
Tak memperdulikan tatapan para orang yang tengah menatap nya, pasalnya ia tengah menggendong gadis muda dalam dekapan nya keluar dari sebuah kamar hotel.
Memang Uncle Marco peduli apa?
Melangkah masuk dan mendudukkan Nana di sebelah nya. Mobil melaju membelah malamnya jalanan yang kian sunyi.
"Uncle tolong! Panas Tolong!" Lirih nya mengiba, tangan nya terkulur untuk mengelus lembut pipi Uncle Marco dengan mata yang berkaca-kaca.
Tepisan kasar di layangkan oleh Uncle Marco, tidak! jangan sampai dia melakukan hal yang melanggar norma pada gadis kecil tak berdoa ini.
"Ku mohon jangan Memarahiku, tolong Uncle ini sangat panas sekali!" Ujarnya kembali mengiba.
"Diam Nana!" Ujar Uncle Marco sedikit membentak dengan sorot mata melotot, "Pitter tambah laju mobil ini!"
"Baik tuan!" Ujar Pitter.
"Pulanglah biar aku yang mengurusnya!" Ujar Uncle Marco melangkah keluar mobil.
"Baik tuan! Apa anda butuh bantuan untuk.... "
"Tidak! Pulang lah! Biar Nana menjadi urusan ku!" Ujar Uncle Marco melangkah masuk kedalam rumah, membaringkan Nana di kamar nya.
"Uncle tolong panas.... " Lirihnya kembali mengiba.
Dan terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi, Bagai pepatah nasi telah menjadi bubur. Nana bukan lagi menjadi seorang gadis, malam ini gadis polos itu resmi menyandang status menjadi seorang wanita.
Wanitanya Marco.
Jangan pernah pergi! Kau milikku! Dan apapun kau akan tetap menjadi milikku! Dengan mu akan ku wujudkan keinginan Papa ku untuk memperoleh seorang bayi! Ujar Marco menatap lembut gadis yang ada di dekapan nya. Dan menit berikutnya ia sudah menyelami alam mimpi menyusul Nana.
Cukup lelah dan menguras tenaga acara olahraga malam yang keduanya lakukan. Yang pasti Uncle Marco sangat puas dengan apa yang di berikan Nana. Baginya Gadis ini terlampau enak, jika di bandingkan dengan Jessica, Wanita malam yang selalu menemani dan menghangatkan ranjang nya.
...🍒🍒🍒🍒🍒...
Fajar menyingsing, namun tak membuat kedua manusia itu terganggu dalam tidurnya, Entahlah Uncle Marco tampak sangat nyaman dan damai dalam tidur.
Ah... Dia jadi lupa kapan terakhir kali dia tampak tertidur nyaman? Selama ini hanya gusar yang ada dalam hatinya.
Hingga mentari sudah berada di atas dengan congaknya, perlahan Nana menggeliat dan membuka kedua bola matanya.
"Aughhhh!!!" Rintih Nana, kepalanya berdenyut sakit kalau kedua bola matanya sudah terbuka.
Sakit dan nyeri, hanya kata itu yang dapat menggambarkan dirinya saat ini.
Kepalanya masih di tenggelamkan, masih dengan posisi terpejam mencari titik tenang untuk menetralisir rasa pusing itu, hingga tanpa sengaja telapak tangan miliknya terasa menyentuh kulit manusia.
"Aughhhh!!!!" Ringis nya kala rasa ngilu sangat terasa di bawah sana, langsung terduduk dan meringis menahan sakit.
"Sudah bangun Hem?" Ujar Marco menggeliat, untuk pertama kalinya tidurnya sangat nyaman dan nyenyak sekali.
"Uncle kau... " Lirihnya dengan mata berkaca, kaki di paksa turun dengan selimut yang di tarik untuk menutup seluruh badan nya.
Baginya dirinya begitu menjijikkan.
Tak memperdulikan rasa sakit kala berjalan meski harus terseok-seok, tubuh kecil itu di paksa masuk kedalam kamar mandi sangat keras kala menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.
Terlambat, Uncle Marco tak bisa mencegah Nana untuk tak masuk kedalam kamar mandi.
Hatinya meringis ngilu akan dirinya sekarang.
Kotor!!!!!!
Banyak bekas merah tertinggal dalam tubuhnya, guyuran shower dingin pagi hari. Tangis sesal, semua menjadi satu.
Hidup sudah tak ada gunanya lagi? Mahkota seorang wanita yang harusnya dia jaga telah di renggut dengan hina.
