USAI

USAI
Episode 56


__ADS_3

"Win, batalkan semua jadwal meetingku" ucap Raditya ketika ia melewati meja kerja Winda, dengan perasaan kalut dan panik ia berlari keluar dari kantornya, di ikuti Winda dari belakang.


"Maaf Pak Angkasa, tidak baik menyetir dalam keadaan kalut jadi biar saya saja yang menyetir" winda menadahkan tangannya, meminta kunci mobil Raditya.


"Baiklah" Raditya menganggukan kepalanya kemudian ia memberikan kunci mobilnya kepada Winda, menurutnya apa yang dikatan Winda memang ada benarnya, menyetir dalam keadaan panik justru akan membahayakan dirinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tak hentinya Raditya berdoa berharap istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja, beberapa kali ia terlihat mencoba menghubungi supir dan Cara sahabat istrinya yang mengantar istri dan anaknya ke rumah sakit namun tidak ada satu pun yang menjawabnya.


"Aku sudah mendapatkan informasi jika non Chelsee baik-baik saja, ia hanya mengalami luka robek di bagian kaki dan keningnya" ucap Winda sambil terus fokus mengemudikan kendaraan milik Raditya.


"Lalu bagaimana keadaan istriku?" tanya Raditya.


"Bu Aira..." Winda menghentikan kalimatnya.


"Aku yakin Bu Aira pun baik-baik saja" ucap Winda dengan penuh keyakinan.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit, dari kejauhan samar-samar Raditya mendengar suara tangis yang tak asing baginya, ia pun mempercepat langkahnya menuju ruang IGD.


"Pa-pa huhuhu..." tangis Chelsee semakin pecah ketika melihat papahnya tiba di rumah sakit.


"Permisi" ucap Raditya kepada Cara yang menemani Chelsee, Cara pun mundur mempersilahkan Raditya untuk melihat kondisi putrinya.


"Kakak... kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Raditya dengan panik, ia memeriksa semua bagian tubuh putrinya.


Benar yang di katakan oleh Winda, jika Chelsee mengalami luka robek di bagian dahi dan lecet di kedua lututnya.


"Masih sakit ya? sabar ya sebentar lagi kakak pasti cepat sembuh" Raditya memeluk dan menenangkan putrinya sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan istrinya.


"Bu Aira masih di ruang tindakan, tadi dokter memita Pak Radit untuk ke ruangannya" ucap Cara.


"Biar aku yang menjaga non Chelsee, Pak Angkasa fokus pada Bu Aira saja" ucap Winda.


"Papah ke ruang dokter sebentar ya sayang, kakak sama aunty dulu" Raditya menghapus air mata putrinya, ia beralih ke Winda dan Cara "Aku titip Chelsee"


Raditya mencium kepala putrinya kemudian ia bergegas menuju ruangan dokter yang menangani Aira, sebelum masuk kedalam Raditya menghela nafas panjang agar dirinya lebih tenang menerima semua informasi dari dokter.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Permisi" Raditya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan duduk Pak Raditya"


Dengan tenang Raditya duduk di hadapan dokter, ia mencoba untuk fokus mendengarkan semua informasi yang dokter berikan kepadanya. Tubuhnya gemetar ketika dokter mengatakan jika Aira mengalami pendarahan akibat benturan dan harus segera menjalani operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan anak dalam kandungannya.


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya" ucap Raditya pasrah.


Rasa penyesalan berkecamuk dalam benaknya, ia merasa tak dapat menjaga dengan baik orang-orang yang ia sayangi, ia sangat menyesal tak menemani istrinya hingga selesai acara dan mengantarnya pulang.


"Kami pasti akan lakukan yang terbaik untuk menolong istri dan anak Bapak, silahkan Pak Raditya ke ruang administrasi untuk menandatangani surat persetujuan operasi"


"Baik dok" dengan langkah gontai Raditya berjalan menuju ruang administrasi.


Di ruang administrasi, ia menandatangani surat persetujuan operasi dan membayar biaya rumah sakit.


Begitu Raditya keluar dari ruang administrasi Tn.Maruli menghampiri putra sulungnya.


"Papah tahu ini sangat berat untukmu, tapi kamu harus kuat agar kamu bisa mensupport istrimu. Kamu tidak perlu khawatir, papah akan menjaga putrimu" Tn.Maruli.


"Terima kasih banyak pah atas doa dan supportnya"


"Jangan pah, aku tidak ingin..."


"Papah akan bawa Chelsee ke rumahmu, bukan ke rumah papah, tenanglah!" Tn.Maruli kembali ke ruang UGD menghampiri Chelsee dan membawanya pulang, sedangkan Raditya menemani Aira menjalani serangkaian prosedur operasi.


