
Sedikit tak rela kala merelakan sang istri untuk pergi berbelanja, dengan segala perdebatan kolot akhirnya Uncle Marco merelakan juga.
Kaki kecil nyonya besar menyusuri mall yang tampak lumayan sepi, tak seperti biasanya. Ah jangan di tanya kenapa? Pengunjung di batasi demi kenyamanan sang istri.
Memilih beberapa perlengkapan baby untuk sang putra yang sudah terdapat dalam troli, Hilda dengan setia mendampingi kemana kaki majikan nya melangkah.
"Makan dulu yuk!" Ujar Nana usai berbelanja,
Habiskan harta suami mu Na! Tak apa sekali-sekali bukan?
"Baik nyonya!"
"Kita sedang berdua saja, panggil aku Nana Kak!" Sapaan hangat itu kembali mengusik gendang telinga miliknya. Kak? Apa dia pantas.
Berbagai hidangan telah tersaji, ah waktu nya kita makan cus.... Baby Marfin cukup baik, ia tak rewel apalagi merepotkan sang Mama.
"Dimana?" Dering telfon membuat Nana terganggu, ya siapa lagi kalau bukan suaminya yang menelfon? baru 1 jam dia keluar rumah.
"Apa semuanya sudah kau beli?" Tanya Uncle Marco kala sudah berada disisi sang istri,
"Ah ya sudah." Jawab Nana.
"Marco ya?" Gadis cantik berperawakan model menghampiri ke empat nya, Nana yang tengah duduk dengan sang suami. Hilda dan Pitter yang ada di belakang dengan setia.
"Siapa ya?" Tanya Uncle Marco tak tau, ya mana tau? Banyak yang di kencani nya meski sekedar cipika cipiki. Ah itu wajar bukan? Bagi Uncle Marco.
"Ah lupa! Aku itu loh yang nemenin kamu di club? Inget ga?" Tanya perempuan tak tau diri itu, tangan nya sudah tak bisa di kondisikan bergerak dengan tak sopan memegang tangan suaminya.
Perlu di garuk nih pake parut! Biar gatelnya ilang!
"Sayang! Masa kamu gak inget si? Tante ini loh pelayan club itu!" Celetuk Nana menekan kata tante dan pelayan, sungguh tak berdosa.
"Kamu siapa? Enak saja bilang tante!" Ketus sudah si cewek itu pada Nana.
Akan ku lihat sampai mana kau membuat nya pergi! Senyum licik di layangkan Uncle Marco.
"Belum tau ya? Sini kenalin aku Nyonya Marco Smith Robert!" Ujar Nana tampak sombong.
"Bhahahaha, gak mungkin kamu istri nya Marco! Kamu bukan seleranya!"
__ADS_1
"Oh ya? Lantas seperti apa selera Tuan Marco?"
"Jelas seperti aku! Cantik dewasa!"
"Bhahahaha... Cantik si tante, tapi umurnya yang tua! Ah mana mau Tuan Marco saja tante gini! Tau gak? Dia carinya yang masih kayak aku biar bisa jadi Sugar Baby nya!" Ujar Nana tersenyum licik "Tante mah di goyang langsung encok, kalau aku mah jiwanya masih anak muda jadi lebih ganas tau!"
"Uhuk! Uhuk!"
"Sayang! minumnya pelan-pelan aja! tak usah malu seperti itu!" Ujar Nana menepuk tubuh sang suami, setelahnya dengan berani dia mencium bibir Uncle Marco. "Nah sekarang jadi bersih kan?" Ujar Nana tersenyum.
"Kau.... " Kaki melangkah pergi meninggalkan kedua pasangan itu, kesal dan benci menjadi satu. Dasar anak sialan!!!!
"Hilda ayo pulang!" Ujar Nana mengambil Baby Marfin dan melangkah pergi.
"Sayang! Aku di sini menjemput mu loh!" Ujar Uncle Marco , kaki nya melangkah cepat sejajar dengan sang istri.
"Baby Marfin kalau besar jangan jadi playboy ya! Ntar Mama sunat habis loh tititnya! Terus di goreng kasih makan singa!"
Glek?
Gimana Uncle? Ngilu banget kan itu Junior? Duh jangan di bayangin di potong dan di goreng! Hey! Tidak-tidak, hanya dengan ini ia bisa mencetak bibit unggul.
"Tapi aku beneran loh! Gak tau dia siapa!" Ujar Uncle Marco, duh Pitter tahan ketawa ya! Ini udah ranah rumah tangga jangan ikut campur biar deh Uncle Marco aja yang mupeng.
...**************...
Bruk!
Dug
"Kau tak apa?" Ujar Wilson membantu anak kecil itu untuk berdiri seperti semula, namun tangan yang terkulur dengan posisi berjongkok di tepis oleh anak itu.
Tubuh kecil nya di tubrukkan ke arah Wilson yang tengah berjongkok mensejajarkan dirinya.
Perasaan apa? Tubuh nya tak menolak apapun atas anak kecil yang ada dalam dekapan nya.
"Rindu!" Ujar nya tampak lucu.
Kelu sudah bibir Wilson mendengar kata Rindu yang terlontar dengan begitu tulus.
__ADS_1
"Halo Papa!" Ujar nya melepas pelukan, bibir nya terkunci rapat kala bibir kecil itu mencium pipinya, Setelahnya bocah itu lari tak menoleh ke belakang dan menghilang.
"Tuan muda tak apa?" Salah satu anak buah membuat Wilson tersadar.
"Ah ya tak apa!" Gagapnya menjawab, Pikiran nya terus bekelana liar tentang apa yang telah tejadi barusan.
Jika di tanya? kemana para pengawal Tuan muda Wilson? mereka semua menunggu di mobil, tempat yang tak ingin Wilson di ganggu oleh siapapun dan mendapat pengawalan apapun.
Pemakaman, Makam Wulan dan Makam Papa nya.
Pa? Klise memori terus berputar dalam otak Wilson? apa yang di maksud anak itu? Kenapa dia memanggilnya seperti itu? Apa mungkin anak itu salah mengenali orang tua nya? Lupa kan!
Dering telfon mengganggu tuna rungu Tuan muda Wilson malam itu.
"Hallo?"
"Stop berfikir aku salah orang! Karena memang kau papa ku!" Ujar di sebrang sana tanpa basa basi, sedikit kesal dari segi nada bicaranya.
"Kau siapa? jangan macam-macam dengan ku!" Ujar Wilson.
"Apa salah seorang anak yang memeluk Papa nya! Aku Rindu padamu Pa!"
"Siapa kau!"
"Putra yang tak kau inginkan! Selamat malam Pa!" Ujar nya, telfon mati.
Kumpul di ruangan sekarang juga! lacak dimana dan siapa yang menghubungiku! Titahnya begitu menakutkan kala memerintah bawahan nya.
30 menit....
45 menit....
1 Jam...
Nyatanya kata gagal harus di telan oleh Wilson malam itu, tak ada yang tau siapa sosok yang menelfon nya, tapi jelas itu suara anak kecil.
Masalah apalagi ini? Siapa dia sebenarnya? Apa ini sebuah permainan musuh? Monolog Wilson bertanya. Tapi tak dapat di pungkiri, ada getar aneh yang di rasakan dalam tubuh nya?
Anak? Kapan Wilson membuatnya?
__ADS_1
...*********...
Happy Readingππππ