
"Aunty, Can I eat ice cream?" tanya Chelsee kepada Aruna, saat keduanya tengah menikmati makanan di garasi mobil yang telah di sulap menjadi area prasmanan dalam acara aqiqah.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Chelsee untuk bertanya dan meminta izin untuk memakan makanan manis, pasalnya Aira membatasinya karena makanan manis dapat merusak gigi serta mampu meningkatkan risiko anak mengidap diabetes tipe 2 dan obesitas. Bukan itu saja, terlalu banyak mengonsumsi makanan manis juga dapat membahayakan organ jantung anak. Aira hanya memberikan 50 gram gula per harinya kepada Chelsee
"Yes of course , wait here" Aruna beranjak dari tempat duduknya, namun Chelsee menahannya "No, I took it on my own" cegahnya, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil dua buah es krim coklat di freezer box untuk dirinya dan juga untuk Auntynya.
"Thank you" Aruna menerima es krim pemberian Chelsee.
Mereka berdua pun menikmati es krim sambil bercanda dengan riang, sesekali Aruna mengelap bibir Chelsee yang belepotan terkena es krim "Take it slow girl" ucap Aruna, ia mengingatkan keponakannya untuk pelan-pelan agar tidak berantakan dan mengenai bajunya.
"OMPUNG...." Chelsee menaruh es krim di atas meja kemudian ia berlari menghampiri kakek dan neneknya yang baru saja tiba di kediamannya.
Tn.Maruli berjongkok sambil merentangkan tangannya, beberapa detik kemudian Chelsee telah berada didalam pelukannya "I I really miss you" Chelsee mencium pipi kakaeknya.
"Me too baby" Tn.Maruli pun mebalas kecupan manis Chelsee di pipi chubbynya sambil menggendongnya.
"Ompung boru, How are you doing?" sapa Chelsee kepada neneknya.
"Baik" jawabnya singkat. "Kau ini baru bisa belajar berbicara segitu saja sudah berisik, bagaimana nanti jika sudah lancar?" gerutunya.
Seketika Tn.Maruli menatap istrinya dengan tatapan tajam, menunjukan ketidak sukaannya dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya, karena hal tersebut dapat melukai hati Chelsee.
"Baiklah, dimana adek kau? Ompung boru ingin melihatnya!"
Tak ingin di marahi lagi oleh Ompung borunya, Chelsee hanya menunjuk ke arah dalam rumahnya.
"Pah" Aruna mendekat ke arah papahnya kemudian mencium tangannya.
"Bagaimana kabarmu? tidak merepotkan Abang dan kakakmu kan?" Tn.Maruli mengecup kening putrinya dan mengelus kepalanya.
"Ya tidak dong, justru adek yang nyiapin catering untuk acara ini"
"Nanti pulang ya" ucap Tn.Maruli, terbesit kerinduan dalam benaknya terhadap putri bungsunya. Meski masih sangat kecewa terhadap Aruna, ia mencoba berbesar hati untuk menerima dan memaafkannya, ia mengelus perut Aruna.
Aruna hanya tersenyum tak mampu menjawabnya, sebenarnya ia ingin sekali kembali pulang namun ia sudah terlanjur nyaman tinggal bersama Abangnya, terlebih ia masih takut dengan mamahnya yang masih menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
Tak ingin terlihat bersedih di depan Chelsee, ia beralih ke Ibundanya "Mah" Aruna meraih tangan Ny.Paulina untuk diciumnya, namun Ny.Paulina menyingkirkan tangan Aruna "Aku kemari ingin melihat anak Abangmu" ia berjalan masuk meninggalkan suami, anak dan cucunya.
"Kak, lanjut lagi yuk makan ice creamnya" ajak Aruna, ia tak ingin keponakannya itu dekat-dekat lagi dengan mamahnya. Chelsee pun menganggukan kepalanya, perlahan ia turun dari gendongan Tn.Maruli.
"Ompung ke dalam dulu ya" ucap Tn.Maruli kepada Chelsee sambil mengelus kepala Chelsee, setelah Chelsee tersenyum sambil menganggukan kepalanya barulaha ia menyusul istrinya ke dalam.
"Kau sadar, apa yang kau katakan barusan itu bisa mematikan keparcayaan Chelsee?" ucap Tn.Maruli dengan tegas.
"Ya maaf" jawabnya singkat.
Melihat tanda-tanda jika suaminya akan menceramahinya, ia pun menghindarinya dengan mendekat ke arah baby sitter yang tengah menggendong cucu laki-lakinya.
"Biar aku saja yang menggendongnya, aku Ompungnya" pinta Ny.Paulina, sang babby sitter pun memberikannya kepada Ny.Paulina.
"Kamu lihat sendirikan jika wajahnya mirip sekali dengan Raditya" ucap Tn.Maruli.
