USAI

USAI
Episode 42


__ADS_3

Hampir selalu ada saja masalah yang didebatkan menjelang pernikahan, begitu pula Aira dan Raditya, tak jarang keduanya saling saling berselisih paham hingga menimbulkan perdebatan.


"Ra, tiga hari lagi kan kita ada jadwal foto prewedding. Apa kamu tidak bisa meminta pegawaimu saja yang ke Bandung untuk meeting?" tanya Raditya.


"Tidak bisa Bang Radit, mereka semua disini juga sedang memegang beberapa event besar, Bang Radit tidak perlu khawatir semua jadwal yang sudah kita susun tidak akan molor"


"Kalau begitu aku temani"


"Tidak bisa begitu, Bang Radit juga harus bekerja. Lagi pula ada Gita kok yang akan menemaniku, jadi Bang Radit tidak perlu khawatir"


"Batalkan atau aku temani?"


"Bang Radit tidak bisa memaksa seperti ini, ini tanggung jawab bisnisku Bang, bukankah Bang Radit berjanji akan selalu support semua kegiatan bisnis dan kegiatan yayasanku"


"Ya, tapi tidak dengan ini!!" Raditya memberikan bukti reservasi Aira untuk menjalani operasi hymenoplasty.


Seketika wajah Aira berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya, ia tak berani lagi menatap mata Raditya.


"Da-dari mana Bang Raditya mendapatkan ini?" tanya Aira dengan terbata-bata.


Raditya meraih tangan Aira, menggenggamnya erat "look at me" ia meminta Aira untuk menatap matanya, dengan ragu Aira pun menatap mata Raditya.


"Terima kasih kamu mau ngelakuin itu untuk aku, tapi percayalah Ra, aku mencintai dan menyayangimu apa adanya dirimu tanpa perlu ada yang di tambah atau di rubah"


"Maafin aku Bang Radit" ucap Aira dengan penuh rasa bersalah karena telah membohongi Raditya.


"Enggak sayang, kamu enggak salah. Reservasi di batalin ya, jika memang mau perawatan yang sewajarnya saja, nanti akan aku antar dan temani" Raditya mengelus punggung telapak tangan Aira, Aira pun menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kita ke butik yuk fitting baju pernikahan kita, kakak mana dari tadi aku belum lihat?"


"Kakak siapa?" tanya Aira.


"Putri kita Chelsee" jawab Raditya.

__ADS_1


"Memangnya Bang Radit mau buru-buru aku hamil?"


"Sayang, aku merasa tidak punya hak untuk menentukannya karena kamu yang akan mengandung, kamu yang paling tahu bagaimana kondisi badan kamu, jadi kamu yang menentukan kapan kamu mau dan siap untuk mengandung" Raditya paham betul akan trauma masa lalu Aira sehingga dirinya tidak memiliki target atau menuntut Aora untuk segera mengandung anaknya.


"Aku panggil Chelsee kakak karena kemarin pas aku jemput ke sekolah ada temannya yang di panggil kakak oleh orang tuanya dan Chelsee minta aku memanggilnya kakak, ya sudah aku panggil kakak toh cepat atau lambat ia pun akan di panggil kakak" terang Raditya


"Kok tidak cerita?"


"Ini aku cerita, ya sudah yuk nanti keburu malam, kita kan mau sekalian dinner" Raditya mengukurkan tangannya menggandeng Aira berjalan menghampiri Chelsee yang sedang bermain merangkai bunga bersama para pegawai florist.


"Guess who I am?" Raditya menutup mata Chelsee dari belakang dengan menggunakan tangannya.


"Pa-pa" jawab Chelsee, dengan mudah ia dapat menebak siapa yang menutup matanya.


Raditya menatap Aira seolah bertanya 'Apa Chelsee sudah menganggap dirinya papahnya?' Aira mengangkat bahunya, ia tak pernah meminta atau menyuruh putrinya memanggil Raditya dengan sebutan papah.


"This is for you pah" Chelsee memberikan rangkaian bunga aster untuk Raditya.


