
"Aku mau keluar, batalkan meeting untuk hari ini" Raditya menghela nafasnya ia beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan kantornya menuju kediaman Aira, sebelum menuju kediaman Aira, ia berkeliling menembus jalanan kota.
Pukul 22.00 Raditya menepikan kendaraannya didepan kediaman Aira, ia melihat rumah Aira sudah nampak sepi dan florist pun sudah tutup. Sejak penolakan marriage proposalnya Raditya hanya bisa melihat Aira dari kejauhan, ia menuruti Aira untuk tidak mengganggunya lagi.
Ditengah rintik hujan malam itu dan sayup-sayup lagu Kebutuhan Hati yang dipopulerkan oleh Kaleb J, Raditya masih meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
...Bila tak menyatu, mengapa harus dirimu?...
...Dan sekarang engkau telah pergi...
...Lenyaplah semua tentangmu...
...Hati berbisik lirih...
...Mengharapmu untuk kembali...
...Kupaham kamu takkan bisa...
...Kan kusimpan segala angan....
'Baru kali ini aku dipatahkan oleh ekspektasiku sendiri, padahal saat akan melamarmu kemarin, aku sudah membayangkan akan banyak cerita seru yang akanku buat bersamamu dan Chelsee, namun ternyata kamunya enggak mau sama aku, dan ceritaku patah dihujani harapan yang harus pulang, sekarang aku bisa apa?' gumam Raditya.
Lama ia meratapi kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan, ia pun tertidur didalam kendaraannya. Hingga keesokan paginya pukul 07.00 Raditya terbangun oleh getar handphone di sakunya.
"Ada apa Wind?" tanya Raditya mengangkat telepon masuk dari Winda.
"Pak Angkasa, saya izin datang terlambat karena ada keperluan mendesak yang...." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Raditya memotongnya.
"Hmmm" Raditya mematikan handphonenya, ia menyalakan mesin mobilnya bergegas pergi dari kediaman Aira, ia tak ingin Aira mengetahui keberadaan dirinya.
Tak lama setelah kepergian Raditya, Aira keluar dari rumahnya, seperti biasanya rutinitasnya di pagi hari mengantar putrinya ke sekolah.
"Pagi Bu Aira, Dek Chelsee" sapa Azzam saat berpapasan dengan Aira yang hendak ke garasi mobilnya.
"Pagi Zam, pagi banget sih kamu" ucap Aira.
__ADS_1
"Lagi semangat nih Bu, eh ia Bu Aira maaf yang tadi tamu Bu Aira atau pelanggan kita?" tanya Azzam.
"Tamu? Pelanggan? yang mana? tidak ada siapa-siapa"
"Tadi aku lihat ada mobil porsche parkir didepan toko, tapi pas aku mulai dekat mobilnya pergi"
"Ah orang lewat aja kali Zam, udah ya aku antar Chelsee dulu" Aira menggandeng tangan putrinya masuk kedalam mobil.
Dengan hati riang Aira dan Chelsee bernyanyi disepanjang perjalanan menuju sekolah putrinya.
"The wheels on the bus go round and round, round and round" Aira menyanyikan lagu the wheels on the bus.
"Round and round" sambung Chelsee.
"The wheels on the bus go round and round, all through the town" lanjut Aira.
"The wipers on the bus go Swish, swish, swish, Swish, swish, swish" Aira dan Chelsee bersama-sama.
"The wipers on the bus go Swish, swish, swish. All through the town" tutup Aira, ia menepikan kendaraanya diparkiran sekolah putrinya kemudian Aira mengantar putrinya hingga batas pengantaran yakni teras sekolah.
"Bye mah" Chelsee melambaikan tangannya ke arah mammahnya, kemudian ia menscan ID card siswanya sebagai absensi kehadirannya, setelah itu Chelsee ikut berbaris bersama teman-temannya untuk pemeriksaan suhu badan, kuku, gigi, mata dan telinga. Barulah ia masuk ke dalam kelasnya bersama guru pendampingnya.
Memastikan putrinya masuk kedalam barulah Aira kembali ke kediamannya, tiba dikediamannya Aira dikejutkan dengan kedatangan Winda.
"Kok tumben pagi-pagi kamu ke sini? apa tidak dicariin bos kamu Win?" tanya Aira.
