
Raditya memacu kendaraannya kembali menuju kediaman orang tuanya, memasuki komplek perumahan kediaman orang tuanya, kendaraan Raditya beberapa kali berpapasan dengan kendaraan keluarganya yang mulai kembali ke kediaman mereka masing-masing karena acara arisan tersebut sudah selesai.
Raditya menepikan mobilnya didepan kediaman orang tuanya, ia masuk dan langsung mencari keberadaan ibundanya.
"Klapertart buatan Aira enak kan mah?" Raditya mendekat ke arah ibundanya yang tengah menikmati klapertart buatan Aira.
"Uhhuuukkk..." seketika Ny.Paulina tersedak mendengar suara putra sulungnya yang datang secara tiba-tiba.
"Tidak sopan kamu ini, tiba-tiba datang mengagetkan orang tuamu" ucapnya kesal, ia langsung menaruh klapertart buatan Aira di atas meja "Biasa saja, tidak ada yang spesial. Mamah hanya ingin mencicipinya sedikit untuk mengetahui apa anak mamah diurus dengan baik atau tidak dengannya"
Raditya hanya tersenyum mendengar kebohongan ibundanya, ia melihat aluminium foil cup yang telah kosong berjejer di depan ibundanya.
"Tidak usah berfikir yang macam-macam, ini bekas bik siti tadi ia makan tidak buang" Ny.Paulina mencoba mengelak "Sudahlah mamah mau istirahat" Ny.Paulina beranjak dari tempat duduknya namun Raditya menahannya.
"Tunggu dulu mah, aku mau bicara dengan mamah"
"Soal Aira? mamah tidak tertarik membicarakan istrimu" Ny.Paulina menyingkirkan tangan Raditya dari lengannya.
"Mamah boleh tidak menyukai istri dan anakku, tapi tolong jangan perlakukan mereka seperti itu, karena sama halnya mamah menyakitiku"
"Oh, sudah ngadu apa saja dia kepadamu? Hebat ya dia, baru dua kali bertemu mamah setelah kalian menikah, ia sudah membuat anak mamah yang satu ini berani menegur mamahnya"
"Aira tidak pernah mengadu apa pun tentang mamah, aku melihatnya langsung melalui CCTV rumahku, dan tadi aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana mamah dan Aruna memperlakukan istri dan anakku"
"Raditya, kamu selalu memikirkan perasaan Aira tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaan mamah yang malu karena kehadiran mereka. Mungkin tadi beberapa dari teman-teman mamah dan keluarga kita terlihat seperti baik-baik saja, tapi kita tidak pernah tahu apa yang mereka bicarakan di belakang kita. Dan satu hal lagi Radit, mamah sangat khawatir jika keturunanmu nanti tidak jauh berbeda kondisinya dengan Chelsee, anak seperti itu tidak ada masa depannya Radit, ia justru akan menjadi bebanmu seumur hidup"
"Astaghfirullah, mamah. Asal mamah tahu, putriku sama sekali tidak pernah menjadi beban, ia anak yang cerdas, sudah banyak prestasi yang ia peroleh"
"Bintang iklan? Seorang bintang iklan atau artis itu ada masanya, tidak ada yang bertahan lama"
"Cukup mah. Mamah tidak perlu memikirkan sejauh itu, karena itu adalah tanggung jawab Radit dan mamah tidak perlu merasa malu lagi karena mulai sekarang, istri dan anakku tidak akan pernah menginjakan kakinya di rumah ini lagi. Aku sayang mamah, Assalamualaikum" Raditya mencium tangan ibundanya kemudian ia pergi meninggalkan kediaman rumah orang tuanya, kembali pulang ke kediamannya.
__ADS_1
'Maafin aku sayang, aku janji tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti hatimu lagi, termasuk mamah dan Aruna' Raditya memandangi foto Aira dan Chelsee dalam layar handphoennya, ingin rasanya ia segera memeluk keduanya namun sayangnya saat itu Raditya harus sedikit bersabar karena ia tengah terjebak macet.
'Huft... lama banget sih' gumamnya dengan kesal.
Setelah satu setengah jam akhirnya Raditya tiba di kediamannya, ia bergegas masuk mencari keberadaan istri dan anaknya.
"Maaf Pak Radit, sudah sejam yang lalu Bu Aira keluar" ucap salah seorang asisten rumah tangga Raditya.
"Keluar? Kemana Bik? Sama siapa?"
"Saya kurang tahu Pak Radit, Bu Aira sama sekali tak mengatakan apa-apa, beliau membawa mobilnya sendiri dan pergi hanya berdua dengan Non Chelsee"
"Kenapa kalian membiarkan istri dan anakku pergi?" bentak Raditya.
