
Memasuki timester kedua usia kandungannya, Aira nampak lebih enjoy menikmati masa-masa kehamilannya, selain karena ia sudah tidak lagi mengalami ngidam mual dan pusing, ia juga sudah mulai mengikis rasa traumanya.
Aira mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri, hal itu tidak lepas dari peran serta doula, psikolog dan tentunya Raditya yang selalu setia mendampinginya.
Siang itu Aira memutuskan untuk memberikan kejutan kepada suaminya dengan datang ke kantornya membawakan makan siang kesukaan Raditya yang ia buat sendiri.
'Kemana Winda? tumben tidak ada di tempatnya' gumam Aira ketika ia melihat meja kerja Winda yang ia lalui tidak ada tanda-tanda keberadaannya, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
Aira menghentikan langkahnya saat mendengar Aruna di ruang kerja suaminya, ia mengintip dari balik pintu yang tak tertutup rapat.
"Segini cukup?" Raditya menyerahkan selembar cek kepada adiknya.
"Dek, kamu bisa loh meminta bantuan kakak iparmu untuk mengembangkan usaha catering milikmu. Florist milik Aira yang sudah menjalin kerja sama dengan beberapa EO besar, kamu bisa bergabung disana" ucap Raditya.
"Tidak sudi" ucap Aruna dengan ketus.
"Ayolah dek, turunkan sedikit gengsimu. Kakak iparmu tidak pernah membenci dirimu, ia pasti mau membantumu merapihkan kembali manajement bisnismu dan mempromosikan bisnismu" Raditya mencoba membujuk adiknya agar mau berbaikan dengan Aira.
"Abang ini sudah benar-benar tidak waras ya, kenapa aku di suruh meminta bantuan orang lain? harusnya abang sebagai kakak kandungku yang membantuku" Aruna menatap Raditya dengan kesal.
"Dulu abang pernah menawarkan diri untuk membantumu dan menawarkan staff abang untuk bekerja di tempatmu tapi kamu tolak mentah-mentah karena kamu lebih percaya dengan teman-temanmu di bandingkan abangmu sendiri. Sekarang kamu lihat sendirikan teman-temanmu itu justru menipumu, membuat usahamu kacau" Raditya beranjak dari tempat duduknya mendekat ke arah adiknya, ia memegang bahu adiknya.
"Sekarang abang sibuk, lebih baik kamu meminta bantuan kakak iparmu, ia jauh lebih berkompeten dibisnis yang kamu geluti dibandingkan dengan abang. Aira juga sayang padamu sama seperti abang yang sayang padamu, jadi ia pasti akan membantumu"
"Terang saja ia pasti baik kepadaku, abangku adalah mesin ATMnya yang selalu ia manfaatkan. Sudah ah, aku bisa mengurusnya sendiri" Aruna keluar dari ruang kerja kakaknya dengan perasaan kesal.
Saat keluar dari ruang kerja kakaknya Aruna berpapasan dengan Aira, mata Aruna tertuju pada perut Aira yang sudah terlihat membesar, ia tersenyum sinis kemudian berlalu meninggalkan Aira.
"Assalamualaikum, sayang" Aira masuk kedalam ruang kerja suaminya.
"Walaikumsalam. Bukankah jam segini biasanya kamu yoga?" Raditya sangat terkejut dengan kedatangan Aira, ia bergeas menghampiri istrinya.
"Aku bolos sehari ini saja, karena aku rindu dengan suamiku. Kok reaksi Bang Radit seperti itu? Apa aku tidak boleh main kekantor suamiku sendiri?" tanya Aira sambil cemberut dan mencium tangan suaminya.
"Tentu saja boleh sayang, aku malah senang kamu kemari. Tapi tadi apa kamu dengar percakapan aku dengan Aruna?" Raditya sangat khawatir jika Aira mendengar kalimat yang diucapakan Aruna sehingga membuat istrinya bersedih.
"Tidak, aku baru saja datang. Memangnya Bang Radit dan Aruna membahas apa?" Aira bersikap seolah-olah tak mengetahui percakapan anatara suaminya dengan adik iparnya.
__ADS_1
"Tidak ada, tadi ia kemari hanya meminta bantuan tambahan modal usaha"
"Terus sudah Abang sudah kasih?"
"Sudah tadi"
"Ya sudah. Ada yang ingin aku bicarakan, sambil makan siang yuk. Tadi sebelum kesini aku masak ayam bumbu rujak kesukaan Bang Radit" Aira mengajak suaminya duduk di sofa ruang kerjanya, Raditya menurut ia membuntuti Aira menuju sofa ruang kerjanya.
Sambil menikmati makan siang bersama, kedua berbicang dengan santai.
"Aku ingin meminta sesuatu kepada Bang Radit" ucap Aira sambil menyuapi Raditya dengan tangan tangan kosongnya.
"Katakanlah, apa yang kamu inginkan sampai kamu menghampiri aku ke kantor" Raditya membelai wajah istrinya.
"Berikan kesempatan kepada anak-anak yang bernaung di yayasanku untuk bekerja di perusahaan Bang Radit" pinta Aira.
