
Arghhhhh
Brengs***kkkkk
Sialan!!!!!
Bedebahhhhh!!!!
Dan masih banyak umpatan yang Marco layangkan, anak buah nya nampak tertunduk takut melihat amarah bos nya yang sangat mengerikan ini.
Semua barang mewah berupa guci, gelas pajang atau benda pajangan lain bagai onggokan barang tak berguna di lantai, keramik putih itu di dominasi beberapa tetesan darah dari anak buah Marco.
Serpihan yang sesekali mengenai beberapa anggota tubuh, namun tak ada satu pun yang berani menggeser atau melengguh sakit.
Hidup di dunia bawah sekelas mafia, haruslah dia orang-orang yang tahan akan rasa sakit, dan menganggap darah adalah teman hidupnya.
"Bagaimana bisa!!!" Umpatnya, baru kali Marco harus berteman dengan kata yang amat di benci yaitu gagal.
Kala Louis sudah di tangan nya, beberapa pukulan di layangkan namun seketika ruangan menjadi padam, banyak musuh yang menerobos masuk, 2 menit waktu begitu cepat lampu menyala hanya kosong. Louis hilang dari pandangan nya.
Pengejaran di lakukan semaksimal mungkin menyisir daerah itu dengan sangat ketat, namun keberadaan Louis tak di temukan sama sekali. Manusia satu itu memang pandai menghilang dari bumi? Atau memang dia memiliki banyak hutang dan tak sanggup bayar? Sehingga pintar sekali menghilang? 🤣
"Saya mendapatkan informasi tuan!" Ujar Pitter dengan langkah cepatnya, bos gila nya membuat dirinya tak bisa memejamkan semalam, dirinya harus bisa menemukan keberadaan Louis, atau minimal siapa gerangan yang membantu menyelamatkan bedebah sialan itu. hanya 1 X 24 jam tak lebih.
"Ini bos, gadis kecil ini yang membantu Louis, namanya Nana anak panti asuhan Cahaya kasih, usianya baru 15 tahun. Dia lah yang menyelamatkan Tuan Louis malam itu!" Tutur Pitter memberikan informasi sedetail mungkin.
"Dimana dia menyembunyikan Pitter?"
"Semalam dia menyembunyikan di panti asuhan itu bos, setelahnya saya tak tau!" Ujarnya jujur, memang anak buahnya telah berusaha mencari masuk ke dalam namun nihil ia tak menemukan tujuan nya. Louis tak lagi ada di panti asuhan itu.
"Culik dia sekarang! Siksa, Buat dia mengaku dimana dirinya menyembunyikan Louis!" Ujar Marco, kakinya melangkah pergi meninggalkan semua nya.
Pitter, nyatanya tugasmu belum selesai tapi baru saja akan di mulai.
...********...
Dunia tampak sangat terik pagi ini, ah akhirnya Nana kembali berkeliling berjualan.
Kangen? Tentu sih, tapi dirinya tak mau terus menerus berjualan keliling setidaknya ia ingin memiliki sebuah toko agar tak capek berjualan ke sana kemari.
"Alhamdulillah" Ujarnya bersyukur atas rezeki yang ia dapet hari ini, jam masih pukul 10 pagi tapi semua dagangan nya sudah habis tak tersisa.
__ADS_1
Ah matahari tampak sudah pulang ke peraduan nya, waktunya Nana untuk berangkat ke Cafe bekerja menghidupi dirinya untuk memperjuangkan segalanya. Semuanya tampak berjalan sangat baik dan lancar hari ini.
"Siapa kalian!" Pekik Nana kala jalan pulangnya di hadang dengan beberapa orang, memberontak sudah Nana lakukan namun memang seberapa tenaga seorang wanita? Tetap saja kalah bukan?
"Kerja bagus! Biarkan aku yang mengurus gadis kecil ini!!" Ujar Marco tersenyum licik, kala gadis yang di inginkan sudah terbaring di atas ranjang.
Byur!
Air dingin langsung menyapu dan membasahi wajah sederhana miliknya, terperanjat dan langsung duduk.
"Banjir! Banjir! Banjir!" Pekik Nana kaget.
"Siapa kau!" Gugup Nana kala melihat sorot mata tajam Marco yang sangat mematikan.
"Dimana Louis?" Ujar Marco, tanpa berbasa basi, ia langsung melayangkan kata itu kepada Nana.
"Ha? Louis? Aku tak mengenalnya Uncle?" Jawabnya dengan jujur.
"Dimana Louis!"
"Aku tak mengenalnya!"
"Sumpah! Saya tak mengenalnya Uncle! Lepaskan! Ini sakit sekali hiks hiks... "
Plak!
Satu tamparan mendarat keras di Pipi Nana, sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah,
"Gunakan mulut mu dengan benar! Dimana Louis!"
"Hiks... Bunda..." Ucap Nana merinding ketakutan, bagaimana pun ini kali pertamanya ia mendapat tamparan sekeras itu, pipinya nampak langsung lebam seketika.
"Jangan menangis sialan!"
"Tapi aku... hiks... hikss... tak mengenal Louis, Uncle!" Lirih nya kembali jujur.
"Laki-laki yang kau tolong semalam!" Ujarnya, memori kenangan semalam berputar dalam otaknya, orang yang kau tolong semalam?
"Sudah ingat?" Seringai muncul membuyarkan lamunan nya.
"Aku hanya membantunya Uncle!"
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh mu membantu bedebah itu!!"
"Tapi sesama manusia harus saling tolong menolong Uncle!" Oh No Nana! Tak perlu menasehati manusia berhati iblis tentang tolong menolong semasa hidupnya hanya ada dendam dan kekuasaan.
"Kau akan menjadi budak ku sampai Louis aku dapatkan!" Ujarnya langsung pergi, menutup keras pintu hingga memekikkan telinga.
...*******...
Di sisi lain Bi Siti nampak gusar, kaki tuanya berjalan ke sana kemari tak tentu arah.
Sudah sangat malam tapi Nana belum juga pulang, tak ada satupun WA atau pesan yang di balas atau di beritahukan kepadanya.
"Halo Adi? Apa Nana sama kamu?" Ujar Bi Siti bertanya di ujung telfon.
"Nana? Engga bi, dia udah pulang kayak nya!"
"Ah ya sudah!"
"Emang Nana belum pulang Bi?"
"Belum Adi, bibi juga khawatir ini, gak biasanya dia gak ngabarin Bibi!"
"Yaudah bibi tenang aja, Adi bakal cari Nana mungkin dia mampir beli sesuatu dan kebetulan Handphone nya lowbet jadi gak bisa ngabarin Bibi.
Udah, Bibi tidur aja ya!" Ujarnya memenangkan wanita paruh baya itu,
Na? Kamu dimana? Lirih Mas Adi, pasalnya ia sudah beberapa kali menelfon, namun nihil? Handphone milik Nana tak bisa di hubungi.
Motor matic miliknya di pergunakan untuk menyusuri jalanan yang biasanya Nana lewati untuk pulang, Ah untung saja adiknya bisa diajak kerjasama menjaga Bundanya yang sedang di rumah sakit.
Dan ini sudah 3 hari, Nana menghilangkan sejak malam itu tak ada yang tau dimana keberadaan. hilang bagai ditelan bumi.
beberapa lembar brosur di sebar oleh Mas Adi dan beberapa anak panti.
Ah uang yang mereka miliki tak cukup untuk dipergunakan melaporkan orang kehilangan kepada pihak kepolisian.
Mereka hanya ini bisa menyebar brousur ke sana kemari.
🍒
Happy Reading ❤❤❤❤
__ADS_1