
"Hem... Enak..."Ujar Wilson, tangan nya masih sibuk menyendok makanan yang di bawa Hilda di meja makan.
"Masakan mu masih sama! Kau memang pandai memasak honey!" Ujar Wilson memberikan pujian pada Hilda, menatap jenggah rayuan biasa yang dilakukan oleh mantan majikannya.
"Aku pulang!" ia sudah berdiri ingin melangkah pergi, pipinya terlalu merona untuk lagi dan lagi mendengar pujian yang membuat hatinya menghangat.
Apakah kali ini cinta yang di nantinya selama 10 tahun lebih akan bersambut!
"Memang siapa yang menyuruhmu pergi? dan kau boleh pergi?" tanya Wilson dengan alis menungkik tajam, Tuhkan... tadi saja berkata manis sekarang sudah menatap dengan sinis saja.
"Aku sudah terlalu lama disini! Ada pasien yang menunggu ku!" Ujarnya berbicara seformal mungkin.
"Hem... Pergilah kalau begitu!" ujar Wilson nampak acuh, ia kembali melanjutkan makan nya tanpa memperdulikan Hilda yang sudah melangkah keluar meninggalkan rumah itu.
Dasar laki laki sialan! tak peka! Cegah kek! Jangan pergi aku mau kau menemaniku disini! menyesal aku mengantarkan makanan dan mengkhawatirkan nya! Umpatan itu terus menggema hingga mobil itu menghilang dan sampai di rumah sakit.
Jadwal? pasien? Hari ini ia tak sibuk! Hanya pengalihan supaya ia bisa keluar dari situasi seperti tadi. Sok lah...
Arghhhhhh.......
Hampir setengah hari ia tak fokus bekerja, raut wajahnya mengumpat. sesekali ia melirik ke arah Handphone miliknya siapa tau sosok laki laki yang di harapkan mencarinya ada di layar untuk menelfon
NIHIL!!!!!
Arghhh... Makin kesal saja.
"Aku membencimu Wilson!" Ujarnya melempar handphone yang ada di ganggaman tangan nya.
HAP!!!
"Kau marah padaku? apa salahku?" tanya sosok yang sendari tadi ia harapkan untuk mencari dirinya.
"Ah... Apa...apa... Aku tak sengaja!" Gugupnya mengusir rasa canggung.
Bagaimana bisa ia bilang tak sengaja? sedangkan suaranya saja menggema sekeras itu.
"Biar ku tebak? kau berharap tadi pagi aku menahan mu bukan? Lalu ku peluk dirimu dan berkata jangan pergi temani aku disini!" Ujar Wilson, kedua tangan nya diperagakan memeluk dirinya sendiri.
"Mana ada! Jaga ucapan dan batasan mu!" ujar Hilda, sudah berbicara formal saja.
Wkwkwkkwk... Dasar wanita...
__ADS_1
Lucu sekali....
Kaki kekarnya melangkah perlahan ke arah Hilda, mendekat... semakin dekat....
"Kau mau apa!" Ujar Hilda gugup kala dirinya terus di pepet oleh Wilson hingga tubuhnya terhimpit, nafasnya tercekat.
"Kenapa hem?" Ujar Wilson dengan mengedipkan sebelah matanya genit. "Bukan kah ini yang kau mau?" ujar Wilson, argh... sialan... suara tuan muda satu ini sudah begitu seksi sekali.
Makin mendekat dan semakin dekat.
Hingga benda kenyal nan hangat itu menyatu, tak ada penolakan dari Hot Mother satu ini, membuat Wilson lebih leluasa dan mempermainkan dengan seenaknya.
Begitu enak, hingga ia menelisik dan menerobos lebih dalam, mencari rasa nikmat yang ia idamkan selama ini.
"Manis sekali!" bibir itu telah terpisah, Tatapan mesum tuan muda itu masih tercetak jelas di wajah tampan miliknya.
Wajah manis itu memerah, bagaimana bisa ia malah terhanyut dalam permainan yang di ciptakan oleh Tuan muda ini? kenapa ia tak menolak?
"Menikahlah dengan ku!" Tanpa mengurangi jarak, masih begitu dekat, hingga nafas mint miliknya bisa tercium oleh indera penciuman Hilda.
"Menikahlah dengan ku! Bukan karena Rafi yang harus memiliki keluarga sempurna! Tapi hanya kau yang membuat tuan muda ini merasakan sederhananya rasa jatuh cinta!" kata begitu lembut menjelaskan apa yang dia rasakan.
Terkait peristiwa yang membuatnya mabuk malam itu? argh.. lupakan saja... selagi belum ada janur kuning melengkuh maka masih bisa di tikung.
"Aku..." gugupnya, lidahnya masih kelu untuk menjawan iya.
"Sudah cukup aku memberikan kesakitan padamu!Beri aku waktu lebih lama untuk membahagiakan mu!" Ujar Wilson kembali memohon.
"Yes! aku mau menikah dengan mu!"
...**************...
Tak
Tak
Tak
Tak
Kaki melangkah begitu pelan, masuk kedalam ruangan inap Sabrina.
__ADS_1
"Kau baik dalam melakukan tugas dik!" ujarnya sosok perempuan cantik yang datang dengan tersenyum.
"Akan ku lakukan demi membalas kematian kakakku! Jessica!" Bocah tak berdosa telah di cuci otaknya oleh seseorang.
Entahlah, fakta apa yang telah ia terima dan bagaimana bisa ia menyimpulkan dendam yang begitu besar dan apa yang menyebabkan model sekelas Jessica meninggal? lalu kemana Cici? Pelayan setia yang mendampingi Jessica.
...****************...
"Makasih tuan telah menolongku!" Cici, pelayan Jessica ini kabur melarikan diri. ia masih bersembunyi di suatu tempat.
Demi apapun! Bukan dia yang membunuh Jessica! Bukan! Dia tak sekeji itu.
Untung ada orang baik yang membantunya malam itu. Membuatnya bisa aman dari kejaran kepolisian dan bisa bersembunyi sampai detik ini.
Hanya jasa sebagai pelayan yang bisa ia berikan pada pemuda ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain itu? Ia menjadi buronan dan ia hanya lulusan SMA?
"Hm...." Jawabnya dengan cuek.
"Jika anda butuh sesuatu! Anda bisa memanggil saya tuan!" Ujarnya patuh begitu ramah.
"Hm...." ujarnya lagi.
Kaki Cici melangkah pergi undur diri, bolehkah dia serakah akan semua nya.
Bolehkah?
Rasanya terlalu menjijikkan seorang pelayan sepertinya bisa bersanding dengan dia, laki laki tampan yang telah menolongnya. Tapi hatinya mencintainya. Sangat....
...************...
Iya deh yang baru jadian, tangan seperti perangko dan lem saja. Melekat bergandengan tangan sepanjang keluar dari rumah sakit.
uhhhh... Menjijikkan sekali! Bagaimana bisa tuan muda bertingkah seperti ini.
Ayolah... Jangan bertingkah bahwa dunia ini milik kalian berdua. Hargai mereka para jomblo yang melihat kalian seperti itu.
Tuh! Tuan muda ini tak tau malunya sesekali mencium telapak tangan Hilda...
Suster menatap iri dan penuh curiga.
Tuhan...Berikan satu laki laki yang sepertinya... Tuhkan semua yang melihat langsung memohon memanjatkan doa untuk meminta jodoh pada sang kuasa.
__ADS_1
...*********...
...HAPPY READING!!!!...