
Pagi ini menjadi tak biasa, semua tampak kaku dan berdebar bagi Cici khususnya.
Pagi buta dengan tak tau dirinya, Tuan muda Louis mengetok pintu rumahnya, jam 5 kira kira.
Malu, rasa itu masih saja tergambar jelas di matanya, dengan pakaian sederhana rambut acak acakan tapi masih cantik.
"Kau terlihat lebih cantik!" kata itu terus terngiang dalam otak Cici kala laki laki tampan itu memuji penampilan nya kala membuka pintu.
"Aku hanya datang berkunjung, ayolah... dan berhenti menatapku seperti aku bos dan kau pembantuku!"
"Memang seperti itu kenyataaan nya tuan muda!"
"Aku benci kata itu!" ujarnya nampak galak dengan tatapan sinis.
Hingga suasana menjadi hening hanya ada dentingan sendok garpu yang menghiasi meja makan kala itu, Cici yang memasak dan mempersiakan semuanya.
"Biar saya saja tuan!" ujar Cici panik kala Louis mengangkat piring kotornya menuju dapur untuk di bersihkan. Telinganya mendadak tuli, kakinya tetep melangkah menuju ke tempat yang semestinya.
"Tuan muda!" teguran lembut itu kembali di layangkan.
"Gulungkan kemeja ku!"
"Biarkan saya saja tuan mu...."
"Gulung saja!" ujarnya dengan menatap galak. Tanpa kalimat protes selanjutnya, dengan patuh Cici menggulung kemeja Tuan Muda Louis.
Cup
Pintar sekali dalam memanfaatkan keadaan, argh membuat malu dan bertambah berdegub kencang.
...*************...
"Hey!" Ujar Mas Adi menganggetkannya, lamunan itu terbuyarkan di sore hari. Ya, pikiran nya masih melayang kala pagi tadi yang sangat di idamkan.
Harusnya marah bukan? Tapi rasanya, itu yang di idamkan nya saat ini.
"Kau nampaknya bahagia?" ujarnya menyelidik.
"Aku..."
"Ayo pulang!" tangannya di tarik agak kasar oleh pria yang tadi mencium pipinya.
__ADS_1
"Eh tuan muda!" ujar Cici kaget.
"Aku bukan tuan mu, aku calon suamimu!"
Oh Good! Makin tak tau diri saja Tuan muda Louis ini, tapi kan? Kata sang kakak? Kau berhak melakukan apapun untuk mewujudkan bahagianya bukan?
Peduli apa dia tentang pendapat orang, pokoknya Cici adalah hak miliknya. Dia tak mau menerima penolakan apapun.
cara halus dengan menerima atau menghamilinya sekalipun tak peduli, bagaimanapun Cici harus naik ke pelaminan bersamanya. Titik!
"Dia akan pulang bersamaku!" Sebelah tangan Cici di tarik oleh Mas Adi.
"Lepaskan tangan mu!" Ujar Louis sedikit mendorong tubuh Mas Adi.
Brugh!
"Uhuk!" Darah segera keluar dari hidung dan mulut mas Adi kala ia jatuh terduduk di lantai.
"Mas Adi!" Seketika Cici mendekat ke arah Mas Adi, dan membantunya untuk berdiri.
"Cici aku..."
"Naik mobilku!" Ujar Louis.
...**************...
"Tenanglah aku baik baik saja!" Ujar Mas Adi terus memberikan pengertian pada Cici yang entah sudah berapa kali ia melemparkan pertanyaan tentang kondisinya.
"Sudahlah dia tak apa!" Ujar Louis yang masih membuntuti keduanya, enak saja membiarkan keduanya berduaan. Selama ini Louis sudah bersabar untuk memberikan waktu.
"Pulanglah bersamanya, aku tak apa!" Ujar Mas Adi, seolah tau tatapan sinis yang Louis terus layangkan pada dirinya.
"Nah sadar diri sekarang kan!" Jangan hujat Louis, karena dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, dengan segala hal tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
"Tidak! Aku akan pulang bersama mu!" Ujar Cici membantah.
"Kau tak perlu khawatir aku masih harus bertemu dengan teman ku disini untuk membicarakan bisnis!" ujar Mas Adi dengan halus "Kau sudah dengar sendiri kata dokter bukan? Aku tak apa!" Masih memberikan pengertian kala sorot mata Cici ingin melayangkan sebuah protes kepadanya.
"Tapi aku..." Gagap Cici.
"Pulanglah!" ujar Louis langsung menarik tangan Cici untuk segera keluar, masuk kedalam mobil dan pulang bersamanya.
__ADS_1
...***************...
"Kau mencintainya!" Tapukan pundak membuatnya menoleh dan kaget.
"Mengagetkan saja!" Ujar Mas Adi menormalkan degub jantungnya.
"Ayo ikut aku!" Ujar Sabrina menuntun mas Adi menuju ke ruangannya.
"Lihatlah!" Ujar Sabrina menyodorkan surat pada dirinya.
"Bacakan saja, aku bukan dokter yang tau apa arti semua gambar menjijikan ini!" ujarnya acuh.
"Berhentilah acuh, dan segeralah melakukan kemoterapi! Leukimia mu semakin parah!" ujar Sabrina nampak geram.
"Oh...."
"Adi...."
"Dasar bocah kecil, jangan membentakku!"
"Akan ku beritahu gadis itu!"
"Jangan coba coba!" Ujar Mas Adi dengan sorot mata tajamnya. "Terimaksih obatnya! Dan sampai jumpa!" ujar Mas Adi melangkah pergi.
...*************...
Tak ada niatan untuk membuka suara, dua manusia itu masih asyik dengan keheningan yang menghiasi suasana mobil kala itu.
"Aku hanya mendorongnya pelan!" Ujar Louis berkata seolah menegaskan bahwa itu bukan salahnya, manusia normalpun kalau di dorong pelan tak akan berdampak seperti itu bukan? Begitu pula pikirnya.
"Saya tidak menyalahkan tuan muda, tapi setidaknya jangan berbuat hal yang merugikan orang lain tuan muda!" Ujar Cici lembut tanpa mau menolehkan kepalanya ke arah Louis.
"Tapi kau butuh penjelasan dariku! Agar kau tak salah faham kepadaku!"
"Tak perlu Tuan Muda, anda tak berkewajiban untuk itu!" Ujar lagi, serangan telak! Memang Louis siapa Cici? Kenapa pula harus menjelaskan nya.
Berikan permasalahan tentang menghancurkan sebuah perusahaan dengan memanipulasi saham yang turun dengan sekian persen, Oke Louis lebih jago dalam hal itu daripada harus berhadapan dengan mahluk yang bernama wanita.
Bukan wanita biasa, wanita yang ia cintai. Ah rasanya malu mengakui itu. Dan cobalah kalian mengerti, kata maaf akan sulit ku ucapkan bagi dirinya.
...**************...
__ADS_1