Hingga Aira menjalani operasi caesar, Raditya tak kuasa menahan air matanya, air matanya terus menetes melihat istrinya terbaring lemah, berkali-kali ia meminta maaf kepada Aira "Maafin aku..." ia menggenggam erat tangan Aira.


Aira mencoba untuk tersenyum "Sudah jangan sedih lagi, aku baik-baik saja" ucapnya lemah sambil menghapus air mata suaminya, ia membelai lembut wajah pria yang mungkin sebentar lagi akan ia lepaskan sesuai dengan permintaan ibu mertuanya, pikirnya.


Tak lama kemudian terdengar suara tangis dari bayi mungil yang baru saja keluar dari rahimnya, Aira dan Raditya tersenyum melihat bayinya bergerak, namun sayangnya senyum itu seketika sirna ketika bayi mereka harus di bawa ke NICU (neonatal intensive care unit) untuk mendapatkan perawatan intensif dikarenakan lahir prematur dengan berat 2Kg, sementara Aira di bawa ke ruang rawat inap setelah ia selesai menjalani operasi.


"Istirahatlah sayang" Raditya mengecup kening Aira kemudian menyelimuti tubuhnya yang tengah beristirahat.


CKLEK..


Mendengar suara pintu terbuka di ruang rawat inap istrinya, Raditya menoleh ke arah pintu "Sus...." ia menghentikan kalimatnya saat melihat ibundanyalah yang datang.

__ADS_1


"Raditya..." Ny.Paulina melangkahkan kakinya mendekat ke arah putranya.


"Sssttt... mah, kita ngobrol di luar yuk" Raditya menarik tangan ibundanya keluar dari kamar.


"Lapasin!!" Ny.Paulina menghempaskan tangan putranya "Beraninya kamu ini mengusir mamahmu sendiri" bentak Ny.Paulina.


"Istriku baru saja istirahat mah..."


"Dari awal sudah mamah katakan, jangan nikahi wanita itu, dia hanya akan membuatmu susah, kamu lihatkan sekarang? Menjaga kandungannya saja dia tidak bisa, mamah tidak ingin memiliki cucu cacat Raditya"


"Cukup mah, anakku baik-baik saja, sebaiknya mamah pulang" Raditya mengambil tangan ibundanya kemudian ia menciumnya barulah ia kembali masuk ke dalam kamar menemani istrinya yang tengah beristirahat.


CKLEK...


"Apa lagi mah..."


"Maaf Pak Angkasa, tadi saya lupa mengetuk pintu karena terburu-buru" ucap Winda sambil membungkukkan badannya.


"Ia ada apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan mengenai kecelakaan yang di alami Bu Aira"


Raditya pun beranjak dari tempat duduknya, ia mengajak winda untuk duduk di sofa.


"Orang yang menabrak Bu Aira dan non Chelsee adalah Bu Cindy, istri dari Pak Alex. Orang yang hampir saja memperkosa Bu Aira, saat ini Bu Cindy sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi, guna mencari tahu motif di baliknya"


"Biar masalah ini aku dan tim kuasa hukum kita yang mengurusnya, Pak Angkasa fokus saja pada kesehatan Bu Aira dan anak-anak Bapak, aku akan melaporkan semuanya secara berkala"


"Terima kasih Win, pastikan ia mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya"


"Pasti Pak Angkasa" Winda pun merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang atasannya rasakan kepada Cindy yang telah mencelakai Aira dan Chelsee.


"Satu lagi Pak Angkasa, ini adalah orang yang telah menyelamatkan Bu Aira dan Non Chlesee" Winda menyerahkan selembar kertas kepada Raditya.


"Apa ini?" Raditya menerima dan membukanya, ia terkejut melihat gambar dan tulis tangan yang tak asing baginya.


"Itu Non Chelsee yang menggambarnya untuk Pak Reza, sewaktu Bu Aira menyeret Pak Reza ke penjara karena keterlibatannya dengan Pak Alex"

__ADS_1


"Maksudmu, orang yang menyelamatkan istri dan anakku?"


"Ya, Pak Reza yang telah menyelamatkan Bu Aira, dari keterangan yang di dapat dari para saksi Pak Reza mendorong Bu Aira dan Non Chelsee sehingga Pak Rezalah yang tertabrak mobil tersebut, ia terseret hingga sejauh tiga meter dan kini kondisinya kritis. Sementara Bu Aira dan Non Chelsee terjatuh dan membentur trotoar jalan sehingga Bu Aira mengalami pendarahan" terang Winda.


__ADS_2