
Satu minggu sudah Aira mencoba memperbaiki hubungannya dengan Reza, nyatanya tidak mudah bagi Aira untuk meluluhkan hati Reza.
"Byy, udah dong marahnya, aku kan sudah minta maaf." Ucap Aira dari seberang telepon.
Aira terus meminta maaf kepada Reza, meski ia sendiri merasa jika dirinya tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah ini, hanya saja Aira memilih untuk meminta maaf agar hubungan mereka kembali baik seperti semula.
"Kasih aku waktu sendiri dulu ya." Ucap Reza.
"Maksud kamu bagaimana byy? aku pikir ini bukan masalah yang besar."
"Bukan masalah besar katamu? Dengar ya Aira, aku lebih dahulu mengenal mereka di banding kamu. Selama ini aku tidak pernah keberatan menemanimu ke dokter, ke sekolah Chelsee, bermain bersama Chelsee seharian dan menemanimu kemana pun kamu mau aku selalu ushain semuanya untukmu. Kemarin aku cuma minta kamu sekali aja p menemani aku nongkrong bersama teman-teman aku tapi kamu benar-benar rewel, membuatku malu." Reza menjeda kalimatnya sesaat, kemudian ia melanjutkannya lagi.
"Relationship ini isinya bukan cuma tentang kamu Aira, tapi juga aku. Dan sekarang aku ingin mempertimbangkan lagi hubungan kita ini." Reza menaikan nada bicaranya
"Maksud kamu apa mempertimbangkan kembali hubungan kita?"
"Intinya ku butuh waktu untuk sendiri Aira, please jangan ganggu aku dulu." Reza mematikan sambunga teleponnya.
"Huft..." Aira menghela nafasnya sambil memegang cincin pemberian Reza yang melingkar di jari manisnya, tak dapat di pungkiri Aira yang telah tebiasa bersama Reza merasa sangat kehilangan sosoknya, ia kembali mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan kepada Reza.
^^^Aira:^^^
^^^Byy, aku kasih kamu waktu untuk sendiri, tapi please kasih aku kesempatan untuk belajar ngertiin kamu.^^^
Reza sama sekali tak menghiraukan pesan dari Aira, ia sama sekali tak membalas pesan dari Aira.
__ADS_1
"Bu Aira dimakan dulu makanannya, dari pagi Bu Aira belum makan apa-apa, kami semua disini khawatir Bu Aira jatuh sakit." Winda menyajikan makanan yang telah di pesan oleh Aira melalui aplikasi makanan online di atas meja makan.
"Kalian habiskan saja, aku tidak lapar, aku mau menemani Chelsee belajar besok ada ujian tengah semester." Aira beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri putrinya yang sedang bermain bersama asisten rumah tangganya.
"Waktunya belajar dulu ya sayang." Aira mengajak Chelsee untuk belajar.
Meski terbilang cukup mudah materi yang di ajarkan hanya sebatas pengenalan angka, huruf, warna dan anggota tubuh, tapi nyatanya tidak untuk Chelsee, Aira harus lebih extra sabar dalam mengajari putri semata wayangnya.
Berbagai metode telah Aira coba, mulai dengan menggunakan flash card, puzzle hingga dengan metode bernyanyi, tetap saja Chelsee hanya menyimak tanpa mau mengulang apa yang Aira ajarkan, bahkan sesekali Chelsee justru mengacak-acak flash card dan puzzle miliknya.
'Sabar Aira, sabar, sabar.' Gumamnya dalam hati, ia mencoba menenangkan dirinya meski ia ingin sekali rasanya berteriak.
"Ayo coba sekali lagi ya." Aira memberikan selembar kertas bergambar wortel, kemudian ia meminta putrinya untuk memilih warna crayon yang cocok untuk mewarnai wortel tersebut.
"Good." Ucap Aira tersenyum lebar, saat putrinya mengambil crayon berwarna orange, kemudian Aira meminta Chelsee untuk mewarnai wortel tersebut.
"Bagus sayang, terus sampai penuh ya." Aira menunjuk area yang masih kosong.
"Good work baby." Puji Aira melihat putrinya berhasil mewarnai dengan rapih, masuk ke materi berikutnya Chelsee beberapa kali tampak menguap dan mengucek-ngucek matanya.
"Anak mamah sudah ngantuk ya, ya sudah dimlanjut besok lagi, sekarang kita bobo yuk." Aira menggendong putrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur, ia menepuk-nepuk lembut bok*ng putrinya hingga akhirnya Chelsee tertidur dengan lelap.
Ujian tengah semester Chelsee berlangsung selama empat hari dan selama itu juga Aira bekerja keras untuk mengajari putrinya dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga ujiannya." Aira bernafas lega setelah ia kembali menjemput Chelsee di sekolah.
"Main sama bibik dulu ya, mamah mau kerja sebentar." Ucap aira kepada putrinya, Chelsee menganggukan kepalanya, ia mengerti jika mamahnya akhir-akhir ini tengah di sibukan dengan proses import beberbagai bunga untuk event pernikahan salah satu anak pejabat di daerahnya.
Di sela-sela kesibukannya Aira masih selalu mengingat Reza yang belakangan mulai tidak ada kabar padahal dirinya selalu memberikan kabar padanya.
"Apa begini sikapnya jika dia marah?" Aira mengambil kartu identitas milik Reza yang masih ada di dirinya, ia berniat untuk mengembalikannya.
"Eh sebentar, jadi besok lusa dia ulang tahun." Aira baru menyadari jika besok lusa adalah hari ulang tahun Reza, ia langsung mengajak putrinya dan asisten rumah tangganya menemaninya berbelanja sekaligus membeli kado untuk Reza di Bintaro Xchange Mall.
Mengitari Bintaro Xchange Mall, Aira teringat saat pertama kalinya mereka bertemu dan bermain Ice Skating bersamanya.
'Semoga dengan kejutan ini bisa meluluhkan hatinya lagi.' Gumam Aira dalam hati, Aira membelikan jam tangan Rolex seharga Rp.45.000.000,- sebagai kado ulang tahun Reza.
Tak hanya membeli kado untuk Reza, Aira pun membeli beberapa pakaian dan mainan untuk putrinya dan juga kebutuhan rumahnya. Melihat putrinya yang sudah nampak lelah, Aira pun memutuskan untuk kembali pulang ke kediamannya.
Tiba di hari ulang tahun Reza, Aira datang ke kostan Reza dengan di temani oleh dua orang karyawannya Winda dan Azzam. Sehari sebelum kedatangannya, Aira menghubungi pemilik kost, meminta izin sekaligus meminjam kunci cadangan kamar kost kelasihnya, dengan sedikit sogokan akhirnya pemilik kost pun bersedia memberikannya.
Cklek...
Mendengar pintu kamar terbuka, Aira dan Winda bersembunyi di dalam toilet.
"Koreknya mana Wind?" Bisik Aira.
"Biar aku saja bu yang menyalakan lilinya." Winda mengambil korek dari dalam sakunya kemudian menyalakan lilin yang terdapat di atas kue ulang tahun.
__ADS_1
Aira mengintip sedikit dari balik pintu kamar mandi, alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Reza sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita.