USAI

USAI
Episode 58


__ADS_3

Drrrt... drrrt...


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap Raditya saat ia membaca pesan masuk dari salah satu keluarga Reza yang mengabarkan jika Reza telah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Siapa sayang yang meninggal?" tanya Aira penasaran.


"Re-za"


"Reza yang tadi...?" tanya Aira tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia sangat syok mendengar kabar tersebut dan berharap jika Reza lainnya yang di maksud oleh suaminya.


Raditya menganggukan kepalanya, ia membenarkan apa yang istrinya tanyakan.


"Tidak mungkin Bang Radit, tadi kita baru saja... hiks..."


"Ikhlas dan maafkan semua kesalahannya, untuk memperingan langkahnya" Raditya memeluk dan mengelus punggung Aira dengan lembut.


"Mengapa A'Reza pergi secepat ini? huhuu..." padahal ia sudah membayangkan jika dirinya dan Reza bisa berteman baik setelah Reza pulih.


"Lihat aku!" Raditya merangkum wajah Aira.


"Ikhlas dan doakan semoga Allah, mengampuni dan memberikan tempat terbaik untuknya" Raditya menghapus air mata istrinya.


Perlahan Aira merasa lebih tenang dan mulai menerima kepergian Reza.


"Kamu tidak keberatan kan jika aku tinggal ke Bandung? aku ingin mengantarkannya ketempat peristirahatan terkahirnya"


"Tidak, aku justru berterima kasih Bang Radit mau bertakziah ke Bandung, lagi pula besok aku sudah di perbolehkan pulang" ucap Aira.


"Ya sudah aku pergi dulu ya, sekalian aku mau mengurus semua administrasinya. Aku janji begitu selesai pemakaman, aku akan langsung pulang" Raditya mencium seluruh bagian wajah istrinya, "I will be miss you honey" Raditya kembali memeluk istrinya.


"Hati-hati ya sayang" Aira mencium kedua pipi dan tangan suaminya.


"Aku titip anak-anak ya sayang, jangan lupa kasih kabar" ucap Raditya, kemudian ia beralih ke Winda "Wind, tolong jaga dan temani istri dan anak-anakku ya"


"Baik pak radit"


Sebelum keluar dari ruang rawat inap istrinya, tidak lupa Raditya mengecup kening putri sulungnya masih tertidur pulas di sofa bed "Papah pergi dulu sebentar ya sayang" bisiknya, kemudian ia melangkah kan kakinya keluar dari ruang rawat inap istrinya.


Sambil melangkah menuju ruang administrasi, ia mengirimkan pesan singkat kepada papahnya untuk tetap berada di rumah menemani mamahnya agar mamahnya tidak mengunjungi Aira.


Sementara itu di ruang rawat inap Aira masih bersedih memikirkan Reza, padahal ia sangat berharap jika Reza masih bisa pulih kembali.


'Chelsee pasti akan sedih sekali jika ia tahu Om Rezanya sudah tidak ada, karena mau bagaimana pun Reza pernah menjadi bagian dalam hidup Chelsee' gumam Aira, ia merapihkan kembali alat pumping ASI nya.


Drrrt... drrrt...

__ADS_1


^^^Raditya:^^^


^^^Aku sudah di jalan menuju Bandung. Kamu jangan lupa makan ya, ini sudah jamnya kamu makan. Miss you❤^^^


Aira tersenyum mendapat pesan yang berisi perhatian dari suaminya, ini adalah kali pertamanya suaminya pergi keluar kota tanpa dirinya dan juga anaknya, sehingga belum apa-apa Aira sudah merasa rindu dengan Raditya.


Aira:


Miss you too❤


Balas Aira, ia menaruh kembali handphonenya di atas meja kemudian ia berjalan menuju meja makan.


"Wind makan yuk" ajak Aira "Bik makan yuk, sini temani aku" ia juga mengajak serta asisten rumah tangganya.


"Terima kasih Bu Aira, tadi saya sudah makan" tolak Winda.


"Aku juga baru saja makan Bu Aira"


"Sudah ayo sini, temani aku makan. Ini suamiku membelikan banyak makanan sayang jika tidak di makan nanti mubazir" Tak menerima penolakan Aira mengambilkan piring untuk Winda dan asistennya.


"Biar saya saja Bu Aira" Winda mencegah Aira untuk mengambilkan piring untuknya.


"Nah gitu, kita menggendut bersama" ucapnya dengannada candaan.


