
Tangis Chelsee kembali pecah saat berada di depan pusara Alm.Reza, jari mungilnya menelusuri batu nisan yang bertuliskan nama Reza.
"Hiks..." ia masih tak percaya jika Reza telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Pernah bermain dan tertawa bersama membuat Alm.Reza menempati ruang dihati Chelsee, dan Alm.Rezalah yang membuat Chelsee sedikit banyaknya mengalami perubahan perkembangan menjadi anak yang lebih percaya diri dan berani mengeksplore kemampuannya.
"Bukankah tadi kakak sudah berjanji untuk tidak akan menangis lagi?" tanya Raditya sambil memeluk putrinya "Ikhlas sayang, beri doakan yang terbaik untuk Om Reza agar Om Reza di tempatkan di tempat yang terindah" ia menghapus air mata yang membasahi wajah cantik putrinya.
"Chelsee, Om, Tante. Maafin aku, karena mommy...."
Belum sempat Nathalie melanjutkan kalimatnya, Aira sudah terlebih dahulu memotongnya "Kak, kakak tidak perlu meminta maaf karena kakak tidak bersalah dan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kakak, jadi kakak jangan bicara seperti itu lagi ya nak" Aira mengelus lembut rambut Nathalie, ia merasa iba terhadap Nathalie yang seringkali terbebankan perasaan bersalah akibat perbuatan orang tuanya.
Setelah berdoa dan menaburi bunga mawar merah segar di pusara Reza, Raditya berserta keluarganya bertolak menuju Bogor.
"Tidak harus kemari, kita bisa selalu mendoakan Om Reza di setiap ibadah kita di mana pun kita berada" ucap Raditya, sepanjang perjalanan menuju Bogor ia terus menghibur putrinya agar putrinya tak bersedih lagi atas kepergian Alm.Reza.
Beruntung ada Nathalie di sebelahnya, yang mengajaknya bermain games sehingga tawa ceria Chlesee kembali menghiasi wajahnya.
"Hanya kali ini saja ya bermain gadgetnya ya" ucap Aira, ia dan suaminya sangat membatasi penggunaan gadget kepada Nathalie dan Chelsee.
Sempat terjadi kekhawatiran pada diri Raditya dan Aira saat menerapkan peraturan mengenai pembatasan penggunaan gadget kepada Nathalie, pasalnya dari hasil penelusuran yang di lakukan oleh Raditya, Nathalie merupakan pengguna sosial media yang sangat aktiv.
Namun kekhawatiran itu sirna setelah Raditya dan Aira memberikan pemahaman terhadap Nathalie, sebagai gantinya mereka berdua mengikutsertakan Nathalie dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang di minati oleh Nathalie, serta memberikan les tambahan untuk mengejar ketertinggalan materi pelajarannya, dan yang paling sering Raditya lakukan adalah mengajaknya berdiskusi mengenai banyak hal untuk mengenalnya lebih jauh dan bermain bersama Ray dan Chelsee.
Pukul 16.30 mereka tiba di rumah makan milik Aruna yang ia berinama D'Ubud, Raditya sangat terpukau dengan bisnis baru milik adiknya yang menyuguhkan keindahan alam berupa lereng bukit hijau, sawah berundak, serta sungai yang masih alami. Selain disuguhkan keindahan alam yang indah, pengunjung yang datang pun di sambut Tari Pendet oleh beberapa orang penari sebagai tarian selamat datang.
"Keren ya tempatnya" ucap Aira sambil menggandeng tangan suaminya.
"Bukankah otak dibalik ini semua adalah kamu?" Raditya menatap wajah istrinya "Terima kasih ya" ucap Raditya sambil mengecup kepala Aira.
Meskipun istrinya tak pernah menceritakan apa pun tentang bisnis baru yang di geluti oleh adiknya, namun ia tahu persis bahwa istrinyalah yang telah memberikan modal, mengusung konsep serta mengawasi bisnis adiknya hingga berdiri seperti sekarang ini, Raditya pun tahu jika istrinya melakukan hal tersebut agar Aruna lebih merasa lebih percaya diri di tengah keterpurukannya dan untuk meluluhkan hati ibundanya yang benar-benar kecewa atas perbuatan Aruna.
__ADS_1
"Kok kalian baru datang sih? Grand openingnya sudah dari jam 14.00 tadi" ucap Aruna dengan nada kecewa, ia menyambut dengan haangat kedatangan abang dan keluarga kecilnya.
"Maaf ya telat, tapi kita masih dapat diskon kan?" ledek Raditya, ia mencium kedua pipi adiknya sambil mengelus perut Aruna "Bagaimana sehat?" Raditya membungkukkan badannya mencium perut adiknya.
"Alhamdulillah" jawab Aruna kemudian ia beralih ke Aira, Aira pun melakukan hal yang sama, ia mengelus dan mencium perut Aruna yang semakin membasar karena telah memasuki timester kedua kehamilannya.
"Selamat datang di Bali" ucap Aruna kepada kedua keponakannya, ia mengajak semuanya untuk masuk ke dalam menikmati suasana indah rumah makannya.
Chelsee dan Nathalie memilih untuk bermain di sawah bersama Papa dan Ompung dolinya, sementara Aira memilih untuk menghampiri ibu mertuanya di salah satu saung yang terletak di pinggir sawah sambil menikmati makanan yang tersedia di menu dan sambil menyusui Ray.
