USAI

USAI
Episode 60


__ADS_3

"Otakmu ditaruh dimana Aruna?" Raditya membanting pintu dan meninggalkan Aruna yang tengah menangis sejadi-jadinya.


Dari kejauhan Aira melihat kejadian tersebut, ia cukup terkejut karena ini adalah kali pertamanya Aira melihat suaminya semarah itu, ia pun bergegas masuk kedalam ruangan menemui Aruna.


Cklek...


Begitu ia membuka pintu kamar, dilihatnya Aruna tengah menangis di sudut ruangan, Aira melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aruna, kemudian ia berjongkok mensejajarkan dengan Aruna yang duduk di lantai.


"Kamu bertengkar dengan Bang Radit?" tanya Aira, rasanya ia ingin memeluk dan mengelus Aruna untuk menenangkannya namun ia khawatir jika Aruna tak nyaman dengannya.


"Ra... hikss..." Seketika Aruna memeluk Aira dengan erat, Aira pun mengelus punggung Aruna dengan lembut.


"Can I help you?" tanya Aira kembali.


"A-aku... a-ku... ha-hamil, Ra. huhu....."


Sebenarnya Aira tak begitu kaget mendengarnya, karena sejak awal Aruna datang menjenguknya di rumah sakit, ia sudah merasakan jika adik iparnya itu tengah hamil muda dan ngidam.


"Jadi karena itu Bang Radit marah padamu?"


Aruna menganggukan kepalanya, membenarkan jika Abangnya sangat murka dengan apa yang telah ia perbuat.


"Bang Radit pasti kecewa atas apa yang telah kamu lakukan, tapi percayalah ini hanya sementara, ia begitu sangat menyayangimu" ucap Aira.


"Bukan hanya karena itu saja Ra, tapi juga karena Eric tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilanku hiks... ia pergi ke England dan memutus semua komunikasi huhu.." tangisnya kembali pecah.


"Astaghfirullah" ucap Aira, ia membiarkan Aruna menangis sepuasnya dalam pelukannya.


"Sudah jangan menangis, di dapur stok susu hamilku masih banyak, anakmu butuh nutrisi, jadi lebih baik kamu menenangkan hati dan pikiranmu sambil minum susu hangat. Masalah Bang Radit, biar nanti aku yang akan bicara dengannya" Aira menghapus air mata Aruna kemudian ia beranjak menyusul suaminya ke kamarnya.


"Beri dia pelajaran dan seret dia kemari agar ia bertanggung jawab dengan apa yang telah ia perbuat terhadap adiku" ucap Raditya dengan nada tinggi kepada orang suruhannya melalui sambungan telepon.


Aira terdiam mendengarkan percakapan suaminya dengan orang suruhannya, setelah selesai menelepon barulah ia menghampiri Raditya di meja kerjanya.


"Apa Bang Radit yakin dengan cara seperti itu bisa membuat orang mau bertanggung jawab dengan tulus? dan kedepannya tidak akan menambah masalah baru?" tanya Aira.


"Maksudmu?"


"Aku hanya tidak ingin ia bertanggung jawab atas dasar paksaan atau tekanan dari Bang Radit karena hal itu nantinya bisa menimbulkan masalah baru, bukan tidak mungkin ia akan menyakiti dan menyia-nyiakan Aruna dan anaknya karena ia tidak benar-benar sadar akan tanggung jawabnya" ucap Aira.


"Itu sudah konsesuensi yang harus ia terima atas apa yang telah ia perbuat, aku tidak akan membiarkan pria itu melenggang dengan enaknya sementara adikku yang harus menanggung ini semua sendirian"


"Aruna tidak sendirian, kita rangkul dan tuntun dia ke jalan yang benar agar ia menyesali perbuatannya dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Masalah tanggung jawab Eric kita bisa pakai cara lain......" belum sempat Aira menyelesaikan ucapannya, Raditya pergi meninggalkan.

__ADS_1


Raditya kembali ke ruangan tempat Aruna menangis "Hentikan tangismu, ayo ikut Abang" Raditya menarik paksa tangan Aruna agar ia mau ikut bersamanya.


"MASUK!!" perintah Raditya dengan nada tinggi, sehingga membuat Aruna semakin takut, dengan ragu-ragu Aruna pun masuk ke dalam mobil Abangnya.


Sepanjang perjalanan Aruna hanya terdiam dan menunduk pasrah, ia tak berani menatap mata Raditya yang masih di penuhi dengan kilatan-kilatan emosinya.


"Ayo turun!!!" Raditya menepikan kendaraannya di salah satu rumah sakit swasta, di kawasan Tangerang Selatan.


"Ma-mau apa kita kemari?"


"Abang yakin kamu belum periksa, ayo turunlah! Abang hanya ingin tahu kondisi kandunganmu" Raditya mulai menurunkan emosinya, ia keluar dari mobilnya di ikuti oleh Aruna di belakangnya.


"Kamu tunggu saja disini biar Abang saja yang daftar" Raditya menyuruh Aruna untuk duduk dan menunggunya di ruang tunggu sementara dirinya melakukan pendaftaran.


Setelah selesai barulah ia mengajak adiknya ke poli obgyn, beruntung hari itu poli obgyn tidak terlalu ramai sehingga keduanya hanya menunggu dua pasien.


Rasa marah Raditya hilang seketika ketika ia melihat janin dalam kandungan Aruna pada layar monitor saat Aruna menjalani USG.


"Usia kandungannya sudah tujuh minggu" ucap Dokter, Dokter pun menjelaskan dengan detail kondisi kehatan janin dalam kandungan Aruna.


