
Lengan di tarik dengan kasar, membawa tubuh gadis kecil itu masuk kedalam kamar miliknya.
"Kau jadi wanita kegatalan sekali! Apa aku harus menggaruk mu!" Ujar Uncle Marco,
"Augh... Sakit! Memang apa yang ku lakukan!" Lengguhan sakit bernada tanya di layangkan kepada Uncle Marco.
"Ingin ku potong tangan mu! Hahh....." Ujarnya dengan sorot mata tajam.
"Memang apa kesalahan ku!"
"Dasar gadis bodoh!!!"
"Sudah tau aku bodoh! Kau masih saja melarang ku sekolah!"
"Mau apa?"
"Dih! Uncle yang aneh! Ya mau ku sekolah lah! Pake hancurin sekolah ku! Sok-sokan! Memang nya Uncle punya uang berapa banyak si!" Gerutu nya Nana dengan bibir berdecih, bagai mbah dukun yang komat kamit baca mantra.
Yang jelas kekayaan Marco sangatlah berlimpah Nana, bahkan digit 0 di kalkulator tak mampu menghitung total aset kekayaan yang dia punya.
"Diam!!!" Ujar Uncle Marco. Titah Marco ternyata tak di gubris gadis kecil itu, mulut nya masih saja bergumam menyumpah serapahi Uncle Marco.
CUP.
Cara mujarab untuk membungkam bibir wanita, melangkah pergi meninggalkan Nana.
...************...
"Tetap disini! Jangan pernah keluar! Hilda yang akan menjagamu! Kau dengar!" Titah dengan segala perintah dengan Nada menyeramkan.
Nana menelan ludahnya dengan kasar, memang nya kenapa?
"Aku pergi!" Ujarnya pamit pada Nana di ikuti Pitter yang setia mendampingi, pengamanan di mansion di perketat.
Mobil melaju membelah jalanan, Perdagangan beberapa bahan peledak dan pistol terbaru.
Uncle Marco sendiri yang turun tangan dalam transaksi besar ini.
"Ini tuan... " Ujar Marco sopan menunjukkan beberapa bahan peledak dan pistol keluaran nya.
"Maaf tuan! Ini mungkin mengecewakan. Semua barang yang Anda tawarkan sama persis model dan bentuk yang di miliki Tuan Wilson! Dan harganya jauh lebih murah!"
__ADS_1
Brak!!!!!
Meja di gebrak dengan sangat kasar, sorot mata yang awalnya penuh gembira akan keberhasilan yang sebentar lagi di raih kini sirna, kini di ganti dengan kerugian!
Sialan!!!! Umpat Marco mengeram kesal, siapa yang telah membocorkan semuanya. Siapa dalang di balik ini.
Kenapa sampai terjadi masalah ini.
Kaki di langkah kan pergi meninggalkan tempat transaksi. "Maaf tuan! Kami. harus pergi! Lain waktu kita bisa bertemu kembali!" Ujar Pitter menyampaikan salam hormat.
Beberapa gelas wine di tengguk, ah ini memang pemandangan yang biasa, alkohol menjadi jalan ninja Marco untuk melepaskan belenggu emosi yang membelitnya.
"Tuan! Apa anda sedang ada masalah!" Suara indah menyapa tuna runggunya, Pitter yang ada berdiri tak jauh dari bos nya itu hanya diam.
Sebelum ada perintah, tak boleh mencampuri urusan.
"Siapkan kamar!" Titah Marco,
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi di antara Marco dan Jessica di kamar itu.
Kenapa anda masih seperti ini tuan? Kasihan Nona Nana jika mengetahui nya! Lirih Pitter, Ah bagaimana pun dia kasihan pada gadis kecil itu. Bagaimana perbedaan usia yang ada sangatlah ketara, dan tak seharusnya Nana tak ada di lingkup gelap seperti mereka.
Pagi hari, Nana tampak asyik menyiram berbagai tanaman yang sudah ia tanam sehari yang lalu. Mau bagaimana lagi, ia tak di perbolehkan sekolah bahkan keluar rumah, lebih baik ia menanam bunga saja bukan?
Berselonjoran di depan televisi dengan berbagai cemilan, ah sudah sangat membosankan sekali.
"Nona? Apa anda tak lelah!"
"Ah sebentar lagi! Masih ada beberapa bunga yang belum ku siram!"
"Saya bawakan cemilan dan teh hangat untuk anda nona!"
"Ah ya, taruh saja di meja! Sebentar."
"Baik nona!"
Gadis baik! Kenapa anda harus terlibat dalam dunia hitam ini! Rasanya saya tak tega jika harus membunuh anda! Lirih nya menatap Nana, baru beberapa hari menemani gadis itu, Hilda sudah nyaman karena kebaikan dan sifat mengasihi Nana.
Hingga malam menjelang tampak terasa begitu dingin bagi Nana, sudah 3 hari Uncle Marco tak pulang ke rumah.
Harusnya dia merasa tenang dan damai bukan?
__ADS_1
Kenapa ada sudut hatinya yang kosong.
Hingga tidur adalah jalan alternatif melupakan segalanya. Hilda selalu ada untuk Nana, semua kebutuhan nya terpenuhi. Nana merasa, dirinya seolah menjadi nyonya besar. Ah menyenangkan.
Sebenernya Nana tak pernah menganggap Hilda sebagai pelayanan nya, lebih sebagai kakak yang kedepan nya akan saling mengasihi dan menyayangi, bagi Nana.
Pukul 1 dini hari, memaksa gadis itu bangun dari tidurnya. Semua isi perut memaksanya untuk keluar.
Lemah.
Huek... Huek... Huek....
Tok
Tok
Tok
"Nona! Ada yang bisa ya bantu!" Teriaknya di luar kamar.
"Nona!" Tak kunjung berhasil, membuat Hilda menerobos masuk dengan kucing cadangan.
"Nona! Astaga! Apa yang terjadi dengan anda!" Ujarnya menuntun Nana untuk berbaring di atas ranjang, mengganti pakaian dengan begitu telaten.
"Bisa buat kan aku jahe hangat?" Ujar Nana begitu lirih.
"Baik Nona, and tunggu sebentar!"
"Nona, minumlah..." Ujar Hilda membawa secangkir jahe hangat sesuai permintaan nona mudanya.
"Ah terimakasih!"
"Apa nona butuh sesuatu?"
"Tidak! Kau boleh pergi! Aku sudah lebih baik!" Ujar Nana berterimakasih.
...***********...
Happy Reading.
Baby Marco otw nih... Dalam perut, do'ain ya semoga lancar sampai melahirkan❤❤❤🤣🤣🤣
__ADS_1