
Drrrt... drrrt...
Getar handphone diatas meja samping tempat tidurnya, membangunkan Aira dari tidurnya. Dengan mata yang masih tertutup Aira meraba-raba meja tersebut untuk mengambil handphonenya yang bergetar.
"Selamat pagi Bu Aira" ucap Gita dari seberang telepon.
"Hmm.. Selamat pagi, ada apa Git?" tanya Aira masih dengan mata tertutupnya.
"Begini Bu Aira, saya hanya ingin mengonfirmasi jika hari ini Bu Aira ada meeting dengan beberapa vendor dan client untuk beberapa event besar. Dan juga besok Bu Aira ada meeting dengan Bu Jovita untuk membahas kontrak iklan non Chelsee" terang Gita.
"Ia Git, jam 11 siang aku sudah ada di florist kamu siapkan saja semua dokumennya"
"Baik Bu Aira. Maaf satu lagi Bu Aira, hari ini Bu Aira juga ada meeting dengan Bu Cara mengenai pembanguan yayasan Specia Child"
"Oh ia, nanti aku akan mengabarinya, terima kasih ya" Aira memutuskan sambungan teleponnya dan menaruh handphonenya di sebelahnya "Honey..." ia meraba-raba tempat tidurnya mencari keberadaan suaminya, merasa suaminya tak berada di sebelahnya Aira mulai membuka matanya.
"Sayang..." mata Aira bergerilya mencari keberadaan Raditya 'kemana sih Bang Radit' gumamnya.
Aira membuka selimutnya hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun ia melihat jika dirinya tak mengenakan pakaian "Oh ia tadi habis subuhkan...." Aira tersenyum mengingat kejadian selepas jamaah subuh bersama Raditya, dirinya dan Raditya bercinta dengan penuh gairah.
Aira mengenakan pajamasnya kemudian beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju meja di depan sofa, Aira tersenyum membaca sepucuk surat yang ditulis oleh suaminya.
"Love you too honey" ucapnya sambil meminum segelas jus yang di buatkan oleh suaminya, Raditya bukan hanya membuatkan jus namun ia juga membuatkan frans toast untuk istrinya.
Sambil menikmati sarapannya, ia mengirimkan pesan kepada Gita untuk membatalkan semua jadwal meetingnya hari itu, prioritas utamanya saat ini adalah suami dan anaknya.
Tok... Tok... Tok...
Mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, Aira pun langsung membukanya.
"Ada apa bik? Kakak sudah bangun?" tanya Aira.
"Maaf Bu Aira, di bawah ada Ny.Paulina dan Tn.Maruli mencari Bu Aira"
"Terus kakak dimana? Sudah bangun?"
"Non Chelsee sudah bangun dari tadi, ia juga sempat sarapan bersama Pak Radit dan sekarang sedang berenang dibawah di temani Bik Siti"
"Ya sudah, aku akan segera ke bawah" Aira menutup pintu kamarnya kembali, ia mengambil sisiri dan ikat rambut untuk merapihkan rambutnya agar terlihat tidak berantakan barulah ia bergegas menghampiri mertuanya di ruang tamu.
"Assalamualaikum Pah, Mah" sapa Aira sambil mencium tangan mertuanya secara bergantian.
"Walaikumsalam, katanya hanya dua minggu, ini hampir tiga minggu baru pulang" protes Tn.Maruli kepada Aira, belum sempat Aira menjawab Tn.Maruli sudah menanyakan Chelsee "Cucuku mana?" tanya Tn.Maruli.
__ADS_1
"Chelsee sedang berenang Pah" jawab Aira, tanpa bertanya lagi kepada Aira, Tn.Maruli menghampiri Chelsee yang tengah berenang bersama asisten rumah tangga Raditya.
Sementara itu diruang tamu hanya tingga Aira dan ibu mertuanya, Ny.Paulina memandang sinis ke arah Aira, ia memnadangi Aira dari atas kebawah mempehatikan pajamas yang Aira kenakan.
"Dimana putraku?" tanyanya.
"Bang Radit sudah pergi ke kantor" jawab Aira.
"Antar aku berkeliling rumah ini" Ny.Paulina meminta Aira untuk mengantarnya berkeliling rumah Raditya, ia ingin mengetahui isi rumah putranya.
Meski Aira pun belum sempat berkeliling dan belum tahu isi rumahnya, ia tetap menemani ibu mertuanya berkeliling.
Ny.Paulina tampak terpukau dengan rumah 4 lantai yang mengusung konsep desain American Style yang di lengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti lift, kolam renang, ruang gym hingga bioskop mini serta rooftop sebagai tempat bersantai.
"Enak ya sekarang kamu hanya tinggal bermalas-malasan, sudah tidak perlu lagi capek-capek bekerja. Putraku kini yang sudah mencukupi semua kebutuhanmu dan anakmu" ucap Ny.Paulina dengan nada sinis.
Aira hanya terdiam dan menundukan kepalanya, sebenarnya juga ia merasa bersalah karena sempat ketiduran sehingga ia tidak mengetahui dan menyiapkan keperluan suaminya.
"Aira dengarkan aku baik-baik! Jaga baik-baik kesehatan rahimmu, kalau perlu kamu medical check up ulang sebelum kamu hamil, aku benar-benar tidak ingin memiliki cucu yang cacat. Raditya sudah memberikan segalanya untukmu, bahkan ia berani tak mendengarkan nasehatku hanya demi kamu, jadi tolong berikan dia anak yang terbaik" Ny.Paulina menatap Aira dengan tatapan tajam.