Raditya bernafas lega karena dari hasil pemeriksaan tersebut dokter menyatakan janin dalam kandungan adiknya sehat dan perkembangannya sesuai dengan usia kandungannya. Pasalnya ia sempat khawatir jika adiknya nekat dengan mencoba menggugurkannya karena Eric tak mau bertanggung jawab.


Selesai menemani adiknya periksa kehamilan, Raditya membawa Aruna ke rumah orang tuanya.


"Aku tidak mau turun" ucap Aruna dengan mimik wajah ketakutan.


"Jika Abang dan Aira keberatan aku tinggal di rumah kalian, aku bisa tinggal sendiri" Aruna membuka sabuk pengamannya kemudian ia mencoba untuk turun dari mobil Abangnya yang telah berada di depan rumah orang tuanya.


"Hei, bukan itu" dengan sigap Raditya menahan adiknya untuk pergi.


"Tidak ada yang keberatan kamu tinggal di rumah Abang, hanya saja Abang ingin kamu jujur dan bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat. Trust me, I'm not leaving you!" Raditya menatap Aruna dalam-dalam sambil mengelus kepala adiknya.


Merasa dirinya di lindungi oleh abangnya, Aruna pun menganggukan kepalanya, ia menurut pada Raditya untuk jujur kepada kedua orang tuanya.


Raditya menggandeng tanggan adiknya masuk kedalam kediaman orang tuanya, mereka berdua langsung menemui kedua orang mereka yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Aruna, kau ini kerja tidak tahu waktu" omel Ny.Paulina.


Selama dua minggu belakangan Aruna memilih menginap di tempat usaha cateringnya untuk menghindari kecurigaan kedua orang tuanya akan perubahan bentuk tubuh maupun kebiasaannya yang tengah ngidam. Ia rutin melakukan panggilan video call dengan kedua orang tuanya agar keduanya tetap tenang meski dirinya tak pulang-pulang.


"Eh tunggu sebentar, kok kamu gendutan?" Ny.Paulina menatap Aruna dengan tatapan curiga.


"A-aku..." Aruna menoleh ke arah abangnya.

__ADS_1


Raditya menganggukan kepalanya, meminta Aruna untuk berani berterus terang.


"Ada apa sih? kalian berdua menyembunyikan apa dari mama?" tanya Ny.Paulina tak sabar.


"A-aku..." Aruna berhenti sejenak mengumpulkan keberaniannya "A-aku hamil, mah" ucapnya sambil memejamkan matanya.


"APA? JANGAN BERCANDA KAMU!!!" Ny.Paulina yang syok mendengar pernyataan putrinya langsung meninggikan nada bicaranya.


"Maafin Aruna mah, pah hiks..." Aruna bersimpuh meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


"Anak tak bermoral, bikin malu saja kau" Ny.Paulina menyingkirkan Aruna dari kakinya.


Berbeda halnya dengan Ny. Paulina yang terbakar emosi mendengar putri bungsunya hamil, Tn.Maruli mencoba untuk lebih tenang dan berfikir dengan jernih.


"Siapa yang menghamilimu?" tanya Tn.Maruli.


"E-eric" ucap Aruna dengan ragu-ragu.


"Suruh dia datang kemari untuk mempertanggung jawabakan perbuatannya!" ucap Tn.Maruli.


"Ta-tapi Eric sedang berada di England, aku tidak bisa menghubunginya dan juga keluarganya" ucap Aruna.


"Dasar bod*h, harusnya kau berfikir dulu sebelum berbuat, sudah tau Eric dan keluarganya tidak tinggal di sini mau-maunya kau tidur dengannya" Ny. Paulina memukuli Aruna dengan kipas yang berada di tangannya.


"Otakmu kau taruh di mana Aruna!" Ny.Paulina terus memukuli anaknya.


"Maafin aku mah hiks..."


"Sudah-sudah mah"


Raditya dan papanya mencoba menghentikan Ny. paulina, Raditya menarik Aruna menjauh, sedangkan Tn. Maruli menahan tangan istrinya agar tidak memukuli putrinya.


"Biar saja pah, biar sadar akan kesalahannya" Ny.Paulina berontak ia meminta suaminya untuk melepaskannya.


"Raditya, kau bawa adikmu itu pergi dulu" ucap Tn.Maruli, ia menyuruh putra sulungnya membawa Aruna pergi untuk menghindari keributan sementara waktu sampai istrinya tenang dan dapat menerima kondisi Aruna.


"Dasar Bod*h, tak bermolar, bikin malu kami sekeluarga, kau makan itu cinta"


Raditya pun mengajak adiknya untuk keluar dari kediaman orang tuanya, namun sebelum ia dan Aruna keluar, Raditya sempat memeberi tahu kedua orang tuanya jika besok lusa dirinya akan menggelar acara aqiqah untuk putra bungsunya.


"Aku harap mama dan papa bisa datang" ucap Radit, ia menggandeng Aruna keluar dari kediaman orang tuanya.


Di dalam mobil Aruna kembali menangis, ia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan abangnya.

__ADS_1


"Mama hanya masih syok saja, nanti juga akan baik lagi. Sudah jangan nangis, jika kamu bersedih, anakmu pun akan sedih" Raditya mengelus punggung Aruna dengan lembut.


Sebenaranya Raditya pun sangat marah dan kecewa terhadap Aruna namun apa yang di katakan istrinya ada benarnya jika dirinya harus merangkul dan menuntun Aruna kembali ke jalan yang benar agar ia menyesali perbuatannya dan tidak mengulang kesalahannya demi janin yang berada dalam kandungan Aruna.


__ADS_2