USAI

USAI
Episode 54


__ADS_3

"Honey, have I mentioned today how lucky I am to be in love with you?" ucap Raditya.


Seketika wajah Aira bersemu memerah "Sudah ih, Kakak sudah menunggu di dalam mobil" Aira merapihkan pakaian kerja suaminya kemudian ia mencium tangannya.


"Kamu yakin tidak ingin ke florist bersama denganku?"


"Aku belum siap-siap, nanti kalian terlambat jika menungguku. Aku sendiri saja ke floristnya"


"Ya sudah hati-hati ya, jangan lupa kabarin aku dan jangan capek-capek, Mmmmuah.." Raditya menciumi seluh bagian wajah Aira dan tak ketinggalan ia juga mencium dan menyapa baby dalam kandunga istrinya "Papah sama kakak pergi dulu ya, Assalamualaikum"


"Pa-pa" panggil Chelsee dari dalam mobil.


"Tuh kakak sudah dari tadi menunggu"


"Ya sudah aku berangkat dulu ya" Raditya mencium kening istrinya kemudian ia bergegas masuk ke dalam mobil.


"Bye" Aira melambaikan tangannya kearah kendaraan yang membawa suami dan putrinya pergi beraktivitas.


Melihat kendaraan yang membawa suami dan putrinya sudah tak terlihat barulah ia kembali masuk ke dalam untuk bersiap-siap berkativitas.


Drrrrt... drrrrt...


Melihat handphoennya bergetar dan menyala, Aira menghentikan kegiatan memblow rambutnya, ia menaruh catokan rambut di atas meja riasnya kemudian mengambil handphonnya.


'Bang Radit' gumamnya, ia pun langsung membuka pesan masuk dari suaminya.


^^^Husband: ^^^


^^^I wanna say something.^^^


Aira:


What is it? you have a problem?


^^^Husband: ^^^


^^^ I Love you. That’s all.^^^


Lagi-lagi Aira di buat tersipu malu dengan gombalan suaminya, meski hampir setiap saat Raditya menggombalinya namun Aira masih saja di buat seperti terbang melayang ketika mendapatkan kata-kata dan perlakuan manis dari Raditya 'I'm under your spell' balas Aira.


Aira memasukan handphonenya kedalam tas, kemudian mencabut semua colokan listrik yang masih terpasang, barulah ia keluar dari kamarnya.


"Bik, aku keflorist dulu. Tolong nanti bahan-bahan untuk menu makan malam di siapin ya, tapi nanti aku saja yang masak" ucap Aira kepada adisten rumah tangganya.


"Baik Bu"

__ADS_1


Dengan hati bahagia Aira melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya, pagi itu ia sangat senang karena suaminya mengizinkannya menyetir sendiri kendaraannya. Langkahnya terhenti saat melihat ibu mertuanya keluar dari mobil dan berjalan menuju beranda rumahnya.


Ny.Paulina menatap tajam kearah Aira, matanya langsung tertuju pada perut Aira yang sudah terlihat membesar.


Melihat tatapan tajam dan wajah yang tak bersahabat di wajah ibu mertuanya, Aira menahan nafasnya sesaat sambil mengelus lembut perutnya.


"Ternyata benar kamu sedang mengandung" ucapnya dengan sinis.


"Aku ingin bicara padamu!" Ny.Paulina masuk kedalam kediaman Aira, diikuti oleh Aira di belakanganya.


Sambil duduk di ruang tamu kediaman Aira, Ny.Paulina melihat ke arah sudut langit-langit kediaman Aira, ia mencari CCTV yang terpasang 'sudahlah, aku tidak peduli' gumamnya, ia kembali fokus pada Aira yang telah duduk di hadapannya.


"Langsung saja Aira, apa kamu bisa menjamin anak yang berada dalam kandunganmu itu akan lahir dengan sempurna tanpa kurang suatu apa pun?" tanya Ny.Paulina.


Aira terdiam tak menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, ia hanya menundukan kepalanya.


"Jika anak dalam kandunganmu itu kembali lahir cacat, tolong lepaskan Raditya. Biarkan ia memiliki anak yang lahir dengan sempurna dari wanita lain yang sehat" ucap Ny.Paulina


Aira mencoba mengatur nafasnya, kemudian ia tersenyum ke arah ibu mertuanya.


"Sebelum menikah, aku telah melakukan beberapa persiapan mulai dari medical check up hingga melakukan vaksin dan kini aku dan Bang Radit bersama-sama menjaga buah hati kami dengan sebaik-baiknya. Aku hanya manusia biasa, tak bisa memberikan jaminan apa pun akan hal itu, tapi aku yakin apa pun yang Allah berikan sudah pasti yang terbaik karena tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia" Aira menjeda sesaat kalimatnya kemudian ia kembali melanjutkannya.


"Dan untuk Bang Radit, aku ikhlas dengan apapun keputusan yang menjadi bahagianya, aku pun akan bahagia"ucap Aira dengan tenang.


Ny.Paulina tersenyum sinis kepada Aira "Sudahlah aku sudah tidak ingin berdebat denganmu, lagi pula belum tentu juga anak yang berada dalam kandunganmu itu adalah anak Raditya, kalian baru beberapa bulan menikah tapi perutmu sudah sebesar itu. Jangan pernah kamu berfikir jika aku tidak tahu, jika kamu pernah terkena kasus pelecehan seksual, itu pasti karena kamu gatel" Ny.Paulina mengenakan tasnya kemudian ia pergi meninggalkan kediaman Aira.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?"


Tiba-tiba saja Raditya datang dan berhambur memeluk Aira dengan wajah cemasnya, ia kembali memutar arah kendaraannya saat mendapat kabar dari asisten rumah tangganya jika ibundanya datang menemui istrinya.


"Aku? aku baik-baik saja! Bang Radit yang kenapa, kok malah balik lagi? katanya pagi ini ada meeting" Aira mengelus punggung Raditya dengan lembut.


"Apa mamah berbicara yang tidak-tidak padamu?"


"Jangan suudzon sama mamahnya sendiri, mamah justru kemari ingin mengetahui kondisi kehamilanku, beliau banyak memberikan nasihat seputar kehamilan" ucap Aira.


"Sudah yuk, aku harus ke florist ada meeting dengan para karyawanku untuk project pernikahan salah satu anak kepala daerah" ajak Aira agar Raditya berhenti mengkhawatirkan dirinya.


"Aku antar ya"


Aira menganggukan kepalanya, ia menaruh card mobilnya kembali ke dalam tasnya dan ikut bersama suaminya.


Sepanjang perjalanan beberapa kali Raditya menatap wajah istrinya yang tengah bercerita mengenai perkembangan folirst miliknya.


"Iih Bang Radit enggak dengerin aku" protesnya.

__ADS_1


"Aku dengerin sayang"


"Apa?"


"Peningkatan project event pernikahan dan seminar beberapa bulan terakhir ini kan?" Raditya bukan tak menyimak apa yang istrinya ceritakan padanya namun ia merasa jika istrinya tengah menutupi kesedihannya.


"Jangan capek-capek ya" Raditya menepikan kendaraanya di depan florist milik istrinya.


"Aku tidak memaksa Bang Radit untuk terus stay bersamaku dan anak-anak tapi selama Bang Radit masih bersama kami, kami akan memberikan semua cinta kami untuk Bang Radit" ucap Aira sambil membelai wajah suaminya.


"Maksudmu apa?"


"Tidak ada maksud apa-apa kok, aku hanya baru sadar hidup ini bukan kita yang punya. Harta, kehidupan, suami, anak dan nyawa, semua itu adalah titipan. Tak pernah ada yang benar-benar kekal dan tak pernah ada yang bisa kita genggam untuk selamanya" Aira mencium pipi dan tangan suaminya, barulah ia keluar dari mobil Raditya.


Tak mau ambil pusing, tiba di florist Aira langsung mengadakan meeting bersama para pegawainya.


"Ren, karyawan barunya suruh langsung ikut gabung saja" perintah Aira.


Melonjaknya permintaan dekorasi untuk berbagai event, membuat Aira harus menambah tenaga baru, selain itu ia juga merenovasi kediaman lamanya untuk memperluas florist miliknya.


"Git, kamu sudah cek lokasinya?" tanya Aira.


"Sudah bu, kemarin dan ini semua datanya" Gita menyerahkan semua berkas hasil surveinya kepada Aira.


"Bagus. Pastikan bunga-bunga yang kita butuhkan baik untuk dekorasi pelaminan, table bouquet dan lainnya harus datang tepat waktu dan sesuai dengan yang kita butuhkan, kalau perlu kamu push lagi vendornya"


Satu jam setengah meeting bersama para pegawainya membuat perutnya kembali lapar.


"Zam, pesananku sudah datang belum?" tanya Aira.


"Baru saja datang Bu Aira, semuanya sudah berkumpul di depan sesuai dengan request Bu Aira kemarin"


"Oh ya sudah aku nanti ke sana, tolong jemput Chelsee ya, aku mau makan laper" Aira memberikan kunci mobil kantor kepada Azzam, kemudian ia bergegas keluar menghampiri beberapa pedagang yang telah berkumpul di depan floristnya.


Tak lupa ia juga mengajak semua pegawainya untuk makan sepuasnya bersamanya.


'Makan apa ya?' gumamnya.


"Aku mau semua deh, buatkan satu porsi untukku ya" ucap Aira kepada semua pedagang, kemudian ia duduk di teras rumahnya.


Kurang dari sepuluh menit semua makanan yang ia pesan datang, mulai dari mie kocok bandung, cendol, rujak hingga dimsum dan batagor kuah. Aira mengelus perutnya, ia teringat ketika dahulu dirinya mengandung anak pertamanya, dimana ia tak mampu memenuhi gizi kandungannya karena uang yang ia peroleh dari hasil kerjanya harus ia bagi untuk kuliah dan pengobatan ibundanya.


Berbanding terbalik dengan kondisinya sekarang, ia bisa makan apa pun yang ia mau bahkan di usia kandungannya yang baru menginjak enam bulan kenaikan bobot tubuhnya sudah hampir 10 kg, sehingga banyak orang mengira jika usia kandungan Aira sudah masuk timester ketiga.


"Ma-ma" Chelsee yang baru saja pulang berlari menghampiri mamahnya "Hello baby boy" sapa Chelsee sambil mencium calon adiknya.

__ADS_1


"Anak mamah sudah pulang" Aira langsung memeluknya dengan hangat 'No matter what, you will always be my love' gumam Aira.


Sambil menikmati makanan bersama putrinya, ia juga menanyakan kegiatannya di sekolah.


__ADS_2