"Aku sudah izin datang terlambat, aku ingin memberikan ini untuk Bu Aira" Winda menyerahkan undangan pernikahannya kepada Aira.
"Wah selamat ya Wind akhirnya kamu dan Aron akan menikah, eh untuk yang lainnya?"
"Tadi sudah aku berikan"
"Nanti decornya dari sini saja ya, anggap saja sebagai kado pernikahanmu dengan Aron"
"Tidak perlu repot-repot Bu Aira, pernikahanku dengan Aron hanya sederhana saja" tolak Winda dengan halus.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Wind, jangan di tolak ya" Aira mengelus lengan Winda lembut.
"Terima kasih ya Bu Aira"
"Sama-sama"
"Maaf Bu Aira jika aku lancang, apa Bu Aira benar-benar menolak Pak Angkasa? Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?" tanya Winda dengan hati-hati.
"Wind, diluaran sana banyak gadis cantik yang lebih pantas untuknya jadi kamu tenang saja" ucap Aira sambil tersenyum.
"Bagaimana jika ternyata Pak Angkasa tetap menginginkan Bu Aira?"
"Semuanya butuh waktu, cepat atau lambat bosmu pasti akan melupakan aku dan mendapat kebahagiaannya bersama wanita yang terbaiknya"
"Tidak semudah itu Bu Aira, beliau rela meninggalkan perusahaanya dan bekerja ditempat Bu Aira bekerja demi mendekati Bu Aira. Saat beliau di Singapore, beliau menyuruh saya mencari keberadaan Bu Aira hanya untuk memastikan Bu Aira dan Dek Chelsee baik-baik saja tidak kekurangan suatu apa pun. Selama mengenal beliau, baru satu kali aku melihatnya marah dan sepanik itu ketika mengetahui Alex membawa Bu Aira ke hottel, beliau sempat mencaciku karena tidak menemani Bu Aira meeting bersama Alex..."
"Wind, pernikahan tak hanya mengikat dua pribadi, tapi menyatukan dua keluarga. Bagaimana bisa aku menerima seseorang yang keluarganya tidak bisa menerima kekurangan putriku, aku hanya ingin melindungi putriku"
"Pak Angkasa bukan hanya menyayangi Bu Aira, tapi juga sangat menyayangi Dek Chelsee, aku yakin beliau pun tak akan membiarkan siapa pun menyakiti Bu Aira dan Dek Chelsee" Winda menjeda kalimat sesaat, kemudian ia menyambungnya kembali.
"Aku tahu Bu Aira sudah berada zona nyaman Bu Aira, tapi bagaimana dengan Pak Angkasa? Jika Bu Aira ada waktu sesekali Bu Aira cek CCTV rumah ini kemudian Bu Aira tanyakan lagi pada hati kecil Bu Aira, apa benar ini zona nyaman Bu Aira?" Winda menyerahkan kotak cincin yang pernah ia beli saat Raditya hendak melamar Aira, winda menemukannya ditempat sampah ruang kerja Raditya.
"Simpan saja, siapa tahu Bu Aira berubah pikiran"
"Sudah siang, aku harus kekantor. Terima kasih atas waktunya, aku permisi dulu Bu Aira. Assalamualaikum" Winda melangkahkan kakinya keluar dari rumah Aira.
'CCTV?' gumam Aira, ia berlari keruang kerjanya untuk mengecek rekaman CCTV halaman depan rumahnya.
"Porsche B 124 DIT" Aira menzoom agar dapat melihat dengan jelas mobil yang hampir tiap malam berada didepan rumahnya.
'Jadi ini mobil yang Azzam maksud' sebenarnya ia pun merasakan jika ia ada seseorang yang memperhatikannya diam-diam.
Lama ia berfikir hingga akhirnya di hari ketiga setelah discusinya bersama Winda dan setelah meminta petunjuk melalui Istikharahnya di sepertiga malam, Aira memantapkan hatinya untuk memakai cincin pemberian Raditya.
Aira memfoto jari tangannya yang telah mengenakan cincin, kemudian mengirimkan foto tersebut kepada Raditya melalui whatsapp dengan kalimat 'Yes, I will' selang beberapa detik kemudian ia kembali mengirimkan pesan 'Apakah masih berlaku?' tanyanya.
__ADS_1