Dirumah makan ini menyediakan dua tempat makan, indoor dan outdoor. Di area indoor, kesan mewah nan elegan begitu nyata, cocok untuk berbagai macam acara seperti arisan, perayaan ulang tahun hingga meeting.
Sementara di area outdoor terasa lebih santai, fresh, dan menyatu dengan alam berkat area persawahan di sekelilingnya serta sungai yang memberi tambahan kesegaran dan relaksasi bagi yang ingin melepas penat.
"Ra, sama tidak rasanya sama bikinanmu? aku nyontek resepmu" Aruna menyodorkan gurame asam manis kepada Aira.
Tidak hanya menyajikan pemandangan yang indah saja di D'Ubud ini juga menyajikan paket lengkap mulai dari appetizer, main course, hingga dessert.
"Copykan juga untuk mama ya Ra, sekali-sekali lah kau main ke rumah, ajarkan mama masak" sambung Ny.Paulina.
"Ia mah nanti Aira dan anak-anak main ke rumah mama, oh ia tadi Ray bagaimana mah? apa dia rewel?" tanya Aira, ia khawatir putranya merepotkan ibu mertuanya.
"Anakmu seperti bapaknya, tidak betah di gendong jadi mama biarkan saja sesukanya tengkurap dan mutar-mutar. Nyusunya kuat sekali Ra, kantong ASI sebanyak itu hanya tertinggal satu kantong saja, untung kau cepat datang" terang Ny.Paulina, dengan excited ia menceritakan pola tingkah menggemaskan cucunya itu.
Mejelang maghrib Raditya dan anak-anak serta papanya menghentikan aktivitas bermainnya, mereka menghampiri saung tempat Aira menikmati makanan bersama dengan Aruna dan Ny.Paulina.
"Mama..." Chelsee berlari menghampiri mamanya "Mmuah.. Mmuah.." Chlesee dan Nathalie berebut menciumi Ray yang tertidur lepap dipangkuan Aira.
"Kakak, pelan-pelan!! nanti adeknya bangun, sayang"
"Siap-siap jamaah yuk, sebentar lagi maghrib" ajak Raditya kepada seluruh anggota keluarganya masuk ke area indoor dan melakukan ibadah.
__ADS_1
Ny.Paulina tersenyum melihat perubahan besar ke arah yang lebih baik pada putra sulungnya "Kak Chelsee, yuk sini sama Ompung" ia memanggil Chelsee kemudian menggandengnya masuk ke dalam.
"Tante" panggil Nathalie
"Ia sayang"
"Mmm.. May I call you mama?" tanya Nathalie ragu-ragu.
Aira tersenyum, memeluk Nathalie "Tentu saja sayang, tapi panggil Om Radit papa juga ya, nanti dia protes hehe" ucap Aira sambil melirik ke arah suaminya.
"Tapi ingat ya, jangan sampai lupa pada orang tua kandungmu. Doakan dan hormati mereka, kamu boleh mengunjungi mereka kapan pun kamu mau" sambung Raditya ia mengambil Ray dari gendongan istrinya kemudian berjalan masuk ke dalam di ikuti oleh Aira, Nathalie dan juga Aruna.
Malam harinya, mulai pukul 19.30 pengunjung di suguhkan dengan pertunjukan seni drama-tari kecak yang menceritakan mengenai Ramayana.
Tari kecak menceritakan tentang pencarian Permaisuri Shinta, Raja Rama dibantu oleh Hanoman. Hanoman lalu memporakporandakan tempat penyekapan Permaisuri Shinta dengan membakarnya. Namun Hanoman justru terkepung oleh prajurit Raja dan Rahwana dan hampir terbakar.
Pada awalnya Raja Rama mengalami kekalahan, tetapi tidak menyurutkan kesungguhan Raja Rama menyelamatkan permaisurinya. Raja Rama berdoa dengan sungguh dan kemudian berusaha kembali. Pada akhirnya Raja Rama dapat menyelamatkan Permaisurinya.
Sehingga makna nilai moral dalam tarian kecak ini ialah kasih yang tulus akan menang dengan doa dan kesungguhan.
Disesi akhir sang penari Hanoman datang mendekat ke arah Aruna yang berada di private room bersama keluarganya, tepat di depan Aruna ia berlutut sambil mempersembahkan sebuah cincin.
"Will you marry me?" ucap Sang Hanoman sambil membuka topengnya secara perlahan.
Alangkah terkejutnya Aruna saat melihat Eric yang ternyata berada dibalik kostum Hanoman tersebut.
Ya, malam itu Eric datang bersama keluarganya untuk meminta maaf sekaligus melamar Aruna.
Raditya melirik ke arah istrinya yang sedari tadi tersenyum melihat pemandangan romatis tersebut, ia mulai menyadari keterlibatan istrinya, namun yang menjadi pertanyaan dalam benaknya 'Bagaimana caranya Aira bisa menghubungi Eric dan membuat Eric mau bertanggung jawab tanpa adanya paksaan?'
Sementara dirinya yang sudah membayar orang untuk mencari keberadaan Eric dan orang tuanya belum juga membuahkan hasil.
__ADS_1