
Nana sudah bergerak seperti biasanya, luka di perut yang di sebabkan operasi pasca dirinya melahirkan sudah mengering dan bisa digunakan untuk beraktifitas ringan. meski usia nya cukup belia namun ia sudah mengerti akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Sudah 3 kali Bi Siti datang ke rumah nya sekedar berkunjung dan memberikan beberapa nasihat pada Nana agar lebih baik menjadi seorang istri.
Taruhlah kepercayaan penuh mu pada suami mu, meski ada kabar yang tak mengenakan di luar sana percaya lah pada suami mu dan minta penjelasan pada nya, apapun masalah nya bersikap lah dewasa untuk menyelesaikan. Sambut suami mu pulang sebaik mungkin layani apapun yang di ingin kan, buat lah dirimu seolah menjadi rumah ternyaman untuknya pulang dan bersandar akan semua keluh kesah.
"Kemari lah biar ku bantu!" Ujar Nana, mengambil handuk dari tangan sang suami, menggosok dengan penuh perhatian rambut yang masih setengah basah.
"Apa ada masalah di kantor?" Tanya Nana, Uncle Marco hanya diam dan memeluk istri nya , seolah ada masalah yang sedang di hadapi.
"Tak ada! Terimakasih!"
"Untuk apa?" Tanya Nana heran.
"Semuanya!"
"Ha... Tentu, aku kan istrimu." Jawab Nana.
"Apa kau tak mencintaiku?" Tanya nya,
Cinta? Sudah 30 tahun lamanya hidup? Kenapa Bos mafia ini mau bersinggungan dengan perasaan itu? Apa yang di harap kan dari gadis kecil yang tengah mengusap lembut rambut nya?
Cantik? lumayan, tapi tubuh nya tidak seperti model yang pernah di kencaninya dahulu, dia sederhana tapi mampu membuat nya bahagia.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku merasa, Kau hanya menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri! Tak melibatkan perasaan mu!" Ujar nya, ah kenapa Uncle Marco yang memiliki segalanya jadi pesimis? Bukan kah dia bisa mendapatkan segalanya yang dia mau di dunia ini?
"Aku harus apa?" Good! Mati lah kau Nana, kenapa kau masih tak peka hm?
"Kemari lah! Ikut aku!" Ujar Uncle Marco, tangan nya menuntun Nana memasuki sebuah ruangan.
"Tuan! Anda kenapa disini!" Tanya Pitter.
"Keluar lah Pitter! Kau boleh Istirahat!"
"Tapi tuan anda?" Ucapnya meragu kala bos besar itu membawa istri nya masuk ke ruangan bawah tanah yang seharusnya tak boleh di ketahui oleh Nana.
"Dia berhak tau siapa suami nya ini! Istirahat lah!"
"Baik tuan! Saya permisi!" Ujar Pitter membungkukkan badannya dengan hormat.
"Ruangan apa?" Tanya Nana, kala Ia sudah di depan ruangan itu, belum masuk ke dalam dan Pitter sudah pergi meninggal kan mereka berdua.
"Masuk lah! Percaya padaku!" Ujar Uncle Marco menuntun masuk ke dalam.
__ADS_1
Bola mata Nana seakan ingin keluar dari tempatnya, berbagai senjata dengan model terbaru dan beberapa bentuk ada di sana tertata rapi.
"Ini?"
"Rancangan pistol terbaru ku! Peluru yang di keluar tak akan menimbulkan bunyi, tak bisa membunuh namun Ia langsung melumpuhkan segala sistem syaraf korbannya."
"Kau yang membuat nya?"
"Tentu! Aku merancang sendiri semua yang ada disini!" Ujar Uncle Marco kakinya terus berjalan mengikuti kemana langkah sang istri.
"Duduklah!" Ujarnya,
"Buka dokumen ini dan kau akan tau siapa aku sebenarnya!“ Ujar Uncle Marco, ah baru kali ini Ia berani jujur kepada seorang wanita tentang jati dirinya sendiri.
"Kau... Ma-Fi-a!" Ujar Nana tergagap.