"Buka pintunya Nana!!!!" Teriak Uncle Marco menggema dengan gedoran yang cukup hebat.
Namun hanya keheningan yang ia dapatkan, tak ada sahutan. Gemercik air turun itu yang pasti bisa Uncle Marco dengar.
"Buka atau ku dobrak!"
"Nana! Jawab aku!!!"
"Jangan memancing emosiku! Atau kau akan mati!!!!"
Brakkk!!!
Sudah cukup sabar atas 3 sahutan yang tak kunjung di jawab, 4 sahutan adalah bonus yang harus di terima dengan di dobrak kan paksa pintu mahal kamar mandi itu.
__ADS_1
"Nana!!" Peliknya, Keadaan gadis itu sungguh mengenaskan, pingsan di bawah guyuran air shower dingin dengan mata sembab.
Beberapa lengan tampak terluka, cakaran adalah dugaan sementara.
Tok
Tok
Tok
"Ada yang bisa saya bantu tuan? Ujar Pitter, kala Uncle Marco membuka pintu kamarnya. tangan kanan ini memang sangat cepat tanggap dan datang di waktu yang pas.
"Ambilkan pakaian Nana untukku! Dan panggil dokter kemari! 10 menit? Jika tidak nyawamu taruhan nya!"
"Baik tuan!" Ludah di telan kasar oleh Pitter, ini masih pagi! Ku harap dokter itu sudah bangun.
Pikiran Pitter berkelana liar? memang ada apa dengan Nana? kenapa harus memanggil dokter? apa yang telah bos gilanya lalu pada gadis malam tersebut?
...***********...
"Bagaimana?"Ujar Marco. Kala dokter itu telah selesai melakukan pemeriksaan nya.
"Keadaan nya cukup memprihatinkan!"
"Apa yang terjadi?"
"Anda harus nya lebih tau mengapa Nona seperti ini!"
"Sialan!!! Apa maksudmu!!!"
"Jangan melakukan nya terlalu keras bahkan sepanjang malam tuan!"
"Hem.... Lalu?"
"Dugaan sementara Nona depresi!"
"Apa????"
"Maaf tuan!!! Terbukti dari beberapa luka gores yang ada di tubuhnya! Hah... tak kasihan kah anda berlaku sekejam ini pada bocah sekecil itu?"
"Jangan mencampuri urusan ku!!!!!"
"Simpan maaf mu! Apa yang harus ku lakukan agar dia sembuh!"
"Jangan membuatnya tertekan untuk saat ini! Dan saya sudah resep kan obat untuk Nona!"
"Pergilah! Berikan resep itu pada Pittter!"
"Baik tuan! Saya permisi!"
...*********...
Nampaknya kamar Marco kali ini menimbulkan suasana yang berbeda, gadis kecil itu tampak terlelap dengan mata terpejam. Sangat damai.
Marco Smith, masih setia ada di samping. menunggu mata kecil itu membuka, penjelasan harus di lakukan sesegera mungkin. Agar gadis itu tak membencinya, meski dirinya sadar ia adalah orang yang paling brengs*k.
Memang nya kenapa? Bukan kah semua yang di inginkan nya akan tetap terjadi dan menjadi miliknya.
Dan mata itu akhirnya terbuka, "Kau sudah bangun?" Ujar Uncle Marco yang tampak berbinar.
Gadis itu masih diam, hanya sedikit menggeser bola mata miliknya. Tak ada tangis yang terjadi seperti awal dirinya terbangun.
"Na! Ku mohon dengarkan aku! Akan ku jelaskan!" Ujar Marco dengan lembut, kedua tangan kekar miliknya menyentuh tangan mungil itu.
Percaya lah Na, kau gadis pertama yang membuat Marco berujar lembut dengan seorang gadis.
"Aku.... " Gagapnya, harus bagaimana ia menjelaskan.
Air mata itu kembali mengalir di sudut matanya, seakan menjawab Ku mohon jangan jelaskan apalagi katakan! Aku sudah kotor!!!
"Ku mohon jangan menangis!" Kata itu membuat Nana terdiam, menangis tersedu.
"Shit!!?? Berhenti menangis Nana!!!!!" Teriak nya, kali ini Uncle Marco sudah tak sabar. Nada suaranya sudah di tinggikan.
Brak!!!!!
Pintu di gebrak dengan kasar, pergi meninggalkan Nana yang masih menangis dengan kebisuan. Pesan dokter kembali terngiang-ngiang dalam kepalanya.
