
Selama satu Minggu mereka menjalankan ibadah umrah, baik Chelsee maupun Ray begitu sangat menikmati ibadah dengan baik dan sama sekali tidak rewel seperti yang di khawatirkan oleh Aira sebelumnya, hanya saja beberapa kali Ray meminta susu ketika tawaf berlangsung, namun hal itu tak menjadi masalah untuk Aira karena ada dua orang asistennya yang selalu siap membatu dirinya.
Ada hal yang membuat Aira dan Raditya terkesan dalam perjalanan ibadahnya kali itu, yaitu sikap ramah yang di tunjukan oleh Chlesee yang mau diajak main dengan orang-orang yang berbeda negara, bahkan beberapa dari mereka ada yang memberinya hadiah seperti pakaian, mainan, hingga makanan. Chelsee begitu banyak disukai oleh orang yang melihatnya.
"Thank you big sister" ucap Chelsee saat menerima boneka panda 🐼 dari salah seorang anak yang usianya beberapa tahun diatasnya.
"It was nothing Chelsee, Wonderful to see you. Bye" anak tersebut pergi mengikuti orang tuanya sambil melambaikan tangannya ke arah Chelsee.
"Bye..." Chelsee pun ikut melambaikan tangannya 'Tadi kakak siapa ya namanya, aku lupa' gumam Chelsee, saking banyaknya yang mengajaknya berkenalan ia sampai lupa sehingga Chelsee hanya bisa tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
"So let's go honey, hari ini kita mau ziarah ke kota Thaif" Raditya meminta putrinya untuk segera menyusul Aira masuk kedalam bis yang akan mengantar mereka ke kota Thaif.
Bukan tanpa alasan Raditya mengajak kedua anak-anaknya untuk ikut umrah, ia ingin memperkenalkan sekaligus menanamkan nilai religius sejak dini kepada anak-anaknya, mengajarkan nilai kebersahajaan dan menanggalkan segala kesombongan dunia melalui kewajiban memakai pakaian ihram, serta belajar sejarah Islam.
"Ini Masjid apa pah namanya?" tanya Chelsee penasaran, saat mengunjungi masjid bersejarah di kota Thaif.
"Masjid Abdullah bin Abbas. Masjid ini dibangun pada tahun 592 H, tepat disamping masjid ini terdapat makam Abdullah bin Abbas yang merupakan salah seorang sahabat Nabi yang amat di cintai oleh Rasulullah SAW yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn Abbas ra, habis ini kita berziarah ke makam Abdullah bin Abbas" jawab Raditya.
Dari balik cadar yang ia kenakan, Aira tersenyum memperhatikan cara Raditya menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Chlesee, ia merasa beruntung memiliki suami yang bukan hanya penyayang namun juga sangat pintar.
__ADS_1
"Hei, kamu kenapa sih dari tadi ngeliatin aku seperti itu? apa ada yang salah denganku?" tanya Raditya kepada istrinya.
Aira menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata "Jika dilihat-lihat, Bang Radit semakin hari semakin tampan."
"Gombal kamu, kita shalat sunat tahyat masjid dan dhuha dulu yuk" ajaknya, Aira pun menganggukan kepalanya menurut ajakan suaminya.
Selepas shalat dan berziarah, Raditya dan keluarganya berjalan-jalan di kota Thaif, disepanjang jalan mengelilingi kota Thaif, Raditya dan keluarganya disuguhkan pemandangan yang indah. Yaitu, pegunungan tinggi yang ditumbuhi rumput-rumput yang membuatnya terlihat lebih hijau dibandingkan dengan bukit-bukit tandus di Makkah. Sembari menikmati pemandangan yang indah tersebut, Raditya menceritakan sejarah perjalanan Islam di Thaif kepada putrinya.
"Dahulu Rasul datang ke Thaif untuk berdakwah, namun ternyata penduduk kota ini melakukan penolakan dan memperlakukan Rasul dengan kasar. Bahkan mereka melempari Rasul hingga kakinya terluka, meski tak mudah Rasul senantiasa ikhlas, sabar, dan tidak pernah berputus asa dalam menghadapi segala bentuk perlakuan kaumnya. Rasul malah mendoakan penduduk Thaif, tujuannya agar mereka kelak menyembah Allah. Dan, saat ini penduduk Thaif pun telah memeluk Islam" terang Raditya.
