Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
Bonus 4


__ADS_3

"Akhirnya!" Ujar Cici, semuanya telah tertata rapi di nampan kecil yang sudah siap di antarkan ke sang raja.


"Louis." Ujarnya pelan memanggil, namun yang di panggil sudah tertidur pulas di atas sofa tersebut.


"Gimana ini?" Ujarnya bertanya pada dirinya sendiri. "Biarkan saja!" Ucap Cici pergi mengambil selimut dan menaruhnya pada tubuh Louis yang tengah tidur berbaring itu.


Kakinya melangkah keluar rumah namun seorang pelayan menegur nya "Nona anda mau kemana?" Ujarnya bertanya.


"Pulang bi, oh ya makanan nya sudah saya simpan, nanti jika tuan muda bangun bisa di hangatkan saja. Pamit pulang dulu bi!" Ujar Cici dengan nada sopan.


"Maaf Nona, anda tak bisa pulang kalau Tuan muda Louis saja masih tertidur!"


"Lalu?"


"Kebutuhan anda sudah kami sediakan di kamar atas Nona, mohon anda untuk tidak pulang!" Ujarnya.


"Tapi bi...."


"Saya mohon kerjasama nya Nona!" ujarnya kembali.


"Ah Baiklah..."


Katanya biarkan saja, terlalu lelah berdebat dengan semuanya bukan? lebih baik dirinya berendam membersihkan diri dan lekas tidur. Bodo amat di cap senagai tamu tak tau diri ya kan? Salah siapa tuan rumahnya juga tidur tanpa permisi.


"Argh... Nyamannya!!" Kala dirinya sudah siap dengan pakaian tidur, Cici merebahkan dirinya di kasur.


Kembali ke tuan muda yang tengah berbaring itu, perlahan retina mata nya terbuka "Sial aku ketiduran!" Ujarnya merutuki dirinya sendiri.


Kakinya melangkah tergesa mencari pelayan yang dia tugaskan.


"Tuan anda sudah bangun? Ingin saya siapkan makan malam anda?"


"Cici kemana?"


"Nona Cici ada di kamar tuan, semenjak tadi belum keluar kamar!" Ujar pelayan, tanpa pikir panjang Louis melangkah menuju kamar tanpa peduli tawaran pelayan tentang makan malam.


Senyum setan jelas tercetak, kala wanita cantik itu berbaring di atas kasur miliknya. "Bolehkan ya?" Ujar Louis bertanya dalam hati. dan selamat berdua di dalam kamar tuan Louis. Cici maafkan aku yang tidak bisa membantumu.


...*************...


"Bagus, Aku kira kau akan lari dari jadwal hari ini!" Ujar Hilda dengan tersenyum sinis.


"Hm..." Lengguhan malas di layangkan Adi pada kakak kandungnya.


"Aku kakak mu! Bersikaplah sopan! Dan ikuti aku!" Ujar Hilda dengan nada memerintah.


Pemeriksaan di lakukan secara menyeluruh dan terperinci, memakan banyak waktu dari pagi hingga siang.


"Makanan mu ada di meja kerja kakak! Makan itu dan lekas pulang! Minum obatmu!"


"Ayolah kak, aku..."


"Tidak ada bantahan Adi!"


"Hem... Baiklah..." Ujar Adi pasrah dengan segala pengobatan yang kakaknya berikan meski terbilang pemaksaan.


Kakinya melangkah masuk ke sebuah ruangan


"Apa aku boleh masuk sabrina?" Ujar Hilda dengan sopan.


"Kakak? Masuklah!" Ujarnya mempersilhakan.


"Aku tak ingin basa basi, coba kau jelaskan ini dan kenapa kau tak bilang padaku!" Ujar Hilda, nadanya sekarang lebih mendominasi menuntut semua penjelasan.


"Aku..."


"Jelaskan saja!" Ujar Hilda. Bait kata di susun dengan bagus untuk menjelaskan tak lupa kalimat maaf di layangkan Sabrina pada Hilda atas keteledoran dirinya tidak memberitahu apapun meski ini merupakan permintaan dari Mas Adi sendiri yang tak lain tak bukan adalah adik dari Hilda.

__ADS_1


"Hah.... Sudah kuduga! Terimaksih atas penjelasan mu!" Ujarnya Hilda melangkah pergi.


"Aku pulang!" Ujar Wilson melangkah masuk kedalam rumah, tak di temukan sang istri yang biasanya menyambut kedatangannya saat pulang


"Mama mu kemana raf?" Tanya Wilson pada sang anak yang asyik menonton siaran televisinya.


"Di ruangan laboratorium Pa! sejak tadi sore. Kata mama ia tak ingin di ganggu dulu!" Ujar Rafi memberitahu Papanya.


"Jangan lupa makan malam, belajar dan tidurlah!"


"Baik Pa!"


Kaki melangkah pelan masuk kedalam ruangan, tampak sang istri berkutat dengan beberapa cairan di dalam nya.


