
Suasana masih terlihat sepi ketika Raditya tiba di kediaman orang tuanya, mereka di sambut oleh Tn.Maruli yang sudah menunggunya di teras rumahnya.
"Hei, cucu cantik Ompung sudah datang" Sapa Tn.Maruli kepada Chelsee, Chelsee dan Aira mencium tangan Tn.Maruli secara bergantian.
"Raditya, papah mau bicara sebentar mengenai project manpower di Karimun, bisa ikut papah ke ruang kerja papah sekarang?" ajak Tn.Maruli dengan nada serius.
Raditya menganggukan kepalanya, kemudian beralih ke putrinya "Papah ke ruang kerja Ompung dulu ya" kemudian ke Aira "Sebentar ya" Ia mengelus lengan Aira kemudian ia pergi menyusul papahnya ke ruang kerjanya.
Tak lama setelah suaminya pergi Aira menyuruh asistennya untuk membawa makanan yang ia bawa masuk ke dalam rumah mertuanya.
"Aira, sebentar lagi saudara-saudara mamah dan teman-teman mamah datang, sebaiknya kamu ajak anakmu main di dalam kamar Radit saja sampai acara selesai, suruh asistenmu menemani anakmu" ucap Ny.Paulina dengan nada ketusnya.
"Kenapa Chelsee harus ber..."
"Sudah kamu jangan banyak tanya, cepat sana suruh asistenmu membawa anakmu ke kamar Radit dan sana kamu saja yang merapihkan meja itu. Nanti teman-teman mamah keburu datang" Ny.Paulina semakin menaikan nada suaranya.
"Baik mah" Aira mengajak putrinya masuk kedalam menghampiri asistennya.
"Bik temani kakak main di kamar Pak Radit ya, kamarnya ada di lantai dua sebelah kiri" ucap Aira sambil menahan air matanya, sesak dadanya menerima perlakuan dari ibu mertuanya, Aira paham betul maksud dari ibu mertuanya yang malu memiliki cucu seperti Chelsee.
Sambil merapihkan meja perasmanan ia menahan air matanyanya untuk jatuh namun sayangnya ia tak dapat menahannya, buliran-buliran bening jatuh dipipinya, rasanya ia ingin cepat-cepat kembali pulang.
'Ah kenapa aku jadi cengeng sekali' Aira menghapus air matanya.
"Aira... Aira... tolong bawakan minum untuk teman-teman mamah" perintah Ny.Paulina dari ruang tamu rumahnya.
"Aira, itu mamah manggil, kuping loe kemana sih?" bentak Aruna.
__ADS_1
Aira hanya sepintas menoleh ke arah Aruna, "Ia mah" jawabnya. Ia membawakan minuman untuk tamu yang sudah mulai berdatangan.
"Ini istrinya Radit kan?" tanya salah seorang dari tamu yang hadir yang tak lain adalah Taruli adik kandung Tn.Maruli.
"Ia tante" Aira menganggukan kepalanya.
"Mengapa kau yang bawakan kami minum? kenapa tak kau suruh saja asisten rumah tangga di sini?" tanyanya dengan logat khas Batak.
"Tidak apa-apa kok tante, tadi aku sekalian dari dalam" jawab Aira sambil tersenyum.
"Duduk sini bergabung dengan kami" Taruli menggeser posisi duduknya memberikan ruang untuk Aira duduk bersamanya "Kamu CEO C&A Florist kan? tante mau mengadakan seminar, tolong kamu bantu dekorasi untuk acara seminar tante, bisakan?"
"Bisa tante, untuk kapan?"
"Ah tante lupa tanggalnya, pokoknya bulan-bulan depan lah. Mana handphonemu? biar nanti tante hubungi kamu saja"
"Sebentar tante" Aira mengambil handphonenya, menyimpan nomor handphone Taruli di handphonenya kemudian ia melakukan panggilan keluar agar Taruli menyimpan nomornya.
