Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - END


__ADS_3

"Maaf tuan Nona tak selamat!" Ujar Hilda tertunduk sedih.


"Kau pasti berbohong kan?  bohong!!!!" Ujar Papa Marco tak terima dengan pernyataan yang baru dikeluarkan oleh Hilda, tangisnya pecah dan tergugu saat ini.


Kekasih hatinya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya, semua orang menangis atas perginya wanita baik itu.


Bunga ditabur diatas Nisan yang bertuliskan Alfiana Wulan, tuhan memang kejam pada diirinya kan?


"Papa? Mama?" Ujar Baby Marfin yang di dekap dalam tubuhnya.


"Ya?" Pikirannya membego kala panggilan kecil itu menyapa.


"Mama memanggil!" Ujar Baby Marfin melucu, arghh hanya khayalan Papa Marco saja ternyata.


Wanita baik yang menyandang status istri hebatnya itu tak pergi, dia masih ada disisinya saat ini dan akan terus bersama nya hingga hari Tuhan dan maut memisahkan,


2 Jam sebelumnya.......


Beberapa dokter masuk kedalam ruang inap Nana lengkap dengan pakaian sterilnya, meski lengan nya terluka Hilda ikut turun tangan dalam penyelamatan Nana kali ini


"Sekarang dokter!" Ujar salah satu dokter pada Hilda saat semua nya sudah siap, kondisi Nana sudah di pastikan stabil dan siap menerima suntikan itu.


"Baiklah!" Suntikan pertama dilakukan Hilda dengan hati-hati, doa di rapalkan dengan posisi tertinggi semoga penawar ini bekerja dengan baik.


UHUK!!!!!!!!!!!


Darah segar keluar dari mulut Nana. "Cek semuanya!" Ujar Hilda dengan sigap pada beberapa dokter yang mendampinginya.


"Tak ada perubahan dok! Racunnya masih bekerja" Suntikan kedua kembali Hilda lakukan dan semakin banyak darah segar yang keluar, detak jantung sudah tak beraturan.


"Pasien kekurangan darah dok!"


"Segera lakukan transfusi!" Ujar Hilda, untung saja tadi ia sudah siap sedia mengambil darah Wilson, karena hanya darah dia yang cocok dengan Nana.


"Racun masih bekerja dok! Detak jantung pasien melemah!" Salah seorang dokter kembali bersuara.


"Detak jantung pasien berhenti dok!"

__ADS_1


"Siapkan alat pacu jantungnya!"


"Baik dok!" Alat itu dipacu digesekkan lalu di tempelkan tepat di dada Nana.


Tidak berhasil


Tidak berhasil


Tidak berhasil


"Dokter pasien..........."


"Pacu lagi! jangan berhenti sebelum aku perintah kan berhenti!" jantung Hilda tak kalah menggilanya saat ini, doa terus dirapalkan demi keselamatan Nona Nana "Bertahablah Nona......" Kali ini Hilda yang memegang alat pacu jantung itu.


"Berhasil dok! Pasien kembali hidup!" Ujar Dokter melihat perjuangan Hilda saat itu.


Suntikan kembali diberikan pada tubuh Nana saat ini, dan akhirnya perjuangan nya telah selesai, Nana bisa diselamatkan dan racun itu sudah keluar seluruhnya dari tubuh Nana.


Kondisinya stabil dan Nana bisa segera dipindahkan keruang rawat dan 1 jam kemudian dia akan sadardari tidurnya.


"Nona selamat!" Ujar Hilda mengacungkan kedua ibu jari miliknya, senua orang bersorak senang dan gembira atas keberhasilan nya saat ini.


BRUK!!!!!!!


Pelukan hangat didapatkan Hilda dari Tuan muda WIlson, jangan lupakan ciuman yang dilayangkan bertubi-tubi diatas puncak kepala Hilda "Kau hebat sayang....." Ujar Wilson terus memuji calon istrinya itu. Malu sudah Hilda saat ini.


"Bisa kau lepaskan pelukan ini! Kau tak lihat semua orang melihat kearah kita?" Ujar Hilda berbisik.


"Aku tak peduli!" Ujar WIlson terus mendekap.


"Tapi aku harus memantau kondisi Nona Nana!" Ujar Hilda kembali berbisik dan bernegosiasi.


"Agh.... Baiklah...." Pelukan itu terlepas dengan tak rela.


"Tuan Marco, kondisi Nona Nana sudah stabil, dan Nona akan dipindahkan ke ruang rawat inap! Saya sudah tugaskan kebeberapa dokter untuk mengecek semua organ tubuh Nona, hasilnya akan keluar 1 jam lagi. Sebentar lagi Nona Nana akan sadar, anda sudah bisa menjengguknya!"


"Terimakasih Hilda!" Ujarnya.

__ADS_1


"Semua juga berkat Sabrina, saya mohon anda memafkannnya." Tadi Louis telah menjelaskan semuanya, Namun Papa Marco nampaknya masih tak rela dengan mudahnya memaafkan Sabrina.


"Tanpa sabrina saya juga tak bisa menyelamatkan Nona Nana tuan!"


"Baiklah akan ku maafkan!" Ujar Papa Marco dengan pasrah.


"Sudah ya kak, aku bawa calon istriku pulang! Besok aku akan kembali kesini! Jaga adikku dengan baik!" Dasar tak tau diri, Wilson langsung mengandeng tangan Hilda untuk keluar dari rumah sakit.


**************


"Kenapa kita disini?"


"Tidurlah! Aku ngantuk!"


"Tapi kan? Ini......."


CUP


"Jangan berfikir yang tidak tidak sayang! Aku lelah, kau harus beristirahat juga. Pikirkan kesehatan mu, sebentar lagi kita akan meikah!"


"Tapi aku ingin pulang!"


"Bersihkan dirimu sana! Atau aku akan memakan mu! Jangan banyak protes!" Ujar Wilson langsung menyuruh Hilda membersihkan dirinya.


Baiklah menurut saja, dia juga sudah lelah dan tak punya cukup tenaga untuk melawan tuan muda Wilson bukan?


10 menit berlalu, kamar apartemen ini nampak sepi, tak ada tanda tanda Wilson "Kemana laki-laki itu?" Begitu yang dipikirkan Hilda.


"Sudahlah, lebih baik tidur saja!" Ujarnya pada diri sendiri dan kemudian merebahkan dirinya diatas kasur King Size itu, Nyaman sekali......


BRUK!


Pelukan hangat nampak tak tau diri dan sangat mesum sekali, Tuan muda mendekap tubuhnya dengan begitu erat, dan menduselkan kepalanya di dada Hilda. "Sudahlah biarkan saja!" Berdebat juga percuma saja kan?


****************


HAPPY READING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2