"Hasil pemeriksaan fisik tanda vital (detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan), panjang, berat badan, lingkar kepala, serta organ tubuhnya semuanya baik" terangnya.
Meski tak bertemu setiap hari, Tn.Maruli rutin menghubungi Raditya untuk menanyakan keadaan kedua cucunya atau juga untuk melakukan video call dengan Chelsee.
"Lihatlah pipi chubbynya, sekarang bobotnya sudah 2.7kg" Tn.Maruli mengelus lembut pipi cucu laki-lakinya.
Sementara itu di dalam kamar Raditya tengah menandangi Aira yang berdiri di depan cermin mengenakan hijabnya, perlahan ia mendekat ke arah istrinya.
"You're so beautiful,baby" bisiknya "Boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Raditya, Aira menganggukan kepalanya.
"Aku ingin terus bersamamu bukan hanya didunia, tapi di akhirat. Pakai terus ya hijabnya" pintanya.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin berhijab, tapi aku takut Bang Radit tidak suka" ucapnya.
"Suudzon kamu, aku justru sangat senang jika kamu mau memakainya terus. Kamu terlihat sangat cantik sayang" Raditya memeluk erat Aira dari belakang.
"Gembrot, mau bilang gitu kan? jangan pegang-pegang, ini lemak aku malu, nanti aja setelah 6 bulan aku akan diet" Aira yang tak merasa percaya diri dengan bentuk tubuhnya menyingkirkan tangan Raditya.
"You're already so beautiful in my eyes, baby" ucap Raditya, ia kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
"Udah ah, gombal mulu Bang Radit ini" lagi-lagi Aira melepas pelukan suaminya, ia berbalik hendak melangkah pergi keluar dari kamarnya, namun belum sempat ia melangkah, Raditya menariknya ke dalam pelukannya.
"Truth is, I love you. All the time, every second, every minute, every hour, every day" Raditya menatap mata Aira dalam-dalam, ia tak ingin istri merasa insecure karena ia benar-benar sangat mencintainya.
"Sampai kapan kalian mau berpacaran terus di sini? di bawah tamu sudah mulai berdatangan" ucap Paulina dari pintu kamar Raditya yang terbuka.
Seketika Raditya menoleh ke arah pintu kamarnya sambil melepaskan pelukannya.
"Hai mah, sudah datang?" Raditya menghampiri ibundanya, kemudian mencium tangan dan kedua pipinya, bergantian dengan Aira.
"Kalian ini, apa tak berniat mengadakan acara aqiqah?"
"Maaf tadi kita sedang mengobrol, ya sudah kita turun yuk" Raditya menggandeng tangan ibundanya menuju lantai dasar kediamannya di ikuti oleh Aira.
Proses aqiqah dilakukan dalam suasana suka cita, saat prosesi dilakukan, ibu-ibu pengajian dan anak-anak yatim piatu yang hadir melantunkan Sholawat Nabi.
Ujung rambut putra bungsu Raditya pun dipotong pertama kali oleh anggota keluarga
dengan pengesahan nama Galaksi Ray Sinaga, ketika keluarga memotong rambut Ray mereka tidak lupa meniup ubun – ubun dan membacakan doa untuknya.
Suasana acara tasyakuran menjadi sangat khidmat, ketika semua keluarga dan tamu undangan mendengarkan tausyiah singkat tentang Aqiqah, hingga di lanjutkan dengan pembacaan doa sebagai penutup acara.
"Bu Aira, boleh minta waktunya sebentar" ucap Azzam.
"Ia ada apa Zam?"
"Aku cuma mau menginformasikan jika kontrak kerja sama kakak dengan produk susu formula anak yang senilai 2.5M sudah saya email ke email Bu Aira dan kontrak fashion show kakak di Jakarta Fashion Week atau JFW bulan depan juga sudah saya email" ucap Azzam.
"Jadinya yang pakaian tradisional kan?" tanya Aira.
"Ia Bu Aira, nanti jika Bu Aira setuju kakak akan memakai dua baju adat dari Jawa dan Medan"
"Okay, nanti aku diskusikan dulu dengan suamiku. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa izin dan persetujuan darinya. Ya sudah, aku tinggal dulu ya Zam, sudah jamnya Ray tidur siang. Kamu makan dulu gih, tuh yang lainnya sudah makan"
"Terima kasih Bu Aira"
__ADS_1
Tanpa sengaja Ny.Paulina mendenggar percakapan antara Aira dan Azzam, ia sedikit terkesan dengan Aira yang melibatkan putranya dalam pengambilan keputusan untuk Chelsee yang notabennya bukan anak kandung Raditya.
Ia mengingat-ingat jika dirinya tidak penah meminta pendapat suaminya mengenai beberapa keputusan untuk anak-anaknya seperti keputusan menentukan sekolah dll karena ia menganggap hanya ia yang berhak menentukannya.