
Tak ada yang tau kapan Jeni dan Papa Marco bertemu, oh ayolah kalian pasti tau kan? bagaimana sosok Papa Marco dulu yang sering bergonta ganti wanita. Semua juga tak bisa di sebutkan satu persatu siapa saja yang pernah dikencaninya.
Yang pasti, Jeni adalah salah satu wanita yang mencintai Papa Marco secara berlebihan bahkan terobsesi memilikinya.
Cinta yang dipaksakan dan tak bersambut atau bahkan berlebihan memang tak akan pernah berakhir dengan kata baik dan tak mungkin bisa berteman dengan kata bahagia bukan?
Cintai mahluk sewajarnya saja!
Labuhkan cinta tertinggi pada Tuhanmu, hanya dia lah yang berhak dan pantas kau cintai secara berlebihan. Tak kan pernah ingkar janji ataupun membuatmu merasakan apa namanya kecewa dan terluka.
Jam tetaplah berjalan sebagaimana mestinya, rumah di gledah dengan detail saat itu juga. berharap Jeni menyembunyikan penawar itu ataupun resep yang bisa Hilda gunakan untuk meracik penawarnya.
NIHILLLLL!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Selamat berteman kembali dengan kegagalan Tuan Marco dan yang lain.
...**************************...
Hilda sudah mendapatkan perawatan di lengan nya, hanya 5 jahitan yang ia dapatkan tapi cukup membuatnya meringis kesakitan.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, penawar masih belum bisa didapatkan bahkan, Arghhhhhhh........... Sabrina menghilang bagai di telan bumi. Tak ada yang tau dimana dia sekarang.
BRAK!!!!!!!!
PYAR!!!!!!
Semua barang hancur, telapak tangan Papa Marco berdarah, tinjuan hebat pada kaca dan benda benda di sekitar dia lampiaskan. 5 menit yang lalu dokter mengabarkan bahwa kondisi Nana berada dalam masa sangat kritis dan harus segera mendapatkan penawar itu. Kalau tidak? Racun itu benar benar akan menghilangkan nyawanya.
"Tuan tenanglah!" Pitter berusaha berbicara saat semua suasana mencekam ini terdiam dengan kebisuan nya masing-masing.
"Bagaiamana aku bisa tenang? Jika aku melihat istriku sedang sekarat disana!" Ujarnya dengan kilatan amarah yang ada di ubun-ubun.
"Kita bisa menyelamatkan Nona Nana tuan! Percayalah!" Pembohongan besar, Pitter juga tak tau harus bagaiamana dengan situasi sekarang "Masih ada tuan muda kecil yang butuh anda tuan! Tenanglah!" Semoga nama tuan muda kecil bisa menenangkan tuannya itu.
"Kau........... Bukankah kau dokter hebat kenapa kau bodoh sekali!" Umpatan selanjutnya dilayangkan pada Hilda dengan nada frustasi.
"Tenanglah Marco!" Suara Wilson mengudara kala calon istrinya itu terus di salahkan pada posisi sekarang ini.
"Cih.... Kau kakak tak berguna! Kenapa? Karena dia calon istri mu dan........"
"Stop sialan! Tak ada yang mau Nana di posisi disini! Aku juga sama gilanya denganmu.... adik yang ku kira meninggal ternyata masih hidup dan saat aku bertemu dengan nya malah dengan keadaan seperti ini! Kau kira bagaimana perasaanku brengs*k!" Ujar Wilson, sudah tak bisa bersabar dengan keadaan seperti ini.
Tubuh Papa Marco melorot ke atas lantai, kaki ditekuk dan kepala di sembunyikan diantara dua kaki itu, tangisnya begitu pilu dan tergugu.
__ADS_1
"Aku tak bisa kehilangannya! Aku takut!" Bibirnya bergetar kala nyawa seseorang akan segera melayang.
Bukankah itu hal biasa dalam dunia mafia? kala kehilangan nyawa?
"Nana akan selamat!" Pukul 9 malam tepat, Louis datang berjalan santai ke arah ruang inap kakak iparnya. Tak jauh dari sana ada Sabrina dan Cici yang berjalan berdampingan.