"Ini kak, istri Raditya ini rupanya CEO C&A Florist, aku mau meminta dia mendekor acara seminarku"
"Pantas saja waktu acara nikah kemarin, dekorasinya bagus sekali rupanya pemilik florist" sabung Duma.
Seketika Aira menjadi pusat perhatian keluarga besar Raditya yang hadir dalam acara arisan tersebut.
'Ngerusak suasana aja deh' gumam Aruna.
"Aira, ngomong-ngomong anakmu mana? tante belum sempat foto dengannya kemarin, padahal tante ingin sekali pamer dengan teman-teman tante jika tante punya keluarga bintang iklan" ucap Taruli.
__ADS_1
"Ia kemana anakmu yang menggemaskan itu? kemarin Radit pelit sekali aku tak boleh mencubitnya" sambung sondang adik dari Ny.Paulina dengan nada protes.
Belum sempat Aira menjawabnya, Raditya datang menghampirinya sambil menggendong Chelsee "Ayo kita pulang" Raditya mengulurkan tangannya mengajak Aira pulang.
"Mah, tante aku permisi dahulu" Aira tersenyum membungkukkan badannya sambil menaruh nampan yang tadi ia gunakan untuk membawa minum, Aira menggandeng tangan Raditya ikut pulang bersamanya.
Sepanjang perjalanan tak ada kata yang keluar dari mulut Raditya, ia hanya menggegam erat tangan Aira sambil sesekali ia menciuminya.
Tiba di kediamannya Raditya hanya mengantar Aira dan putrinya hingga teras rumahnya.
"Aku pergi dulu sebentar, ada urusan kantor yang harus aku urus, kamu istirahat ya" Raditya mengecup kening Aira, ia beralih pamit kepada putrinya "Papah pergi dulu sebentar ya" Raditya kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediamannya.
Sesaat setelah suaminya pergi Aira merasakan mual diperutnya "Bik, tolong jaga kakak sebentar" Aira berlari menuju kamar mandi yang berada di lantai dasar.
"Hoeek... hoeeek..." ia mengeluarkan semua isi perutnya di westafel kamar mandi.
"Bu Aira sakit?" beberapa dari asisten rumah tangganya membantu Aira dengan memijat tengkuk Aira dan ada pula yang menyiapkan teh hangat untuk Aira.
"Aku baik-baik saja, aku mau ke kamar, tolong jangan ada yang bilang Pak Radit" Aira berlalu meninggaldkan para asistennya.
Aira merebahkan tubuhnya di atas sofa 'Jangan sakit please' gumamnya matanya tertuju pada kalender meja yang berada di meja kerja suaminya.
'Sudah tanggal 5 mengapa aku belum mensturasi ya?' ia mengingat-ingat tanggal terakhir kalinya ia menstruasi sebelum ia menikah 'Jangan-jangan aku hamil' Aira berlari mencari test pack yang ia simpan di dalam laci meja riasnya, ia sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga jika dirinya telat datang bulan.
Ia pun memberanikan diri untuk memakai tespek tersebut, dengan harap-harap cemas ia menunggu hasilnya, satu menit kemudian tertera kata 'yes' dalam layar kecil yang terdapat di test pack digital yang ia gunakan.
"Aku hamil?" tangan Aira gemetar memegang tes pack di tangannya, kepingan memory akan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh ibu mertuanya kembali teringat dalam benaknya, ia takut jika anak yang dalam kandungannya tak sesuai dengan apa yang di inginkan ibu mertuanya, ia takut kejadian yang dulu pernah ia alami kembali terjadi.
__ADS_1
Aira memasukan test pack yang ia gunakan tadi ke dalam sakunya, ia kembali masuk ke dalam kamarnya mencari kunci mobil yang suaminya simpan di meja kerjanya.
Setelah menemukan SIM dan kunci mobilnya, ia menghampiri Chelsee dan membawanya pergi dari rumah Raditya.