pamit pulang.
"Pulang sana!" Rafi menyahut masih dengan nada sinis.
"Sayang tak boleh seperti itu pada Papa ya!" Ujar Mama Hilda menasehati sang putra, ini pertama kalinya bukan? Hilda membela Wilson di hadapan sang putra. Hangat sudah perasaan tuan muda satu ini.
"Mama gak sayang Rafi lagi!!!" Kaki kecil itu melangkah pergi masuk kedalam kamar.
"Rafi sayang..." Ujar Mama Hilda tak enak.
"Kejarlah! Maaf sudah membuat hubungan mu dan putramu tak baik!" oke, kali ini Wilson merasa tak enak hati juga.
"Boleh Mama masuk!" Ujar Hilda dengan begitu lirih, tubuhnya sudah di depan kamar sang putra.
Tak ada jawaban, hanya keheningan yang menyapa indera pendengaram Hilda, namun detik keberikutnya suara pintu terbuka.
"Rafi tak suka dengan Papa!" tanya Hilda dengan begitu lembut, posisinya sudah diatas ranjang membelai rambut sang putra dengan kasih sayang.
"Tidak!!!" Jawab Rafi dengan begitu acuh.
"Bukan kah Rafi selalu ingin Papa ada di dekat kita?"
"Papa jahat! Dia merebut Mama dari Rafi! Lebih baik Papa tak ada!"
"Eh mana ada!" Ujar Hilda, perlahan ia harus memberikan pengertian pada putranya.
"Mama lebih memilih Papa di bandingkan Rafi! Buktinya Mama tak mengabari Rafi seharian! Mama membiarkan Rafi pergi! Mama tak lagi menemani Rafi tidur!" duh, anak ini masih bersikap seperti anak kecil lagi.
Bukan nya Mama lebih memilih Papa! Tapi Papamu yang tak tau diri membuat Mama kelelahan! Ingin Hilda memberikan alasan jujur itu, tapi tak mungkin kan.
Heleh, kau bilang tak tau diri! Padahal kau juga menikmati permainan tuan muda itu? Ya kan?
"Dengarkan! Maaf untuk itu! Mama sayang dengan Rafi, bagi Mama Rafi adalah nyawa Mama dan Papa hanya pelengkap kehidupan Mama." Ujarnya menarik nafas perlahan. "Dan jangan pernah berfikir bahwa mama tapi menyayangi Rafi ya! Adanya Papa atau tidak! Rafi tetap nomor satu di hati Mama!" semoga penjelasan ini memberikan hal positif dan baik untuk anaknya.
"Benarkah?"
"Tentu?"
"Jadi Mama lebih memilih Rafi atau Papa?"
"Jelas Rafi!" kali ini kedua jempol di layangkan sebagai wujud persetujuan atas jawaban yang di berikan.
"Tampan siapa? Papa atau Rafi?"
"Jelas tampan Rafi!" Ujar Hilda, kali ini ciuman hangat di layangkan pada pipi sang putra.
__ADS_1
BRUK!!!!
Pintu tertutup dengan sempurna, kedua mata yang tadinya menguping ingin masuk kedalam mengumpat kesal.
Tring!!!
"Kau dengar kan Pa? mama lebih sayang padaku! Dan aku lebih tampan darimu!" pesan masuk dari nomor yang tak di kenal menyapa handphone mahal milik tuan muda Wilson! Memang bibit unggul yang tak perlu di ragukan.
...**************...
Pagi ini di gaduhkan dengan perdebatan sengit siapa saja yang di undang dalam pesta pertunangan antara Hilda dan Wilson nanti malam.
"Aku tak ingin mereka hadir sayang!" entah berapa kali rasa tak terima di layangkan Wilson kala Hilda masih dengan kekeh mendatangkan Marco dan Nana.
"Tapi mereka yang menolongku!"
"Tapi aku tak suka!" masih saja ada dendam yang membelenggu hati kala mengingat nama Marco dan Nana.
"Ya sudah! Di batalkan saja acara pertunangan besok malam! mungkin kita tak berjodoh!" Ujarnya, Hilda menghempaskan badan nya di sofa.
"Tidak!!!" Suara Wilson menggema begitu mematikan.
"Kemarilah! Ikut aku!" Ujar Hilda, kakinya melangkah membawa Wilson keruang kerja miliknya.
"Kenapa kau membawaku kesini!" Tanyanya tak mengerti.
"Bacalah!!!" Ujarnya memberikan berkas.
Dendam bertahun tahun yang ia tanam ternyata salah, salah besar!!!!! apalagi saat dimana dia melakukan penculikan malam itu , masih ingat jelas bagaimana dia menyiksa Nana.
Alfiana Wulan, adalah adik kandungnya yang hilang. Ia tumbuh dan besar di panti asuhan. Bukan Marco yang menyebabkan kematian keluarganya selama ini, semua murni kecelakaan.
"Hilda ini! Tapi!" Masih dengan isakan menepis semua kenyataan yang baru saja ia dapat.
"Jessica, dialah yang menukar hasil test itu!" ujarnya, menampilkan semua bukti.