"Bye aunty" Chelsee melambaikan tangannya kearah Gita kemudian ia beranjak dari tempat duduknya menggandeng tangan Raditya berjalan menuju garasi mobilnya.


Tiga puluh menit berkendara, mereka bertiga tiba disebuah bukti ternama dimana Raditya dan Aira mempercayakan seluruh pakaian yang akan mereka dan keluarganya kenakan pada seluruh rangkaian prosesi pernikahannya.


"Kakak cantik sekali mengenakan ulos" puji Raditya sambil merapihkan ulos yang dikenakan oleh Chelsee.


"Ini namanya ulos kak, kain tenun khas suku Batak, cantikan?"


Chelsee menganggukan kepalanya, ia berputar-putar di depan cermin sambil memegang ulos yang ia kenakan. "Stop, nanti pusing sayang" Raditya menangkap tubuh Chelsee kemudian mencium pipi chubbynya.


Dengan sabar Raditya dan Chelsee menunggu Aira yang tengah mencoba semua pakaiannya, sambil sesekali Raditya memberikan komentarnya terhadap pakaian yang dikenakan oleh calon istrinya.


"Jangan diet lagi, aku takut asam lambungmu naik, lagi pula nanti tidak enak...."


"Tidak enak apa hayoooo?" goda Aira.

__ADS_1


"Tidak enak jika kamu sakit, nanti acara kita bagaimana?" ucap Raditya sambil tersenyum menahan tawanya "Sudah sana cepat kamu selesaikan, aku dan chelsee sudah lapar" Raditya menyuruh Aira kembali masuk ke fitting untuk mengganti baju terakhir Aira.


Setelah Aira menyelesaikan fitting baju terakhirnya, Raditya mengajak Chelsee dan Aira makan malam romantis di sebuah restauran bintang 5.


Drrrt... drrrt...


Ditengah perbincangan hangatnya bersama putri dan calon suaminya, Aira mendapatkan pesan masuk dari WO yang mengurus acara pernikahannya.


"Bang Radit, desain undangannya sudah jadi. Suka tidak?" Aira memperlihatkan desaim undangan pernikahnnya kepada Raditya.


"Tidak" jawab Radit singkat.


"Kok tidak? apa mau dirubah? yang mana?" tanya Aira.


"Aku tidak suka undangan, aku sukanya kamu" goda Raditya kemudian ia beralih ke chelsee berada di sebelahnya "Dan anak papah yang cantik ini" Raditya mengecup kepala chelsee yang tengah asik menikmati spaghettinya.


Aira tersenyum mendapat gombalan dari calon suaminya, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi sangat serius ketika melihat pesan lain yang dikirm oleh pihak WO mengenai rincian pembayaran yang telah dilunasi oleh Raditya.


"Ada masalah apa sayang?" tanya Raditya.


"Kenapa Bang Radit membayar semuanya? untuk dekorasi dan dokumentasi ini kan dari floristku, Bang Radit tidak perlu membayarnya"


"Itu hakmu sayang" Raditya mengelus tangan Aira.


"Tapi aku juga ingin berpartisipasi dalam acara pernikahan kita, acara ini kan bukan hanya acara keluarga Bang Radit saja "


"Baiklah, tapi disimpan dikamu dulu ya, nanti kita pakai sama-sama untuk keperluan lainnya setelah kita menikah" ucap Raditya dengan hati-hati, ia tak ingin Aira merasa tidak dihargai olehnya tapi disatu sisi ia merasa hal itu menjadi bagian tanggung jawabnya, Raditya tak merasa keberatan jika harus membayar seluruh biaya pernikahannya dengan Aira.


"Kamu jangan lupa urus visa ya, aku mau kamu dan Chelsee ikut meeting di New York"


"Apa benar-benar harus ikut? kan hanya tiga hari, aku takut Chelsee kecapean"


"Kalian bisa istirahat dihottel, aku tidak ingin LDR dengan kalian jadi kalian berdua ikut ya, bulan depan baru kita rencanakan bulan madunya setelah urusan pekerjaanku selesai" ucap raditya, Aira menganggukan kepalanya, ia menurut.

__ADS_1


__ADS_2