Aira masih tertunduk sambil meremas pakaiannya, hatinya sangat sakit dengan semua yang diucapkan oleh ibu mertuanya namun ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun karena ia begitu menghormati ibu mertuanya.
"Mamah, kok ke sini tidak bilang-bilang Radit?" dengan nafas yang terengah-engah Raditya menghampiri ibu dan istrinya di rooftop rumahnya, ia mencium tangan ibundanya sambil melihat ke arah istrinya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Loh memangnya mamah dan papah tidak boleh berkunjung ke rumah barumu?" tanya Ny.Paulina dengan ketus, ia melangkah pergi meninggalkan rooftop dan kembali ke ruang tamu di ikuti oleh Raditya dan Aira.
"Sudah selesai meetingnya?" tanya Aira sambil tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Raditya. Raditya kembali menatap Aira, ia menganggukan kepalanya "Sudah"
Setelah satu jam berkunjung, Ny.Paulina dan Tn.Maruli pamit pulang.
"Minggu depan dirumah ada acara arisan keluarga, kalian jangan lupa datang" ucap Tn.Maruli.
"Ia pah, oh ia pah mah. Ini kami bawakan oleh-oleh untuk mamah dan papah, aku titip untuk adek juga ya" Raditya menyerahkan tiga paper bag besar kepada kedua orang tuanya, tanpa basa basi Ny.Paulina langsung membukanya.
"Kamu ini, tidak perlu membawakan apa-apa, papah hanya minta kalian cepat pulang"
"Ini bagus sekali Dit, kamu tahu saja selera mamah" ucap Ny.Paulina memotong pembicaraan suaminya, ia sangat senang Raditya memberikan sebuah tas branded keluaran terbaru yang sudah ia incar.
"Ini Aira yang pilihkan"
"Tetap saja ini pakai uangmu" ucapnya dengan nada ketus, sambil melirik sinis ke arah Aira.
"Sudah-sudah, kami pulang dulu ya, sampaikan salam kami pada little anggel" ucap Tn.Maruli, ia menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah putranya, sebenarnya ia ingin menunggu sampai Chelsee selesai berganti baju namun ia tak ingin istrinya berbicara yang tidak-tidak di depan Chelsee.
"Ia pah" Raditya dan Aira mengantar kedua orang tua hingga ke depan teras rumah.
__ADS_1
Begitu mobil orang tuanya sudah tak terlihat, Raditya kembali menatap Aira.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa mamah menyakitimu?" Raditya merangkum wajah Aira.
"Aku baik-baik saja sayang, tadi aku dan mamah hanya berkeliling dan membicaran rumah ini. Bang Radit tunggu sebentar ya, aku mau buatkan makan siang untuk Bang Radit dan Chelsee" Aira mencoba menghindari pertanyaan-pertanyaan suaminya.
"Benarkah?" Raditya menahan Aira untuk pergi.
"Benar sayang, mamah sangat baik terhadapku, tadi kita sempat mengobrol banyak tentangmu di rooftop"
"Tentangku?"
"Ya, semua tentangmu. Mulai dari kebiasan-kebiasaanmu hingga makanan kesukaanmu, jadi aku buatkan dulu sebentar ya, aku harap rasanya akan sama dengan apa yang tadi mamah beri tahu" Aira mengecup pipi Raditya dan berlalu meninggalkannya.
Mendengar putrinya menangis, Raditya bergegas menghampi Chelsee.
"Anak papah kenapa?" tanya Raditya menghapus air mata putrinya.
"Non Chelsee minta di pakaikan seragam sekolah, ia ingin berangkat ke sekolah" jawab asisten rumah tangganya.
"Oohh anak papah mau sekolah ya? Besok lagi ya, sekarang sudah siang. Miss Annanya pasti sudah pulang, jadi sekarang kakak main saja sama papah sambil menunggu mamah masak" Raditya menggendong Chelsee, membawanya ke dapur.
Ia dan Chelsee duduk di mini bar menemani Aira yang tengah sibuk membuat makan siang untuk mereka.
"Sabar ya sayang, mulai besok kakak sudah kembali ke sekolah lagi" ucap Aira sambil tersenyum kepada putrinya yang masih cemberut.
"Hari ini main dulu sama papah dan mamah, habis makan kita nonton disney di atas"
Empat puluh lima menit dengan sabar Raditya dan Chelsee menemani Aira masak sambil bercanda dan mengobrol ringan bersama Chelsee, sesekali Raditya juga membatu Aira, ia nampak kagum dengan Aira karena meski dirinya menyediakan banyak ART namun Aira tetap mengerjakannya sendiri dan ia pun tak hanya membuatkan untuk dirinya dan anaknya saja namun untuk semua yang bekerja di kediamannya.
"Pah, besok aku izin meeting dengan Jovita, mengurus kontrak kerja sama iklan kakak yang baru"
"Aku temani, jam berapa?"
"Jam 14.00 di Kebon Jeruk, tapi setelah mengantar kakak aku boleh ke florist kan?"
"Nanti aku antar" Raditya beranjak dari tempat duduknya, ia mencium kepala Aira kemudian membantu Aira membawakan makanan yang istrinya masak ke meja makan.
"Enak tidak pepes ayamnya?" tanya Aira.
"Enak banget, terima kasih ya" Raditya tersenyum mengelus tangan istrinya.
'Rasanya tidak mungkin jika tadi mamah membicarakan menu makanan, masak saja mamah hampir tidak pernah' gumam Raditya.
__ADS_1
● Yang punya Ibu mertua agak bawel pasti tau bagaimana rasanya.Semangat 😊