"Ya! Bukan anggota! Tapi aku bos nya! Aku dulu adalah orang yang kejam dan tak memiliki belas kasih!"
"Louis! Orang yang selama ini aku cari, dan saat di genggaman ku, kau yang membuat nya kabur dan menyelamatkan nya malam itu!"
"Tapi aku tak tau masalah apa yang terjadi! Aku hanya kasihan padanya!" Kilah Nana tak ingin di salahkan.
"Aku tau! Tapi hatiku tak ingin melepaskan mu! Kau baik sama seperti ibu ku! Wanita sederhana! Hingga malam itu dimana aku memperkosa mu! Aku kejam Na! Tapi aku bukan monster yang memaksa seorang wanita untuk bercumbu, kau yang menawarkan tubuh mu malam itu!"
"Tapi kau bisa menolaknya?"
"Tapi karena dirimu aku terjebak dengan keadaan seperti ini!" Bentak Nana.
"Kau sudah tau semuanya tentang diriku!" Ujar Uncle Marco, tangannya terkulur memberikan kotak yang berisi cincin kepada Nana.
"Aku bukan laki-laki romantis yang pandai dalam menyusun tiap bait kata, pertemuan kita memang kesalahan. kau terlalu baik untuk diriku yang kejam dan tak berperikemanusiaan ini! Tapi yang perlu kau tau, aku mencintaimu! Ibu dari anak ku! Wanita sederhana yang mampu membuat dunia seorang Marco yang kejam bisa merasa kan apa arti sebuah ketulusan!"
"Aku.... " Ujar Nana, ah kenyataan nya sangat menyakitkan tapi sorot mata tulus itu tak bisa di bohongi.
"Kau tak perlu menjawab sekarang! Aku akan menerima segala keputusan mu, termasuk kebebasan yang selama ini kau inginkan!
...*****************...
Hatinya merindu, semenjak kejadian itu kemarin malam nya Uncle Marco tak tidur di dalam kamar menemaninya, harus nya ini yang Nana inginkan.
Tapi rasanya mengapa tak nyaman, apa dirinya sudah mencintai Uncle Marco?
"Pitter! Aku ingin bicara padamu!" Ujar Nana,
"Nona? Ini sudah malam! Kenapa anda belum tidur!"
__ADS_1
"Dimana suamiku?"
"Tuan Marco?"
"Memang selain dia? apa ada lagi suami ku?"
"Maaf kan saya Nona, Tuan Marco ada di ruang kerjanya?"
"Dia masih bekerja?"
"Ehm, mungkin dan tuan tak ingin anda menganggu nya?"
"Kenapa? Aku istri nya!"
"Saya tak tau Nona.... "
"Pulang lah terimakasih sudah menjaga suami ku!"
"Apa Nona akan ke ruangan tuan?"
"Pulang lah! Dia suamiku! Aku yang berhak!"
"Tapi.... Baik nona!"
...**************...
Kaki melangkah masuk kedalam, Uncle Marco tampak pulas dalam tidur terduduk nya di kursi ruang kerja itu.
"Dia tampak lelah?" Ujar Nana, kaki nya melangkah mendekat.
Ah manisnya! Bibirnya tampak membantuk sebuah senyuman kecil, bagaimana melihat potret dirinya dan Baby Marfin yang terpajang indah di figura kecil itu.
My Mine! Tulisan kecil menegaskan bahwa keduanya memang sangat berarti untuk orang yang tengah terlelap itu.
"Kau akan sakit jika tidur seperti ini!" Usapan lembut di pipi membuat Uncle Marco terjaga.
"Kenapa belum tidur ini sudah tengah malam!"
"Aku tak bisa tidur bila suami ku tak ada di sampingku!"
"Tapi Na! Aku... "
"Aku mencintaimu!" Cup! kecupan singkat mendarat sempurna di bibirnya Uncle Marco ah Ia tampak merona akibat ulah nakal sang istri,
"Aku menunggumu di kamar!" Ujar Nana, tampak berlari keluar, ah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Uncle Marco segera menyusul sang istri ke dalam kamar nya.
__ADS_1
...**************...
...Happy Reading❤❤❤❤❤...