Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!

Uncle Mafia, SUAMIKU!!!!
UM - Permohonan


__ADS_3

"Uncle! aku ingin pulang!"


"Berhenti merengek atau ku jahit mulut mu Nana!!!"


Glek! Cukup membuat Marco pusing, karena Nana terus merengek untuk pulang sejak 3 hari yang lalu, kondisinya sudah fit namun entahlah tak tau alasan pasti apa yang mendasari Marco terus menahan bocah ini.


"Aku ingin sekolah!"


"Sekolah mu sudah rata dengan tanah!"


"Apa! Uncle pasti membohongi ku!" Ujar Nana tak percaya, seketika lemparan majalah mengenai tubuh Nana.


"Baca!" Titahnya,


"Ini... ini bohong kan Uncle? Kenapa?"


"Singkatnya, Sabrina yang mencelakai mu! dan kepala sekolah tak mau mengeluarkan nya ya aku menghancurkan saja sekolah kecil itu!" Jelasnya tak berdosa menyeruput secangkir kopi.


"Ha? Kau... "


"Tak percaya ya sudah!" Jawab nya acuh, kembali memeriksa beberapa dokumen.


Sebenarnya dia siapa?? kenapa bisa segampang itu menghancurkan semuanya? Lirih nya menatap bingung dan menerka wajah Uncle Marco.


"Matamu akan menggelinding jika terus menatapku!"


"Ah apa... tidak!" Ujar Nana gelagapan.


"Tapi aku ingin pulang Uncle!" Ujar Nana kembali meminta.


"Telinga ku sakit mendengar rengekan mu! Baiknya kau ku suntik mati saja!"


"Apa? tapi aku sudah membaik!"


"Diam!"


Tok


Tok


Tok


"Bagaimana Pitter?" Ucap Marco kala tangan kanan nya masuk kedalam ruangan.


"Nona sudah di perbolehkan untuk pulang!"


"Persiapkan segera!"


"Baik tuan!" Ujar nya pamit.


"Berhenti berterimakasih padaku! Aku memang tak mau kau terus disini, menghabiskan uang ku saja!" Celetuk Marco.


Cih, siapa yang ingin berterimakasih kepedean sekali.


"Bibir mu bisu untuk berucap terimakasih?


"Eh? Makasih Uncle!"


"Sudah basi!"


...*******"...

__ADS_1


"Bagaimana sayang?"


"Semua berjalan dengan lancar!"


"Kau memang bisa di andalkan." Celetuk Wilson, ah pria bule Amerika ini memang sialan. Musuh dalam selimut.


Bisnis hitam miliknya tiba-tiba mengendur dan para pembeli bahan peledak dan beberapa barang haram lain nya sekarang berpindah ke Marco. Membuatnya meradang.


Kualitas yang di tawarkan sangat baik dengan harga yang cukup standar bahkan bagi sebagian pembeli tergolong murah.


"Sesuai dengan perintah mu! Rencana mu mulus tanpa halangan apapun! Kau bisa menghancurkan semua miliknya sebentar lagi!" Ujar Jessica dengan tangan nakalnya.


"Good baby!" Ujar Wilson.


"Nana namanya! Dia sangat di jaga oleh Marco! Membunuh nya akan membuat dia sedikit tertekan dan kau bisa membunuh Marco setelah itu Baby! Dengan begitu tujuan mu menguasai bisnis hitam akan terlaksana. Dan kau akan menjadi satu-satunya pengusaha terkuat." Ujarnya menyerahkan foto Nana.


"Gadis jelek ini? Apa yang dilihat dari Marco brengs*k itu?"


"Gadis ini yang menyembunyikan Louis!"


"Apa?"


"Hem, dan ini sangat menarik. Kau harus membayar mahal atas informasi yang aku berikan Baby!" Ujar Jessica, tangan kecilnya mulai melepas satu persatu kancing kemeja milik Wilson.


"Kau selalu menggodaku!"


"Dan kau selalu membuat ku melayang!"


Wilson, pria SMA yang di cintai oleh Jessica, laki-laki pertama yang merebut kesucian miliknya.


Tak ada rasa penyesalan dari dalam Jessica, baginya itu akan tetap di lakukan toh baginya hanya Wilson yang berhak mendapatkan itu.


Jika boleh jujur, Jessica lebih nikmat kala dirinya menyatukan dengan Marco. Bos gila itu benar-benar cocok menyandang predikat laki-laki sangat sempurna.


...********...


Langkah nya gontai, buket bunga mawar di bawa dengan lemah. Titik lemah nya berada disini.


"Halo Bunda?" Ujar Marco duduk di pusaran makam sang Bunda.