"Rasulullah memiliki hati seluas samudera karena beliau justru mendoakan orang yang telah berbuat jahat kepadanya dan tidak patah semangat" ucap Chelsee.
"Good, jadi pribadi yang baik ya, Nak. Seperti apa yang telah di contohkan Rasul" Raditya mengelus kepala putrinya.
"I love Rasulullah and I love papa" Chelsee mengecup pipi Raditya.
Raditya tersenyum, dalam benaknya ia berharap rasa sayang putrinya tidak akan pernah berubah meskipun nantinya ia akan mengetahui jika Gilang adalah ayah kandungnya, bukanlah dirinya.
__ADS_1
Menjelang sore, Raditya berserta keluarganya kembali ke hotel untuk beristirahat sekaligus mengemasi barang-barang bawaannya, karena keesokan harinya mereka akan bertolak menuju Turki.
Setibanya di hotel, Chlesee langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mengistirahatkan tubuhnya "Mah, adek bobo sama kakak di sini" pinta Chelsee sambil menepuk tempat tidur.
"Sebentar sayang, adeknya ganti popok dulu ya. Kakak juga ganti baju dulu gih, masa belum ganti baju sudah bobok di situ!" perintah Aira.
"Biar aku saja yang ganti popok adek, kamu bantu kakak ganti pakaiannya" Raditya mengambil alih, agar istrinya membantu putrinya untuk mengganti pakaiannya, ia sadar batasan mengenai apa yang boleh ia lakukan dan tidak boleh ia lakukan terhadap putrinya.
Selesai menggantikan pakaian Chelsee, Aira menidurkan kedua anak-anaknya hingga mereka tertidur lelap " Sweet dream dua kesayangan mama" Aira mengecup kening keduanya, kemudian ia menghampiri suaminya yang tengah sibuk mengemasi barang-barang bawaan mereka.
"Sudah hampir selesai, kamu istirahat saja temani anak-anak" Raditya melarang istrinya untuk membantunya, namun Aira tak enak hati jika membiarkan suaminya membereskan semuanya sendirian "Tidak apa-apa, aku ingin menemani Bang Radit, lagi pula pakaian kakak banyak yang belum di rapihkan kan?" Aira mengambil semua pakaian Chelsee yang berada di kamar mandi serta lemari untuk ia masukan kedalam koper.
Selama satu jam keduanya bahu membahu merapihkan seluruh barang bawaan mereka "Finish" Aira mengunci koper terakhir yang ia bereskan.
"Terima kasih ya" Raditya menggenggam tangan Aira dan menatap matanya "Ra, aku serius. Jangan tinggalin aku ya, aku tidak ingin kehilanganmu dan Chelsee"
'Chelsee' gumam Aira, ia berfikir sejenak mencerna kalimat yang ucapkan oleh Raditya, pasalnya ini bukan kali pertamanya Raditya mengatakan kalimat yang sama namun selama ini dirinya hanya menanggapi ucapan tersebut dengan candaan.
"Contact person yang aku berikan pada Gilang beberapa waktu lalu adalah contact person milikmu, aku dan dia sudah selesai, aku tidak ingin membuka peluang masuknya orang ketiga di antara kita. Aku mempercayakan semua urusan Chelsee dengan ayah kandungnya padamu, karena aku yakin Bang Radit adalah orang yang bijak dan akan berlaku adil, sama seperti apa yang Bang Radit lakukan terhadap orang tua Nathalie" Aira membelai wajah suaminya dengan lembut " Meski bukan darahmu yang mengalir di tubuh Chelsee dan Nathalie, meski bukan tanganmu yang akan dijabat oleh pria yang akan menikahinya kelak atau mengantarkannya ke altar pernikahan. Tapi percayalah, selamanya kau masih akan tetap jadi tokoh utama favorit anak-anak because family is BOND by LOVE NOT by BLOOD" ucap Aira.
__ADS_1
Hilang semua rasa kekhawatiran yang selama ini ia rasakan, Raditya membawa Aira ke dlam pelukannya "Thank you" bisiknya lirih menahan harunya.