Kenapa anda berlaku sekejam itu pada gadis kecil ini tuan!
__ADS_1
Brak!!!!!
Pyar!!!!!
Berkas di tepis dengan kasar, beberapa barang tercecer tak berguna, satu tinju melayang pada dinding. Membuat darah segar kembali keluar dari sela jari kekar milik Uncle Marco.
"Arghhhh!!!!" Erangannya begitu frustasi, Oke! Marco menyesal telah melakukan hal bodoh itu, tak bisa mengontrol miliknya pada gadis sekecil Nana.
"Tuan! Jaga emosi anda!" Ujar Pitter berusaha menenangkan, hanya dia yang berani mendekat saat amarah bosnya begitu buruk.
"Minum!" Ujar Uncle Marco, 1 botol minuman alkohol di tengguk habis olehnya.
"Minum!"
"Minum!"
"Minum!"
"Tuan!, cukup!" Peringat Pitter, kala Marco sudah menengguk 10 botol minuman terlarang itu dengan kadar alkohol tinggi.
"Minum Pitter!!!!"
"Tuan, Tapi anda!"
"Brengs*k! Jangan membantah ku!"
"Tapi ini demi kebaikan anda!!!" Ujar Pitter memperingati.
Brak!
Dorongan keras di layangkan oleh bos mafia itu, berjalan sempoyongan ke sana kemari, tembok adalah pegangan yang di andalkan nya saat ini.
"Bereskan ruangan ku! Dan jangan menganggu ku hari ini! Aku ingin tidur!" Ujar Uncle Marco masuk kedalam kamar pribadi miliknya.
...*********...
"Nana!" Panggil nya dengan lembut pada gadis itu.
"Jangan sentuh aku!" Ujar Nana ketakutan kala Uncle Marco mendekatinya, hidungnya mencium bau alkohol yang sangat dominan
"Hah? Apa? Jangan mendekatimu?" Ujar Uncle Marco tampak remeh.
"Jangan mendekatiku! Ku mohon!" Lirihnya tergugu.
"Siapa kau berani menyuruh ku! Dasar jal*ng!" Ujarnya tanpa sadar, tangan kekar milik nya di tepis kasar oleh Nana kala ingin menyentuh rambut miliknya.
"Hiks... jangan menyentuhku!"
"Kau milikku sialan!"
"Ku mohon!!!!" Ucap Nana menggigit bibir bawahnya, ketakutan hebat menjalar di dalam dirinya.
"Aku menginginkan mu!" Kata keramat itu akhirnya keluar dari bibir Uncle Marco, mendekati Nana tanpa peduli perlawanan dari Nana.
"Jangan... Ku mohon jangan... " Rintih Nana sakit, memohon belas kasih.
"Jangan ku mohon!" Pintanya, dengan dorongan lemah pada dada bidang Uncle Marco.
Nana pasrah dengan tubuh yang masih lemas, jika di tanya bagaimana rasanya ini sangat sakit sekali.
Dan Terjadilah.....
Keduanya terkulai lemas, Uncle Marco mendekap Nana dalam tubuhnya. Ia tak sadar bahwa gadis yang tadi menemani nya bercinta sudah tak sadarkan diri.
Sejak kapan, ia tak pasti. Malam itu, baginya Nana akan menjadi milik Marco seutuhnya. Ia tak sadar bahwa hatinya perlahan terbuka untuk gadis kecil ini, masih menampik segala fakta dan kemungkinan.
Entahlah. Ini akan menjadi awal yang baik atau akan menjadi penjara bagi Nana. Yang jelas, dunia keduanya jauh berbeda. Tak bisa di samakan.
🍒🍒🍒🍒
Happy Reading guys❤
......Pesan Moral......
...Jangan pernah melakukan s*ks bebas sebelum kata akad terlaksana, meskipun dirinya telah berjanji dengan sejuta kata manis....
...Percayalah cinta itu saling menjaga satu sama lain, bukan merusak hanya demi keuntungan pribadi masing-masing....
...Namun, kala kamu sudah terlanjur masuk kedalam lubang hina itu, keluarlah. Yakin Tuhan akan memaafkan semua kesalahan manusia asalkan ia mau bertobat secara sungguh-sungguh....
__ADS_1
...Percayalah, jika memang dia mencintaimu dengan sungguh. Seburuk apapun masa lalu dan sepahit apapun masalah mu dulu. Dia tak akan peduli dan mau menerima segala kekurangan mu serta mau melengkapi nya dengan kelebihan yang ia miliki....