USAI

USAI
Episode 47


__ADS_3

Setelah lebih dari dua minggu menikmati liburannya di New York, tiba saatnya bagi Raditya mengajak istri dan anaknya untuk kembali ke Jakarta menjalani rutinitas seperti biasanya.


"Sayang, maaf bukannya aku tidak mau menurut untuk tinggal bersamamu, tapi aku belum siap jika harus tinggal bersama mamah dan adikmu" ucap Aira sambil menundukan kepalanya.


"Aku memang akan mengajakmu untuk tinggal bersamaku, tapi bukan dirumah orang tuaku. Kita akan tinggal di rumah kita, aku sudah siapkan rumah yang akan kita tempati" terang Raditya.


Sudah jauh-jauh hari sebelum dirinya melamar Aira, Raditya telah menyiapkan sebuah hunian untuk dirinya tempati bersama Aira dan Chelsee.


"Kamu istirahat ya, satu jam setengah lagi kita akan transit" Raditya membelai rambut Aira, ia meminta istrinya untuk beristirahat kembali.


'Maaf jika mamah dan adikku belum bisa menerimamu sepenuhnya, tapi aku janji akan berusaha agar mamah dan adiku bisa menerimamu sepenuhnya. Terima kasih telah bersabar dan tetap menerimaku menjadi suamimu' Raditya mengecup kening Aira dan merapihkan selimut Aira, tak lupa ia juga mengecek kondisi putrinya yang duduk bangku belakangnya bersama asistenanya.


'Sweet dream baby' Raditya mencium pipi Chelsee kemudian mengecek sabuk pengaman putrinya, barulah ia kembali ke tempat duduknya.


Setelah transit di Abu Dhabi, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju tanah air tercinta.


Pukul 23.00 WIB Raditya berserta anak dan istrinya tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, ia langsung membawa keluarga kecilnya menuju kediamannya.


"Aku sudah menyuruh orang untuk memindahkan barang-barangmu dan Chelsee, jadi kita langsung kerumah kita ya" ucap Raditya saat di perjalanan menuju kediamannya, ia mengelus tangan Aira yang duduk disampingnya, sedangkan Chelsee duduk di pangkuannya "Kakak belum ngantuk?" tanya Raditya.


Chelsee menggelengkan kepalanya ia tengah sibuk menghitung gantungan kunci yang ia beli di Disneyland, gantungan kunci tersebut rencananya akan ia bagikan kepada teman-teman dan gurunya di sekolah.


"How many your friendsĀ in the class?" tanya Raditya kepada Chelsee.


"Twelve" jawabnya.

__ADS_1


"Would that be enough?" tanya Raditya kembali, Chelsee mengangguk dengan penuh keyakinan pasalnya sudah dua kali ia menghitung gantungan kunci yang ia beli.


"Coba kakak hitung lagi! Papah mau denger kakak berhitung" pinta Raditya.


"One, two, three,...... fifteen, sixteen, seventeen, eighteen" Chelsee menghitung satu persatu gantungan kunci miliknya.


"Eighteen? bukankah teman kakak hanya 12?" tanya Raditya.


"For Miss Anna, miss Renata, Ompung boru, Ompung doli, Aunty Aruna and Eyang" ucap Chelsee sambil memberi tahu gantungan kunci mana yang ingin ia berikan kepada guru, kakek, nenek dan tantenya.


Raditya menatap Aira sesaat, kemudian ia mencium dan mengelus kepala Chelsee, "Anak baik" Raditya merasa bangga terhadap putrinya yang menyanyangi semua keluarganya meski mamah dan adiknya belum menerimanya.


"Disimpan dulu ya agar tidak hilang" Raditya mengambil gantungan kunci tersebut dari tangan putrinya kemudian ia memberikannya kepada Aira, memintanya untuk menyimpannya.


"Sekarang kakak bobo sudah malam" Raditya mengambil buku dongeng milik Chelsee kemudian ia membacakannya hingga putrinya tertidur di pangkuannya.


Kamar tidur yang bertemakan rabbit, hewan favorit Chelsee dengan dominasi warna merah muda, lengkap dengan foto-foto Chelsee yang terpajang rapih di dinding kamarnya.