"Smith bawakan bunga untuk Bunda, sangat cantik seperti Bunda!" Ujarnya menabur bunga


dan meletakkan sebuket bunga tepat di atas nisan ibunya.


Tak ada yang tau letak makam bunda Marco, hanya Pitter yang tau.


Smith, panggilan kecil yang hanya diberikan bunda kepadanya.


Hari ini tepat tanggal kematian bunda nya, ia selalu berkunjung dan menyempatkan waktu.


Langkah nya gontai memasuki mansion, setalah berkunjung tak ada hal yang bisa Marco lakukan. Bukan tak ada ia hanya menahan diri di kamar.


Satu ruang pribadi, dimana beberapa foto dan memori sang Bunda terjaga dan tertata rapi.


"Ku buatkan Uncle ini!" Ujar Nana menyodorkan roti goreng dengan es cream yang mencair di dalam sana, toping coklat beberapa taburan keju. Rasanya nikmat.


"Hem.... " Ujar Marco cuek, pikiran nya kosong memandang keluar, sekarang dirinya terduduk di taman itu.


"Nana si gak tau ya masalah Uncle apa? Tapi kelihatan dari wajah kusut banget kayak setrikaan!"


"Oke! Tenang-tenang!" Ujar Nana, kala ia mendapat pelototan tajam dari Uncle Marco.

__ADS_1


"Hah,... Semua orang kuat pasti memiliki titik lemah dan tersedih, Nana tak tau Uncle Marco ada masalah apa? Tapi kata Bunda Nana kalau kita sedih, makan ini bisa membuat kita bahagia!" Ujarnya menyerahkan kue bundar goreng dengan lelehan es cream di dalam nya.


"Enak... luarnya renyah dan dalam nya lembut. Persis kayak kita, luarnya kuat dalam nya hangat!" Ujar Nana bertutur. Entahlah hari ini kurasa Nana sangat cerewet bukan.


Melihat Uncle Marco tak memakinya dan terus diam membuat Nana gatal rasanya tak menyapa.


"Nana.... " Peringati Pitter yang berada tak jauh dari mereka.


"Pergilah Pittter! Istirahat lah aku tak apa! Biarkan bocah cerewet ini berdongeng!"


"Tapi tuan?"


"Aku baik-baik saja!"


"Saya permisi tuan."


"Bagaimana? Enak kan?" Ujar Nana bertanya kala satu gigitan masuk kedalam mulut Marco.


Bunda? Roti ini? Rasa ini? Lirihnya menatap Nana dengan pandangan tak terbaca.


"He? Kenapa? Tak enak kah? Ya sudah berikan padaku!" Seru Nana menarik piring dari tangan Uncle Marco.


"Kau ikhlas tidak si! Kembalikan!" Ujar Uncle Marco merebut piring itu, memakan dengan lahap.


"Kenapa masih baik kepadaku! Padahal aku?"


"Jahat? Ya memang Uncle jahat. Tapi kata Bi Siti gak semua kejahatan harus di balas dengan kejahatan!"


"Kau tak takut aku membunuh mu!"


"Siapa yang tak takut kematian coba? Aku tak takut, mungkin sudah takdirnya aku mati!"


"Apa tujuan mu?"


"He?"


"Ku tahu, kau pasti baik seperti ini ada maksud tertentu bukan?"


"Bebaskan aku Uncle? Toh selama ini bukan aku yang menyembunyikan Om Louis!"


Pyar!!!!!!


Piring itu hancur berkeping-keping dengan beberapa roti goreng yang tercecer di lantai, Tangan Uncle Marco mengepal kuat di sana. Pandangan nya begitu nyalang menatap Nana


"Maaf!"


"Nampaknya aku terlalu baik padamu akhir-akhir ini!"


"Tapi apa yang aku katakan benar Uncle! Aku tak menyembunyikan Om Louis, biarkan aku tinggal di panti. Hidup tenang di sana jika aku disini akhirnya aku akan merepotkan mu dan semua yang aku makan disini akan kau anggap hutang! Aku hanya tak ingin memiliki hutang yang lebih banyak lagi kepadamu Uncle, dan aku tak akan bisa membayar itu!"


Plakkkkk!!!!!


Tamparan keras mendarat pada pipi Nana, sangat nyeri hingga menyebabkan pipinya merah sedikit membiru.


"Masuk ke kamar mu Nana!" Ujar Marco dengan kilatan amarah, nafasnya begitu memburu.


"Kau jahat!!!! Kau kejam!!!" Ujar Nana berlari masuk kedalam, pipinya sangat panas dan sakit.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Happy Reading❀❀❀❀

__ADS_1


Ku sarankan, Uncle Marco jangan galak-galak ihhh sama Nana!!!! Kasihan tau....


__ADS_2