USAI

USAI
XTRA PART


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti perjalanan Aira dan Raditya menuju hotel tempat mereka beristirahat, baik Raditya maupun Aira keduanya berkutat pada pikirannya masing-masing.


Terlebih dengan Aira, bukan karena ia belum memaafkan Gilang hanya saja selama ini dirinya tak pernah jauh dari putri yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh perjuangan.


Ia belum terbiasa dan siap dengan kekosongan tanpa Chelsee di sisinya, meski baru sesaat rasa rindu telah datang menghampiri. Airamenolehkan wajahnya ke arah kaca jendela mobilnya, menyembunyikan rasa sedih dan gundah yang tergambar jelas di raut wajahnya.


Sempat terbesit rasa marah terhadap Gilang yang telah tergesah-gesah memberi tahu siapa dirinya kepada Chelsee, sehingga hal tersebut memaksa Chelsee mau tidak mau menerima kehadiran Gilang sebagai ayah kandungnya, padahal menurut Aira dan hasil konsultasinya dengan psikolog menyatakan jika Chelsee belum siap, Gilang masih butuh pendekatan dengan Chelsee hingga Chelsee siap untuk menerima kehadiran Gilang sebagai ayah kandungnya.


Bagaimana Chelsee bisa siap menerima Gilang sebagai ayah kandungnya, jika Gilang saja baru menemui Chelsee kurang dari sepuluh kali dalam dua tahun belakangan dan yang terakhir Gilang memberitahukan kepada Chelsee jika diriya adalah ayah kandungnya, kemudian Gilang meminta kepada Raditya agar Chelsee di perbolehkan untuk menginap dengan dirinya saat weekend, dengan ancaman jika Raditya tak mengizinkannya makan ia akan menuntut hak asuh anak.


Air mata Aira perlahan mulai menetes dipipinya, rasa khawatiran menyelimuti benaknya dan pertanyaan-pertanyaan mengenai 'Sedang apa Chelsee saat ini? Apakah ia sudah makan? atau apakah ia baik-baik tanpanya di sisinya?' mulai membayangi pikirannya.


"Mah, Kak Chel dimana?" tanya Ray yang baru menyadari jika kakaknya tidak berada dalam mobil bersamanya, pasalnya saat Chelsee pergi bersama Gilang, Ray tengah berada di toilet bersama baby sitter nya.


Pertanyaan Ray, putra bungsunya menyadarkan Aira dari lamunannya, ia pun segera menghapus air matanya, meloleh ke arah Ray yang duduk di sampingnya.


Belum sempat ia menjawab pertanyaan putranya, Raditya telah terlebih dahulu menjawab pertanyaan Ray "Weekend ini Kak Chlesee menginap bersama uncle Gilang, tadi uncle menjemput kakak" jawab Raditya.


"Jadi Kak Chel pergi huhu...." Ray menangis merasa kehilangan kakak yang setiap saat menemani dirinya "Kak Chel jahat, ninggalin adek. Adek tidak di ajak hiks..." Ray masih bisa menerima alasan kepergian Nathalie yang tengah menikuti National School Debating Championship di Banjarmasin, namun untuk kepergian Chelsee ia sama sekali tak bisa terima.


"Minggu sore kak Chlesee sudah pulang, Nak" Raditya memangku kemudian mengelus kepala putranya agar ia lebih tenang dan tidak menangis lagi "Besok kita sama-sama jemput Kak Nath ya" Raditya kembali menenangkan Ray.


"Adek mau sama Kak Nath dan Kak Chle juga huhu..." tangisnya.


Dalam anagannya, akhir pekan ini ia hisa menghabiskan waktu dengan berkeliling Jogja bersama kedua kakanya secara lengkap.


"Sama mama sini, Nak" Aira meminta Ray untuk berpindah ke pangkuannya, Ray pun menurut, ia beranjak dari pangkuan papanya berpindah ke pangkuan mamanya "Minggu depan kita ke Jogja lagi, bersama dengan Kak Chel dan Kak Nath, kita ajak Dhefin juga ya" ucap Aira sambil mengelus punggung putra bungsunya, Dhefin merupakan putra sulung dari Aruna dan Eric.


Ray menganggukan kepalanya, perlahan ia berangsung-angsur tenang, hingga tanpa di sadari ia tertidur pulas di pangkuan ibundanya.


Tiba di lobby hotel Raditya mengambil alih untuk menggendong putranya masuk ke dalam hotel, begitu memasuki ruang resepsionis dirinya dan Aira di sambut oleh kedatangan kedua orang tua Raditya.

__ADS_1


"Cucu cantiku mana?" tanya Ny.Paulina, mencari keberadaan Chelsee sembari membawa buket bunga mawar segar yang ingin ia berikan kepada cucunya.


"Weekend ini Chelsee tinggal bersama Gilang" ucap Raditya dengan hati-hati.


"APA?? KOK BISA!!" Raut wajah Ny.Paulina seketika berubah menjadi kaget dan kecewa, pasalnya di tengah jadwal kontrol kesehatannya di Singapore, ia menyempatkan diri datang ke Jogja untuk mengucapkan selamat kepada cucunya secara langsung.


