Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Menegangkan.


__ADS_3

Semuanya masih nampak? Canggung rasanya. Acara pertunangan itu dilakukan sederhana meskipun tak mewah namun seserahan yang diberikan oleh Tuan Muda Wilson tak bisa di anggap isapan jempol.


Menghalulah wahai kaum jomblo dengan satu set perhiasan bertahta kan berlian, kunci mobil yang di kemas dengan surat kendaraan, beberapa jam tangan rolex dan yang lebih mencengangkan ada satu buah surat kepemilikan tanah yang akan di proses menjadi pembangunan klinik kesehatan hanya untuk wanita baik yang akan sebentar lagi menyandang gelar Nyonya Wilson.


Sejauh ini, semua berjalan dengan lancar hanya beberapa orang penting yang di undang untuk menghadiri acara tersebut.


"Apa kau lelah?" keluhnya melihat sang istri.


"Ya! Nampaknya aku ingin beristirahat!" Ujar Nana.


"Mari ku antar!" Ujar Marco, sebuah kamar sudah di siapkan Hilda untuk pasangan suami istri tersebut.


"Mama berikan ini! Minumlah!" Ujar Mama Lisa yang datang dengan membawa teh hangat pereda kesal.


"Mama? Ah baiklah!!!" Ujar Nana, tanpa ragu ia meminum teh hangat pemberian Mama Lisa. Kakinya melangkah masuk merebahkan diri ke dalam kamar.


30 menit berlalu, acara itu telah benar benar selesai semua orang sudah dalam mode siap untuk merebahkan dirinya. Hari ini Mama Lisa dan Wilson juga bermalam di sana.


Nana? ia sudah terlelap dalam dekapan sang suami yang nampaknya juga lelah.


"Uhuukkk!!!" Bola mata Nana seketika membulat sempurna, tenggorokkan nya tercekat sangat sakit sekali, ia hampir kesusahan walau hanya sekedar bernafas saja.


"Sayang!!! Panas!!! Sakit!!!" Keluh Nana , tangan nya melemah menggoyangkan tubuh sang suami.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Papa Marco dengan nada khawatir.


"Sakit!!!" Ujar Nana begitu lirih, suhu tubuh dan semuanya nampak normal lalu kenapa? Istrinya sakit? Ada apa?


Tanpa banyak tanya, ia segera menggendong tubuh istrinya turun. Pitter sudah siap siaga di depan mobil yang akan melaju membawa Nana ke rumah sakit.


"Sekarang!!!"


"Baik tuan!!!"


Brangkar dibawa masuk ke dalam ruang tindakan, Nanan masih dalam mode sadar kala genggaman tangan itu di lepas masuk kedalam ruang UGD.


Pukul 00.00 yang berarti tengah malam, kaki nya menatap gelisah kekiri ke kanan, dia marah mengumpat kesal bagimana bisa ini terjadi!!! kenapa.


30 menit berlalu, dokter keluar dari ruangan tindakan. Dapat di lihat jelas ekspresi yang di tunjukkan nya pada malam itu.


"Maaf tuan, saya tak bisa menyembuhkan penyakit yang di derita Nona! Hah..." Helaan nafasnya begitu berat.

__ADS_1


"Nona menimum cairan yang membunuh dirinya secara perlahan mematikan semua syaraf yang ada dalam tubuhnya! Tak ada obat yang bisa menyembuhkan nya!!! Anda harus temukan siapa pembuat nya, hanya dia yang memiliki penawar!!" Ujar dokter itu memberikan penjelasan.


"Apa tapi!! Bedebah!!!" Ruangan dokter menjadi hancur lebur saat itu, tak peduli siapa yang ada di hadapan nya.


"Kau kan dokter!!! Harusnya kau bisa menyembuhkan!!!" Ketidakterimaan itu kembali menggema.


"24 jam!! anda harus menemukan penawar nya!! Kalau tidak nyawa Nona tak akan bisa tertolong!! Tolong jaga emosi anda tuan!!!" Ujar dokter itu lagi, fakta apa yang sedang mempermainkan dirinya saat ini.


"Ini hasil yang saya diaknosis tuan! Racun itu di telan dalam bentuk minuman! Kiranya siapa terakhir yang memberikan nona minuman!" terang sang dokter.


Tanpa menunggu jawaban selanjutnya, Papa Marco keluar dari ruangan itu kakinya melangkah cepat masuk kedalam mobil, Pitter berusaha menyamakan untuk mengikuti.


Ruangan Nana sudah di kerahkan penjagaan yang sangat ketat.


"Wilsonnnn!!!!" Teriaknya menggema memenuhi ruangan!!


"Kenapa kau berteriak!!!" Ujar Wilson yang datang dengan muka bantalnya.


Bughhhh!!!!!!!!


