
"Jaga diri baik-baik! Hilda akan selalu menemanimu!" Ujar Uncle Marco, perlahan namun pasti bisnis hitam telah ia tinggalkan meskipun ada beberapa senjata dan bahan peledak.
Hanya untuk berjaga begitu ujarnya jika di tanya.
Garuda grup? perusahaan ini akan membuka cabangnya di salah satu kota dan hari ini merupakan acara peresmian kantor cabang baru tersebut.
"Kau bahkan sudah berucap 10X, uncle!" Ujar Nana, pehitung dan pengamat yang baik.
Jangan memprotes panggilan itu, rasanya Nana masih belum terbiasa memanggil sang suami Papa. Biarkan seperti air mengailir saja, yang penting hati Nana mencintai laki-laki itu.
Hatinya ingin sekali membawa sang istri dan putranya ke Sumatra, salah satu nama pulau yang akan Uncle Marco kunjungi untuk acara peresmian itu. Tapi? Nana menolak ia akan ada ujian yang harus diselesaikan. Memang tak masalah menunda tapi Nana tak enak hati.
"Sudahlah Pitter saja yang berangkat kesana!" hatinya melengguh tak rela untuk meninggalkan sang istri dan jagoan kecilnya.
"Hey! tak baik seperti itu! kau pimpinan nya, dan kau harus bertanggung jawab!"
"Tapi aku khawatir meninggalkan mu disini!"
"Semua akan baik-baik saja! percayalah!"Ujar Nana memberikan ketenangan.
"Cium dulu!" Ujar Uncle Marco menunjuk bibirnya, uh tampak tak tau malu sekali.
CUP
...**************************************...
Sudah 3 hari semua berjalan lancar sebagai mana mestinya, semua aman terkendali. Ujian sudah Nana selesaikan dengan hasil yang begitu memuaskan. Dan malam kian larut dalam peraduan cahaya sang rembulan.
DOR
DOR
DOR
3 Suara tembakan menggema memnuhi ruangan, beberapa penjaga harus bertarung untuk melindungi Nyonya nya.
"Hilda ada apa?" Ujar Nana tampak khawatir menggendong Baby Marfin dalam dekapan nya.
"Rumah diserang Nona!" Baru saja Hilda menyelesaikan kalimatnya sudah ada Wilson yang berdiri dengan conggaknya diantara dua wanita itu.
"Hay Nana? Kita bertemu kembali? dan Hai pengkhianat!" Ujar Wilson menatap Hilda dengan sinis.
"Ikuti aku! atau anak itu mati!" Ujar Wilson, kali ini pistol sudah mengarah tepat ke Baby Marfin.
__ADS_1
GLEK!
"Jangan sakiti bayi ini! Ku mohon!" Ujar Nana begitu mengiba.
"Hilda pakai ini!"Borgol di lempar Wilson ke arah kakinya, dengan pasrah ia memakai borgol itu.
"Ikuti saja Nona!" Ujar Hilda berbisik tepat di telinga Nana.
Langkah kaki begitu berat, beberapa penjaga telah tumbang, sungguh Uncle Marco tak memprediksi bahwa Wilson dengan beraninya menggempur rumah pribadinya setelah beberapa bulan rumah penuh dengan ketenangan.
Semua sudah terkepung di setiap sisi rumah, Argh.......... rasa bersalah kian membumbung tinggi kala mengingat Hilda lah yang memberitahu tata letak setiap sudut rumah ini pada Wilson,
"Masuk!" Titahnya begitu mengerikan.
BUGH!!!!!!!
Tendangan dilayangkan oleh Hilda tepat kearah Wilson, pistol itu terpental jauh dan Wilson meringis kesakitan.
"Nona Lari! jangan pedulikan saya! selamatkan diri anda!" Ujar Hilda,
"Tapi...........?" Ujar Nana tampak meragu.
"Ini perintah Nona! bukan pilihan, lari!!!!!" Ujarnya.
Kakinya melangkah lari sejauh mungkin meninggalkan rumah itu dengan Baby Marfin yang ada di gendongan tanpa menoleh ke belakang, entahlah kemana lagi kaki ini akan berlari. Pada intinya ia tak ingin tertangkap, pengorbanan Hilda akan sia-sia jika dirinya tertangkap.
"Tolong!" Ujar Nana melampai pada mobil yang akan melewati keduanya.
"Selamat malam Nyonya Marco!" Ujar Louis, ini memang sial! pengorbanan Hilda memang tak sia-sia karena Nana tak tertangkap oleh Wilson. Tapi Louis? bukan orang tepat rasanya jika meminta tolong bukan?
Semua sudah terlambat, mulut Nana dibungkam dan detik kemudian Nana pingsan.
...*****************************...
"Tuan, pesawat sudah siap! Kita harus pulang sekarang!" Ujar Pitter.
"Selarut ini? bukankah besok kita masih ada pertemuan?" Ujar Uncle Marco.
"Maaf tuan tak bisa di tunda! Rumah anda diserang oleh anak buah Wilson!"
"APAA!!!!!!!!!!!!!" Teriakan keras memekakkan telinga memenuhi kamar hotel itu, langkahnya begitu tergesa untuk segera naik pesawat dan menguadara.
Omelan tak luput dilayangkan olehnya pada Pitter, tentang bagaimana bisa? meragukan segala kemampuan Pitter dalam memilih orang-orang untuk menjaga seseorang yang berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
Oh ayolah Uncle! Pitter juga manusia, beberapa masalah masih bisa terjadi. Dia bukan Tuhan yang semua harus berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan olehnya.
...********************...
"Kau sudah bangun Hilda?" Seringai bibir kejam milik Wilson menyapa pagi itu.
Apa Nona Nana bisa selamat? Atau justru Nona juga tertangkap.
"Tenanglah! Kau bisa di andalkan. Nana tak tertangkap dan tak bersamaku!" Ada rasa lega kala Wilson berucap seperti itu pada dirinya.
"Tapi dia berada di tangan Louis!" Ini masalah, ibarat pepatah keluar dari kandang buaya masuk kedalam kandang singa.
"Lepaskan!"
"Bhahahaha..... Apa? Lepaskan?" Ujar Wilson mengulangi katanya.
"Lepaskan!!!!!"
"Berapa dia membayar mu Hilda! Kenapa kau berkhianat padaku setelah apa yang ku lakukan!"
"Terimakasih atas apa yang tuan lakukan kepaada saya di masa lalu, apa sekarang tuan ingin membunuh saya?" Ujar hilda sejujurnya ia ingin berucap Terimakasih atas bantuan di masa lalu dan kesakitan yang kau berikan dasar tuan muda sialan!
"Kembali lah jadi pelayan ku yang penurut Hilda aku akan memaafkan kesalahan mu!"
"Saya bukan pelayan anda! tapi saya seorang dokter tuan muda WIlson!"
BRAKKKK
"Kau lupa berkat siapa kau bisa meraih gelar dokter mu!"
"Tentu karena usaha saya sendiri, tuan muda hanya membantu secuil!"
"Kau?" Tangan Wilson sudah siap melayang untuk menampar Hilda.
"Kenapa berhenti tuan muda? tampar saya sekarang! Anda memang orang yang tak berperasaan!" Ujarnya, kenangan buruk itu kembali memenuhi otaknya kala berhadapan dengan Wilson yang saat ini di liputi kemarahan.
"Kau....... PLAK!" Tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Hilda, sakit hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Anda tak pantas di sebut Papa!"
...*********************...
HAPPY READING!
__ADS_1