"Tadi Gilang datang dan membawa Chelsee pergi bersamanya" terang Raditya.


"Terus kalian izinkan begitu saja?" tanya Ny.Paulina dengan menaikan intonasi bicaranya, seakan tak terima cucunya di bawa oleh Gilang.


Raditya menganggukan kepalanya, membenarkan jika dirinya dan Aira mengizinkan Gilang membawa Chlesee.


Ny.Paulina semakin kecewa ketika ia melihat nanny atau pengasuh pribadi Chelsee berada di hadapannya "Kalian benar-benar bodoh. Apa kalian tidak berfikir jauh, bagaimana jika Gilang tak mengembalikan Chelsee? Kalian tidak bisa melaporkan Gilang karena ia adalah ayah kandungnya" ucap Ny.Paulina.


Ucapan Ny.Paulina membuat Aira semakin kalut dan bersedih, ia berlari masuk ke dalam kamar hotel meninggalkan kedua mertua dan suaminya.


"Aku permisi dulu mah, pah" Sambil menggendong Ray, Raditya menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.


"Maaf, maafkan aku. Harusnya aku bisa bernegosiasi dengannya agar ia tak membawa Chelsee" ucap Raditya dengan rasa bersalah.


Ia tak bisa berbuat banyak ketika Gilang mengatakan, jika dialah yang lebih berhak atas Chelsee ketimbang Raditya, karena dia adalah ayah kandungnya.


Ingin rasanya Raditya menerima tantangan Gilang yang seringkali mengancam akan mengajukan hak asuh anak ke pengadilan, Raditya merasa sangat percaya diri bisa memenangkan hak asuh atas Chlesee.


Namun sayangnya Aira menolak, ia menolak lantaran tak ingin ribut dengan Gilang karena hal itu bisa berdampak pada psikologis Chelsee, dimana saat ini Chelsee tengah menjadi sorotan media di tengah namanya yang semakin di kenal luas.


"Aku akan menghubungi Gilang" Raditya langsung mengambil handphonenya di dalam sakunya, kemudian ia menghubungi nomor Gilang.


Tangis Aira pecah ketika ia mengdengar suara operator "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi" dari handphone suaminya.


"Chelsee dimana Bang Radit? hiks..." Aira semakin kalut, ia merebut handphone dari tangan suaminya, dengan tidak sabar ia kembali menghubungi Gilang.

__ADS_1


berkali-kali ia menghubungi Gilang, namun handphone Gilang tetap tidak bisa di hubungi, dengan mata yang di penuhi dengan genangan air matanya Aira mengambil tasnya kemudian ia bergegas keluar dari kamar hotel, namun belum sempat Aira keluar Raditya menahan istrinya pergi.


"Lapasin, aku mau menyusul Chlesee!" Aira mencoba melepaskan tangan Raditya, namun gagal karena Raditya menahannya dengan erat.


" Ini sudah malam, percuma juga kamu mencarinya tanpa petunjuk. Jadi aku mohon tenaglah! Aku akan cari cara untuk menemukan Chelsee"


" Tenang?? bagaimana aku bisa tenang sementara aku tidak tahu dimana keberadaan anakku" Aira menatap tajam mata Raditya "DIA ANAKKU!"


"Dia juga anakku, aku merasakan apa yang kamu rasakan" Raditya membawa Aira kedalam pelukannya "Percayalah aku akan membawanya kembali, aku pun tak rela Gilang membawanya pergi" bisik Raditya.


Raditya menghubungi sekretarisnya, memintanya mencari tahu keberadaan putrinya melalui data orang-orang yang keluar dari Jogja baik melalui darat maupun udara.


"Maafin aku, aku janji akan membawanya kembali" ucap Raditya, ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi, kejadian ini benar-benar di luar prediksinya.


Drrrtt.. Drrrtt..


Mendapat notifikasi pesan masuk ke dalam handphonenya Raditya segera membukanya.


"Siapa?" tanya Aira tak sabar.


"Nathalie, pengumuman pemenangnya ditunda sehingga ia masih harus di Banjarmasin. Ia juga meminta izin untuk jalan-jalan bersama teman-teman dan guru pendampingnya esok hari" jawab Raditya.


"Ya sudah izinkan saja, lagi pula ada beberapa guru pendampingnya yang mendampinginya" ucap Aira.


Raditya pun menganggukkan kepalanya, sambil membalas pesan dari putri sulungnya.


Tak lama kemudian Raditya mendapatkan kabar dari sekretarisnya, jika putrinya sudah tidak berada di Jogja, ia bersama Gilang telah malakukan perjalanan udara menuju Cengkareng sejak sore tadi dan kini sedang berada di salah satu hotel yang tak jauh dari bandara.


"Tahan mereka agar tidak keluar dari sana, sampai besok pagi aku akan ke sana" ucap Raditya kemudian ia menutup teleponya.


Sebenarnya bisa saja malam itu datang menjemput Chelsee, namun ia tak ingin gegabah dan salah langkah sehingga menimbulkan keributan, ia ingin kembali mengajak Gilang untuk berdiskusi dengan kepala dingin.

__ADS_1


__ADS_2