Terkait darimana Hilda mendapatkan nya, semua atas saran dari Pitter. Bagaimana Hilda mencintai Wilson dan bagaimana sikap Wilson pada tuan nya. Tentu tak ingin adanya pertumpahan darah yang terjadi di antara kedua keluarga yang tak bersalah itu bukan.
...**************...
Kakinya melangkah tergesa, menerobos masuk kedalam rumah mewah Papa Marco.
"Nana...!!!" Teriakan nya menggema ingin segera bertemu dengan adik yang paling di sayang.
Penjaga kalang kabut kala Wilson dengan tak tau dirinya menerobos tanpa bersalah, untung ada Hilda yang menangani dan menjamin semua akan baik baik saja. Cukup kabari Marco untuk segera pulang kembali kerumah.
Di perjalanan Papa Marco mengumpat kesal, bagaimana jika Wilson menculik atau bahkan mencelakai istri dan anaknya lagi bagaimana.
"Bisakah kau lebih cepat!!!!" Ujar Papa Marco masih dengan nada kesal dengan tak tau dirinya.
__ADS_1
"Sudah maksimal tuan! Saya tak bisa lagi menaikkam kecepatan, mengingat kita sedang ada di jalan raya!" Memang benar kan? semua harus di perhitungkan! Jangan seolah olah jalanan ini adalah milik nenek moyangnya.
Kembali kerumah mewah itu, teriakan Wilson masih menggema. Telinganya tuli kala Hilda terus memberikan arahan untuk ia tenang.
"Ada apa ini!!!" Ujar Nana datang dengan menggendong Baby Marfin dalam gendongan nya.
"Wulanku....." Lirihnya dengan nada terbata.
"Hilda!!! dia kenapa?" Tanya Nana tak mengerti kala Wilson hanya terdiam dengan sorot mata yang berlinang. Kakinya perlahan melangkah ke arah Nana dan mendekatinya.
Bugh!!!!!
Pelukan erat dengan tangis Wilson di luapkan pada tubuh Nana, tersedu tarisak.
"Wulan... adikku!!!" ujarnya masih dengan memeluk Nana begitu erat.
"Brengs*k!!!!! Jangan memeluk istriku!!!!" Papa Marco melangkah dengan cepat, melepas pelukan itu dan mendorong tubuh Wilson hingga jatuh tersungkur, pistol di layangkan tepat di atas kepalanya yang berarti "Kau sentuh istriku lagi kau akan mati!!!" begitu kiranya.
Hilda dengan sigap pasang badan di depan Wilson, "Tuan, Tolong dengarkan saya!!! tuan Wilson tak ingin mencelakai adiknya sendiri!!!" Ujar Hilda begitu berani.
"Apa maksudmu!!!!" Sorot matanya begitu tajam menghunus.
"Kita duduk tuan!!!" Ujar Hilda berusaha tenang.
Keempatnya duduk di kursi dengan Wilson yang terus memandang lekat Nana, tatapan nya begitu ingin lagi memeluk.
"Ingin ku congkel matamu!!! Berhenti menatap istriku sialan!!!" Ujar Papa Marco, arghh... tetap dengan pribadi yang cemburu jika berurusan dengan istri kecilnya itu.
"Jangan memandangi nya!! Biar kan aku yang menjelaskan!!!" Hilda berbisik lembut ketelinga Wilson.
"Tuan, mungkin apa yang ingin saya ucapkan adalah suatu hal yang akan membuat anda terkejut tapi ini memang faktanya!!" Hilda menghela nafas panjangnya. Mulai memberikan lembar dokumen yang menerangkan bahwa Nana adalah Wulan adik kandung Wilson.
"Dia kakak ku!!!" Bibir Nana begitu kaku.
"Benar nona!!! Itu faktanya. Mungkin Nona tak ingat itu karena Nona masih sangat kecil. Tapi liontin pemberian orang tua anda dulu bisa membuktikan semuanya."
"Bagaimana kau bisa tau? Sedangkan...."
"Maaf Nona, saya hanya tak ingin ada pertumpahan darah yang terjadi antara suami anda dengan calon suami saya!!! Perkataan saya hari ini bisa di pertanggung jawabkan Nona!!!" Ujarnya Hilda begitu mantap.
"Jangan kau harap aku mengizinkan mu memeluk istriku!!!" sinis Papa Marco menyorot.
"Kemarilah kak!!!" Nana berdiri melangkahkan kakinya memeluk kakaknya. Tak melanggar bukan? Jika Wilson tak di izinkan untuk memeluk Nana tak apa? Tapi Nana boleh kan? Memeluk kakak tersayangnya.
Semuanya telah selesai, fakta itu telah terbongkar. Semoga kedepan nya tak lagi ada kesalahpahaman yang terjadi antara Wilson dan Papa Marco.
Biarkan saja sang suami mode mulut mengerucut kala dirinya memeluk wanita lain, toh itu juga kakak kandungnya sendiri bukan?
...************...
__ADS_1
...HAPPY READING!!!!!!!!!...