Dengan perasaan cemas Raditya mencoba menghubungi istrinya 'Ayo angkat sayang' sudah tiga kali Raditya menghubungi istrinya namun Aira tak juga menjawab panggilan telepon dari Raditya.
Tak hilang akal Raditya melacak keberadaan istrinya melalui bantuan GPS 'Rumah sakit?' Raditya semakin panik saat mengetahui titik keberadaan istrinya berada di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Tangerang Selatan.
Raditya berlari menuju ruang IGD mencari keberadaan, dari keterangan perawat yang bertugas di IGD tidak ada pasien yang berama Aira.
"Terima kasih sus" ucap Raditya kepada seorang perawat yang memberikan informasi kepadanya.
Raditya bisa sedikit bernafas lega mendengar jika istrinya tidak berada di IGD yang artinya Aira masih dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Raditya menghampiri pusat informasi menanyakan data pasien rawat jalan pada hari itu.
"Aira I. Ruthvika, tunggu sebentar ya Pak" petugas pusat informasi mencari data pasien rawat jalan yang bernama Aira.
"Baru saja pasien yang bernama Aira I. Ruthvika mendaftar di poli obgyn, kemungkinan istri Bapak sedang berada di sana. Untuk poli obgyn ada di lt.2, Bapak bisa menggunakan lift yang berada di pojok sebelah kiri" petugas tersebut menunjuk ke arah lift yang ia maksud.
"Terima kasih" Raditya bergegas menyusul istrinya, sesaat ia tersenyum mengetahui jika istrinya berada di poli obgyn, ia membayangkan jika Aira tengah mengandung anaknya.
Tiba di poli obgyn Raditya tak melihat istrinya berada di barisan ibu-ibu hamil yang sedang menunggu antrian di poli tersebut, ia pun berinisiatif mengetuk pintu ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian salah seorang perawat keluar dari ruangan tersebut, Raditya menanyakan keberadaan istrinya dan mengungkapkan jika dirinya merupakan suami dari Aira, perawat pun mempersilahkan Raditya untuk masuk ke dalam ruang Pemeriksaan.
Aira sangat terkejut dengan kedatangan suaminya, Raditya tersenyum mendekat ke arah Aira, matanya berkaca-kaca saat melihat layar monitor USG.
"Apa itu anak saya dok?" tanya Raditya.
"Ya. Selamat Pak, istri anda saat ini tengah mengandung"
Dengan excited Raditya mendengarkan semua penjelasan yang di berikan oleh dokter, ia pun banyak bertanya apa yang boleh dan tidak boleh di konsumsi oleh istrinya dan apa yang harus ia lakukan untuk ikut serta menjaga buah hatinya.
"Sekali selamat ya Pak Radit, Bu Aira"
"Terima kasih banyak dok" Raditya dan Aira menjabat tangan dokter secara berganyian, kemudian keduanya keluar dari ruang pemeriksaan.
Begitu masuk ke dalam mobil Aira menundukan kepalanya "Maafkan aku yang keluar tanpa izin, aku hanya ingin memastikan perkembangan anak kita baik-baik saja" air mata Aira mulai menetes dipipinya.
"Kamu tidak bersalah sayang" Raditya membawa Aira kedalam pelukannya, ia mengelus dengan lembut punggung Aira.
"Jangan tinggalin aku hiks..." ucap Aira lirih.
Perlahan Raditya melepaskan pelukannya, ia merangkum wajah Aira dan menatap matanya.
"Asal kamu tahu, diantra kita yang paling takut kehilangan adalah aku. Aku benar-benar panik saat mengetahi kamu dan kakak pergi dari rumah, tapi sekarang aku sangat bahagia dengan kehadiran calon anak ke dua kita. Terima kasih sudah bersedia mengandung anak kita, kita jaga sama-sama ya. Apa pun nantinya yang diberikan Allah sudah pasti yang terbaik karena tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia, aku sangat bangga memilikimu dan Chelsee" Raditya kembali membawa Aira kedalam pelukannya, ia membiarkan istrinya menangis sepuasnya dalam pelukannya, hingga Aira benar-benar merasa lega.
"Kakak mana?" tanya Raditya, ia sedari tadi mencari keberadaan Chelsee.
"Di florist, sedang bersama Zabdan dan teman-teman lainnya yang berlatih merangkai bunga"
"Ya sudah yuk kita susulin, kasihan kita tinggal lama" Raditya mencium kening Aira kemudian ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Nanti supirku akan mengambil mobilmu" ucap Raditya sambil mengemudikan kendaraannya menuju C&A Florist untuk menjemput putrinya.
__ADS_1