Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Bunda...


__ADS_3

Tak peduli dengan bahaya apapun yang ada di depan nya. Uncle Marco sudah bersiap, malam ini ia harus bisa membawa istri nya kembali pulang!!!


Semua akan dilakukan dan di korbankan , asalkan sang istri dan baby marfin bisa selamat!


"Bagaimana?" Ujar Uncle Marco bertanya pada Pitter,


"Semua sudah sesuai dengan rencana tuan! Anda bisa menyelamatkan Nona!


"Aku tak mau ini gagal! atau kau akan terima hukuman nya Pitter!"


"Baik tuan! Saya usahakan sepenuhnya!"


Dor.....


Dor......


Dor......


Semua tembakan dan bom kecil di layangkan oleh beberapa anak buah Uncle Marco, dengan segala perhitungan nya.


Shitttt!!!!!!!! Umpat Louis megeram penuh kesal.


"Biarkan dia masuk!" Ujar Louis tersenyum setan, sialan mimik wajahnya kenapa begitu bahagia di saat seperti ini ? apa rencana yang telah dia susun?


"Bawa Nana kemari dan buah hatinya!" Ujar Louis,


Dengan tubuh terikat di duduk di atas kursi, Nana meronta keras ingin di lepaskan.


"Kembalikan anak ku Louis!"


"Husttt.... Jaga nada bicara mu sayang! Jangan keras-keras! Kau tak mau kan? Baby Marfin terganggu!"


"Kau jahat! kau pria brengs*k!!! Sialan!!!!"


Tap


Tap


Tap


Derap langkah kaki perlahan mendekat ke arahnya, laki-laki tegap nan gagah berdiri dengan begitu mendidih, amarah nya meletup kala melihat keadaan sang istri yang begitu mengenaskan.


"Hai kakak... Selamat datang!" Ujar Louis, pandangan nya tak diarahkan pada Uncle Marco, tapi tangan nya sibuk mengusap pipi lembut Babby Marfin yang ada di gendongan nya.


"Berhenti! Maju? kau akan mendapatkan anak ini dalam keadaan tak bernyawa!" Aura dingin sudah menguar dalam diri Louis, begitu mendominasi.


"JANGAN SAKITI ANAKKU, LOUIS!!!!!" Bentak Uncle Marco, sorot matanya begitu tajam.


"BERLUTUT!" Titah Louis bak penguasa.

__ADS_1


"Kau....."


"Ku beritahu, pistol yang ku genggam terisi penuh oleh peluru! Cukup hanya untuk membunuh anak mu!" Ujar Louis.


"Apa mau mu?"


"Dunia hitam begitu keras bukan? Nyawa di bayar dengan nyawa kan? Bagaimana kalau putra mu yag membayar itu!"


"Tidak! apapun masalah yang terjadi pada kalian berdua ku mohon jangan sakiti anak ku Louis, dia putraku! Aku ibu yang melahirkan nya!" Ujar Nana tak terima.


"Lalu? bagaimana perasaan seorang anak kalau mengetahui ibunya terbunuh?" Ujar Louis bertanya.


"Apa maksudmu!"


"Biar ku perjelas Nana! Suami mu lah yang telah membunuh Bundaku! membuat keluarga ku hancur! Dia begitu serakah mengambil perhatian dari Papa!"


"Apa maksudmu Louis! Kau siapa!"


"Kau tak mengenali adik tiri mu sendiri kak? Uh.... Aku benci dengan fakta itu!" Ujar Louis menatap Uncle Marco dengan penuh kebencian.


"Lepaskan mereka kau boleh membunuh ku! ku mohon biarkan mereka tetap hidup!" Ujar Uncle Marco dengan pasrah? jika di tanya Pitter kemana? Dia masih di luar bertarung dengan beberapa anak buah Louis.


"BHAHAHA.... Kau bos mafia tapi malam ini kau sangat menyedihkan sekali Marco! Bersiaplah untuk kematian mu!" Ujar Louis, pistol sudah mengacung dengan sempurna tepat di kepala Uncle Marco yang tengah berlutut.


DOR!!!!!!!!


Darah segar mengucur deras membasahi lantai.


Shit!!!!!!!!!


"Nana....!!!!!" teriak Uncle Marco menggema,


"Jaga Baby Marfin untukku!" Ujar Nana pasrah. matanya sudah tertutup sempurna, rasa sakit menyatu dalam tubuh mungilnya.


