
Mari bermain Pa!!!!! Ujar Rafi tersenyum licik,
Perusahaan di bawah naungan Wilson, kalang kabut pada pagi itu, melihat bawahan yang tergesa gesa mengetuk pintu ruangan nya dan memberitahu bahwa data perusahaan miliknya hilang telah di bobol seseorang.
Brak!!!!
"Siapa yang berani nya bermain dengan ku!" Emosinya begitu tersulut, perusahaan di ambang kehancuran jika sampai semua dokumen dijual dan berada di tangan pesaing nya.
Tring!
Ayolah Pa! Aku hanya meminjam semua dokumen mu sebentar saja! kenapa kau panik seperti itu!!!! Kalimat pesan yang masuk ke dalam handphone miliknya membuatnya kembali meradang, tingkat marahnya sudah ingin melahap siapa saja.
"Apa maumu!" Nada nya sudah di naikkan saat telfon di ujung sana di jawab oleh pemilik.
"Ucapkan selamat ulang tahun padaku!"
"Untuk apa?"
"Astaga Papa! Kau pelit sekali dengan putra mu! Bye!" Telfon mati, ah bocah kecil itu tertawa terbahak, bisa di bayangkan bagaimana wajah panik sang Papa di sana.
Brengsekkk!!!? Anak siapa kau sebenarnya!!!!!
...**************...
"Happy Birthday Rafi, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Rafiiii..... " Sang Mama tampak membawa sepotong roti di hadapan sang putra yang baru saja keluar kamar.
"Mama... " Ujar nya tampak riang langsung memeluk sang Mama, ah anak ini manis sekali jika berhubungan dengan sang ibu.
"Oke, berdoa dulu! Terus tiup lilin nya!"
"Hu..... " Setelah doa selesai di ucapan, nafas membawa nya untuk meniup api kecil yang ada di ujung lilin.
"Yeay! Happy Birthday yang ke 6 Tahun kesayangan Mama!" Ujar nya memeluk sang putra.
Duduk berbincang sambil menghabiskan cemilan yang tersedia, sederhana tapi sangat bahagia, begitu pikir sang Mama. Baginya ia sudah mampu untuk mengurus semuanya sendiri, tak perlu adanya sosok ayah untuk putra nya.
__ADS_1
"Rafi ingin apa dari Mama hem?"
"ingin Papa!"Ujar nya.
Deg!!!!!
Jantung ibu satu anak ini bertalu kian menggila permintaan sang putra jelas tak bisa ia penuhi sampai kapan pun, malam itu hanya sebuah kesalahan tapi Rafi adalah anugerah baginya.
"Rafi sayang, Mama kan sudah bilang bahwa Papa sudah meninggal!"
"Setidaknya Mama bisa kan menunjukkan bagaimana rupa Papaku?" Makin pias saja wajah Hilda, Rupa? Bagaimana ini?
"Hem, Mama tak sempat berfoto dengan Papa!" Ujar nya menggigit lidah bagian dalam nya, ah kelu sekali.
"Mama memang tak pernah berfoto dengan Papa! Wilson, dia Papaku kan?" Ujar Rafi, gadjet kecil miliknya di sodorkan Rafi pada sang Mama.
Hilda kalah telak!
...****************...
"Rafi ingin bertemu dengan Papanya!"
"Temukan saja!"
"Kau jelas tau bagaimana masalah antara Kakak dengan Ayahnya. Ia masih menganggap malam itu hanya sebuah kesalahan dek! Dan tak mungkin, Kakak hanya seorang pelayan nya!" Ah sedih sekali, bagai punduk merindukan rembulan. Tak mungkin seorang Tuan muda akan mau di sandingkan dengan seorang pelayan seperti dirinya.
"No kak, kau adalah dokter hebat!"
"Kau jelas tau, semua itu kakak raih atas kebaikan nya membantu kakak!"
"Tapi kakak mendapat kan beasiswa, Dan.... It's okay kak, ya dia membantu mu!" Ujar Adi pasrah, sangat tak rela jika kakak nya di posisi seperti ini. Yeah mau bagaimana lagi? "Tapi kakak jelas sadar bukan? Rafi juga membutuhkan seorang Papa!"
"Tapi hal itu tak mungkin rafi dapatkan!" Ujar nya pasrah, ah sedih sekali dia.
"Mama..... " Kaki kecil berlari ke arah Mama nya, memeluk dengan sayang dan sendu.
__ADS_1
"Jangan nangis, maaf kan rafi!" Ujar nya, tangan kecil nya tampak terkulur mengusap air mata sang ibu yang menetes.
"Rafi janji! Tak akan meminta Papa lagi. Cukup Mama saja sudah membuat Rafi bahagia!" Jawab nya dengan jujur, astaga Rafi kau baru berusia 6 Tahun tapi pemikiran mu sangat luar biasa.
Benar kata pepatah, anak laki-laki adalah pahlawan sekaligus pelindung mutlak bagi sang ibu.
...**************...
Kembali kekediaman Uncle Marco, seusai kejadian di mall bos mafia ini harus sabar dengan tingkah sang istri, gila memang.
Jika perempuan pada umumnya akan diam jika ada masalah, ibu satu anak ini asyik mengelus singa miliknya sesekali memberi makan bak bayi.
Makin menakutkan saja Nana....
"Sayang! Stop ya!" Ujar nya berjalan ke arah sang istri, Baby Marfin sudah di berikan ke pada Pitter yang kaku.
Jaga Putraku dengan baik. Ujar nya dengan nada perintah, kembali kepada sang istri yang tampak acuh dan menolak, sudah lah kita pakai cara Uncle Marco saja okay!
Di gendongnya tubuh sang istri untuk masuk ke dalam kamar, tak peduli pemberontakan yang di lakukan. Dirinya jauh lebih kuat, dan berakhirlah penyelesaian masalah dengan rasa nikmat.
bagaimana Uncle? Pitter mengeram kesal atas bayi kecil yang ada di gendongan nya, tak mau tidur padahal ia sudah mengayunkan ke sana kemari dan memberi nya minum.
Ingin ku suntik mati bayi ini!!!! Geram nya, hey jangan coba-coba ya untuk mencelakai ku Uncle,
Jari telunjuknya dengan tak tau diri melogok lubang hidung Pitter, sudah di singkirkan Dan akan kembali melogok, memang tak tau diri. Ketawa senyum pula.
Duh anget!!! Maafin Baby Marfin lagi ya Uncle Pittter, ya bagaimana? Marfin sudah tak tahan untuk pipis ya Marfin keluarkan saja.
Terkutuk lah! Ingin dibuang sudah dalam kolam renang jika tak mengingat siapa ayah si bayi!
Selamat dengan keadaan yang nelangsa ya Pitter, jagain Baby Marfin ya! Jangan ganggu Papa dan Mama yang lagi proses membuat adek untukku!
...**************...
...Happy Readingππππ...
__ADS_1