USAI

USAI
Episode 41


__ADS_3

"Bacalah!!" Tn.Maruli memberikan berkas berisi profile lengkap Aira yang ia dapatkan dari sekertarisnya kepada istrinya.


"Apa ini?" tanya Ny.Paulina sambil membuka dan membaca berkas yang di berikan oleh suaminya.


"Aira I. Ruthvika. Seorang business woman dengan penghasilan 5.4 Miliar per tahun, Founder Special Child Foundation sebuah yayasan non profit yang menaungi anak-anak berkebutuhan untuk mengasah potensi mereka. Baru-baru ini ia membeli tanah seluas 300 M2 di Ciputat dengan uang pribadinya sendiri untuk membangun yayasan tersebut, karena saat ini masih yayasan tersebut masih tergabung di komunitasnya" Tn.Maruli mendekat ke arah istrinya membuka halaman akhir dari berkas tersebut.


"Chelsee A. Ruthvika. Gadis kecil berusia 4.6Th yang kini telah menjadi BA sebuah produk pasta gigi anak ternama, yang jelas ia model tetap tempat usaha mamahnya..."


"Cukup, aku masih berharap Raditya mencari gadis lain" ucap Ny.Paulina seolah sudah tak ingin mendengar nama Aira dan Chelsee lagi.


"Mah, jika itu semua masih belum cukup untuk mamah. Mamah tidak perlu menceritakan apa pun tentang Aira dan Chelsee kepada teman-teman mamah, mamah bisa menceritakan hal lain yang memang mamah bisa banggakan sesuai dengan standar mamah, tentang Aruna misalnya" Raditya yang baru saja tiba setelah mengangantar Aira dan Chelsee pulang, langsung bergabung bersama kedua orang tuanya di ruang kerja papahnya.


"Bukan itu Raditya, mamah hanya ingin kamu memilih wanita yang sehat agar kamu bisa memiliki keturunan yang sehat pula, mamah peduli dan sayang padamu"


"Hasil medical check up Aira dan putrinya" Tn.Maruli kembali mengeluarkan berkas dari dalam lacinya dan memberikannya kepada istrinya.


Raditya cukup terkejut papahnya bisa mendapatkan hasil medical check up Aira dan Chelsee.


"Apa menurutmu faktor kelainan pada anak hanya pada Herediter dan Infeksi saja? Tidak!! ada banyak faktor lainnya, bahkan kelainan itu terjadi pada saat proses kelahiran dan setelah kelahiran. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana cara merawatnya, dan Aira sudah membuktikan jika anak berkebutuhan khusus pun tetap bisa berprestasi seperti anak-anak lainnya, bahkan melalui yayasan yang ia bangun, ia membagi ilmu dan sebagian hartanya untuk anak-anak berkenutuhan khusus yang kurang mampu lainnya" Tn.Maruli mengambil tangan istrinya kemudian mengelusnya.


"Biarkan anak kita memilih jalan hidupnya, doakan yang terbaik untuknya"


"Terserah kalian saja lah" Ny.Paulina beranjak pergi dari ruang kerja suaminya dan pergi kekamarnya.


"Ibumu sudah merestuimu, ia hanya gengsi untuk mengakuinya. Kamu urus saja semua persiapan pernikahan kalian, kami merestuimu" Tn.Maruli menepuk bahu Raditya kemudian pergi menyusul istrinya.


Raditya pun beranjak dari ruang kerja orang tuanya, berjalan menuju kamarnya, saat melewati kamar adiknya Raditya berfikir untuk berbicara dari hati ke hati dengannya.


Tok... Tok... Tok...


Cklek...


Aruna membuka pintu kamarnya, namun saat melihat abangnya yang mengetuk pintu kamarnya, ia langsung menutup pintu tersebut. Sayangnya Raditya lebih sigap darinya sehingga, Raditya berhasil masuk ke dalam.


"Abang tidur sini ya" Raditya merebahkan tubuhnya di tempat tidur Aruna.

__ADS_1


"Enak aja, tidur sono sama janda" ucap Aruna dengan ketus.


"Bulan depan Abang akan tidur dengannya dan akan terus tidur dengannya"


"Kaya enggak ada cewek lain aja sih bang" Aruna melempar Raditya dengan boneka miliknya, dengan gesit Raditya menangkapnya "Emang enggak ada lagi, bagi Abang cuma dia satu-satunya wanita yang terbaik"


"Najis loe Bang, udah di pelet loe sama tuh cewek?"


"Dek, abang mau ngomong serius sama kamu" Radit bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, ia merain tangan Aruna dan menatap matanya.


"Aira adalah wanita pilihan hidup Abang, bulan depan Abang akan menikahinya. Abang tidak akan memaksamu untuk menyukainya, tapi please jangan sakiti Aira dan Chelasee, karena itu sama halnya dengan kamu menyakiti Abang. Setelah menikah nanti, abang akan tetap menjadi abangmu yang akan selalu peduli dan sayang padamu" Raditya beranjak dari tempat duduknya, ia mengelus kepala Aruna kemudian ia keluar dari kamar adiknya.