"Sayang!"


"Ah maaf tak menyambutmu!" Ujarnya dengan nada lirih.


"Kemarilah!"


"Sebentar ini belum selesai!" Ujar Hilda.


"Letakkan!" Titah Wilson yang langsung mengambil beberapa botol kecil di tangan sang istri dan menaruhnya.


"Hiks... Aku gagal!" Lirihnya frustasi, obat yang ia racik nampaknya hanya akan mengahambat saja, tak bisa menyembuhkan penyakit yang di derita oleh sang adik.


"Kemarilah! Jangan bersedih!" Ujar Wilson mendekap sang istri dalam pelukan nya.


"Aku..." Ucapnya tergugu.


"Makanlah dan aku akan membantumu. Adi pasti akan selamat dan sehat. Pasti sekarang ayo makan lah, kau pasti belum makan bukan?"


"Hem......"


...***************...


"Argh.... Jangan menganggu tidurku!" lengguhan dengan suara serak tertahan dan kembali mengeratkan pelukan nya.


"Ini tak benar tuan muda! Menyingkirlah!" Ujar Cici.


CUP!!!!


"Berhenti memanggilku tuan muda, aku calon suami mu bukan majikan mu..."


"Tapi...." Ujar Cici yang hendak melayangkan protes. "Baiklah...." Jawab Cici dengan pasrah.


"Nah bagus, ayo tidur sayang!" Ujar Louis.


"Ini sudah siang!"


"Memangnya kenapa? Aku kan sakit! Kau tak lihat." Ujarnya memberitahu kondisi tangannya.


Cibiran tertahan hanya mampu di umpat dalam hati, ya salah sendiri begitu kira kiranya.


Dret.... Dret.... Dret.....


Dering telfon membuat nya malas untuk mengangat.


"Apa!" Ujar Louis tanpa basa basi.


"Aku tunggu di bawah selama 10 menit tak kurang tak lebih atau aku akan masuk kedalam kamar itu!"


"Kak kau....."


"Hanya 10 menit dan waktu terus berjalan!" Ujar Marco langsung menutup telfon miliknya.


"****!!!!"

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Cici kala melihat raut wajah Louis yang tak mengenakkan.


"Kakak ku ada di bawah! ayo siap-siap!" Ujarnya dengan mada enteng dan kakinya melangkah turun untuk memakai baju.


"Apa? Lalu aku?"


"Kakak ku sudah tau kau disini! Ayo turun dan jangan membantahku sayang! Atau kau...."


"Oke baiklah..." Ujar Cici pasrah.


Ruangan tamu ini tampak canggung dengan kehadiran Marco yang duduk mendominasi dan seolah menguasai segalanya.


"Tangan mu?"


"Biasa, ada apa kau kesini kak! Menganggu saja!"


"Bocah sialan! Menganggu? Kau lihat itu jam berapa?"


"Oh jam 10!!!!"


"Kau melewatkan beberapa meeting penting dan aku sudah menghubungimu beberapa kali tapi kau?"


"Matamu tak buta kan? Tangan ku sakit!"


"Cih..... Kau bahkan sering bermain dengan peluru, hanya luka itu? Atau karena wanita di sampingmu itu?"


"Berhenti menatapnya kak! Kau menakutinya!"


"Maafkan saya tuan Marco!" Ujar Cici tak enak, kepalanya masih tertunduk.


"Angkat kepalamu Cici!"


"Kak, kau.." Ujar Louis membela.


"Ku bilang angkat kepala mu dan tatap aku Cici!!!" Ujar Marco dengan nada mendominasi.


"Kak ku tembak kau jika menakutinya!" Sunggut Louis.


"Maaf kan saya tuan!" Ujar Cici mengangkat kepalanya dan menatap Marco.


"Kau mencintainya!" Ujar Marco bertanya,


"Maafkan saya tuan Marco, tak seharunya....."


"Kau mencintai dia! jawab Iya atau tidak!"


"Iya tuan saya mencintainya."


"Mengaku itu saja susah!" Ujar Marco mencibir.


"Maafkan saya tuan!"


"Dengarkan aku Cici..." Ujar Marco menarik nafasnya. "Kalau kau mencintaimya, sekarang kau lah yang menjaganya. Buat bocah itu bekerja tepat waktu dan rawatlah dia. Aku sudah malas dengan nya. Jika Louis membantahmu! Pukul saja! Aku merestuimu!" Ujar Marco.


"Tuan anda!" Ujar Cici kaget.


"Panggil kakak saja seperti Louis, segeralah menikah dan aku permisi! Ujar Marco merapikan jas nya dan berdiri.


Bruk!


Majalah di lempar tepat mengenai tangan Louis yang terluka.


"Aku tau kau tidak selemah itu, jangan membodohi Cici dengan luka kecilmu itu!" Ujarnya melangkah keluar.


"Dasar kakak sialan!" Ujar Louis mengumpat.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2