Raditya merebahkan tubuh putrinya di atas tempat tidur, kemudian menyelimuti dan memberikan kecupan pengantar tidurnya di kening Chelsee "Nice dream little anggel" bergantian dengan Aira.


"Terima kasih ya, kakak pasti suka dengan kamar barunya" ucap Aira sambil menggenggam tangan Raditya.


"Teruslah di sampingku, temani aku di sisa usiaku" Raditya memeluk Aira dengan erat, Aira menganggukan kepalanya, ia membalas pelukan Raditya.


"Istirahat yuk" Raditya menggandeng tangan Aira masuk ke kamar utama mereka.

__ADS_1


Saat Raditya membuka kamar mereka, Aira terpukau dengan desai interior kamarnya yang elegan dan mewah layaknya sebuah kamar hottel berbintang lima, Raditya mendesain kamar mereka dengan memadukan kamar tidur dengan ruang kerjanya.


Aira berkeliling mengitari setiap sudut kamarnya, langkahnya terhenti ketika mendekati rak buku milik suaminya, dari jejeran buku yang berada di rak buku tersebut terselip beberapa buku parenting anak berkebutuhan khusus dan juga beberapa buku seputar pernikahan.


"Menikah bukan hanya butuh cinta dan materi tapi juga butuh ilmu, aku ingin kita bisa bersama bukan hanya didunia tapi juga di akhirat" Raditya menggenggam tangan Aira "Aku ingin jadi imam yang terbaik untukmu, jadi pria yang kau idam-idamkan" Raditya menatap mata Aira dalam-dalam.


Aira benar-benar bersyukur memiliki suami sebaik Raditya, ia kembali memeluk suaminya dengan pelukan hangatnya "Terima kasih sayang" ucapnya, ketika sedang memeluk Raditya mata Aira tertuju pada sebuah foto yang terpajang di meja kerja Raditya, perlahan ia melepaskan pelukannya kemudian mengambil foto tersebut.


"Bukankah ini fotoku waktu aku wisuda? Bang Radit dapat ini dari mana?" tanya Aira heran.


"Kamu lupa dengan pria yang memberimu sebotol air meineral saat kamu duduk di sudut rungan sambil mengelus perutmu yang tengah mengandung putri kita?" tanya Raditya, Aira nampak mengingat-ingatnya.


"Bang Radit kenapa bisa ada disitu?" tanya Aira kembali.


"Aku menjadi wali adik sepupuku karena orang tuanya sedang berada di luar negeri. Kamu tahu tidak jika saat itu juga aku langsung jatuh hati padamu, jatuh hati pada istri orang" ucap Raditya, wajah Aira langsung tertuduk ia teringat jika saat itu dirinya sudah di ceraikan karena mantan suaminya tidak dapat menerima anak yang tengah di kandungnya mengalami kelainan.


"Maafin aku sayang, aku tidak bermaksud untuk..."


"Saat itu aku sudah bercerai dan ibuku baru saja meninggal, jadi aku datang ke wisuda itu sendiri" buliran-buliran bening mulai jatuh di pipi Aira.


"Sssstt cukup sayang" Raditya memeluk Aira, bukan ia tak ingin mendengarkan curhatan istrinya namun ia tak ingin istrinya membuka luka lamanya dan membuatnya bersedih.


'Andai saat itu aku tahu kamu sendiri, aku pasti akan lebih memilih untuk menemanimu dari pada melanjutkan studyku di Australia' gumam Raditya.


Raditya melanjutkan pendidikan S2 di Australia bersama dengan adik sepupunya hingga 2.5 tahun kemudian ia kembali ke Jakarta, dirinya kembali di pertemukan dengan Aira saat ia dan Aira tengah mengantri di sebuah Bank, rasa penasarannya kepada Aira semakin membuncah. Dari seragam yang Aira kenakan ia mencari tahu di mana Aira bekerja, ia ingin mengenal Aira lebih jauh sehingga Raditya melamar pekerjaan di tempat Aira bekerja.

__ADS_1


'Meski berulang kali aku telah meninggalkannya namun aku tetap jatuh cinta pada orang yang sama' Raditya mengajak istrinya untuk beristirahat, ia mendekap erat tubuh Aira.


__ADS_2