Raditya tidak tak memberikan reaksi apa pun karena tak pernah terbayangkan dalam benaknya akan memperkerjakan penyandang disabilitas.
"Tetap menyesuaikan dengan kemampuan dan jenjang pendidikannya, misalnya posisi call center untuk tuna daksa atau tuna netra yang lulusan SMA" terang Aira.
Raditya masih belum memberikan tanggapan apa pun atas penjelasan istrinya, ia masih terus menatap wajah Aira.
"I like saw an angel in front of me" ucap Raditya masih terus memandangi wajah istrinya.
"Aku serius Bang Radit, bulan depan peresmian yayasanku di tempat yang baru aku bangun bersama anggota komunitasku"
"Aku akan berikan kesempatan 10% untuk mereka" ucap Raditya.
"10% benarkah?" Aira seakan tak percaya karena biasanya sebuah perushaan hanya memberikan 2% untuk para penyandang disabilitas"
"Tapi tatap mengikuti prosedur yang ada di perusahan ini"
"Pasti, terima kasih sayang" Aira kembali meyuapi suaminya.
"Hanya itu saja?" sambil mengunyah Raditya memberikan kode agar istrinya menciumnya, Aira tersenyum ia sangat paham dengan kode yang di berikan oleh suaminya, ia menaruh piring di atas meja kemudian ia mengecup kedua pipi suaminya Raditya.
"Aku mau jemput kakak terapi dulu" Aira beranjak dari tempat duduknya, namun dengan cepat Raditya menahannya.
__ADS_1
"Ada bibik kan yang menunggunya terapi? aku akan suruh supirku untuk menjeputnya" Raditya memeluk sambil mengelus perut istrinya "Aku masih ingin bersamamu" ia menciumi perut Aira "Tuhkan baby kita saja masih mau sama papahnya" ucap Raditya ketika ia merasakan tendangan kecil di perut istrinya.
Air tersenyum mengelus kepala Raditya dengan lembut 'Apakah jika baby ini lahir nanti, sayangnya Bang Radit akan tetap sama kepada Chelsee?' gumamnya, ada sedikit kekhawatiran dalam diri Aira namun ia berusaha untuk menepisnya.
Aira menuruti permintaan Raditya untuk menemaninya menyelesaikan pekerjaanya, hingga pukul 15.00 barulah Raditya mengajak istrinya untuk kembali ke kediamannya.
"Sayang, tadi aku tidak melihat Winda di kantormu. Apa dia sedang tidak masuk?" tanya Aira.
"Ada pekerjaan penting yang sedang ia kerjakan diluar kantor" jawab Raditya, sambil mengemudikan mobilnya ia menggenggam erat tangan Aira.
Raditya menepikan kendaraannya didepan beranda kediamannya, hal yang tak pernah berubah dari Raditya, ia selalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Silahkan ratuku" ucapnya.
"Terima kasih sayang" Aira tersenyum menggandeng tangan Raditya masuk kedalam rumahnya.
SURPRISE....!!!
Potongan-potongan kertas kecil-kecil dan berwarna warni dari popper party yang di tembakan oleh teman-teman Aira menyambut kedatanganya, ia mendapatkan kejutan gender reveal party dari teman-teman terdekatnya.
"Selamat ya Mom's atas kehamilannya semoga sehat terus dan di berikan kelancaraan saat persalinan nanti" Cara memeluk dan mencium pipi Aira bergantian dengan teman-temannya yang lainnya.
Yang membuat Aira tak bisa menahan rasa haru adalah dengan kedatangan papah metuanya.
"Selamat ya nak atas kehamilannya" sambil menggendong Chelsee Tn.Maruli mengucapkan selamat kepada Aira dan Aira pun langsung mencium tangan papah mertuanya.
"Mamah sedang tidak enak badan jadi ia hanya menitipkan salam untukmu" ucap Tn.Maruli.
Aira hanya tersenyum dalam batinnya mengatakan jika mamah mertuanya memang sengaja tidak datang atau memang belum mengetahui tentang kehamilan dirinya, pasalnya sejak acara arisan yang diadakan di rumah mertuanya, ia tak lagi berkomunikasi dengan mamah mertuanya karena Raditya melarangnya untuk menghubunginya, hanya Raditya sajalah yang sering datang mengunjungi mamah mertuanya.
Sang MC langsung meminta Aira dan Raditya menuju tempat yang di sediakan karena acara akan segera di mulai, di puncak acara yang di tunggu oleh Aira, secara serentak seluruh teman-teman Aira menyemprotkan string confetti berwarna biru kepadanya.
"IT'S A BOY" ucap mereka secara serentak.
Dari kejauhan Winda tersenyum melihat kebahagiaan kedua atasannya, ia pun bergegas pergi dari kediaman atasannya karena ia harus segera mengantar suaminya ke bandara. Namun saat di perjalanan ia tak lupa mengirimkan ucapan selamat dan permintaan maafnya tak berpamitan secara langsung melalui pesan singkat kepada atasannya.
'Terima kasih banyak Wind' balas Raditya, ia kembali fokus pada acara gender reveal party istrinya.
__ADS_1