Semua mata yang tadinya tertunduk sedih menjadi teralihkan melihat kedatangan Louis.
"Tenangkan emosimu kak! akan ku jelaskan!" Ujar Louis, seolah tau arti dari sorot mata semua orang yang melihat kearahnya. Dominan mengintimidasi.
"Bisa ikut aku ke laboratorium bersamaku kak Hilda?" Nada canggung dari bibir Sabrina keluar, nampak meragu.
"Aku.........."
"Ikutlah Hilda, aku dan cici akan menemani kalian di luar sana!" Ujar Louis.
"Aku Ikut!" Wilson ambil suara, tak ingin lagi kecolongan seperti Marco yang membuat Nana menjadi seperti itu! Tidak akan Wilson biarkan Hilda celaka atau dalam bahaya.
"Cih tak percaya! Ikut saja tuan muda wilson!" Nada remeh kembali mengudara dari mafia paling muda.
...**********************...
"Aku hanya punya resep penawar ini!" Sabrina menyerahkan selembar resep itu.
"Aku juga seorang kedokterkan kak! dan aku juga ikut dalam pembuatan racun itu bersama Kak Jeni!" Jawab Sabrina dengan jujur.
"Kau......"
"Maaf kak! Tapi kita tak punya waktu lagi! Kita harus membuat penawar itu." Ujar Sabrina.
10 Menit
20 menit
30 menit
"Selesai!" Kedua orang itu bersorak dan tampa sengaja bertepuk tangan mengangakt jempol memberitahukan bahwa penawar itu sudah di buat.
"Kita harus mengujinya terlebih dahulu!" Hilda memberi saran.
"APA!!!!!!" Wilson memekik kaget kala mengakhiri panggilan telfon itu.
"Kenapa?" Hilda bertanya dengan raut khawatir.
__ADS_1
"Nana kritis! Kita tak punya waktu lagi untuk menguji obat itu!"
Tapi........" Hilda meragu.
"Tak ada pilihan lain sayang!"
"Aku yakin ini berhasil kak! " Sabrina memberikan pendapatnya.
"Ayo sekarang!" WIlson sudah menarik tangan Hilda untuk segera keluar dan kembali keruang rawat Nana.
...********************...
"Mau kemana sabrina?" tanya Louis malam itu kala melihat sabrina yang lari tergopoh di jalanan yang sepi.
Bocah kecil ini nyatanya tak bisa di anggap remeh sama sekali! Dia bisa keluar dari penggrebkkan yang dilakukan oleh Papa Marco.
Sialnya, motor yang ia kendarai harus mogok di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar! Konyol sekali alasan dengan keadaan yang mencekam seperti itu! Tapi memang ini kenyataan nya bukan?
"Kau? siapa!" Sabrina bertanya dengan nada menyorot.
"Ikut kami Nona!"
"Cici... Kau pembunuh!!!!" Ujar Sabrina menyorot tajam ke arah Cici.
"Cih lama! tak penurut!" Alhasil Louis harus membuat Sabrina pingsan untuk membawanya pergi.
"Bangun!!!" Byur! Guyuran air dingin di wajah Sabrina membuatnya tersadar dari pingsan nya.
"Mau apa kalian!" Pekik Sabrina dengan mata tak bersahabat.
"Lihat itu, bodoha!!!" Louis melembarkan beberpa foto tepat ke arah Sabrina, dan Cici menjelaskan semuanya yang telah terjadi. Tak bisa lagi betbasa basi, semua harus segera di jelaskan! Toh bukti yang Louis punya sudah bisa menjelaskan semuanya begitu jelas dan terperinci kan?
"Jadi kak Jeni......" Bibirnya terbuka tak percaya akan semua fakta yang terjadi.
"Iya nona... Jadi sata mohon Nona mau membantu Nona Nana untuk sembuh!"
"Akan ku bantu!" Ujarnya meragu, "Tapi apakah kalian memaafkan ku!" Masih takut ternyata akan kematian.
"Aku yang akan menjamin kau akan tetap hidup!" Suara Louis memberikan sedikit ketenangan.
"Terimaksih tuan muda." Ujar Sabrina begitu bahagia.
...*****************...
__ADS_1
...HAPPY READINGGGG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!...