Pukulan telak di layangkan bertubi-tubi,


STOP!!!!!


"Tuan kendalikan emosi anda!" Pitter berusaha menenangkan layaknya sebagai kakak.


"Kau tak apa?" Hilda membantu Wilson untuk menjauh dan berdiri.


"Dimana Mama mu! Kalian pembunuh!!!" Ujar Papa Marco dengan mata sangat menyorot tajam.


"Apa maksudmu! Jangan pernah membicarakan yang tidak baik tentang mamaku!!" Anak baik selalu tak terima jika Mamanya di hina oleh siapapun itu.


"Kalian pembunuhh!!! Kau senang membuat Nana tak berdaya dan mati besok nya!!!" Kilatan emosi marah sudah tak lagi bisa di bendung.


Pistol sudah di layangkan tepat ke arah Wilson, tak peduli dengan Pitter yang berusaha menahan nya. Hilda dengan setia pasang badan nya didepan Wilson untuk melindungi.


"Minggir Hilda!!! Biarkan pembunuh itu matiii!!!" Teriakan nya menggema memenuhi ruangan, bagimana pun Hilda sosok yang berjasa bagi Nana. Posisi nya menduduki tempat tertinggi di hati Nana. Menyakiti Hilda akan membuat istrinya bersedih jika sadar nantinya.


"Tuan! kendalikan emosi anda! Bicaralah dengan benar! Ini hanya salah faham! Saya mohon!!! Jangan gegabah! Nona Nana pasti akan sedih jika anda ceroboh tuan!!!" Suara Hilda kembali menggema, berusaha menenangkan semaksimal mungkin.


...****************...

__ADS_1


"Nyawa saya menjadi taruhan nya jika Nona Nana sampai tak selamat esok harinya!!!" Ujar Hilda begitu mantap meski ia tak tau siapakah dalang di balik ini semua.


Papa Marco sudah menjelaskan kondisi terkini Nana, bagimana dia bisa seperti itu dan mengapa Papa Marco menuduh Mama Lisa sebagai pelakunya.


"Apa apaan!! aku tak mau kehilangan mu!!!" Keluh Wilson dengan nada tak rela.


"Dan apa ku mau kehilangan istriku!!!" Papa Marco juga tak terima jika nyawa istrinya tak di hiraukan.


"Dia juga adikku!!!" Ujar Wilson menatap sengit.


"Jangan bawa emosi disini tuan Wilson dan tuan Marco!!! Bisakah kalian tenang!!!" Ujar Hilda menatap jenggah kedua orang yang masih saja berdebat sengit.


Pukul 1 malam, Mama lisa terpaksa di bangunkan oleh Wilson untuk menuju keruangan keluarga itu. Hilda sangat menghimbau untuk tak menggunakan emosi kala nantinya Mama Lisa menjelaskan itu semua.


"Maaf Ma, telah membangunkan mu malam malam. Apa Hilda boleh bertanya!" Seru Hilda dengan Nada lemah lembut.


"Terlalu bertele tele Hildaaa!!!!" Dasar laki laki tak sabar, masih saja berteriak. Dasar Papa Marco.


"Abaikan tuan Marco Ma, Bisa Mama jelaskan minuman apa yang Mama berikan pada Nona Nana?" Ujar Hilda bertanya.


"Kenapa dengan Nana? Ada apa? Mama hanya memberikan teh hangat!!!" Ujar Mama Lisa menjelaskan sejujurnya.


"Ada racun yang sangat mematikan bagi Nona Nana di dalam teh buatan Mama dan kita harus menemukan penawarnya dalam waktu 24 jam. Jika tidak? Nyawa Nona Nana akan melayang!"


"Apa!!!" Bugh.. Detik berikutnya Mama Lisa langsung pingsan akan fakta yang Hilda katakan.


"Tenang tak apa! Mama hanya pingsan! Aku sudah memberikan obat untuknya!!!" Tutur Hilda, ia sudah melakukan pemeriksaan terhadap Ibunda dari tuan Wilson.


"Aku harap kau menemaninya saja!"


"Sayang tapi aku..."


"Jangan buat ini makin sulit tuan Wilson!!!" Ujar Hilda membereskan semua alatnya.


Jam terus bergulir, waktu tetap berjalan tanpa mau peduli apa permasalahan yang sedang di hadapi manusia.


Perihal cctv, semuanya nampak seperti biasa tak ada yang mencurigakan sama sekali. Lantas bagaimana keadaan Nana? apakah dia akan selamat dan terus berjuang?


Atau Tuhan lebih sayang pada dirinya sehingga membuat dirinya bertemu dengan Papanya lebih cepat? Entahlah.


...*****************...

__ADS_1


...HAPPY READINGGG!!!!!!!!!...


__ADS_2