Beberapa hari kemudian, Aira dikejutkan dengan kedatangan orang tua Raditya dikediamannya, pasalnya Raditya sama sekali tak mengatakan apa pun kepadanya yang ada justru dirinya dan Raditya ada janjian untuk pergi memenuhi undangan pernikahan Winda dan Aron.


"Silahkan masuk Om, Tante" Aira mempersilahkan kedua orang tua Raditya masuk kedalam rumahnya.


"Kok masih saja panggil Om?" ucap Tn.Maruli, sambil memberikan buah tangan yang ia bawa kepada Aira.


"Terima kasih pah" Aira menerimanya dan menaruhnya di atas meja, kemudian ia duduk di hadapan kedua orang tua Raditya.


"Mungkin masih dijalan pah, kita hanya mau menghadiri undangan Winda sebentar" jawab Aira, ia tak dapat menyembunyikan perasaan gugupnya, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.


"Oh ya sudah, kedatangan kami kemari untuk membicarakan rencana pesta pertunangan dan pernikahan kalian. Jadi kalian sudah tentukan tanggalnya?" tanya Tn.Maruli.


"Om-pung....." Chelsee berlari mendekat kearah Tn.Maruli dan Ny.Paulina, kemudian Chelsee mencium tangan mereka berdua secara bergantian.


"Cucu Ompung doli sudah cantik, mau pergi ya?" Tn.Maruli memangku Chelsee sambil membelai rambut panjangnya, Chelsee menganggukan kepalanya.


"Assalamualaikum"


"Mamah, papah kalian berdua ngapain kesini?" Raditya yang baru saja tiba di kediaman Aira, terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya.


"Memangnya kami tidak boleh mengunjungi calon istrimu? kami datang kemari ingin membicarakan acara pertunangan dan pernikahanmu dengan Aira"

__ADS_1


"Ooh, tanggal 15 pah. Semuanya sudah kami urus, kami akan mengadakannya secara simple dan sederhana"


"Mana bisa begitu Raditya, kita ini orang Medan jadi pernikahanmu harus di rayakan secara adat, agar kamu tahu warisan budaya kita. Kamu tidak keberatankan Aira jika menggunkan adat medan?"


"Tidak pah, aku sama sekali tidak keberatan"


Hampir satu jam lamanya mereka berbincang, Raditya dan Aira merubah total rencana pernikahannya yang semula bertemakan internasional party menjadi adat Sumatera Utara.


"Kamu beneran tidak keberatan?" tanya Raditya kepada Aira saat orangntuanya telah pulang.


"Engak kok, bukankah itu sangat bangus kita jadi bisa mengenalkan adat kepada Chelsee?"


"Terima kasih ya. Ya sudah kita berangkat yuk" Raditya menggandeng tangan Aira dan Chelsee masuk kedalam mobilnya untuk segera berangkat menghadiri pernikahan Winda.


Tiba di tempat acara kebetulan sekali saat Winda dan Aron hendak melempar bunga, begitu melihat kedatangan Aira dan Raditya, Winda mendekat ke arah Aira dan memberikan bunga tersebut kepada Aira.


"Aku doakan setelah ini Bu Aira dan Pak Angkasa yang akan menyusul"


"Pasti, kami akan segera menyusul" ucap Raditya.


"Barakallahu laka wa jama’a bainakuma fi khairin. Barakallahu likulli wahidin minkuma fi shahibihi wa jama’a bainakuma fi khairin. Semoga Allah SWT selalu merahmati dan meridai kalian dengan kedamaian dan kebahagiaan dunia dan akhirat" Dengan tulus Aira mendoakan Winda sambil menyalami Winda


"Aamiin, terima kasih Bu Aira atas doa dan kedatangannya, terima kasih juga atas dekorasinya yang sangat indah ini"


"Sama-sama, semoga kamu suka ya. Oh ia ini tiket bulan madu untuk kalian" Aira memberikan tiket bulan madu ke Hongkong berserta dengan akomodasinya.


"Terima kasih banyak ya Bu Aira"


"Cutimu tidak lebih dari seminggu ya Wind" ucap Raditya.


"Yah kok gitu sih Pak Angkas?" Winda melirik ke arah Aira untuk meminta bantuannya.


"Beraninya kamu mau memanfaatkan calon istriku" ucap Raditya, kemudian ia beralih ke Aira "Kita makan saja yuk sayang" Raditya menggandeng tangan Aira dan Chelsee menjauh dari Winda.


"Tadi Winda hanya bercanda sayang" ucap Aira sambi tersenyum.

__ADS_1


"Coba panggil lagi?" goda Raditya.


"Udah ah, aku sama Chelsee mau makan" Aira mengajak Chelsee mengunjungi stan ice cream, Raditya tersenyum bahagia merasakan perubahan pada diri Aira yang mulai menunjukan perasaannya terhadapnya.


__ADS_2