BRAKKK!!!!!!!


Pintu di gebrak oleh seseorang tampak 2 laki-laki dan satu perempuan masuk kedalam dengn tak sabar.


"Louis!!!!! Apa ini yang kau mau?" Ujar seorang wanita paruh baya.


"Bunda!!!!!!" Ujar Louis mengigit jarinya.


"Kemarikan Baby Marfin! Kau mengecewakan bunda! Tuan Marco, segera bawa Nana ke rumah sakit, Baby Marfin aman dengan saya!" ujarnya.


"Kau urus istrimu Nak! Papa yang akan menjamin keselamatan cucu papa!" Ujar Papa Robert menepuk pundak sang putra.


"Pitter ayo antarkan aku!" Ujar Uncle Marco, kaki nya melangkah dengan cepat menggendong tubuh sang istri yang lemah dalam pelukannya.


5 menit, mobil telah sampai di area rumah sakit.

__ADS_1


Brankar di dorong dengan cepat memasuki ruang tindakan, genggaman tangan terlepas dan hanya doa yang mampu di panjatkan untuk mengiringi sang istri yang telah berjuang.


Kau harus berjuang Nana! Marfin dan aku membutuhkan mu!


...****************...


"Bunda kecewa padamu!" Ujar Bi Siti, wanita paruh baya yang menjaga Nana sekaligus pemilik panti asuhan itu. Bukan siti tapi Shinta nama aslinya.


Louis memang pernah ke panti, namun dalam keadaan tak sadarkan diri dan Bi Siti tak bisa melihat dengan jelas wajah putranya begitu sebaliknya.


"Bunda kemana saja? Kenapa bunda..."


"Semua hanya kesalahpahaman Louis! Disini Bunda yang salah! Bunda yang pembunuh!"


"Apa? Maksudnya?"


"Bunda yang telah membunuh ibu dari Marco, Papa tak pernah meninggalkan mu, dia selalu memantau mu selama ini! Dia tak pernah membeda-bedakan mu dengan Marco! Kenapa bunda tak bisa mendampingi mu? Itu syarat yang di ajukan oleh Papa mu Louis, dia tak ingin putranya juga memiliki watak yang jahat sama sepertiku! Namun kau salah faham dengan semuanya, kau tumbuh menjadi pemuda yang lebih jahat Louis!"


"Bunda ini?"


"Kenyataan yang harus kau terima, Bunda memang tak pantas menjadi ibumu!"


"Shinta, kembalilah. Hukuman mu sudah selesai, kau harus membimbing putramu dengan lebih baik, bantu dia berubah. Aku akan sering datang dan mengunjungi kalian!" Ujar Papa Robert memberi saran.


"Kau telah memberikan banyak bantuan padaku Robert, rasanya aku tak pantas menerima bantuan mu!" Ujar Shinta tak enak hati.


"Hubungan yang terjadi di antara kita memang salah Shinta, tapi Louis bukan kesalahan. Dia ada karena Tuhan menitipkan nya pada kita! Louis juga putraku, sama seperti Marco!"


"Pa maaf!" Ujar Louis tampak mengiba, nyatanya di sini lah dirinya yang salah faham akan semuanya. Papa nya tak pernah membedakan anatara Marco dengan dirinya, caranya saja yang salah dalam menunjukkan.


"Minta maaflah pada kakakmu! Papa menyayangi kalian berdua!"


Maafkan Papa Louis, Papa juga masih belajar berdamai dengan keadaan, Kehilangan seseorang yang kita cintai pergi untuk selamanya bukan lah hal yang mudah untuk di maafkan! Terlebih kau alasan atas tindakan ibumu yang membuat cintaku pergi untuk selamanya!


...***********...


...HAPPY READING!!!!!!!!...


Pesan Moral : Pergi bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan sebuah masalah yang ada, justru akan menambah masalah yang ada.


Tentang kematian, itu merupkan takdir yang mutlak, setiap jiwa yang hidup bukan kah akan mati? Dan setiap pertemuan pasti ada perpisahaan bukan?


Maaf dan ikhlas adalah kunci damai menjalani kehidupan yang lebih baik kedepannya. Jangan pernah meninggalkan dendam, itu hanya akan menjadi racun yang mengikis hal baik yang ada dalam diri kita.


Rafi anak ganteng mau lewat dulu ya author!!!!!


Wkwkwkwk sok atuh... di persilahkan.


__ADS_1


__ADS_2