Di tengah kehangatan makan sorenya, Chelsee terbangun dari tidurnya "Ompung..." panggilnya.


"Ia sayang, sama mamah ya. Ompung sedang pulang dulu" Aira menghampiri dan mengelus punggung putrinya.


Tok... Tok... Tok...


"Biar saya saja Bu Aira" dengan sigap Winda beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia membukakan pintu.


Winda sangat terkejut dengan kedatangan Aruna, ia hanya membuka pintu sebagian saja, menahannya dengan tangannya agar Aruna tak masuk ke dalam "Maaf Nona Aruna, Pak Angkasa sedang tidak ada disini, jika ada keperluan nanti saya akan...."


"Hoeek..." perut Aruna mulai bergejolak.


"Toilet di mana?" Aruna berlari menerobos masuk mencari kamar mandi.


"Disini non" asisten Aira menunjuk ke arah kamar mandi, Aruna pun bergegas berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Mamah ke Aunti dulu ya sayang" Aira beranjak dari sofa bed, menghampiri Aruna. Namun Winda langsung mencegahnya " Biar saya saja Bu Aira" ucap Winda.


"Dia adikku" ucap Aira, tak memperdulikan Winda.


Dengan membawa minyak kayu putih di tangannya Aira masuk kedalam kamar mandi, ia mengurut dengan lembut tengkuk Aruna.

__ADS_1


"Sudah enakan?" tanya Aira sambil memberikan beberapa lembar tissue untuk Aruna.


"Sudah" Aruna menganggukan kepalanya.


Aira mengajak Aruna untuk duduk di meja makan "Please drink the tea, Aunty" Chelsee memberikan teh hangat yang ia buat dengan di bantu asistennya.


"Thank you" ucap Aruna, ia menatap Chelsee sesaat kemudian ia meminum teh hangat yang buatkan oleh keponakannyanya itu.


"Are you okay?" tanya Aira kepada Aruna.


"Minyak wangimu bau sekali Winda, membuat kepalaku pusing saja" bentak Aruna kepada Winda.


Seketika Winda mencium pakaian yang ia kenakan 'Enak saja bau, aku pakai parfum Jo Malone tidak mungkin bau, apa memang seleranya dia yang aneh' gumamnya.


Aruna terdiam, ia merasa sangat asing duduk bersebelahan dengan Aira.


"Kamu mau makan?" tanya Aira, ia melihat Aruna terus memandangi soto betawi yang ada di hadapannya.


"Tidak" tolaknya.


Krucuk... Krucuk...


Rupanya ucapan Aruna tidak sejalan dengan perutnya yang ternyata sangat lapar terlebih ia baru saja muntah-muntah.


"Tuh cacing dalam perutmu sedang berdemo, ayo makan, dihabiskan ya!" Aira memberikannya kepada Aruna "Ini ayam bakar madunya juga enak banget, favorit Abangmu" Aira tersenyum melihat adik iparnya makan dengan lahap.


"Winda menjauhlah dariku, kamu bau sekali membuatku ingin muntah" bentaknya kembali.


"Baik Nona Aruna" Winda pun menjauh dari Aruna, ia memilih untuk bermain bersama Chelsee.


Hingga malam hari Aruna masih tetap berada di rumah sakit menemani Aira, meskipun ia tidak terlalu banyak bicara.


"Ra, pesankan rujak mangga sekalian" pinta Aruna saat ia melihat Aira tengah memesan makanan melalui aplikasi pesan antar.


"Sama acar dan asinannya sekalian ya" pintanya lagi.


"Okay" Aira menganggukan kepalanya ia memesankan makanan untuk semua yang menemaninya di rumah sakit, termasuk pesanan Aruna.


"Bang Radit, sedang ke Bandung. Ia sedang bertakziah ke rumah salah satu sahabat kami yang baru saja meninggal dunia, jadi kemungkinan baru besok siang Bang Radit pulang. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Aira.


"Apa aku boleh menginap di sini?" tanya Aruna.


Aira sangat terkejut dengan permintaan Aruna, meski tak tahu apa tujuan Aruna menginap di rumah sakit bersamanya Aira tetap mengizinkan Aruna "Ya tentu saja, tapi besok pagi aku sudah di perbolehkan untuk pulang" ucap Aira.


"Aku boleh ikut?" pintanya kembali.

__ADS_1


Aira tersenyum mengelus tangan adik iparnya "Ya tentu saja boleh, rumah kami adalah rumahmu juga" ucap Aira.


__ADS_2